Zhu Xin Tian, putri dari bangsawan Zhu, wanita yang berdarah dingin haus akan darah.
Suatu hari setelah menjalankan misinya sebagai pembunuh bayaran, Xin Tian mati keracunan, namun bukannya mati Xin Tian malah berpindah dimensi kezaman modern.
Bagaimana kehidupan Zhin Tian di zaman modern? Berhasilkah ia membalaskan dendam pemilik tubuh? siapa laki-laki yang berhasil meluluhkan hati Zhin Tian dan bagaimana kisah asmaranya setelah dendamnya terbalaskan?.
Saksikan Kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Farel Bag 2.
Sepulang kuliah Farel melihat ada yang berbeda dari sang pujaan hati, gadis itu terlihat pucat dan tak berdaya.
Dan akhirnya Farel mengikuti Sindy dari kejahuan, Farel takut terjadi sesuatu hal di luar dugaannya kepada Sindy.
"Rumah Sakit?" guman Farel saat Sindy berhenti di rumah sakit.
Saat Sindy masuk kerumah sakit, Farel pun juga masuk kedalam rumah sakit tersebut.
Sindy menuju ruang yang biasa ia temui, seorang dokter cantik yang menanganinya selama ini.
"Ceklek" Sindy membuka pintu tersebut dan terlihatlah dokter yang selalu menolongnya.
"Astaga Sindy kamu pucat sayang" kaget sang dokter wanita tersebut.
"Dokter apa umur ku tidak panjang lagi?" tanya Sindy dengan air mata berlinang.
Darah pun tiba-tiba mengalir di kedua hidung Sindy, Farel yang melihat itupun kaget tidak menyangka Sindy selama ini menderita.
"Kau pasti sembuh sayang, kanker ini pasti bisa kita sembuhkan, kau harus berjuang" lirih sang dokter tersebut sambil mengambil obat yang selalu ia berikan kepada Sindy.
Jantung Farel berpacu cepat saat mengetahui bahwa Sindy memiliki penyakit jantung, Farel akhirnya tau kenapa Sindy selalu menolaknya.
"Apa sebegitu menderitanya kamu" lirih Farel meneteskan airmata, ini pertama kali bagi Farel meneteskan airmatanya.
Setelah minum obat, darah yang tadinya keluar dari hidung Sindy pun berhenti, namun daya fisiknya tetap lemah.
"Dokter, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta" adu Sindy dengan mata yang berbinar-binar, selama ini wanita tersebut tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta dan juga tidak pernah menyukai seseorang.
"Apa pemudanya sangat tampan sampai membuat kau jatuh cinta sayang?" tanya dokter cantik dengan menggoda.
"Dia ganteng, bahkan dia yang paling ganteng, tapi dia ngeselin" ucap Sindy menceritakannya dengan berlinang air mata.
"Lalu apa dia juga menyukaimu?" tanya dokter cantik itu dengan iba melihat pasien yang selama ini ia tangani.
"Ya, dia sangat-sangat mencintaiku, tapi aku selalu menolak keberadaannya" isak Sindy pun akhirnya kembali keluar.
"Mungkin aku telah menyakitinya dokter, mungkin saja sekarang dia membenciku dok, kenapa dok, kenapa semua harus aku yang seperti ini".
"Aku di buang oleh mereka sejak bayi, aku di pungut, di jadikan *******, sekarang aku terkena penyakit Kanker, apa lagi guna hidup ku dok?".
"Aku hanya ingin sepertu wanita lain, seperti wanita yang bisa merasakan kebahagiaan dan cinta, aku juga ingin mengatakan Farel aku mencintaimu sangat dan sangat" isak Sindy dalam pelukan sang dokter, Sindy teramat sakit, semuanya sakit.
Farel tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya dan..
"Braaak" Farel mendorong pintu tersebut dengan sangat kasar, membuat dua wanita yang terisak itupun terkejut.
"Fa...reeee..lll" Sindy terbata-bata saat orang yang masuak adalah Farel.
Tanpa pikir panjang Farel menarik tangan Sindy dan masuk kedalam pelukannya.
"Apa rasanya sakit?" tanya Farel dengan air mata yang menetes, Sindy bisa merasakan jatuhnya air mata Farel.
"Tidak, ini tidak sakit, ku mohon jangan menangis" jawab Sindy dan melepaskan pelukkan tersebut seraya mengusap air mata Farel.
Farelpun kembali memeluk Sindy tanpa menghiraukan keberadaan sang dokter.
"Aku sudah dengar semuanya, kenapa hmm, kenapa kau sembunyikan dariku?" tanya Farel yang menyesal tidak mengetahui betapa menderitanya Sindy.
"Maaf, aky hanya tidak ingin membuat mu mengasihani aku, aku tidak ingin merepotkanmu" jawab Sindy dalam pelan dalam pelukkan Farel.
"Maka sekarang bagilah rasa sakitmu padaku, aku sangat-sangat mencintaimu, sakit rasanya melihat kau merasakan sakit ini sindirian" ungkap Farel dengan sangat hangat
"Apa kau masih mau dengan ku seperti ini?" tanya Sindy.
"Ya aku akan selalu mencintaimu".
"Aku juga sangat mencintaimu" Farel bahagia akhirnya cintanyapun terbalaskan.
"Hummm" deheman tersebut membuyarkan dua pasutri yang tengah berpelukkan.
"Maaf" malu Sindy yang melupakan keberadaan sang dokter.
"Ya aku paham, sekarang lebih baik kalian pulang, Sindy harus istirahat total".
"Baik dok, kami permisi" pamit Farel dan menggandeng tangan sang kekasih.
Keesokkan harinya di kampus, Farel merasa aneh karna dia tidak menemukan sang kekasih di kampus.
Kemarinpun setekah mengantarkan Sindy pulang, Sindy hanya berpesan agar Farel selalu menunggunya.
"Astaga apa maksudnya siang kemarin ya, kemana dia? kenapa dia tidak ada di kampus, apa dia sakit?" tanya Farel dalam hati dan terus berkeliling mencari Sindy.
"Bukkkhhh" satu pukulan melayang di pipi kanan Farel.
"Apa kau puas membuat dia pergi hah, andai kau tidak masuk kedalam hidupnya, dia tidak akan pergi meninggalkanku" teriak Randi dengan penuh emosi.
"Apa maksudmu, siapa yang pergi, Sindi?" Farel melupakan sakit yang ia rasakan di pipinya, yang terpenting baginya adalah Sindy.
"Jawaaabbb" Farel kini tengah marah karna ia tidak mendapatkan jawaban dari Randi.
"Ia dia pergi pasti karna ulah lo, gara-gara lo adik angkat gue pergi, dia bukan hanya sekedar adik angkat gue, dia juga cinta pertama gue yang lo rebut" maki Randi membuat Farel mematung.
"Apa benar karna aku, apa maksudnya kemarin siang itu adalah ia akan pergi dan memintaku buat menunggunya" guman Farel.
Flassback end.
"Sungguh sedih ceritamu adik" lirih Zhin Tian setelah mendengar cerita adiknya.
"Apa kau tidak mencari keberadaan kekasihmu?".
"Kau bodoh, kau adik yang bodoh, seharusnya kau mencarinya sialan" Teriak Zhin Tian emosi melihat adiknya yang begitu bodoh.
"Ya aku memang bodoh".
"Ahh sudahlah ayo kita pulang, aku malas dengan adik bodoh seperti mu" ketus Zhin Tian.
"Kenapa kakak yang merasa kesal?" tanya Farel, namun Zhin Tian tetap saya menggerutu.
Liulin*