Boy mencoba menghindari tragedi pembunuhan saat dia melintasi jalanan sepi, namun nasib malang menimpanya. Pria pewaris tunggal perusahaan besar itu malah menjadi tersangka utama dari tragedi pembunuhan dan kini menjadi burunon kepolisian.
Apakah Boy mampu mengungkap pembunuh sebenarnya?
Bagaimana nasib perusahaannya setelah kejadian malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon soesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fokus pada tujuan utama
Ken masih memeluk tubuh Talen. Mereka masih terhanyut dalam sebuah rasa yang tersembunyi.
Suara pintu terbuka, Dedy tiba-tiba masuk. Mata pria itu langsung menangkap apa yang terjadi pada Ken dan Talen. Matanya terbuka tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu.
"Ken," ucapnya cepat menyadarkan dua anak manusia yang sedang terlarut dalam dekapan.
Ken melepaskan tangannya dari tubuh Talen. Pria itu membuat jarak. Sedangkan Talen, wanita itu mengusap air matanya dengan tangan.
Dedy berjalan pelan mendekati mereka. Tatapannya tajam menghujam Ken dan Talen secara bergantian.
"Talen, apa yang kamu lakukan di sini?" ucapnya seolah tidak suka dengan keberadaan wanita itu.
"Dia hanya mengunjungiku," sahut Ken.
Mata Dedy menatap Ken, sekali lagi kembali menatap Talen.
"Talen, Ken bukanlah Boy. Mereka dua pria yang berbeda."
"Aku tahu," ucap wanita itu lembut.
"Lagi pula kamu sudah menikah. Tidak baik menemui seorang pria sendirian tanpa didampingi suamimu."
Perkataan Dedy seolah memojokkan Ken. Pria itu tahu apa yang ada dalam pikiran Ken.
"Dia hanya merindukan Boy, Dedy."
"Bukankah kamu sudah tahu kalau Boy sudah meninggal? Lagi pula, Ken tidak pernah bertemu dengan Boy. Dia tidak tahu siapa Boy karna mereka tidak pernah saling kenal."
Ken menatap mata Dedy seolah memberi kode untuk diam, tapi pria itu tidak menghiraukannya dan berpura-pura tidak mengerti dengan kode yang dia berikan.
"Aku tahu Dedy. Aku juga sadar kalau Boy sudah meninggal. Aku hanya ingin melihat wajah Boy dalam diri Ken. Sejak aku melihat Ken, aku merasa Boy telah kembali."
"Boy tidak akan pernah kembali hidup lagi Talen. Apa ada orang mati hidup lagi? Apalagi tubuhnya sudah hangus terbakar. Lagi pula Ken tidak sama dengan Boy, mereka dua orang yang berbeda."
"Aku tahu itu mustahil. Tapi entah mengapa aku merasa bahwa Boy saat ini hadir di dekatku."
"Sebaiknya kamu pulang Talen! Jangan sampai kehadiranmu di sini akan menjadi bumerang bagi kalian berdua."
"Aku tahu Dedy."
Wanita itu berdiri.
"Ken, maaf sudah mengganggumu. Terimakasih karna sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Maaf aku sudah mengganggumu."
"Tidak Talen. Kamu tidak menggangguku. Aku senang kamu mau mengunjungiku. Pintu kantorku selalu terbuka untukmu."
"Ehem." Dedy berdehem mendengar ucapan Ken.
Ken maupun Talen langsung melihat kearah Dedy.
"Tenggorokanku sakit," elak Dedy.
"Baiklah Ken, aku pergi dulu. Sekali lagi terimakasih untuk waktumu."
"Apakah aku harus mengantarmu?"
"Ken," ucap Dedy cepat dengan mata melotot sempurna.
"Tidak perlu Ken, aku bawa mobil sendiri."
"Hati-hati."
"Terimakasih."
Wanita itu pergi meninggalkan ruangan Ken.
Dedy berjalan ke arah pintu. Pria itu membuka pintu sedikit dan mengintai keluar memastikan bahwa Talen sudah benar-benar pergi.
"Apa pikiranmu sudah gila, Ken?! Kamu hampir membawa masalah dalam hidupmu," omel Dedy.
"Masalah apa? Aku hanya ngobrol saja dengannya."
"Kamu tahu, Ken? Karna perbuatanmu ini kamu bisa menggagalkan rencana kita."
"Tidak ada hubungannya dengan rencana kita. Aku dan Talen hanya ngobrol biasa saja. Lagi pula wanita itu tidak tahu siapa aku sebenarnya." Ken masih saja membela dirinya sendiri.
"Itu menurutmu Ken. Tapi tidak menurut wanita itu. Aku yakin dia merasakan bahwa kamu adalah Boy."
"Jangan melebih-lebihkan, Dedy. Semua ini tidak akan menggagalkan rencana kita."
"Aku harap kamu bisa fokus pada rencana utama kita Ken. Jauhi wanita itu, lupakan dia!"
"Tidak semudah itu, Dedy. Aku masih sangat mencintainya."
"Ken, perasaanmu ini bisa membuatnya lebih menderita," ucap Dedy penuh amarah. Pria itu merasa percuma memberi nasehat pada pria yang buta oleh cinta.
"Lebih menderita? Apa maksudmu 'lebih menderita'?" Mata Ken sedikit menyipit dan kerutan dahinya terlihat jelas.
"Kamu tahu, Ken? Dengan kamu menemui wanita yang sudah mempunyai suami, itu akan membuat kesalahpahaman antara mereka. Apa kamu mau suaminya salah paham denganmu?"
"Kalau itu terjadi, berarti suaminya bukan pria yang baik."
"Ken. Kenapa sih otakmu tidak dipakai?" ucap Dedy kesal.
"Hey! Bicara yang sopan! Aku bosmu." Mata Ken melotot menatap Dedy.
"Terserah! Mau kamu bosku, mau kamu bawahanku, mau kamu sahabatku, aku tidak peduli. Satu yang aku pedulikan, yaitu tujuan utama kita."
Ken jengah dengan sikap Dedy yang terlalu over protektif pada dirinya. Pria itu merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dia merasa lelah bila harus berdebat dengan Dedy hanya karena wanita yang dia cintai.
"Talen tidak bahagia dengan pernikahannya," ucapnya lirih dengan mata terpejam.
Dedy menatap Ken yang masih memejamkan matanya. Pria itu tidak mengerti dengan jalan pikiran Ken.
"Aku tidak bisa membiarkannya hidup dalam penderitaan," lanjutnya lagi.
Kali ini mata Ken terbuka dan dia mengangkat kepalanya. Pria itu kini duduk dengan kaki bersilang.
"Aku akan merebutnya kembali. Aku akan membuatnya bahagia."
"Ken, dia bukan lagi milikmu. Talen sudah menikah. Lupakan dia!"
"Tapi dia tidak bahagia dengan pernikahannya, Dedy!" Nada bicara Ken semakin meninggi.
"Itu bukan urusanmu, Ken. Jangan pernah ikut campur dengan kehidupan rumah tangga mereka! Aku tidak ingin kamu melibatkan diri dalam kehidupan rumah tangga orang lain."
"Tidak. Talen bukan orang lain. Dia wanitaku. Dia akan menjadi milikku." Tatapan Ken penuh dengan napsu memiliki.
"Aku harap kamu bisa berpikir jernih, Ken."
"Aku selalu berpikir jernih. Apalagi menyangkut kehidupan orang yang aku sayangi."
"Kalau tahu begini jadinya, lebih baik aku terus mencari keberadaan Kanaya saja. Aku harap dia bisa membantumu melupakan Talen," ucapnya menyesal.
"Kanaya. Bagaimana nasib gadis itu? Di mana dia sekarang?" ucap Ken lirih.
"Apa kamu masih mengingatnya? Bukankah dalam pikiranmu hanya ada Talen dan Talen?" ucap Dedy kesal.
"Bagaimanapun aku tetap mengingatnya. Gadis itu sudah membantuku saat aku susah. Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu?"
"Belum. Aku terlalu fokus dengan rencana kita, jadi aku sedikit melupakan gadis itu?"
"Kenapa kamu yang harus mencarinya? Suruh orang-orangmu yang mencarinya!"
"Aku sudah melakukannya tidak perlu kamu ajari."
"Baguslah kalau begitu."
"Bagus, bagus. Sekarang kamu yang harus fokus pada tujuan kita. Jangan sampai Om Make tahu kalau kamu bertemu dengan Talen! Papamu pasti akan marah kalau tahu."
"Kalau kamu tidak buka mulut, pasti Papa tidak akan tahu."
"Hey, Talen itu bukan hantu. Semua karyawan tahu kalau dia berjalan masuk ke dalam ruanganmu ini."
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi! Yang jelas, aku tidak akan meniatkan wanita itu hidup dalam penderitaan. Aku akan merebutnya kembali."
"Terserah!"
Dedy lelah dengan keinginan Ken yang menurutnya tidak masuk akal. Pria itu pergi keluar meninggalkan ruangan Ken dengan kesal. Dia merasa gagal untuk memperingatkan sahabat sekaligus bosnya.
Ken sadar, perbuatannya akan membawanya dalam masalah. Pria itu hanya tidak mau melihat Talen menderita. Tekadnya tetap bulat, dia akan merebut dan mendapatkan kembali wanitanya.
eh, nih cewek petugas hotel, jadi lucu sih
hilih matanya ternoda
Kasihan andai Boy tak bisa menghindari masalah