Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Pulang dari rumah Nadia teryata sudah lumayan larut. Rahma tampak tertidur di sampingku,rupanya dia kelelahan karna tadi dia begitu sibuk ikut membantu keluarga Nadia menjamu para tamu. Sampai di rumah sudah pukul setengah 12 malam,ku belai wajah Rahma untuk membangunkannya.
"Sayang bangun,kita sudah sampai di rumah" bisikku di telinganya,ku ciumi pipi mulusnya tapi tetap tak bereaksi.
Rahma hanya menggeliat sebentar lalu terlelap kembali. Aku sampai geleng-geleng di buatnya. Aku pun kemudian turun dari mobil,membuka pintu rumah lalu kembali ke mobil untuk membopong istriku untuk ku bawa masuk ke dalam rumah karna ternyata dia masih saja tertidur pulas. Ku baringkan tubuhnya di sofa ruang tamu,karna aku harus kembali keluar mengunci mobil dan pintu depan.
"Maasss..." ku dengar suara manja Rahma memanggilku,rupanya dia sudah terbangun.
"Yaaa...sebentar..." sahutku.
Aku masuk ke rumah dan melihat Rahma sudah duduk di sofa.
"Mas tadi yang bopong Rahma ya..."
"Ya emang ada orang lain?"
"Iiihhh...kok mas nggak bangunin Rahma sih...?"
"Sudah,tapi yang di bangunin malah tambah nyenyak. Kayanya memang ngarep di bopong deh" ucapku sambil duduk di sampingnya,ku letakkan barang bawaan dari rumah Nadia tadi di meja.
"Iiihhh nggak gitu juga...maaf ya mas...? Emmm...Rahma berat ya mas...?" Rahma mencium pipiku sekilas.
"Ya...lumayan..."
Aku merebahkan tubuhku ke sandaran sofa.
"Sayang ganti baju dulu gih sana..."
"Iya...mas juga dong..."
"Iyaaa...biarin mas baring sebentar ya..."
Rahma mengangguk dan segera berlalu masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama Rahma datang dengan baju tidur dan secangkir teh hangat.
"Mas,bangun...ini Rahma bikinin teh hangat"
Aku menggeliat...
"Maaasss..."
"Iyaaa...makasih ya istriku...tapi kok bukan kopi..."
"Ini udah malem...kalo minum kopi tar mas nggak bisa tidur lagi..."
"Emang nggak pingin tidur lagi...kan ini baru bangun tidur,masak disuruh tidur lagi...Mas mau begadang..."
"Emangnya mas mau ngapain begadang? Besok kita kan mau ke KUA pagi-pagi...? Tar kesiangan lho...ini masih malam"
"Akh mau ngapain pagi-pagi...yang penting kita kan kesana..."
Ku raih pinggang ramping istriku,lalu ku tarik pelan hingga dia duduk di atas pangkuanku.
"Iiihhh...mas,bersih-bersih dan ganti baju dulu gih sana,biar nggak bau keringet dan segeran..."
"Apa kamu bilang? Siapa yang bau keringet haa...kamu mau ku hukum dua kali dengan berkata begitu haa..." ku baringkan istriku di sofa dan ku tindih badannya.
"Aagh...maass...ampun..." ucapnya sambil memberontak,tapi aku tak peduli.
Ku ciumi bibir manisnya dengan rakusnya dan ketika ku lepas ciumanku karna Rahma mulai kehabisan napas,tangan kanannya menahan bibirku yang sudah akan menyerangnya lagi.
"Kita mandi terus sholat tahajjud dulu yuk mas,mumpung masih banyak waktu...nanti baru dilanjutin lagi hukumannya..." bisiknya.
"Huuhh..." aku setengah mengeluh,tapi aku pun menuruti kemauannya.
Memang benar kata Rahma,selama ada waktu ibadah jangan terlewatkan. Urusan dunia bisa ditunda sebentar,karna ibadah sholat malam tidak harus membutuhkan waktu berjam-jam. Sementara untuk urusan dunia,kadang kita bisa menghabiskan waktu lebih panjang dari urusan akhirat..
Aku dan Rahma pun mulai membersihkan diri dan menjalankan sholat malam sebelum melakukan ibadah malam lainnya...he he he...
Sekitar 30 menit kami menghadap Sang Pencipta,berdo'a memohon ridho rizki dan segala kebaikan Nya. Rahma tampak membereskan peralatan ibadah kami,sementara aku sudah menunggunya dan siap untuk memberi hukuman padana karna telah bersekongkol dengan papa mempermainkan aku.
"Rahma Syafira binti Surya Hadi sini..." ucapku serius sambil menggerakkan jari telunjukku untuk memanggilnya.
"Ih serem amat sih...kayak algojo mau memenggal kepala aja" ucapnya sambil mendekatiku.
"Hei...nggak inget ya kalo mbaknya sudah berbuat salah sama suaminya?"
"Iiihhh...kan udah minta maaf mas...masak nggak cukup...
"Kalo semua kesalahan selesai dan cukup hanya dengan kata maaf,di dunia ini tidak akan ada penjara tau... Ayo sini buru...jalani hukumanmu"
Rahma duduk di pinggir ranjang,lalu pelan-pelan dia membaringkan tubuhnya di sampingku,kemudian menyembunyikan tubuhnya yang terbalut kimono tidur ke dalam selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
"Hei...ngapain malah sembunyi di balik selimut?"
"Serem liat muka pak dokter...kaya mau makan orang ajah" ucapnya dari balik selimut.
"Emang aku mau makan kamu...bu guru nakal..." ucapku sambil melancarkan seranganku perlahan-lahan.
Malam semakin larut,hawa dinginnya menemani kami berdua yang sedang memadu cinta,menikmati indahnya surga dunia...Alhamdulillah...
*******
"Astaghfirullah..." teriak Rahma membangunkan tidurku.
"Apa sih sayang...pagi-pagi sudah teriak-teriak..."
Aku menggeliatkan tubuhku malas sambil tanganku meraba-raba untuk meraih tubuh istriku.
"Aduh bangun mas,kita udah kesiangan...cepet bangun kita mandi,mumpung masih ada waktu buat sholat subuh" ucapnya sambil memindahkan tanganku dan segera merapikan kimononya.
"Emang jam berapa sih..."
"Jam lima...ayooo...tar kita kelewat sholat subuh..." Rahma menarik-narik tanganku.
"Iya...iya..." aku pun beranjak dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.
Aku sudah rapi,duduk manis di meja makan menikmati sarapan buatan istri. Ya,sejak sehabis sholat subuh tadi,Rahma langsung sibuk di dapur memasak sarapan untukku.
"Hmmm...wanginya...nasi goreng sosis dan telor ceplok...eeemmm..."
"Makanlah mas,tapi kalo nggak enak maaf ya..."
"Mas makan ya...pasti enak ni...yang bikin aja tadi malem mas makan juga enak kok...he he he..."
"Ih apaan sih...pagi-pagi juga dah mesum..." Rahma mencubit lenganku.
"Ih bener lho...nasi goreng ini,nasi goreng terlezat yang pernah mas rasakan selama ini. Emmm...pantesan yang bikin rasanya juga enak banget..."
"Ih jangan mulai deh..."
"Ha ha ha..." aku tertawa dan dalam sekejap,nasi goreng di piringku pun sudah ludes,habis tak tersisa.
"Mau nambah mas?" tanya Rahma padaku.
"Nggak ah...udah kenyang. Kalo makan yang bikin nasi goreng mau nambah...habis nggak kenyang-kenyang..." tanganku meraih tubuh istriku hingga dia terduduk di pangkuanku.
"Mas ih...malu nanti kalo di liat budhe...sebentar lagi,budhe datang..." kilahnya sambil buru-buru berdiri dari pangkuanku.
'Drrrttt..drrrttt..drrrttt..'
Ponselku berbunyi..ku lihat nama 'DIMAS' tertera di layarku,cepat ku usap layar ponselku untuk menerima panggilan.
"Holla...Assalamu'alaikum..." sapaku sok ramah
"Wa'alaikumsalam...dimana lu? Sejak hari Minggu rumahmu kosong.Kemarin hari Senin aku samperin ke poli,katanya kamu cuti mendadak 3 hari. Ada acara apa kok sampe cuti nggak bilang-bilang sama aku. Nggak punya pulsa lu sampe nggak bisa telpon atau sekedar WhatsApp ke aku..." ucap Dimas nyerocos nggak henti-henti.
"Udah ngomongnya? Kamu sekarang masuk apa?"
"Aku masuk malem..."
"Kamu tau rumah Rahma kan?"
"Tau...Mang kenapa?"
"Aku tunggu kamu di rumah Rahma,cepet nggak pakek lama..."
"Kenapa harus di rumah Rahma..."
"Satu lagi...Nggak pakek nanya...Wassalamu'alaikum"
Cepat ku putus percakapan itu,agar Dimas nggak banyak nanya lagi. Apa yang telah ku lalui ini tak akan cukup untuk diceritakan lewat telepon,bertemu langsung akan lebih baik,walaupun aku harus siap dengan konsekwensinya.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...