NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Mantan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kim elly

Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

“Sayang,” ucap Reno pelan sambil mengelus rambut Nayla yang masih terlelap di dadanya.

“Hm…” gumam Nayla manja, matanya belum juga terbuka. Bukannya bangun, ia malah mempererat pelukannya, seperti enggan melepaskan kenyamanan itu.

“Kita ke kamar yuk,” bisik Reno dengan nada nakal.

“Nggak mau,” jawab Nayla setengah sadar, suaranya terdengar manja dan malas.

“Aku lapar,” ucap Reno sambil tersenyum menggoda.

“Sama,” balas Nayla, masih memejamkan mata.

“Terus, mau makan gimana kalau kamu nempel terus begini?” tanya Reno sambil terkekeh kecil.

“Bentar lagi, Renoo…” gumam Nayla malas sambil memeluknya lebih erat.

“Tanggung jawab loh, aku jadi pengen ini… kamu nempel terus,” bisik Reno dengan nada nakal.

“Reno mah, ih…” Nayla akhirnya bangun, wajahnya uring-uringan.

“Ngeces tuh, kena bajuku,” goda Reno sambil terkekeh geli.

“Hah? Serius?” Nayla langsung panik, matanya membesar sambil mencari noda di baju Reno. Tapi tak ada apa-apa.

“Reno! Iseng terus sih!” omel Nayla sambil manyun.

“Haha, ya udah, hayu makan. Lapar nih,” ucap Reno, menatap Nayla dengan lembut.

“Ya udah, ayok,” balas Nayla akhirnya, bangkit dari pangkuan Reno.

Begitu berdiri, Reno meringis. “Bentar-bentar…” katanya menahan sakit.

“Kenapa?” tanya Nayla panik.

“Kebas, sayang. Kaki aku,” ucap Reno sambil mencoba berdiri tegak.

Nayla menatapnya penuh rasa bersalah. “Ya ampun, aku tidur lama banget ya?”

“Lumayan,” jawab Reno sambil tersenyum menenangkan.

Nayla segera mengambil cermin kecil, merapikan rambut dan wajahnya. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju restoran.

Beberapa karyawan yang melihat mereka hanya tersenyum simpul, mungkin iri, mungkin kagum.

“Banyak orang, Ren,” bisik Nayla pelan sambil menatap sekeliling.

“Iya, ramai banget,” jawab Reno sambil membuka menu. “Mau makan apa?”

“Bebas,” balas Nayla, menatap ponselnya sebentar.

Reno menatap menu dengan serius, lalu menoleh. “Yang ini ya, boleh?”

“Boleh,” jawab Nayla sambil tersenyum kecil.

Tak lama kemudian, makanan datang. Aroma masakan memenuhi meja mereka.

“Enak kan makanannya?” tanya Reno setelah beberapa suapan.

“Iya,” jawab Nayla singkat sambil melanjutkan makannya.

Mereka makan sambil sesekali bertukar pandang. Meski suasana restoran ramai dan padat, keduanya tetap menikmati waktu itu. Namun karena kursi terbatas dan tamu terus berdatangan, mereka terpaksa segera mengakhiri makan.

“Aduh, makan buru-buru banget,” keluh Nayla sambil tertawa kecil.

“Iya, padat banget hari ini,” balas Reno sambil menatap layar laptopnya.

“Kamar juga penuh, Ren,” ucap Nayla sambil membuka tab di tabletnya.

“Mungkin lagi musim liburan,” jawab Reno santai.

“Emang tanggal merah?” tanya Nayla heran.

“Bukan,” jawab Reno singkat.

“Ah, udahlah. Syukur aja ramai,” ucap Nayla akhirnya, kembali fokus mengedit file di depannya.

Setelah selesai, Nayla berkeliling di sekitar hotel—menyusuri taman, melihat restoran, dan memperhatikan setiap detailnya. Sore mulai turun perlahan, dan Nayla pun mengajak Reno pulang.

Dalam perjalanan pulang, Reno tiba-tiba membelokkan mobil ke arah supermarket.

“Sekalian belanja kebutuhan rumah ya,” katanya sambil tersenyum.

Nayla menatapnya lelah tapi bahagia. “Oke, tapi kamu yang dorong troli ya.”

Reno tertawa kecil. “Siap, yang penting jangan belanja sampai penuh satu mobil lagi.”

“Janji nggak janji, bisa aja tergoda,” balas Nayla sambil tersenyum jahil.

Nayla dan Reno berjalan bergandengan tangan di lorong supermarket, langkah mereka santai. Suasana supermarket sore itu ramai, tapi keduanya tampak tenang, seperti dunia hanya milik mereka berdua.

“Mau ini,” ucap Nayla manja sambil mengambil jelly dari rak.

“Ambil,” balas Reno tersenyum, menatapnya dengan pandangan penuh sayang.

“Mau ini juga,” ucap Nayla lagi, kali ini mengambil es Kiko dengan mata berbinar.

“Ambil, sayang,” jawab Reno sabar, suaranya lembut namun geli melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil.

Nayla tersenyum puas lalu terus menjejali troli mereka dengan makanan ringan, peralatan mandi, hingga bumbu dapur. Reno hanya mengikuti dari belakang sambil sesekali menggeleng, menikmati tingkah istrinya.

“Nggak beli itu, apa ya namanya…” ucap Reno sambil berpikir.

“Apa?” tanya Nayla sambil menata barang-barang di troli.

“Itu, buat wajah.”

“Oh! Skincare? Itu di dokter kecantikan, sayang. Nanti aku treatment bulan depan.

Anter ya?” jawab Nayla sambil tersenyum manis.

Reno tertawa kecil. “Oh, kirain bisa beli di sini.”

“Nggak lah, paling aku mau beli lipstik aja. Aku ke sana dulu ya, kamu ke kasir duluan,” ucap Nayla sebelum berjalan menuju bagian kosmetik.

Di bagian make-up, Nayla memilih beberapa lipstik dari berbagai merek. Tangannya lincah mengambil bedak, blush on, maskara, dan lain-lain. Saat ia sibuk memilih, seorang wanita datang menghampiri.

“Misi, Kak. Saya mau lipstik kayak cewek ini,” ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah Nayla.

Pelayan toko melihat stok. “Tinggal satu lagi, Kak. Dan udah sama Kakak ini warnanya.”

“Nggak ada lagi?” tanya wanita itu agak kesal.

“Maaf, nggak ada, Kak,” jawab pelayan sopan.

Nayla enggan menoleh, tapi suara yang datang berikutnya membuat darahnya langsung naik.

“Buat gue donk,” ucap wanita itu dengan nada songong.

Nayla menoleh perlahan. Matanya langsung menyipit. “Lo lagi, lo lagi. Beli di toko lain sana. Ogah banget gue kasih buat lo,” ucap Nayla ketus, tangannya merapikan belanjaannya tanpa peduli.

Tania tersenyum sinis. “Mana Reno? Gue kangen dia.”

Nayla langsung mengambil barang-barangnya dan pergi tanpa menjawab. Namun dari ujung lorong, Tania menatap Reno yang sedang di kasir.

“Anjir… Reno makin ganteng aja,” gumamnya sambil melangkah mendekat.

“Hay, Ren. Apa kabar?” sapa Tania manja.

Reno tidak menjawab. Ia sibuk mengeluarkan belanjaan dari troli. Nayla berdiri di sebelahnya, melipat tangan di dada, menahan rasa cemburu yang sudah naik ke ubun-ubun.

“Lo di Bali sekarang?” tanya Tania dengan senyum menggoda.

“Pergi nggak lo?” bentak Nayla kesal.

“Gue ngomong sama Reno, bukan sama lo!” balas Tania keras.

“Reno suami gue. Dan gue berhak larang dia bicara sama lo,” tegas Nayla dingin.

Tania terkekeh kecil. “Dia sahabat gue, lo juga tau itu.”

Nayla maju perlahan, matanya tajam menusuk. “Itu dulu, sebelum lo hancurin hubungan kita,” bisiknya dingin.

“Sayang, udah semua. Kita pulang,” ucap Reno lembut sambil memegang bahu Nayla.

“Lo jangan ganggu kita lagi, Tania. Udah cukup lo pisahkan gue sama Nayla dulu,” ucap Reno tegas sebelum pergi.

Tania hanya tersenyum, tatapannya masih menempel pada Reno. “Kita akan ketemu lagi, Ren!” teriaknya sambil tersenyum penuh arti.

Nayla mendelik kesal. Emosinya nyaris meledak. Dalam mobil, ia terdiam sambil menatap ke luar jendela.

“Sayang, jangan marah sama aku. Aku beneran nggak tau apa-apa,” ucap Reno hati-hati.

“Maju,” balas Nayla dingin.

“Jangan marah, dong…”

“Maju!” bentak Nayla, suaranya tinggi.

“Iya, iya… ini maju,” sahut Reno cepat, melajukan mobilnya tanpa berani bicara lagi.

Suasana hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Reno sesekali melirik Nayla, tapi perempuan itu tetap menatap lurus ke jalan dengan rahang mengeras.

Sesampainya di rumah, Nayla membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras.

“Astaghfirullah…” ucap Reno kaget.

Ia membawa dua kantong besar berisi belanjaan ke dalam rumah. Pintu kamar sudah tertutup rapat, terkunci.

“Nayla… sayang, buka,” ucap Reno pelan sambil mengetuk.

Di dalam, Nayla berdiri di bawah pancuran shower. Air membasahi tubuhnya, tapi air mata mengalir lebih deras dari air yang jatuh. Ia menangis diam-diam, melepaskan amarah dan kecewa yang menumpuk.

“Nayla… sayang,” suara Reno terdengar lembut dari luar. Tapi tetap tak ada jawaban.

Reno akhirnya menyerah. Ia memasukkan belanjaan ke kulkas, lalu menyiapkan makanan hangat. Setelah selesai, ia memfoto makanan itu dan mengirimkannya lewat chat.

“Dinner yuk 😊” tulisnya singkat.

Beberapa menit kemudian, Nayla keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan baju tidur lembut, rambutnya masih sedikit basah. Saat melihat pesan Reno, senyum kecil muncul di bibirnya. Ia membuka pintu perlahan.

Reno sedang menata meja makan. Aroma makanan memenuhi ruangan. Tiba-tiba Nayla memeluknya dari belakang, hangat dan lembut.

“Udah mandi, ya?” tanya Reno sambil mencium aroma wangi istrinya.

“Udah,” jawab Nayla manja.

Reno membalikkan badan, menatap wajah Nayla yang kini sudah lebih tenang. Ia mengecup bibirnya lembut. “Kita makan, ya.”

“Iya,” jawab Nayla pelan.

Mereka makan malam bersama. Reno berusaha membuat suasana hangat—menyisipkan lelucon kecil, menggoda Nayla agar tertawa lagi. Perlahan, senyum Nayla kembali muncul.

Usai makan, mereka duduk di ruang tengah menonton TV. Nayla berbaring di pangkuan Reno, sementara Reno mengelus rambutnya sambil memainkan ponselnya.

“Eh, sayang… si Putra chat nih. Katanya mau nikah,” ucap Reno tiba-tiba.

“Mana? Serius?” Nayla langsung bangun setengah duduk.

“Iya, tiga bulan lagi katanya.”

“Wah, beda sebulan sama Sasa dan Davin,” ucap Nayla tersenyum.

“Berarti tinggal Ray, ya,” ucap Reno sambil mengusap kepala Nayla.

“Hm,” jawab Nayla pelan.

“Kok Ray nggak pernah punya pacar?” tanya Reno penasaran.

“Nggak tau,” jawab Nayla sambil menyandarkan kepala di bahunya.

“Dia masih suka kamu?” tanya Reno lagi.

Nayla hanya bergumam, “Hm…”

“Kenapa waktu putus dari aku dulu, kamu nggak sama Ray aja?” tanya Reno lagi, separuh bercanda, separuh penasaran.

“Aku lebih nyaman dia jadi sahabat aku,lagian kalo aku sama ray aku nggak akan bareng kamu sekarang.” jawab Nayla pelan.

“Iya juga ya,” gumam Reno.

Nayla tersenyum, lalu memeluk lengan Reno erat.

“Udah ngantuk?” tanya Reno lembut.

“Heeum…” Nayla menguap kecil.

“Bobo yuk,” ucap Reno sambil berdiri.

“Mau digendong,” ucap Nayla manja.

“Siap!” balas Reno sambil tertawa kecil. Ia langsung membungkuk, menggendong Nayla ke kamar dengan hati-hati.

Malam itu, mereka tidur dalam dekapan hangat—menyisakan aroma sabun, kelelahan, dan cinta yang menenangkan.

Bersambung...

Kasih semangat author dong dengan cara.

#vote

#like

#komen

Jangan lupa kasih bintang juga makasih 🥰🥰🥰

1
🦋Rosseroo🦋
Nayla di bawa kemana? Siapa yg bawa? 😢
🦋Rosseroo🦋
kan biar hangat, jadi bulan madu ke tempat dingin😅
Siti Nina
Yah si reno akhirnya tergoda juga sama si luna tapi kasian si reno klw tau si nayla dh nikah sama si ray gimana tuh reaksinya pasti meledak kaya bom ancur semua
Siti Nina
Dan setelah rahasia itu terungkap maka Boom meledak semua nya
Siti Nina
Gimana reaksi Nayla klw dia ingat semua nya
Siti Nina
Coba saja ingatan Nayla kembali gimana tuh nasib si Ray dah misahin dia sama suami nya
Siti Nina
Jangan sampai si Reno tergoda sama si luna
Siti Nina
Kasihan Reno
Siti Nina
Kasihan Reno kenapa jadi gini ternyata si Ray penjahat yg sesungguh nya
Siti Nina
Aneh banget 🤔
Siti Nina
Hmm,,,si Ray udah gelo mau nikahin istri orang
mochachino: 🤣🤣saking cinta nya kak jadi gelo dia
total 1 replies
Siti Nina
wahh,,,ternyata so Ray nih biang kerok nya 😄
Siti Nina
Padahal bagus ceritanya 🤔
mochachino: 🥲iya kakak tapi sepi 🤭
total 1 replies
Siti Nina
Si zevan nih kaya nya
Xia
kamu juga cemburuan sih nay🗿
Xia
ya ampun, mr posesif ini~
Xia
ih tuh ulet kan ngejar, siapa yg gk kepikiran coba🗿
Nuri_cha
itu namanya pemerasan Arka 🤭
Nuri_cha
iih... segitu ngemisnya kamu Tan. malu atuh, dah kayak gak ada lelaki lain aja
Nuri_cha
paling nelangsa kalo LDM tuh... Rindu itu berat Nay 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!