Seorang wanita modern Aira Jung, petinju profesional sekaligus pembunuh bayaran terbangun sebagai Permaisuri Lian, tokoh tragis dalam novel yang semalam ia baca hingga tamat. Dalam cerita aslinya, permaisuri itu hidup menderita dan mati tanpa pernah dianggap oleh kaisar. Tapi kini Aira bukan Lian yang lembek. Ia bersumpah akan membuat kaisar itu bertekuk lutut, bahkan jika harus menyalakan api di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Dekrit baru
Langit pagi di ibu kota berwarna pucat, dan dentang lonceng istana terdengar tiga kali
pertanda adanya pengumuman kerajaan.
Para pejabat tinggi berdiri berbaris di aula utama, wajah mereka penuh tanda tanya.
Kaisar Kaelith duduk di singgasananya dengan wajah dingin tapi teguh.
Di sebelahnya, Elara berdiri anggun dalam balutan jubah putih perak warna yang biasanya hanya dipakai Kaisar dalam upacara resmi.
Bisik-bisik terdengar di antara barisan pejabat.
“Mengapa Permaisuri di sini?”
“Bukankah ini urusan Dewan?”
“Apakah Kaisar akan menandatangani dekrit baru?”
Kaelith mengangkat tangan, dan seluruh ruangan langsung sunyi.
“Hari ini,” suaranya menggema mantap,
“aku menetapkan Permaisuri Elara sebagai Penanggung Jawab Urusan Dalam Istana dan Perwakilan Sementara Kaisar dalam rapat administrasi negara.”
Suara rendah para bangsawan berubah menjadi riuh.
Beberapa wajah pucat, sebagian lain menunduk kaget.
“Tapi, Yang Mulia—” salah satu penasihat berani bersuara, “tidak pernah sebelumnya seorang permaisuri diberikan kuasa seperti itu!”
Kaelith menatapnya tajam.
“Maka hari ini adalah pertama kalinya.”
Tatapannya lalu beralih ke Elara.
“Mulai sekarang, semua urusan dalam negeri pengelolaan istana, laporan keuangan, hingga pengawasan Dewan Agung akan melalui Permaisuri terlebih dahulu.”
Elara menunduk dengan tenang.
“Saya akan menjalankan tanggung jawab itu sebaik mungkin, Yang Mulia.”
Namun di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini akan mengguncang segalanya.
Karena kekuasaan yang diberi secara resmi… selalu datang bersama musuh yang lebih licik.
Di luar aula, saat Elara berjalan keluar, tatapan penuh iri dan benci menyambutnya.
Beberapa selir berusaha tersenyum sopan, tapi mata mereka menusuk tajam.
Selir Myra bahkan tak menahan diri.
“Selamat, Permaisuri,” katanya dengan nada manis yang beracun.
“Sekarang Anda bukan hanya bunga istana, tapi juga durinya.”
Elara menoleh perlahan.
“Bunga tak bisa menusuk, Myra. Tapi duri bisa tumbuh di mana pun.”
Myra menelan ludah, lalu menunduk cepat.
Kaen yang berjalan di belakang Elara hanya bisa berbisik pelan.
“Kau barusan membuat seluruh paviliun selir membencimu lebih dalam.”
“Biar saja,” jawab Elara datar.
“Benci lebih jujur daripada senyum palsu.”
Di sisi lain, Selir Valen menghancurkan vas bunga di ruangannya begitu mendengar pengumuman itu.
“Dia memerintah di istana sekarang?! Apa yang dipikirkan Kaisar?!”
Pelayan-pelayannya gemetar.
“Nyonya, tolong tenangkan diri Anda…”
Valen menatap mereka dengan mata merah.
“Tidak! Dia akan menghancurkan segalanya.
Kaisar sudah buta ia tak sadar bahwa wanita itu sedang menyiapkan jalan untuk mengambil tahtanya.”
Ia berjalan cepat ke meja, menulis surat dengan tangan gemetar.
“Kirim ini pada Ketua Dewan Agung. Katakan padanya, aku memiliki bukti bahwa Permaisuri menyalahgunakan kuasa sebelum ia mendapatkannya.”
Pelayan itu menelan ludah.
“Tapi, Nyonya… itu—”
“Lakukan!” bentaknya.
“Kalau aku harus melawan Elara, maka aku akan gunakan hukum istana untuk menjatuhkannya.”
Malamnya, Elara duduk di paviliunnya, menatap lilin yang mulai padam.
Kaen datang membawa surat dari Dewan Agung.
“Mereka akan mengadakan rapat darurat besok. Mereka bilang… keputusan Kaisar dianggap melanggar tradisi.”
Elara menatapnya sekilas.
“Tradisi selalu dijadikan alasan bagi mereka yang takut kehilangan kekuasaan.”
Ia berdiri, membuka jendela, membiarkan angin malam masuk.
“Kau tahu, Kaen? Di dunia tempatku dulu… perempuan harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk dianggap mampu.
Sekarang aku di sini, dan tak ada bedanya.”
“Jadi apa kau akan mundur?”
Elara tersenyum dingin.
“Tidak. Aku akan buat mereka berlutut bukan karena aku Permaisuri… tapi karena aku satu-satunya yang tahu cara membuat istana ini tetap hidup.”
Keesokan harinya, Dewan Agung berkumpul.
Valen duduk di sisi kanan Ketua Dewan, berpura-pura sakit namun hadir demi “membela kehormatan istana”.
Ketika Elara masuk, ruangan itu terasa membeku.
Namun kali ini, ia tidak datang untuk bertahan
ia datang untuk menguasai.
“Permaisuri Elara,” suara Ketua Dewan terdengar tajam,
“kami menilai keputusan Kaisar yang memberikan kuasa pada Anda bertentangan dengan hukum adat istana. Kami meminta Anda menangguhkannya.”
Elara menatapnya datar.
“Apakah hukum adat juga melarang perempuan menggunakan akalnya?”
Ketua Dewan tersentak.
“Ini bukan masalah kecerdasan—”
“Tapi masalah ketakutan,” potong Elara, langkahnya maju perlahan.
“Kalian takut karena selama ini hanya tahu cara memerintah dengan tradisi, bukan logika.”
Beberapa pejabat mulai berbisik.
Valen menatapnya tajam, mencoba mencari celah.
Elara meletakkan sebuah gulungan di atas meja utama.
“Ini laporan keuangan tiga tahun terakhir dengan bukti penyalahgunaan dana pembangunan oleh beberapa anggota Dewan.”
Ruangan langsung hening.
“Saya bisa bawa laporan ini ke Kaisar. Tapi saya lebih memilih memberikannya langsung kepada kalian.
Karena aku tahu… rasa malu lebih mematikan dari hukuman.”
Ketua Dewan menegang.
Suara gemerisik jubah terdengar, dan satu per satu para pejabat mulai menunduk.
Valen mengepalkan tangan erat-erat.
Kali ini, bahkan Ketua Dewan tak bisa melindunginya.
Sore harinya, Elara berjalan keluar dari aula Dewan.
Kaen menatapnya kagum.
“Kau baru saja mematahkan adat yang sudah berdiri seratus tahun.”
Elara hanya menjawab pelan:
“Kalau adat itu dibuat untuk menindas, maka sudah seharusnya dipatahkan.”
Di menara tertinggi, Kaelith menyaksikan semuanya dari jauh.
Tatapan matanya lembut, namun dalam.
Ia sadar Elara bukan lagi hanya Permaisuri.
Ia adalah kekuatan yang bahkan dirinya, sang Kaisar, mulai sulit kendalikan.
Pagi itu, lapangan pelatihan istana penuh suara logam beradu.
Para prajurit menjalani latihan rutin, dan di antara mereka tampak Jenderal Arven,
pemimpin muda pasukan utara yang baru kembali dari perbatasan.
Elara berdiri di sisi lapangan bersama Kaen, memperhatikan ketertiban dan kekuatan pasukan.
Jubah biru kepermaisuriannya berkibar ringan ditiup angin.
“Jenderal Arven itu masih muda, tapi disiplin pasukannya luar biasa,” bisik Kaen.
“Ia salah satu yang mendukungmu dalam rapat Dewan kemarin.”
Elara mengangguk tipis.
“Loyalitasnya mungkin bukan untukku… tapi untuk Kaisar yang ia hormati. Dan itu cukup.”
Namun saat latihan usai, Arven menghampiri Elara dan berlutut.
“Yang Mulia, izinkan saya berterima kasih. Tanpa campur tangan Anda, perbekalan pasukan utara pasti takkan sampai tepat waktu.”
“Itu tugasku,” jawab Elara tenang. “Kau hanya melaksanakan perintah.”
“Tetap saja,” Arven menatapnya dalam, “saya tidak akan lupa siapa yang menyelamatkan ratusan prajurit kami dari kelaparan.”
Tatapan itu jujur, tapi terlalu lama.
Dan dari balkon atas aula latihan, Kaisar Kaelith menyaksikan semuanya.
Malamnya, Elara kembali ke paviliunnya.
Ia baru saja selesai membaca laporan Dewan saat suara langkah berat terdengar di luar.
“Kaisar meminta izin masuk,” suara pengawal terdengar.
Sebelum Elara sempat menjawab, pintu sudah terbuka.
Kaelith masuk tanpa ekspresi tanpa jubah kebesaran, hanya pakaian hitam sederhana.
Namun aura kekuasaan tetap mengeras di sekitarnya.
“Kau sibuk,” katanya datar.
“Seperti biasa,” Elara menutup berkas-berkas di mejanya.
“Ada hal yang perlu dibicarakan?”
Kaisar duduk tanpa diundang, pandangannya lurus pada Elara.
“Aku dengar Jenderal Arven menghadapmu pagi ini.”
“Benar. Ia melaporkan hasil latihan dan menyampaikan terima kasih.”
“Terima kasih?” Kaelith mengulang pelan, nadanya berubah dingin.
“Menarik. Aku tidak ingat pernah menyuruhnya berterima kasih pada Permaisuri secara pribadi.”
Elara menatapnya, tidak gentar.
“Mungkin karena ia tahu siapa yang menyelamatkan logistik pasukannya dari sabotase.”
Kaelith berdiri perlahan, langkahnya mendekat.
“Kau tampak… sangat nyaman berbicara dengannya.”
Elara mengangkat alis.
“Apakah Yang Mulia sedang menginterogasi, atau—”
“Tidak.”
Kaisar memotong dengan suara rendah, matanya menatap langsung ke mata Elara.
“Aku hanya ingin tahu… kenapa saat ia menatapmu, kau tidak memalingkan wajah seperti biasanya.”
Elara menahan napas sejenak.
Ada sesuatu di nada Kaelith bukan sekadar dingin, tapi juga cemburu yang disamarkan dengan kekuasaan.
“Karena aku tidak terbiasa takut, Yang Mulia.”
Kaelith terdiam sejenak, lalu tersenyum samar, senyum yang lebih seperti ancaman.
“Baik. Tapi ingat, Elara.”
Ia menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik di telinganya.
“Jika ada satu hal yang aku tidak suka… itu ketika seseorang menyentuh milikku.”
Jantung Elara berdegup cepat, tapi ia tidak mundur.
“Milikku?” ulangnya pelan.
“Kau bicara seperti aku sebuah benda, Kaelith.”
“Mungkin,” bisiknya, “tapi aku satu-satunya yang bisa melindungimu dari seluruh istana ini.”
Ia berbalik, berjalan keluar tanpa menoleh.
Namun sebelum pintu tertutup, Elara sempat melihat tangan Kaisar yang mengepal.
Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya cinta Kaisar atau amarahnya.
Sementara itu, jauh di paviliun timur, Selir Valen duduk bersama seorang pria berjubah gelap.
Wajahnya tersembunyi di balik tudung, tapi cincin berukir lambang negara tetangga terlihat di jarinya.
“Kau ingin menjatuhkan Kaisar sendiri?” suara pria itu berat.
“Bukan hal kecil, Nyonya Valen.”
Valen menyeringai lembut.
“Aku tidak perlu menjatuhkannya. Aku hanya perlu membuatnya kehilangan kendali… dan wanita itu akan melakukannya untukku.”
“Wanita itu?”
“Permaisuri Elara.”
Valen menatap keluar jendela, ke arah paviliun utama.
“Cinta adalah racun paling halus.
Dan aku akan pastikan racun itu perlahan memakan kekaisaran dari dalam.”
Di kamarnya, Elara berdiri di depan cermin jendela, menatap pantulan bulan.
Ia teringat kata-kata Kaelith
"milikku."
Seketika, bibirnya melengkung dalam senyum kecil.
“Kau pikir aku milikmu, Kaelith?
Tunggu saja.
Sampai kau sadar, tanpa sadar, kau sudah jadi milikku duluan.”