Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The New Of Aciel (Twenty Eight)
Empat tahun berlalu dan tidak banyak perubahan yang terjadi pada diri Aciel. Pria dewasa dengan wajah aristrokat itu tetap menjalankan kehidupannya seperti biasa. Bekerja, berpesta, dan bermain bersama para jalangnya adalah rutinitas yang tak pernah dilewatkan sedikitpun oleh Aciel. Baginya kepergian Eden tidak akan merubah apapun dalam hidupnya. Eden memang pergi membawa seluruh hatinya, tapi ia telah bersumpah untuk tidak menjadi pria lemah dan cengeng seperti kebanyakan pria idiot yang selama ini ia temui.
“Berikan aku satu sloki lagi.” perintah Aciel pada seorang pelayan sambil memperhatikan para penari striptis yang sedang meliuk-liukan tubuh mereka di atas panggung bak ular. Kedua mata coklatnya terus mengamati setiap inchi tubuh penari-penari seksi yang sangat menggoda itu. Ia yakin, malam ini ia pasti akan mendapatkan salah satu diantara mereka untuk menjadi penghangat ranjangnya
“Bersulang untuk merayakan kemenangan kita.”
Sian mengangkat tinggi-tinggi gelas beningnya diikuti Aciel yang juga ikut mengangkat gelas miliknya dan membenturkan sedikit ujungnya untuk melakukan tos bersama Sian.
“Untuk keberhasilan kita.” ucap Aciel diantara bisingnya suara musik yang menghentak dan suara para pria yang sedang bersorak sorai, meneriaki sang penari seksi yang malam ini begitu menggoda.
“Kau akan memakai salah satu dari mereka malam ini?” tanya Sian sambil meletakan gelas beningnya di atas meja. Untuk pertama kalinya Aciel mengusir para jalang yang biasanya berkumpul di sisi kanan dan kiri mereka untuk berlomba-lomba melayani Aciel. Malam ini Aciel sengaja ingin memilih secara langsung dari kursi kebesarannya agar permainan mereka lebih panas dari malam-malam sebelumnya.
“Hmm, menurutmu wanita mana yang lebih cocok untuk menemaniku malam ini? Kurasa mereka memiliki kecantikan standar dan tidak terlalu spesial, hanya saja aku tetap membutuhkan salah satu diantara mereka untuk memuaskanku.”
“Huh, kurasa kau harus mengubah cara pandangmu mengenai kepuasan karena kurasa kau tidak akan pernah puas jika menggunakan mereka. Selama empat tahun terakhir ini kau hanya membuang-buang uangmu dan membuatku lelah karena harus mencarikan wanita yang benar-benar bisa memuaskanmu, tapi kenyataanya kau hanya bisa terpuaskan oleh Eden.”
Hening cukup lama. Aciel terlihat tidak ingin menanggapi celotehan Sian terlalu jauh karena percakapan mereka pasti akan berakhir panjang jika itu menyangkut masalah Eden.
Eden...
Wanita itu hilang begitu saja bak ditelan bumi yang kabarnya tidak pernah diketahui oleh siapapun. Sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Zyan, Aciel tidak pernah lagi melihat wanita itu. Bahkan karir modelingnya pun juga langsung ditinggalkan begitu saja bersama dengan resingnya Zyan dari perusahaan milik Aciel. Kedua orang itu sepertinya sepakat untuk membangun kehidupan mereka sendiri tanpa diketahui oleh pihak manapun. Bahkan Aciel harus menahan geram karena satu tahun yang lalu ia dikejutkan dengan berita pemindahtanganan perusahaan milik Brexton kepada seorang pria asing. Entah bagaimana caranya Eden telah menjual perusahaan milik ayahnya kepada orang asing dan memutuskan untuk hidup sendiri entah dimana bersama bayi mungilnya yang baru saja dilahirkan. Sempat terbersit dibenak Aciel untuk mencari dimana keberadaan Eden, namun pada akhirnya egonya selalu menang dan mengambil alih segalanya. Sejak Eden pergi, ia telah bersumpah untuk tidak mencari dimana keberadaan Eden dan hanya membiarkan wanita itu hidup sendiri sesuai kehendaknya. Jadi meskipun sebenarnya Aciel mampu, namun ia tidak akan pernah mencari Eden untuk dirinya sendiri.
“Kau, kemarilah sayang....”
Tanpa menghiraukan kicauan Sian yang mengganggu tentang Eden, Aciel cepat-cepat menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri tak jauh darinya. Dengan wajah berbinar-binar bak mendapatkan jackpot, wanita itu segera mendekat kearah Aciel sambil memamerkan setiap lekuk tubuhnya yang menggoda.
“Anda memanggilku?”
“Hmm, menarilah di depanku.”
Dengan senyum merekah, wanita itu menunjukan keahlian menarinya yang menawan di depan Aciel.
Ini adalah suatu kehormatan baginya, karena seorang CEO tampan dan juga kaya raya seperti Aciel sebentar lagi akan menjadi pelanggannya. Namun satu orang yang tampak berisik di sebelah CEO itu benar-benar akan merusak harapannya malam ini.
“Lebih baik kau pulang dan hentikan semua ini Ace. Aku malas melihat wajahmu yang selalu menunjukan ekspresi yang sama setiap datang ke klub ini. Aku yakin, kau tidak akan mendapatkan kepuasan lagi malam ini.”
“Bisakah kau diam?”
“Tidak! Pulang dan cari Eden. Aku tahu kau sangat merindukannya.”
“Maaf tuan.”
Sian melirik gusar wanita seksi yang saat ini sedang berdiri angkuh di depannya. Baru kali ini ia diusik oleh seorang jalang yang kedudukannya sangat jauh di bawahnya.
“Kau pergilah, jangan mengusik sahabatku yang tolol ini.”
“Maaf, tapi ini adalah pekerjaan saya. Kau membuatku kehilangan pelangganku dengan mulut besarmu itu.”
“Apa?”
Sian mengernyit kesal pada wanita itu dan bersiap untuk membalas setiap kalimat sinisnya. Namun pergerakan Aciel di sampingnya membuat Sian ikut berdiri dan memilih untuk mengekori Aciel keluar dari area klub yang cukup pengap malam ini.
“Kau, urusan kita belum selesai.”
Sian melirik sinis sang penari klub dan segera berlari menyusul Aciel yang telah berjalan cukup jauh meninggalkannya.
“Ace, kau akan pergi?”
“Menurutmu? Aku muak mendengarkan ocehanmu tentang Eden. Ambil saja jalang itu untukmu.”
“Hah, akhirnya. Sudah kukatakan sejak awal jika kau lebih baik memang mencari Eden. Seharusnya dulu kau tidak percaya begitu saja pada kata-katanya saat Eden mengatakan jika bayi itu adalah milik Thony. Bukankah kau tahu jika sejak dulu Eden sangat ingin melepaskan diri darimu? Bisa saja itu hanya akal-akalan Eden untuk menipumu.”
“Ya, aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin dikecewakan jika anak itu bukan anakku. Sekarang pergilah, jangan mengusikku.”
Sian mengedikan bahunya acuh dan membiarkan Aciel masuk ke dalam mobil hitamnya yang telah disiapkan oleh seorang petugas vallet. Malam ini memang malam yang sangat emosional untuk Aciel karena tepat di hari ini Eden sedang berulang tahun. Sejak Eden pergi, Aciel akan terlihat lebih murung di hari ulang tahun wanita itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Aciel. Pria itu terlalu memiliki banyak emosi, ego, dan kearoganan yang sejak dulu selalu melingkupinya, sehingga ia tidak pernah bisa mendapatkan Eden kembali, meskipun hati kecilnya sangat menginginkan Eden kembali.
Selepas Aciel pergi, Sian tiba-tiba merasa perasaannya hampa dan tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk malam ini. Biasanya jika Aciel bersenang-senang dengan jalang-jalang itu, ia akan ikut menemani Aciel hingga dini hari, lalu ia hanya akan pulang untuk tidur dan bangun keesokan harinya untuk pergi bekerja. Tapi ini masih terlalu sore untuk seorang Sian pulang ke apartemennya dan pergi tidur. Pukul sebelas bung, ia tidak pernah tidur di pukul sebelas. Membayangkannya saja membuat Sian bergidik ngeri karena itu seperti bukan
gayanya. Ia lalu mendengus gusar dan memilih untuk kembali ke tempatnya tadi bersama Aciel. Lagipula tidak ada salahnya jika ia menggantikan Aciel untuk menggunakan jalang-jalang itu. Ia juga lebih dari mampu untuk membayar mereka, sama seperti Aciel.
“Kau kembali lagi tuan bermulut besar?”
Sian langsung disambut oleh kata-kata sinis sang penari club yang sebelumnya hampir digunakan Aciel untuk memuaskan pria itu, namun gagal karena mulut besar Sian yang berisik.
“Ya, karena temanku sudah pulang, jadi aku bebas bersenang-senang di sini.” balas Sian tanpa minat. Ia hampir saja mengabaikan wanita itu dan berjalan lurus kearah kerumunan wanita-wanita seksi di tengah-tengah lantai disko jika wanita itu tidak menghentikannya dengan kalimatnya yang menyebalkan.
“Kukira kau benar-benar pria suci, ternyata kau sama saja dengan yang lain.”
“Apa kau bilang?” tanya Sian sinis. Wanita itu menyeringai sinis, dan dengan beraninya wanita itu menarik kerah kemeja Sian yang sudah terlihat berantakan sambil berbisik seksi di sisi kiri rahangnya Sian yang mengeras.
“Kau pria munafik yang terlalu kesepian.” kekeh wanita itu penuh cemoohan. Merasa terpancing dengan provokasi wanita itu, Sian akhirnnya menarik pinggang wanita itu sebelum ia benar-benar pergi meninggalkannya yang sedang menggelegak karena terhina.
“Akan kubuktikan seberapa munafiknya aku di atas ranjang nona manis.” desis Sian tajam penuh penekanan. Tanpa Sian sadari wanita itu sedang menyeringai puas di sebelahnya karena provokasinya telah berhasil membakar pria bodoh itu. Ia tidak bisa membiarkan malam ini berlalu begitu saja tanpa pria-pria kaya yang akan membayarnya dengan mahal. Dan meskipun ia telah kehilangan salah satu mangsanya yang berharga, sekarang ia berhasil menjerat teman pria kaya itu, yang sayangnya terlalu bodoh hanya karena kata-kata provokasi sederhananya.
-00-
Di kamar yang remang-remang itu Aciel termenung sendiri. Mengamati kekosongan kamar yang tidak pernah sedikitpun diubahnya meskipun sang pemilik telah pergi entah kemana. Tak bisa dipungkiri jika ia sangat kehilangan Eden. Kebersamaan mereka yang selalu diwarnai dengan keributan, teriakan, dan air mata membuat Aciel semakin lama semakin terbiasa dengan keberadaan wanita itu. Bahkan untuk melepaskannya pun sebenarnya sangat berat. Hanya saja saat itu ia dipaksa untuk membuat sebuah keputusan untuk melepaskan Eden atau tetap menahan Eden dengan segala kesakitan yang mungkin akan diberikan Aciel padanya.
Praangg!!
Suara gelas pecah yang dibanting itu diiringi dengan desahan kesakitan Aciel saat ingatannya dengan lancang memutar setiap kenangannya bersama Eden di kamar itu. Ingatan saat mereka berteriak. Ingatan saat mereka bercinta. Dan ingatan saat Eden meringkuk di dalam dekapannya bak seorang bayi yang tak berdaya.
“Sial! Kau benar-benar sialan Brexton! Sekarang aku tahu kenapa kau sangat berikeras menitipkan putrimu itu padaku. Kau ingin melihatku hancur bukan?” racau Aciel pada udara kosong. Alkohol telah merenggut seluruh akal sehat Aciel, hingga kini yang tersisa hanyalah seluruh rasa sakitnya yang selama ini tidak pernah bisa ia ungkapkan pada siapapun. Bahkan Sianpun tidak akan tahu seberapa besar rasa sakit yang dimiliki oleh Aciel karena Aciel selalu berhasil mengelabuhi siapapun dengan wajah datarnya yang tak pernah terbaca.
“Eden.... Selamat sayang, kau berhasil mendapatkan hatiku.....” gumam Aciel pelan sambil merebahkan kepalanya di atas ranjang Eden yang kini tampak berantakan. Tangan kanan Aciel yang sedikit menggantung di pinggiran ranjang terlihat sedikit mengeluarkan darah akibat serpihan kaca yang jatuh berserakan di bawah
tangannya. Ini adalah sebuah karma untuk Aciel karena ia telah menyakiti seorang wanita cantik berhati lembut, dan kemudian mengubahnya menjadi sesosok angsa hitam yang penuh dengan dendam.
Perlahan-lahan Aciel memejamkan matanya dan mulai menikmati seluruh kenangan manisnya bersama
Eden yang akan terus menari di dalam otaknya. Meskipun ia telah menegak berbotol-botol alkohol dengan kadar tinggi, semua itu tidak akan membuat ingatannya pada Eden hilang, justru ingatan itu semakin pekat meracuni otaknya. Salah satu ingatan yang paling dibenci Aciel kemudian muncul. Ingatan ketika Eden tengah pergi berkencan bersama Zyan di sebuah restoran bergaya klasik yang sengaja dipesan pria itu untuk Eden. Sejujurnya ia tidak pernah melewatkan setiap detikpun tanpa mengawasi Eden agar ia selalu tahu siapa siapa pria yang
telah mendekati wanita itu. Namun hanya Zyan yang selalu berhasil memancing emosinya karena hanya dengan Zyan, Eden dapat tertawa selebar itu, tanpa paksaan, dan semuanya terlihat alami. Lalu semua tawa itu semakin lengkap dengan perlakuan manis Zyan yang dapat membuat wajah Eden terlihat berbinar-binar cantik. Tanpa sadar Aciel telah mengepalkan tanganya kuat-kuat dalam tidurnya sambil menyaksikan setiap kenangan yang ditinggalkan oleh Eden di dalam memorinya.
-00-
Sian mengernyitkan keningnya jijik sambil menggedor-gedor pintu kayu itu keras agar Aciel dan jalangnya segera menghentikan aksi tak senonoh mereka sebelum ia muntah di depan ruangan sahabatnya itu sekarang juga.
“Apa kalian kehabisan kamar? Bagaimana jika orang lain yang masuk, bukan aku.” marah Sian kesal sambil menendang blazer milik jalang itu dari kakinya. Aciel yang melihat kedatangan Sian hanya tersenyum santai sambil memberikan satu kecupan basah di bibir wanitanya sebelum wanita itu benar-benar pergi dari kantornya.
“Mungkin kau bisa mendapatkan pelepasan yang lebih menakjubkan lain kali.” ucap Aciel sebelum wanita itu menutup pintu ruangannya dengan gerakan lembut.
Sian yang sejak tadi sedang berdiri di sebelah sofa panjang di ruangan Aciel tampak bingung untuk melatakan bokongnya di sana, karena ia jelas-jelas tidak akan mau duduk di atas bekas tempat bercinta Aciel yang menjijikan.
“Ketuklah pintu sebelum masuk. Kau mengganggu privasiku.” ucap Aciel memperingatkan. Ia lantas mengambil air mineral yang disediakan oleh skretarisnya, lalu meneguknya pelan sebelum kembali berbicara pada Sian.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ingin meminta tanda tanganmu dan memastikan kau masih baik-baik saja setelah semalam kau pulang dalam keadaan kusut. Tadi pagi Kim memberitahuku jika kau kembali mendatangi kamar Eden dengan banyak kaca yang berserakan di dalamnya. Apa yang telah kau lakukan semalam? Kau tidak berniat untuk bunuh diri bukan?” selidik Sian dengan mata yang disipatkan. Tak sengaja ekor matanya melihat tangan kanan Aciel yang telah dililit perban berwarna putih lengkap dengan noda darah yang tercetak samar. Melihat itu Sian sudah dapat menyimpulkan jika Aciel telah melukai dirinya sendiri ketika kesakitan akan kepergian Eden menderanya. Sementara itu Aciel rasanya ingin sekali membungkam mulut besar itu dengan lakban yang teronggok di atas mejanya. Sejak semalam pria itu benar-benar tidak berhenti bicara dengan mulut lebarnya yang berisik.
“Bisakah kau membahas hal lain selain Eden? Aku muak mendengarnya.”
“Kurasa tidak. Aku terlalu peduli padamu Ace. Melihatmu yang berubah menjadi pria melankolis seperti ini membuatku benar-benar khawatir.”
“Hmm, aku tidak butuh kepedulianmu, berikan saja untuk orang lain. Ada apa denganmu, kau tidak duduk?”
Aciel melirik Sian risih sambil memberikan isyarat pada pria itu agar duduk di sebelahnya.
“Duduk? Di sofa bekas kau melampiaskan hasratmu? Hohoho... tidak! Lebih baik aku terus berdiri di sini meskipun kakiku pegal.” tolak Sian dengan wajah jijik. Aciel mengedikan bahu acuh tak acuh padanya, dan segera memberikan laporan keuangan yang telah selesai ia tanda tangani pada Sian.
“Kau belum mendapatkan kabar dari Zyan?”
“Belum. Terakhir kali media hanya memberitakan pernikahannya, setelah itu mereka berdua benar-benar hilang ditelan bumi. Bahkan restoran milik orang tua Zyan pun sekarang telah dijual. Kurasa Eden tidak main-main dengan rencananya untuk melepaskan diri darimu. Semua seperti telah disusun rapi olehnya. Bahkan Eden sudah menyiapkan seorang investor yang akan membeli perusahaan milik Brexton saat perusahaan itu jatuh di tangannya. Huh, aku tidak menyangka jika Eden memiliki pemikiran yang sangat jauh seperti itu.” desah Sian tak habis pikir. Pasalnya semua usaha yang telah ia lakukan untuk membantu Aciel menemukan Eden hanya berakhir sia-sia. Eden benar-benar tak terlacak di Vegas. Ia menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan kenangan menyakitkan untuk Aciel. Sejujurnya Eden juga meninggalkan kenangan yang menyakitkan di hati Sian karena pria itu bagaimanapun juga telah gagal membuat hidup Eden menjadi lebih baik pasca keguguran pertama yang dialami oleh Eden dulu. Andai saja ia dapat melawan Aciel dan bersikap tegas pada pria itu agar tidak menyakiti Eden terus menerus, semua ini tidak akan terjadi. Terkadang Sian memikirkan bagaimana nasib Eden setelah pergi dari hidup Aciel, Sian hanya berharap semoga Eden memang benar-benar bahagia bersama Zyan.
“Mungkin dia memang tidak ada di Vegas dan kita terlalu meremehkan Eden selama ini. Apa kau sudah memastikan pada pengacara Brexton jika semua properti miliknya sama sekali tidak digunakan Eden?”
“Sudah. Pengacara itu mengatakan jika sebelum Eden pergi, tak ada satupun properti milik Brexton yang digunakan Eden. Ia lebih memilih untuk menjualnya dan hidup dengan uang hasil penjualan semua propertinya. Mungkin ia sengaja melakukannya agar kau sulit untuk melacak keberadaanya.”
Aciel tanpa sadar mendesah berat sambil memejamkan matanya yang terasa lelah. Sungguh ini sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Haruskah ia mencari Eden sesuai saran yang diberikan Sian? Tapi rasanya itu adalah sesuatu yang sia-sia. Untuk apa ia mencari Eden jika nyatanya wanita itu telah hidup bahagia bersama Zyan? Ia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri jika nantinya ia bertemu dengan Eden dalam keadaan yang sangat menyedihkan seperti ini. Apalagi karma itu benar-benar berlaku untuknya dan ia seperti seorang pria idiot yang ingin mengemis cinta pada wanita itu.
“Bagaimana jika suatu saat kau bertemu Eden?”
Aciel membuka matanya nyalang sambil menatap Sian yang masih berdiri di samping sofa yang sedang ia duduki.
“Mungkin aku akan menyapanya, dan membuatnya kembali bertekuk lutut di kakiku.” seringai Aciel licik. Tentu saja ia tidak akan membuat harga dirinya rusak jika suatu saat mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu. Sian hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada pemikiran sahabatnya yang terkesan sombong dan penuh percaya diri itu.
“Kurasa Eden tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk ke dua kalinya.”
“Sian, sebenarnya Eden memang tidak pernah main-main dengan ucapannya.”
Tiba-tiba Aciel berujar serius sambil menerawang ke arah jendela kantornya yang besar. Sudah lama ia ingin menceritakan hal ini pada Sian, namun ia selalu menahannya karena ia terlalu malas mengungkit-ngungkit masa lalu yang menyakitkan itu. Tapi terkadang ia merasa harus menceritakannya pada Sian agar pria itu tahu bagaimana liciknya Eden selama ini.
“Apa?”
“Tentang ingin melakukan balas dendam padaku, itu benar-benar ia lakukan. Setelah ia pergi, aku mulai sadar jika aku telah dipermaikan olehnya. Semua yang ia katakan tentang ayahku, itu tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa hal yang ia manipulasi hingga semuanya terkesan masuk akal dan meyakinkan. Dia ingin membuatku hancur dengan menyakiti ayahku sendiri. Meskipun aku memang tidak menyukai ayahku, tapi Eden tahu jika aku masih memiliki sedikit rasa sayang untuk ayahku. Jadi ia menciptakan cerita palsu itu. Mengenai perselingkuhan ayahku di masa lalu dan mengenai Render yang sebenarnya tidak pernah bekerja untuk ayahku.”
“Tapi Render adalah adik ipar ayahmu, jadi ayahmu memutuskan untuk membebaskannya saat itu. Kau terlalu terlambat untuk menyadarinya Ace.” komentar Sian merasa kasihan. Kenyataanya Eden memang telah berhasil menghancurkan Aciel hingga membuat pria itu benar-benar terpuruk seperti ini.
“Sebenarnya tidak juga. Aku hanya malas untuk mengusut masalahnya. Terlalu pelik jika aku melibatkanmu atau melibatkan orang lain dalam masalahku, karena kenyataanya itu adalah bagian dari kebenciannya padaku.”
Sian mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan memutuskan untuk segera keluar dari ruangan Aciel. Niat awalnya yang hanya ingin meminta tanda tangan Aciel justru menjadi panjang karena ia harus mendengarkan serangkaian keluh kesah Aciel yang cukup menguras emosi. Entah sampai kapan Aciel akan bertahan dengan sikapnya seperti ini. Yang jelas sebagai sahabat ia hanya ingin semuanya kembali normal, jika itu memungkinkan. Tapi jika tidak, ia hanya ingin Aciel segera menemukan kebahagiaanya atau paling tidak pria itu dapat segera melupakan masa lalunya tentang Eden.
ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa
JUST THREE DAYS : MITSUKI
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...