[Season 1: The Lady]
Ini adalah kisah hidupku, seorang Assassin dari kelompok penjahat terlegendaris Sapphire Blood yang pandai menyamar dan menyembunyikan identitas kelompok kami. Cita-citaku adalah menjadi pemimpin kelompok terhebat yang tak kenal ampun, tapi siapa sangka aku justru harus mengalami kegagalan saat menyamar menjadi seorang Lady bangsawan yang akan menikah dengan seorang pangeran.
Karena di saat hari kepergianku yang seharusnya berjalan lancar, kekacauan terjadi di istana akibat kemunculan seorang ahli sihir alias Warlock. Tak sampai disitu, salah satu anggota kerajaan melepaskan sihir terlarang di tengah-tengah banyak orang.
Itu adalah hari terburuk bukan hanya bagi diriku, melainkan semua orang di kerajaan. Apa yang terjadi selanjutnya? Apa aku berhasil melarikan diri dari kehidupan istana dan kembali ke kehidupan awal sebagai seorang penjahat, atau malah menyesal?
[Season 2: The Assassin]
Seorang Assassin yang telah mengalami kegagalan pada misinya. Itulah aku. Dibesarkan sejak kecil oleh kakekku alias Sang Lord pemimpin kelompok penjahat terlegendaris, Sapphire Blood. Aku hanyalah seorang perempuan yang berusaha bertahan hidup dengan berbagai cara dan berkelana ke mana saja, disetiap saat harus selalu berhati-hati menjaga rahasia kelompokku.
Dua bulan yang lalu, istana kerajaan yang kelewat besar adalah tempat bagiku untuk menjalankan perintah dari Sang Lord. Sekarang aku telah berhasil keluar dari tempat itu, memenuhi misiku untuk membawa pulang sesuatu yang berharga. Batu pusaka kerajaan Amberstone tentu sudah cukup, pikirku. Batu pembawa keberuntungan karena harganya yang tak main-main. Apalagi saat mendengar bahwa tak ada seorangpun yang pernah berhasil mencurinya selama ratusan tahun.
Lantas kenapa aku merasa gagal? Apakah benar penyebabnya hanya berupa cincin pertunanganku, cincin pengingat segalanya mengenai Sang Pangeran dan kehidupan istananya? Atau karena ini cincin yang telah disihir, dan kini aku terpaksa hidup penuh penyesalan dan keingintahuan yang besar terhadap Warlock dan ilmu sihir yang ternyata bukan hanya kisah belaka rakyat?
ig: ellennn_ws
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellen Ashiana D., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My True Self (2)
Tanah serasa bergetar saat aku dan James mulai menghunuskan pedang secara bersamaan. Kami bahkan tak menunggu Lord Matthew untuk memberi aba-aba.
Adrenalinku serasa dipompa dengan cepat. Padahal belum sampai semenit aku mengayunkan pedangku, tapi tubuhku sudah bergerak tanpa kesalahan sedikitpun.
Seperti seorang penari yang sudah lama tak mementas, tubuhku masih mengingat setiap gerakan yang perlu dilakukan saat James menyerangku dengan pedangnya.
Mungkin aku terlalu meremehkan kemampuan James saat melihatnya melawan Gideon. Ternyata ia tak mengurangi kekuatannya sedikitpun saat sedang melawanku. Kalau seperti ini terus, aku tak boleh lengah sedikitpun.
Tidak ada yang boleh menyaingiku, termasuk pria ini.
James mengerang, lalu mengayunkan pedangnya ke arah leherku. Tapi aku jauh lebih cepat. Aku berhasil menunduk kemudian tak segan-segan merobek jubah panjangnya yang terumbai di punggungnya.
Ia berkali-kali memainkan pedangnya tanpa ampun. Untuk sekilas aku melihat kemurkaan pada matanya. Apa ia benar-benar ingin membunuhku? Apa karena rasa keterkejutannya terhadap kemampuanku? Karena aku ini ternyata saingan yang setara dengannya?
Yah, aku tidak menyalahkannya. Sekarang ini memang kesempatan terbaik jika ingin membunuhku.
"Evaline!" Gideon berteriak histeris, padahal aku hanya mundur sedikit saat pedang James hampir mengenai tubuhku.
"James! Jangan lukai dia!" Teriak Gideon lagi. Kakaknya tak mendengarkannya. James malah semakin mempererat genggaman pedangnya, kemudian kembali menghunuskannya ke arahku.
Secara refleks, aku memutar tubuhku hingga akhirnya berdiri di belakangnya, lalu mengangkat pedangku. Sebenarnya aku tinggal menikam area vitalnya di sekitar tulang belakang, kemudian mengumumkan kemenanganku. Tapi aku tak melakukannya. Aku hanya terdiam dan menunggu James untuk kembali menghadapku lagi dan menyerangku dengan pedangnya.
Sreett!! Terdengar suara robekan kain baju, dan tanpa menolehpun aku tahu lengan kiriku baru saja terkena hunusan pedang.
Tanpa sadar aku tertawa terbahak-bahak. Bukan karena ekspresi aneh yang kulihat pada wajah James saat ia tak sengaja melukaiku, melainkan rasa semangat dan keterbukaan dari dalam diriku.
Aku merasa hidup kembali. Seolah-olah aku bangun dari mimpi buruk dan dibangkitkan. Aku tak pernah merasa sesenang ini setelah menghabiskan waktu berhari-hari menyamar menjadi seorang Lady. Setelah menghabiskan waktu bermalas-malasan seperti zombie yang kehilangan tujuan hidup.
Meskipun luka yang kudapatkan tidak berarti apa-apa seperti gigitan serangga, ini sudah cukup memuaskanku.
"Eva-" Terdengar suara keras metal saat pedang James terjatuh dari genggamannya. Aku bisa melihat kekhawatiran yang tergambar pada wajahnya, tapi kemudian menghilang secepat arus ombak yang menampar bebatuan di tengah laut.
Ekspresi yang ditunjukkan James hanyalah otot rahangnya yang menegang. Ia terus menatap luka baru pada lengan kiriku, sementara Gideon berlari menghampiriku dengan raut muka panik.
"Apa yang telah kau lakukan?!" Teriaknya pada kakaknya. Kemudian, tanpa melirik James lagi, ia memegangi lengan kiriku. "Apakah sakit?!"
Tidak. Aku ingin menjawab, tapi pada akhirnya hanya senyuman kecil yang kutunjukkan. Setelah itu barulah aku memperhatikan kondisi lenganku.
Oke, aku harus mengakuinya. Lukanya tidak main-main, karena saat itu James kebetulan sedang menggunakan kekuatan maksimalnya. Aku sengaja tak menghindar supaya ia dapat melukaiku.
"Panggil Lord Bryant," kata Gideon lagi, kini mulai menutupi luka sobekanku dengan sebuah kain putih yang entah muncul darimana.
Kepalaku mulai pusing karena kehabisan darah, tapi aku melawan keinginan untuk menunjukkan rasa sakit. Aku tak akan menunjukkan sisi lemahku, bahkan di depan orang-orang ini sekalipun.
Cairan kental merah mulai merembes, menetes dan mengotori tanah di saat aku dibawa kembali ke bangunan utama. Aku menoleh ke belakang dan melihat James yang masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Pria itu hanya menatap jemari tangannya dengan ekspresi tak terbaca.
Di depan kamarku, aku melihat Flo. Gadis berambut hitam itu terkesiap saat melihatku, kemudian berlari menghampiriku, tidak memberi hormat atau melirik Gideon sedetikpun.
Waktu berjalan lebih lambat dibanding biasanya. Setelah dokter kerajaan memasuki ruanganku, Gideon menutup pintu dan, setelah menatapku untuk yang terakhir kalinya, ia menungguku di luar kamar.
Luka fisik seperti ini tidak membutuhkan waktu lama untuk mengobatinya. Aku mengenali sebagian besar botol obat yang digunakan oleh Bryant, karena aku sempat mempelajarinya dulu saat masih kecil. Pengetahuan umum, kata kakekku.
Saat akhirnya ia mengganti perban, Bryant pamit dan meninggalkanku berduaan dengan Flo.
"Apa yang terjadi?" Tanya Flo, masih dilanda oleh rasa panik. "Siapa yang melakukan ini padamu?!"
"Tidak usah panik," balasku sambil tersenyum. Sekarang aku sedang berbaring di atas ranjang. Bukan untuk mengistirahatkan tubuh, melainkan untuk menenangkan dan memuaskan Flo.
Flo mengepalkan tangannya. "Siapapun yang melukaimu, aku akan-"
"Membalasnya? Kurasa tidak bisa," kataku. "Apa yang bisa kau lakukan terhadap Yang Mulia Prince James?"
"A-Aku... Maaf." Flo menundukkan kepalanya sedikit. "Hanya saja... Ini tak seharusnya terjadi-"
"Ya," potongku lagi. "Ini bukan salahnya. Aku memaksa James dan Gideon untuk ikut latihan bersama mereka." Sebenarnya bukan ini penyebabnya. Aku memang sengaja membiarkan James melukaiku, sebagian besar untuk keuntungan diriku sendiri.
Pintu kamarku didobrak dari luar, dan tiba-tiba aku merasa kecewa karena rupanya itu Gideon.
Tunggu. Buat apa aku berharap itu adalah James? Dia tak pernah peduli padaku, begitu pula sebaliknya.
"Kau boleh meninggalkan kami," kata Gideon pada Flo, kali ini dengan suara yang agak tenang. Pelayanku itu mengangguk, kemudian pergi keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Gideon mendesah, kemudian duduk di samping ranjangku. Ia menatap lenganku yang kini sudah diperban dengan rapi.
"Gideon-"
"Sudah kularang kakakku untuk tidak menemuimu."
Kami berbicara barengan. Aku melongo saat mendengar kalimatnya.
Pria itu kemudian menatapku dengan tajam. "Dan kamu. Tak ada lagi latihan untukmu, Lady. Aku tak mau melihatmu terluka lagi karena ulah James." Perintah mutlaknya itu membuatku merinding. Perintah langsung dari seorang pangeran, yang kutahu akan sia-sia kalau kulawan.
"Gideon." Aku menggeleng-geleng. "Apa katamu barusan?"
"Bahwa aku melarangmu untuk berlatih lagi?"
"Bukan, yang sebelumnya," kataku. "Tentang James."
Ia mengangkat alisnya. "Aku tak mau melihatmu terluka lagi karena ulah James?"
"Bukan!" Aku hendak bangkit dari ranjang, dan langsung diserang oleh rasa nyeri pada lenganku. Ugh.
"Pelan-pelan." Gideon mendorong pelan bahuku agar aku kembali berbaring di ranjang. "Maksudmu saat kularang James untuk menemuimu?"
"James," gumamku. "Dimana dia sekarang?" Tanyaku seolah-olah Gideon tak berbicara sebelumnya.
"Aku kurang tahu. Kemungkinan besar di menara pribadinya."
"Apa ia ingin mengunjungiku sebelumnya?" Aku berusaha untuk tidak menunjukkan rasa harapan terhadap James.
"Ya," jawab Gideon.
"Atas keinginannya sendiri?"
Gideon mengangguk, dan itu sukses membuatku mematung. Aku mulai membayangkan James. Lelaki muda dengan rambut emas-pirangnya dan matanya yang semerah darah murni. Benarkah ia mau menemuiku atas keinginannya sendiri? Apa ia mengkhawatirkan kondisiku, atau semata-mata menyesal karena sudah melukaiku?
"Beristirahatlah, Evaline." Gideon tersenyum, kemudian menarik selimut keatas bahuku.
Aku memejamkan mata, hanya sampai terdengar suara klik pada gagang pintu. Setelah itu aku langsung bangkit dan, sambil berjinjit agar tidak menghasilkan suara, menyambar jubah panjang hitam yang pernah kugunakan sebelumnya untuk menyelinap ke menara Gideon.
Aku menggigit bibir bawahku dan menekan luka pada lenganku yang masih tergolong baru. Aku harus bisa menahannya.
Sepertinya tidak akan mudah, batinku saat aku membuka pintu kamar dengan pelan.
Untungnya, tak ada siapapun yang berdiri di depan kamar. Flo tidak nampak dan lorong tampak kosong melompong.
Seutas senyum tercipta pada wajahku, setelah itu aku menarik jubahku lagi agar bisa menutupi wajahku seutuhnya.
Setelah pintu tertutup, aku menarik napas dan mulai berjalan tanpa berusaha untuk merapatkan diri ke dinding.
ku tunggu sampai pangeran James bertemu liana
salam hangat juga dari "Aster Veren". 😊
tetap semangat ya thor