Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MURKA SANG JENDRAL
Beberapa waktu lalu di Sektor 3, pukul 05:00 Pagi.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Sektor 3, namun atmosfer di dalam Laboratorium Penelitian Militer Pusat sudah seperti neraka yang bergejolak. Suara hantaman keras dan pecahan kaca terdengar bersahut-sautan, memecah kesunyian koridor steril yang biasanya hanya dipenuhi dengung mesin inkubator.
PRANNNGGGG!
"ANAK-ANAK SIALAN! BERANI SEKALI MEREKA!"
Raungan Jenderal Markus menggema, sarat akan amarah yang tak terkendali. Dengan satu sentakan tangan kekarnya, ia menyapu bersih meja kerja utama. Mikroskop elektron seharga miliaran dolar, tabung-tabung reaksi berisi cairan kimia langka, dan monitor pemantau hancur berkeping-keping di lantai beton.
Napas Markus memburu, naik-turun bagaikan binatang buas yang terpojok. Wajahnya merah padam, dan urat-urat biru tampak menonjol tebal di sekitar pelipis serta lehernya, berdenyut kencang seiring dengan detak jantungnya yang dipompa oleh kemarahan absolut.
Di sudut ruangan, seorang profesor tua berjanggut putih panjang berdiri dengan tubuh gemetar. Tangannya yang memegang sabak digital tampak ringkih, tak berani menatap langsung mata sang Jenderal yang seperti ingin menguliti siapa saja.
"J-Jenderal... tenangkan diri Anda..." bisik profesor tua itu dengan suara bergetar.
"Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, Profesor?!" Markus berbalik, mencengkeram kerah baju laboratorium sang profesor hingga pria tua itu nyaris terangkat dari lantai. "Mereka membawa semua data! Mereka membawa seluruh sampel inti! Proyek yang kita bangun di atas ribuan nyawa... lenyap dalam satu malam!"
Profesor tua itu menelan ludah dengan susah payah. "Benar, Jenderal... setelah kami memeriksa sistem, Ken dan timnya tidak hanya membawa kabur fisik dari serum perak itu. Mereka juga menghapus seluruh salinan data cadangan di mainframe utama. Mereka melakukan enkripsi hulu-hilir... kita tidak bisa memulihkannya."
Markus melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat profesor tua itu terhuyung ke belakang hingga menabrak lemari besi.
BAMMM!
Markus menghantamkan tinjunya ke dinding baja di sebelahnya hingga penyok. "Pintar... pintar sekali mereka! Anak-anak bajingan itu! Semalam mereka berlagak sok pahlawan, mengajukan diri dengan wajah pasrah sebagai kelinci percobaan berikutnya. Ternyata? Itu semua hanya taktik agar mereka bisa mengakses ruang penyimpanan inti dan membawa kabur hasil penelitian!"
Amarah Markus berada di puncaknya. Serum perak metalik itu adalah kunci utamanya untuk menguasai seluruh sektor yang tersisa. Dengan serum itu, ia bisa menciptakan pasukan Super Soldier yang patuh, manusia-manusia tanpa emosi yang hanya tahu cara membunuh dan tunduk pada perintahnya. Dan sekarang, lima bocah ingusan yang baru berusia dua puluhan telah merampas mimpi besarnya dalam semalam.
"Mereka memanfaatkan kelengahan penjaga malam dan menggunakan protokol darurat untuk membuka gerbang perimeter bawah tanah," lanjut profesor tua itu, mencoba memberikan laporan meski ketakutan. "Mereka juga membawa salah satu mobil taktis Marauder yang memiliki persenjataan lengkap."
"Aku tidak peduli tentang mobil rongsokan itu!" teriak Markus, matanya merah menyala karena murka. "Yang aku peduli adalah kepala mereka! Aku ingin otak mereka dikeluarkan dan diawetkan dalam toples setelah aku menyiksa mereka hidup-hidup!"
Tiba-tiba, pintu geser laboratorium terbuka dengan cepat. Seorang prajurit dengan seragam taktis lengkap berlari masuk dan langsung memberikan hormat militer dengan tegap, meskipun tubuhnya juga sedikit gemetar melihat kekacauan di dalam ruangan.
"Lapor, Jenderal!" seru prajurit itu dengan lantang.
"Bicaralah sebelum aku meledakkan kepalamu!" gertak Markus tanpa berbalik.
"Menurut penelusuran sinyal GPS darurat yang sempat aktif selama tiga detik pada sistem navigasi Marauder, serta arah rekaman kamera pengawas luar perimeter... mereka bergerak lurus ke arah barat daya. Mereka mengarah ke arah Sektor 7, Jenderal!"
Mendengar kata 'Sektor 7', tawa sinis dan mengerikan mendadak keluar dari mulut Markus. "Sektor 7? Ha... Hahaha! Bodoh! Anak-anak bodoh!"
Markus berjalan perlahan menuju meja yang masih tersisa, mengambil sebuah pisau komando yang tertancap di sana. "Mereka pikir Sektor 7 adalah tempat perlindungan? Mereka pikir pangkalan yang dipimpin oleh Jenderal Rian yang tua dan lemah itu bisa melindungi mereka dari amarahku?!"
Markus belum tahu bahwa Sektor 7 saat ini sudah berganti kepemilikan ke tangan Elara Quizel. Di dalam otaknya, Sektor 7 hanyalah pangkalan militer tetangga yang kekuatannya jauh di bawah Sektor 3.
"Siapkan pasukan!" perintah Markus, suaranya kini beralih menjadi dingin, tipe suara yang menandakan bahwa pembantaian besar-besaran akan segera terjadi. "Kerahkan Divisi Serbu Pertama dan tiga kendaraan lapis baja penghancur perimeter. Kita akan menjemput kembali aset kita."
"Tapi Jenderal," sela profesor tua itu dengan ragu. "Melakukan pergerakan militer skala besar ke sektor lain tanpa izin tertulis dari Komando Pusat bisa memicu—"
SLASSHHH!
Sebelum profesor tua itu menyelesaikan kalimatnya, pisau komando di tangan Markus sudah menancap tepat di tenggorokannya. Profesor itu terbelalak, memegang lehernya yang menyemburkan darah segar, sebelum akhirnya ambruk ke lantai dan tewas dalam hitungan detik.
Prajurit yang membawa laporan tadi langsung berdiri mematung, keringat dingin bercucuran di punggungnya.
Markus mencabut kembali pisaunya, lalu menyekanya dengan ujung baju laboratorium milik mayat profesor tersebut. "Komando Pusat sudah mati sejak hujan darah itu terjadi. Di sini, akulah hukumnya."
Ia menatap prajurit itu dengan pandangan membunuh. "Katakan pada Komandan Divisi Pertama. Aku memberi mereka waktu dua belas jam. Bawa kembali kelima ilmuwan itu hidup atau mati. Jika mereka melawan, hancurkan Sektor 7 beserta seluruh isinya. Jangan sisakan satu manusia pun hidup di sana!"
"Siap, Jenderal! Laksanakan!" Prajurit itu memberi hormat dengan panik dan segera berbalik untuk melaksanakan perintah.
Setelah ruangan itu kembali sunyi, Markus menatap ke luar jendela besar laboratorium, memandang ke arah barat daya di mana Sektor 7 berada. Tangannya mencengkeram bingkai jendela hingga besinya berderit.
"Ken... Rian... Mia... kalian pikir kalian bisa lari dari genggamanku?" bisik Markus dengan nada kejam. "Aku sendiri yang akan memastikan bahwa penyesalan terbesar dalam hidup kalian adalah... karena kalian terlahir sebagai manusia jenius."
Badai besar kini tengah bergerak dari Sektor 3. Armada perang bersenjata berat milik Jenderal Markus telah dimobilisasi, bergerak cepat membelah jalanan kering pasca-kiamat, menuju langsung ke benteng pertahanan Sektor 7 di mana sang Ratu, Elara Quizel, sudah menunggu mereka dengan senyuman yang tak kalah mematikan.
[PASUKAN PENGEJAR SEKTOR 3: TELAH BERANGKAT]
[ESTIMASI WAKTU TIBA DI SEKTOR 7: 11 JAM]
[SKALA ANCAMAN: PERANG ANTAR SEKTOR - TINGKAT TINGGI]
🧟♀️🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Ken dan keempat temannya kini resmi bergabung dengan Elara. Setelah malam yang panjang, menegangkan, dan menguras seluruh sisa energi mereka, kelima ilmuwan muda itu akhirnya bisa bernapas lega di bawah perlindungan dinding-dinding kokoh Sektor 7. Elara memberikan mereka waktu beberapa jam untuk tidur di kamar tamu VIP, memulihkan stamina mereka yang sudah berada di ambang batas sebelum memulai tugas baru di laboratorium utama.
Sementara itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Elara tengah duduk dengan anggun di balik meja jati besar. Pandangannya lurus menatap layar hologram semi-transparan milik sistem yang berpendar biru di depannya, menampilkan sederet peringatan berwarna merah darah.
┌─────────────────────┐
PERINGATAN SISTEM: ANCAMAN MENDEKAT!
[PASUKAN PENGEJAR SEKTOR 3: TELAH BERANGKAT]
[ESTIMASI WAKTU TIBA DI SEKTOR 7: 11 JAM]
[SKALA ANCAMAN: PERANG ANTAR SEKTOR - TINGKAT TINGGI]
└─────────────────────┘
"Owh... Mereka sudah mulai bergerak," gumam Elara pelan saat sistemnya memberikan peringatan dini kalau orang-orang dari Sektor 3 sudah mulai memobilisasi pasukan.
Alih-alih merasa panik atau tertekan karena pangkalan barunya akan diserbu oleh pasukan elit bersenjata berat, Elara justru merasa gembira. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja, mengikuti irama detak jantungnya yang bersemangat.
"Hmmmm... sepertinya Pak Jaka akan mendapat banyak pupuk baru dalam waktu dekat," gumam Elara lagi. Sebuah seringai licik tersungging di bibirnya yang kemerahan, lalu ia memiringkan kepalanya sedikit, membayangkan bagaimana halaman luar Sektor 7 akan dipenuhi oleh kiriman aset dan material berharga dari Jenderal Markus.
Tok... Tok...
Tiba-tiba suara ketukan pintu yang ritmis terdengar, memecah keheningan ruang kerja tersebut.
"Masuk," ujar Elara, nadanya langsung kembali tenang dan berwibawa.
Pintu kayu tebal itu terbuka, dan ternyata itu adalah Leonard. Pria bertubuh tegap itu melangkah masuk dengan santai, penampilannya yang gagah tampak melembut saat matanya menangkap sosok sang istri. Di tangan kanannya, ia membawa secangkir kopi hangat yang mengepulkan aroma harum yang pekat.
"Sayang, sebelum menyambut tamu yang menyebalkan itu, sebaiknya isi dulu tubuhmu dengan yang manis-manis," ujar Leonard dengan nada suara yang dalam namun penuh perhatian. Ia berjalan mendekat dan meletakkan cangkir kopi itu tepat di atas meja kerja Elara.
Elara melirik cangkir itu, lalu menengadah menatap wajah suaminya dengan dahi yang sedikit berkerut. "Kopi itu pahit, Leo."
"Manis," jawab Leonard singkat dengan senyum tipis yang penuh arti di sudut bibirnya.
Sebelum Elara sempat membalas perkataannya, Leonard dengan gerakan yang sangat cepat namun lembut mencengkeram pinggang Elara, menarik tubuh wanita itu dari kursinya hingga menempel erat pada dada bidangnya.
"Kalau minumnya lewat sini..." bisik Leonard rendah di depan wajah Elara.
Leonard meraih cangkir tersebut dengan tangan kirinya, menyeruput kopi hitam hangat itu sedikit dan menahannya di dalam mulut. Di detik berikutnya, dengan gerakan posesif yang tak terbantahkan, ia menundukkan kepalanya dan menarik tengkuk Elara.
Kini bibir mereka menyatu dengan erat. Leonard membagikan kehangatan cairan hitam yang pahit namun bercampur dengan rasa manis yang datang dari keintiman mereka berdua. Elara memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman dalam yang menuntut dan penuh gairah dari sang suami. Pagutan itu berlangsung cukup lama di tengah keheningan ruang kerja, mengubah atmosfer yang tadinya dingin karena taktik perang menjadi begitu panas dan penuh desakan asmara.
Ketika Leonard akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan, sebentuk benang saliva tipis terputus di antara mereka. Napas Elara sedikit terengah, dan wajahnya yang biasanya pucat kini merona merah muda yang segar.
"Bagaimana? Masih pahit?" bisik Leonard, ibu jarinya mengusap sisa cairan kopi di sudut bibir Elara dengan lembut.
Elara mendengus pelan, namun ia tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Leonard, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun kuat. "Curang. Kamu selalu tahu cara mengalihkan perhatianku."
"Itu tugasku sebagai suamimu," Leonard terkekeh kecil, mengeratkan pelukannya di pinggang Elara. "Jadi, bajingan dari Sektor 3 itu benar-benar mengirimkan pasukannya?"
"Ya," Elara menegakkan tubuhnya kembali, mengubah ekspresinya menjadi dingin dan fokus dalam sekejap. "Jenderal Markus mengirim Divisi Serbu Pertama dan kendaraan lapis baja penghancur perimeter. Mereka mengira pangkalan ini masih dipimpin oleh Jenderal Rian yang lemah. Mereka mengira bisa merebut kembali lima ilmuwan itu dan menghancurkan tempat ini dalam waktu dua belas jam."
Leonard menyesap sisa kopi di cangkirnya, matanya berkilat berbahaya. Aura Supreme Warrior nya berpendar tipis, memancarkan niat membunuh yang murni. "Divisi Serbu Pertama? Baguslah. Senjata dan kendaraan lapis baja mereka akan menjadi tambahan yang bagus untuk inventaris kita. Apakah kita akan menyambut mereka di gerbang luar seperti kemarin?"
Elara berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah perimeter luar pangkalan. "Tidak. Menghadapi mereka di gerbang luar terlalu membosankan dan membuang-buang tenaga. Sektor 7 memiliki sistem jebakan parit elektro-magnetik bawah tanah yang belum pernah diaktifkan oleh Rian karena kekurangan daya energi. Tapi sekarang, dengan Dark Matter Core yang sudah terintegrasi, kita memiliki daya yang tak terbatas."
Elara berbalik, menatap Leonard dengan pandangan yang penuh dengan rencana licik. "Kita akan membiarkan mereka menerobos dinding terluar. Biarkan mereka berpikir bahwa mereka sedang menang. Saat seluruh armada mereka masuk ke dalam zona pembantaian di halaman tengah... kita akan mengaktifkan medan gravitasi dan jebakan elektro-magnetik secara bersamaan. Kita akan mengunci mereka di dalam sangkar baja ini."
"Dan setelah itu?" tanya Leonard dengan seringai yang sama liciknya dengan milik istrinya.
"Setelah itu, tugasmu dan Herra untuk memanen kepala mereka. Arkan akan mengambil alih seluruh sistem kemudi kendaraan lapis baja mereka dari ruang kontrol. Kita tidak akan menghancurkan kendaraan mereka, kita hanya akan menghancurkan manusianya," jawab Elara dengan nada yang sangat santai, seolah-olah ia sedang merencanakan menu makan malam, bukan pembantaian massal sebuah divisi militer.
Leonard meletakkan cangkir kosongnya ke meja, lalu berjalan mendekati Elara dari belakang, memeluk pinggangnya kembali dan mengecup pundak istrinya yang tertutup kain gaun sutra. "Rencana yang sempurna, Ratuku. Aku akan segera mengumpulkan Herra, Tobi, dan Arkan untuk mempersiapkan koordinasi posisi."
"Jangan lupa bangunkan lima ilmuwan muda itu satu jam sebelum pasukan Sektor 3 tiba," tambah Elara. "Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana nasib orang-orang yang mencoba memburu mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa di dunia baru ini, tidak ada tempat yang lebih aman selain berdiri di belakang punggungku."
Leonard mengangguk patuh. "Akan kulaksanakan, Sayang. Istirahatlah sejenak, biarkan suamimu ini yang menyiapkan panggung pertunjukannya."
Setelah Leonard keluar dari ruangan untuk memobilisasi tim inti, Elara kembali menatap layar sistemnya. Waktu terus berjalan mundur. 10 jam lagi. Angka-angka digital itu terus berkurang, namun bagi Elara, itu adalah hitungan mundur menuju perluasan kekuasaannya yang berikutnya. Dengan Sektor 7 yang memiliki fasilitas pertahanan canggih, ditambah dengan persenjataan yang akan dibawa oleh Sektor 3, fondasi kekaisaran Quizel akan menjadi tak tergoyahkan oleh siapa pun di bumi yang hancur ini.
Bersambung 🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?