Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Happy Reading..
.
.
.
Rora masih dengan posisi yang sama, meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya dengan beralaskan tangan. Sedangkan tangan yang satunya tidak berhenti mengusap batu nisan milik almarhum calon suaminya. Mereka semua menatap Rora sendu.
Disaat dia akan merasakan memiliki sebuah keluarga. Disaat dia akan bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Disaat dia akan memulai hidup dengan keluarga yang peduli dengan dirinya. Kenapa tuhan harus mengambil Dika dari sisinya. Kenapa tuhan seolah tidak mengizinkannya untuk merasakan kebahagiaan? Apakah memang sudah takdirnya untuk hidup sendirian?
"Mengapa semua ini harus terjadi padaku?" Tanya Rora dalam hati.
Citra melepaskan pelukkan Rendra, berjalan ke arah Rora lalu ikut bersimpuh di sisi perempuan kesayangan anaknya. Ia menyentuh bahu Rora lalu mengusapnya lembut. "Sayang.. Kita pulang dulu ya.. Pulang sama tante."
"Hiks.. "Rora semakin terisak saat mendengar suara Citra, membuat bahunya semakin bergetar.
Citra meraih tubuh Rora yang terisak semakin keras. Ia memeluk erat tubuh calon menantunya itu. Ah, masih bisakah ia menyebut Rora calon menantu disaat sang anak sudah pergi untuk selama- lamanya. Tapi satu hal yang pasti. Pelukkan yang ia berikan tetap sama seperti pelukkan sebelumnya. Citra memeluk Rora tanpa sedikit keraguan seperti kemarin- kemarin yang justru membuat Rora semakin merasa bersalah.
"T.. Tante.. Kenapa harus Dika? Kenapa bukan Rora saja yang pergi." Ucap Rora.
Citra tidak mengatakan apapun. Ia hanya semakin mengeratkan pelukkannya pada Rora, seolah ia dapat merasakan rasa sakit dan terlukanya hati Rora.
Rora menangis dalam pelukkan Citra, menenggelamkan wajahnya pada bahu mama Dika. "M.. Maa.. Maaf.. Maafkan Rora tante. Karena Rora Dika harus mengalami kecelakaan.. Karena Rora tante harus kehilangan Dika.. Maafkan Rora.. " Ucapan Rora terhenti. Ia tidak melanjutkan lagi karena ia tahu seberapa banyakpun dirinya meminta maaf itu tidak akan bisa menghilangkan duka di hati keluarga Dika terutama Citra.
"Kita pulang ya.." Ajak Citra. "Kamu masih bisa kembali kesini lagi.. Kapanpun kamu mau."
Sepulang dari pemakaman, mungkin karena terlalu lama menangis membuat Rora tertidur. Tanpa ada yang meminta Bara langsung menggendong Rora dan membawanya langsung ke kamar Rora. Bara menarik selimut sampai batas dagu Rora. Ia menatap Rora cukup lama lalu sedikit membungkuk untuk merapikan anak rambut yang sedikit menutupi kening Rora.
"Bar.." panggil Elina sambil menghampiri anak lelakinya.
"Iya ma."
"Bagaimana Rora?"
"Masih tidur ma."
Elina menghela nafasnya.
"Ma.. Apa kita akan tetap melakukannya?" Tanya Bara ragu.
"Apa ada pilihan lain?" Elina balik bertanya. "Kalau kamu tidak bisa tidak apa-apa. Mama tidak akan memaksa kamu." Ucap Elina sambil mengusap bahu Bara.
Bara hanya terdiam.
"Tapi mama akan benar- benar bersyukur jika itu kamu." Ucap Elina lagi sebelum pergi meninggalkan Bara.
.
.
.
Hari sudah berganti, matahari sudah hampir menghilang dan Rora masih belum menampakkan dirinya yang tentu saja membuat Citra merasa khawatir.
"Apa dia belum keluar?" Tanya Citra pada Elina.
"Belum mbak." Jawab Elina sambil menatap pintu kamar Rora.
"Apa aku boleh melihatnya?" Ijin Citra.
"Tentu saja mbak. Mbak langsung masuk saja. Rora tidak pernah mengunci pintu kamarnya." Jawab Elina lalu tersenyum pada Citra.
Sungguh sikap Citra yang seperti inilah yang membuat Elina begitu sangat menyegani Citra di antara saudara suaminya yang lain. Sikap tidak pernah membenci orang lain. Sikap yang tidak pernah menyalahkan orang lain meski apapun yang terjadi.
Citra melangkahkan kakinya perlahan. Ia mengetuk pintu kamar Rora. "Sayang.. Tante ijin masuk ya." Ijin Citra sebelum membuka pintu kamarnya.
Citra mengerutkan keningnya saat tidak mendapati Rora di dalam kamarnya. Ia mencoba mencari Rora di balkon kamarnya. Setelah melakukan operasi dan dapat melihat kembali Elina memang memindahkan kamar Rora keatas dan tepat bersebelahan dengan kamar Bara.
"Tante." Panggil Rora.
Citra berjalan menghampiri Rora dengan raut khawatir. Ia meraih kedua tangan Rora. "Tante pikir kamu kemana sayang."
Rora tersenyum tipis. "Rora dari kamar mandi tante."
"Sudah lebih baik?" Tanya Citra sambil menatap sendui ke arah Rora.
Rora tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya perlahan. "Sedikit."
"Kita duduk disana ya." Ajak Citra sambil menggandeng tangan Rora menuju balkon.
Saat melihat tatapan Citra, Rora kembali merasakan rasa bersalah. Rasa yang bahkan lebih sakit dari rasa sakit saat dirinya baru mengetahui fakta bahwa dirinya bukanlah anak kandung mama dan papanya.
Rasa penyesalan Citra rasakan saat menatap Rora. Wajah yang kini terlihat sangat bengkak dan kedua mata yang sembab membuat Citra termenung. Sungguh demi tuhan ia benar- benar menyesal karena sempat mengabaikan Rora karena hasutan keluarganya.
"Maafkan tante." Ucap Citra membuka percakapan. Rora terdiam menunggu ibu dari orang yang ia cintai itu untuk melanjutkan ucapannya. "Maafkan tante karena sempat mengabaikan kamu." Ucap Citra tulus.
"Kenapa tante yang meminta maaf? Tante berhak marah. Tante berhak mengabaikanku karena disini memang Rora yang salah. Dan seharusnya Roralah yang meminta maaf."
Citra menggelengkan kepalanya. "Tante memang sempat merasa kecewa dan marah kepada kamu tapi semakin kesini tante semakin berfikir untuk apa tante harus kecewa dan marah kepadamu, Dika juga tidak mungkin bisa hidup lagi. Tante sekarang hanya belajar untuk ikhlas." Citra menjeda ucapannya. Citra menggenggam tangan Rora. "Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah karena ini memang sudah takdir Dika. Tante ingin kamu melanjutkan hidup kamu."
Citra menatap kedua mata Rora. "Apa tante boleh memeluk kamu?" Tanya Citra.
Rora menganggukkan kepalanya dan Citrapun langsung membentangkan kedua tangannya.
Rora menggeser sedikit duduknya lalu masuk kedalam pelukkan Citra.
.
.
.
"Sayang.. Apa kita bisa bicara sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan." Tanya Elina pada Rora setelah selesai makan malam.
Rora mengulas sedikit senyum nya lalu menganggukkan kepalanya.
"Kita bicara di ruang keluarga saja ya." Ajak Elina. Citra memilih untuk berjalan di belakang Elina bersama Rora.
"Tante ingin membicarakan apa?" Tanya Rora setelah mendudukkan dirinya.
"Kita tunggu Bara dan yang lainnya dulu ya sayang." Ucap Elina sambil mengusap punggung tangan Rora.
Setelah menunggu hampir lima belas menit Bara dan yang lainnya satu per satu muncul dan mengisi tempat duduk yang kosong. Rora mengerutkan keningnya saat melihat kehadiran dari Ratna nenek Dika, Ayudia , Daniah dan suami. Rora semakin merasa terkejut saat ada mama dan papanya disana. Bahkan Ezra pun juga ikut hadir.
Rora menatap satu persatu orang yang berada di sana. "Kenapa semuanya ada disini? Sebenarnya apa yang ingin tante Elina dan tante Citra bicarakan kepadaku?" Tanya Rora dalam hati.
"Jadi?" Tanya Rora sedikit Ragu
"Sayang kamu masih ingatkan tiga minggu lagi kamu seharusnya menikah dengan Dika." Citra menjeda ucapannya sambil menatap Rora untuk melihat bagaimana reaksinya.
Rora menundukkan kepalanya sambil mencubiti ujung jarinya. Rora bahkan lupa jika penikahannya dengan Dika tiga minggu lagi.
"Kami ingin kamu tetap melanjutkan pernikahan itu." Lanjut Citra yang membuat Rora langsung menatapnya.
"Apa maksud tante?" Tanya Rora dengan meninggikan sedikit suarannya.
"Pernikahan itu harus tetap terjadi." Jawab Citra.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak..
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹