"Cinta adalah hidup, hidup adalah Abigail" Nicholas Geonandes.
"Kau membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tidak bisa berikan" Abigail.
"Kebahagiaanmu adalah segalanya buatku" Bima Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kau menyakitiku
"Apa kau tidak punya rumah?" sindir Abi sinis melihat Mauryn yang sedang duduk manis menikmati kopinya dengan santai seolah ia memang sedang berda di dalam rumahnya sendiri. Dan mendapati Mauryn di rumahnya di pagi hari begini juga bukan suatu hal baru lagi bagi Abi. 3 kali dalam seminggu pasti janda pelakor itu menginap di rumahnya, membuat ia harus lebih menahan amarah emosi dan rasa cemburunya.
Mauryn menoleh sekilas lalu tersenyum manis membuat Abi semakin ingin merobek mulutnya. Mauryn benar-benar ahli mempermainkan emosinya.
Dasar wanita ular tidak tahu malu!
"Yang punya rumah saja tidak keberatan, Abi. Kenapa kau protes dan salahkan suamimu yang memintaku datang kemari?"
"Aku tidak perlu menjelaskan kenapa Nicholas memanggilku kesini. Nanti kau akan sakit hati. Dan percayalah Abi aku tidak ingin menyakitimu" ucap Mauryn dengan wajah yang siapa saja melihatnya ingin mencakarnya termasuk Abi. Wajahnya benar-benar menyebalkan.
"Tanpa kau jelaskan aku juga sudah tahu, Mauryn. Modelmu murahan begini tentu saja aku tahu. Sakit hati? Maaf Mauryn wanita rendahan sepertimu bukan sainganku" jawab Abi tak kalah sengit.
"Apa aku perlu membelikanmu kaca sebagai hadiah agar kau bisa bercermin dan melihat wajah tidak tahu malumu itu"
"Siapa yang kau maksud murahan?" Mauryn menatapnya tajam.
"Memangnya ada siapa lagi di sini, Mauryn?"
"Hanya ada kau dan aku!"
"Jadi kurasa itu sudah cukup jelas menjawab pertanyaanmu" Abi tersenyun meremehkan seraya berbalik.
"Lancang sekali mulutmu, Abi. Apa kau ingin merasakan tamparanku?" hardik Mauryn. Abi menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Mauryn dengan mengangkat kedua alisnya seraya melipat tangannya di dadanya.
"Dulu kau manis sekali, tidak disangka sekarang berubah bar-bar seperti ini. Pantas saja Nicho tidak menoleh ke arahmu" Mauryn tersenyum mengejek.
"Dulu kau juga kufikir malaikat tapi ternyata kau adalah setan penggoda yang sesungguhnya. Di balik wajahmu yang cantik itu tersimpan kebusukan yang hakiki" jawab Abi tidak kalah pedas.
"Suamiku bukannya tidak menatap ke arahku tapi ia hanya tersesat" lanjutnya lagi yang membuat Mauryn memutar bola matanya jengah.
"Sudah sana pulang!!" usir Abi sengit.
"Kau mengusirku?"
"Haruskah aku mengulanginya?" Abi balik bertanya.
"Ini bukan rumahmu"
"Tapi aku istri pemilik rumah ini!"
Mauryn tergelak
"Kasihan sekali kau Abi, aku tidak menyangka nasibmu seperti ini. Menikah tapi tidak di anggap."
"Dia hanya melupakanku untuk sementara" kembali Abi mengatakan kalimat itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Mauryn kembali tertawa. Dan kali itu tawanya menggelegar.
"Kau bodoh atau bagaimana Abi. Apa kau tidak melihat posisimu sekarang. Nicho memandangmu hanya sebagai parasit. Tidak lebih. Dan dengarkan aku Abi, kau fikir aku akan membiarkan Nicho melepaskanku?
Jangan naif sayang" Mauryn berjalan mendekat ke arahnya. Begitu ia berdiri di hadapan Abi, ia menyunggingkan senyumnya.
"Karena aku akan membuatnya menghamiliku" ucap Mauryn penuh penekanan.
"Dasar setan penggoda" Abi mengangkat tangannya berniat melayangkan tamparan ke wajah mulus Mauryn, tapi terhenti karena seseorang menahannya. Siapa lagi kalau bukan Nicho. Hanya ada mereka bertiga di dalam rumah ini.
"Kenapa kau suka sekali menggunakan kekerasan Abi" ucapnya tenang lalu memutar tubuh Abi agar berhadapan dengannya.
"Dan kau fikir kau siapa?" Kali ini ucapanya terdengar dingin dan sinis.
"Kau ingin menamparnya?"
"Beraninya kau!" Nicho menghempaskan tangan Abi dengan sedikit kasar.
"Memangnya kenapa kalau aku ingin menamparnya. Kau ingin membalasnya??!" Abi mengamuk tidak terpengaruh dengan wajah Nicho yang terlihat murka.
"Tentu saja aku tidak akan sungkan Abi jika kau berani menyentuhnya"
"Oh ya?!" tantang Abi lalu kemudian berbalik memunggungi Nicho dan melayangkan tamparannya di wajah Mauryn.
Plak!
"Akhh.." pekik Mauryn. Tamparan Abi sangat kuat karena bercampur amarah.
"See?"
"Aku menampar wajah kekasihmu"
"Katakan apa yang akan kau lakukan!" tantang Abi.
"Sepertinya beberapa bulan ini aku terlalu berbaik hati padamu. Apa kau fikir aku tidak berani menyakitimu? Hah...!!!!" Nicholas mengamuk yang membuat Abi maupun Mauryn terkejut akan suaranya yang melengking. Abi memang terkejut tapi bukan berarti ia takut. Ia menatap Nicho dengan nyalang. Sungguh hatinya sangat sakit. Untuk pertama kalinya Nicho meninggikan suaranya dan itu demi wanita lain yang memang sengaja untuk merusak rumah tangga mereka.
"Bukankah kau memang sudah menyakitiku?" lirihnya.
"Kau mungkin saja tidak menyakiti fisikku Cho, tapi kau menghancurkan hatiku. Dan kau tahu itu tetap tidak bisa menghapusmu dari hatiku. Dan sekarang kau mengancamku dengan mengatakan tidak akan segan-segan menyentuhku. Apa kau ingin melukai fisikku juga. Lakukanlah. Mungkin dengan begitu kau bisa pergi dari sini" Abi memegang hatinya. Untuk pertama kalinya Abi menangis, menangis di hadapannya dan itu mampu membuat Nicho terkesiap. Ia merasakan nyeri di ulu hatinya tatkala melihat cairan bening itu mulai membasahi wajah Abi.
"Sayang....." Mauryn sengaja merengek agar Nicho mengalihkan fokusnya dan ya itu memang berhasil. Nicho mengalihkan tatapannya, ia lalu berjalan mendekat ke arah Mauryn dan dengan sengaja mendorong Abi. Abi yang tidak menyangka Nicho akan mendorongnya kehilangan keseimbangan hingga ia pun terjatuh ke lantai. Abi meringis karna siku tangannya mengenai lantai dengan cukup keras.
"Kau tidak apa-apa?" Nicholas menyentuh wajah Mauryn dimana Abi mendaratkan tamparannya. Masih tercetak jelas cap lima jari Abi di sana.
"Ini sakit sekali" Mauryn sengaja meringis.
"Tunggu sebentar aku akan mengompresnya dengan air es" Nicho berbalik dan membuka kulkas.
"Awas!" Nicho sengaja menendang kaki Abi.
Abi menggigit bibirnya. Ini sungguh melukai harga dirinya. Dan ia juga sudah melakukan hal bodoh lainnya. Menangis di hadapan dua orang yang sama brengseknya.
"Kau sungguh menyakitiku Nicho" lirihnya lalu beranjak pergi.
"Kenapa dia menamparmu?" tanya Nicho datar sambil mengompres wajah memar Mauryn.
"Aku tidak tahu" jawabnya manja.
"Tidak mungkin dia menamparmu tanpa alasan, Mauryn" Nicho menghentikan tangannya yang sedang mengompres tadi.
"Apa sekarang kau sedang menyelidikiku dan menganggap yang terjadi adalah salahku" Mauryn menatapnya dengan wajah terluka. Tentu saja itu hanya dibuat-buat untuk menarik simpati dari Nicho.
"Sudahlah. Lupakan!" Nicho menghela nafasnya dengan berat. Wajah terluka Abi membayanginya dan membuat perasaanya tidak nyaman.
T.B.C
Akhirnya 3 part yang dijanjikan terlaksana sudah.. Selamat membaca para readers. Jangan lupa tunjukkan rasa cinta kalian dengan meninggalkan like dan koment buat penulis 🙏🙏😍❤