NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28. Adult Game pt.2

Semua mata tertuju pada Noa dan Landerik, menunggu. Keheningan yang canggung itu pecah ketika James tertawa kecil, lalu berseru keras,

“Cium… cium… cium.”

Satu suara berubah menjadi banyak. Ruangan dipenuhi sorakan yang berirama, menekan, dan tak memberi ruang untuk menolak. Noa menatap sekeliling. Wajah-wajah penuh antusias, mata-mata yang menganggap segalanya hanya permainan. Dadanya terasa sesak. Matanya memanas, air matanya hampir jatuh. Ia mundur setengah langkah.

Namun Landerik bergerak lebih cepat. Tangannya meraih pinggang Noa, menariknya mendekat. Tubuh mereka kini saling bersentuhan, bukan dengan kehangatan, melainkan dengan ketegangan yang kaku. Noa bisa merasakan napas Landerik yang berat, bau alkohol yang samar, tubuh yang sudah kehilangan keseimbangan sempurna. Noa menatapnya, suaranya bergetar.

“A-aku…”

Landerik memutus perkataan Noa, ia melahap bibir Noa penuh kerakusan. Ciuman itu tidak lembut, terlalu dalam, terlalu tergesa-gesa. Perlahan tangan Landerik menyesap kedalam Gaun Noa, tangan Noa segera menahannya, lalu ia membeku. Tubuhnya menegang, kepalanya terasa ringan, perutnya bergejolak. Ia menahan napas, berusaha tidak menunjukkan betapa tidak siapnya ia menerima itu semua.

Sorakan tamu semakin keras. Teriakan dan tawa bercampur menjadi satu, seolah apa yang terjadi di depan mereka hanyalah hiburan semata. Lalu semuanya terjadi terlalu cepat.

Tubuh Landerik tiba-tiba melemas. Pegangannya mengendur. Kakinya kehilangan pijakan. Mereka terjatuh.

Landerik roboh lebih dulu, tidak sadarkan diri dan tubuhnya menimpa Noa sepenuhnya. Benturan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Tidak ada sorakan. Tidak ada tawa. Hanya kepanikan.

“Noa—!”

“Seseorang panggil bantuan!” James yang tadi memprovokasi, wajahnya berubah pucat. Ia segera meraih ponselnya.

“Panggil bantuan. Sekarang.” ulang James,

Noa terbaring kaku di bawah tubuh Landerik, napasnya tercekat, matanya terbuka lebar. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, rasa takut, rasa bersalah, atau kenyataan bahwa malam itu telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.

...♡...

Landerik segera dibawa ke salah satu kamar hotel. James bergerak cepat, menelepon dokter pribadinya dengan wajah yang masih berusaha tenang meski jelas terselip kekhawatiran.

Noa hanya duduk di sofa, tubuhnya kaku. Lipstiknya berantakan, meninggalkan jejak samar di bibirnya, namun sorot matanya tampak polos, kosong oleh rasa takut dan cemas yang belum sempat ia cerna. Ia memperhatikan dari kejauhan saat dokter memeriksa Landerik, memasang alat-alat sederhana, mengecek napas dan nadinya.

Waktu terasa berjalan lambat.

Tak lama kemudian, dokter dan James keluar dari kamar. Suara pintu yang tertutup terasa berat di telinga Noa.

“Dia mengalami reaksi alergi alkohol,” ujar dokter dengan nada profesional. “Tubuhnya tidak mentoleransi kadar alkohol yang tinggi. Saya akan menuliskan resep, obatnya harus segera dibeli.” James mengangguk cepat, menerima kertas resep itu tanpa banyak bicara. Setelah memberi beberapa instruksi tambahan, dokter pergi, diikuti James yang tergesa meninggalkan kamar.

Kesunyian kembali menguasai ruangan. Noa berdiri perlahan, langkahnya ragu saat ia masuk ke kamar. Landerik terbaring di ranjang, jasnya telah dilepas, kemejanya sedikit terbuka di bagian leher. Wajahnya pucat, untuk pertama kalinya ia melihat Landerik yang lemah.

Noa mendekat.

Dengan gerakan hati-hati, ia meletakkan punggung tangannya di dahi Landerik. Panas. Terlalu panas. Jantung Noa berdebar, napasnya tertahan sesaat. “Maafkan aku.” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Dadanya terasa sesak. Bayangan sorakan, sentuhan, dan ciuman yang terpaksa itu kembali menghantui pikirannya. Ia menatap wajah Landerik yang diam, dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa bersalah benar-benar menenggelamkannya.

Noa menarik tangannya, jemarinya gemetar.

Di ruangan sunyi itu, dengan pria yang terbaring tak berdaya di hadapannya, Noa menyadari satu hal, apa pun yang terjadi malam ini, ia tak akan bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

...♡...

Obat-obatan yang diresepkan dokter telah tersusun rapi di atas nakas. Botol-botol kecil itu tampak diam, seolah menunggu waktu yang tepat untuk bekerja. Namun hingga larut malam, Landerik belum juga siuman.

Noa duduk di sisi ranjang, menatap wajahnya dalam diam. Napas Landerik masih berat, dadanya naik turun perlahan, sementara panas di tubuhnya belum sepenuhnya reda. Rasa cemas kembali mencengkram dadanya.

Ia bangkit, melangkah ke kamar mandi. Air mengalir pelan saat ia membasahi sehelai handuk, memerasnya dengan hati-hati sebelum kembali ke sisi ranjang. Dengan gerakan lembut, Noa meletakkan handuk dingin itu di kening Landerik.

Ia mengulanginya berkali-kali.

Setiap kali handuk menghangat, Noa menggantinya dengan yang baru, seolah takut lengah sedikit saja. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Malam semakin sunyi, hanya ditemani suara napas Landerik dan detik jam yang berjalan pelan.

Kelelahan akhirnya mengalahkan tubuhnya. Tanpa sempat menyadarinya, Noa bersandar di sisi ranjang. Tangannya masih berada tak jauh dari Landerik, seakan memastikan ia tetap di sana. Matanya terpejam perlahan, dan Noa pun tertidur di sampingnya dalam posisi yang canggung, namun penuh kewaspadaan. Di antara rasa lelah dan kantuknya, satu doa kecil terus berulang di benaknya, semoga pria itu segera membuka mata, dan malam ini berakhir tanpa penyesalan baru.

...♡...

Pagi merambat masuk melalui celah tirai, menyisakan cahaya pucat yang jatuh di wajah Landerik. Kesadarannya kembali perlahan, disertai rasa berat di kepala dan tubuh yang masih lemah. Hal pertama yang ia sadari bukanlah rasa sakit melainkan kehadiran seseorang di sisinya.

Noa tertidur di samping ranjang, tubuhnya sedikit meringkuk, seolah semalaman tak pernah benar-benar beristirahat. Gaun yang ia kenakan masih sama dengan gaun semalam, dan riasan wajahnya pun masih sama seperti malam sebelumnya. Eyeliner yang memudar, maskara yang sedikit luntur, dan lipstik berantakan samar di sudut bibirnya, meninggalkan jejak malam yang tak ingin diingat siapa pun.

Landerik menatapnya lama. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat, perasaan yang asing namun nyata. Bibir Noa yang sedikit terbuka naik-turun mengikuti napas tidurnya, tampak rapuh dan begitu dekat.

Tanpa sadar, jari Landerik terangkat.

Dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak mimpi itu, ia mengelus bibir Noa. Sentuhannya ringan, nyaris tak terasa, hanya sekilas, seperti memastikan ia benar-benar ada di sana. Namun detik berikutnya, kelopak mata Noa bergetar.

Landerik tersentak. Dalam refleks yang nyaris lucu, ia segera memejamkan mata kembali, mengatur napasnya, berpura-pura masih terlelap.

Noa terbangun perlahan.

Ia mengedarkan pandangan singkat ke sekeliling kamar, lalu berhenti saat menyadari posisi mereka. Tatapannya jatuh pada wajah Landerik yang tampak tenang, terlalu tenang.

Noa terdiam.

Beberapa detik berlalu, sunyi menggantung di antara mereka. Noa tidak bergerak, seolah takut suara napasnya sendiri akan membongkar sandiwara kecil itu.

Dan Landerik tetap memejamkan mata.

Keduanya terjaga. Keduanya diam. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, keheningan di antara mereka tidak terasa menyakitkan.

To Be Countinue...

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!