Kubiarkan Takdir menghempas diriku, membawaku ke suatu masalah yang tak ada habisnya.
Langit dan Bumi ku lawan, Dewa dan Dewi ku tantang, seluruh Semesta menyebutku Yang Mulia.
Atas Nama Jalur Kultivasi Dewa, Sang Kaisar Kultivasi ~ Fang Wei ~
***
Update : Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.
***
Sistem kultivasi dunia fana...
1. Tingkat Ahli
- Awal
- Menengah
- Akhir
2. Tingkat Ksatria
- Awal
- Menengah
- Akhir
3. Tingkat Jendral
- Awal
- Menengah
- Akhir
4. Tingkat Raja
- Awal
- Menengah
- Akhir
5. Tingkat Kaisar
- Awal
- Menengah
- Akhir
6. Tingkat Bumi
- Awal
- Menengah
- Akhir
7. Tingkat Langit
- Awal
- Menengah
- Akhir
Sistem kultivasi Domain Dewa...
1. Tingkat Kesengsaraan
- Kesengsaraan Angin
- Kesengsaraan Api
- Kesengsaraan Petir
2. Prajurit Dewa
- Merah
- Hitam
- Putih
3. Jendral Dewa
- Jendral Dewa Bumi
- Jendral Dewa Langit
4. Raja Dewa
- Raja Dewa Semesta
- Raja Dewa Surgawi
5. Kaisar Dewa
- Kaisar Dewa dunia Bawah
- Kaisar Dewa dunia Atas
6. Penguasa Dewa
- Tingkat Abadi
- Tingkat Menguasai
#Selalujagakesehatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEGUH APRIANSYAH PUTRA SEMBIRING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 ~ Kepergian
Fang Wei berjalan gontai kearah gunung ketiga. Meskipun langit mulai gelap,tetapi sekte sangat ramai, seperti biasa.
Terlihat beberapa orang menghindarinya karena sudah mengetahui kabar yang sedang beredar. Bahkan ada beberapa kultivator sekte yang mencemoohnya.
Fang Wei tak tahan lagi dengan apa yang mereka lakukan padanya. Ia kemudian berlari secepat mungkin untuk kembali kepuncak gunung ketiga.
***
Puncak Gunung Ketiga...
Fang Wei akhirnya sampai setelah berlari beberapa jam. Meskipun tidak terlalu tinggi,permukaan tanah yang menanjak benar-benar membuat Fang Wei merasa sangat lelah.
Ia berencana untuk pergi dari sekte esok pagi. Tetapi seperti itu bukan waktu yang tepat mengingat sekte akan membunuhnya esok pagi.
Ia kemudian masuk kedalam ruangannya. Meskipun ia tidak memiliki banyak barang,tetapi ada beberapa barang yang mungkin ia perlukan nanti.
Ia memasukkan semua barang-barang nya pada jarinya,tidak lebih tepatnya kemampuannya.
Ia kemudian juga menuliskan sebuah surat untuk Ming Xiao. Pesan tersebut berisi:
"*Untuk guruku,Ming Xiao...
Terima kasih guru telah menyelamatkan ku dari kejadian di klan Chu beberapa Minggu yang lalu. Terima kasih juga untuk guru yang sudah merawat ku, mendidik ku hingga aku menjadi seorang kultivator seperti sekarang ini. Meskipun tidak seberapa,tetapi aku cukup terkesan akan hal itu,mau bagaimana pun aku hanyalah seorang budak...
Guru... maafkan kepergian ku yang tidak memberitahumu ini. Tetapi...aku dijebak hingga aku harus pergi untuk menyematkan diri. Aku masih memiliki harapan untuk menciptakan kedamaian. Dan aku sudah melakukan langkah pertama... aku tak ingin gagal,guru.
Salam,Fang Wei*..."
Fang Wei menulis kan surat tersebut dengan segenap hatinya. Hingga beberapa tetes air mata membanjiri pipinya.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah liontin dari jarinya. "Aku akan merindukan dirimu,guru."Gumamnya tersenyum kecut.
Ia kemudian meletakkan seutas surat tersebut dimeja dekat tempat tidurnya. Kemudian ia melangkah pergi."Ah,aku melupakan ayah."Gumam Fang Wei sebelum berencana untuk memanggil ayahnya.
"Kau tak perlu menungguku. Aku sudah siap dari tadi."Sebuah suara terdengar membuat Fang Wei berbalik dan melihat orang tersebut.
"Bagaimana bisa...?"Tanya Fang Wei tersentak ketika melihat ayahnya dan Tiga Iblis Pelindung sedang menggendong sebuah tas seperti bersiap-siap untuk pergi.
"Paman Fei,Bibi Jiu,Kakak Chen...? Kalian juga ikut...?"Tanya Fang Wei lagi setelah mengetahui bahwa Tiga Iblis Pelindung juga sudah bersiap untuk pergi.
"Aiyo...kami selalu mengikuti Yang Mulia."Jawab Fei Hung dengan senyum manisnya. Meskipun ia terkenal dengan haus akan darah,tetapi ia tetap bisa bersikap manis,terlebih pada anak-anak.
"Ya sudah jika begitu. Mari kita membuka lembaran baru."Gumam Fang Wei dengan senyum riangnya. Ia tak menyangka bahwa ayahnya memiliki pengikut yang setia.
Whuuusss...
Mereka berlima seketika menghilang dari pandangan. Fang Wei sendiri sudah digendong oleh ayahnya.
"Ayah,lebih baik kau menyusun formasi pelindung untuk melindungi sekte."Mohon Fang Wei pada Tang Shan.
"Tidak perlu. Lebih baik sekte ini hancur daripada menjadi munafik dan bermuka dua."Ucap Tang Shan dengan nada dingin.
"Maksud ayah...?"Tanya Fang Wei setengah berteriak.
"Sekte ini memiliki hubungan dengan Aliran Hitam. Dan yang menjadi penghubung adalah Tetua Ke-dua. Sekte ini akan hancur cepat atau lambat."Jawab Tang Shan menjelaskan pada Fang Wei.
Fang Wei tersentak kaget mendengar nya. Ia kemudian bertanya lagi pada Tang Shan."Jadi...dia adalah dalang dari semua ini...?"Tanya Fang Wei tak percaya. Meskipun ia mencurigai Tetua Ke-dua yang menjebaknya,tetapi bukti tidak ada dan membuat konspirasi tersebut hilang.
"Ya,tetapi ia hanya peran pembantu. Dalang semua ini adalah anak Ming Xiao,Ming Lanlan."Maksud dari kata 'ini' adalah pembunuh Xiao Qin.
"Kau bukannya melihat jika senjata yang ada disana adalah pisau dan ada pita Ming Lanlan ditubuh Xiao Qin...? Ming Lanlan memiliki kemampuan membelah diri. Berbeda dengan biasanya,ia bisa membelah diri tanpa ketahuan karena wujud belahannya adalah berupa Roh. Dan semua yang ia lakukan sesuai dengan rencananya. Ia menyiapkan sebilah pedang dan ia mencuri rambutmu waktu dipuncak gunung ketiga."Jelas Tang Shan dengan panjang lebar.
"Ia memang dendam padaku."Gumam Fang Wei dengan kecewa.
"Tidak hanya kau yang bersalah. Aku juga. Aku dan pengikut ku sebenarnya bukan Aliran Hitam,tetapi kami memang menyukai pertempuran dan pembunuhan. Kami ingin membuat Aliran Hitam kalah melawan Aliran Putih dengan cara membuka topeng dari pengkhianat Aliran Putih tersebut. Tapi...Xiao Qin itu...memang dia."Jelas Tang Shan dengan panjang lebar.
Fang Wei memang menyadari sesuatu yang salah. Tetapi ia tak menyangka akan lebih buruk dari perkiraan nya.
"Tapi Patriarch..."Gumam Fang Wei berniat menyanggah ucapan dari Tang Shan.
"Dia tidak bersalah. Dia tentu menyadari pergerakan tersebut sehingga dia memberikan Aura Roh Api Teratai Biru padamu. Karena kemungkinan besar akan terjadi perang dalam sekte tersebut."Jawab Tang Shan lagi dan membuat hati Fang Wei lega dan merasa bersalah secara bersamaan.
Tang Shan terus berlari bersama dengan Fang Wei dan Tiga Iblis Pelindung. Mereka telah melewati sekte. Keadaan sekte yang mulai sepi membuat mereka bergerak leluasa.
Mereka terus berlari hingga sampai pada sebuah hutan yang bernama Hutan Mistik. Hutan ini dipenuhi oleh kabut yang menutup pandangan. Meskipun begitu,Tang Shan dan pengikutnya sama sekali tak kesusahan melewati hutan tersebut.
"Ayah,kita ingin kemana...?"Tanya Fang Wei sedikit bingung.
"Kita akan kedalam hutan dan membangun sekte disana. Karena kami tidak memiliki tempat untuk bernaung lagi dan juga kami harus secepatnya mengumpul kan kekuatan."Jawab Tang Shan.
"Ayah,kau berniat membangun sekte aliran apa...?"Tanya Fang Wei dengan sungguh-sungguh.
"Tidak ada."Jawab Tang Shan singkat dengan ekspresi polosnya.
Fang Wei menepuk jidatnya pelan. Mana ada sekte tanpa aliran."Lebih baik kau menjadikan sekte itu aliran netral. Kau bukannya ingin membantu Aliran Putih-Netral untuk menang...? Memang seharusnya membangun sekte aliran netral, karena kalian bukanlah orang yang baik-baik."Ujar Fang Wei disertai dengan penjelasan yang membuat Tang Shan mengubah pikirannya.
"Kau benar."Ucap Tang Shan menggubris ucapan Fang Wei.
Mereka terus berlari hingga Tang Shan berhenti disebuah area. Area tersebut terlihat sangat strategis untuk membuat sekte. Pertahanan yang kuat karena hutan berkabut tersebut sebagai pelengkap. Ditambah energi alam disana sangat tebal membuat Tang Shan sangat tertarik dengan area tersebut.
"Saatnya bekerja keras."Gumam Tang Shan sebelum menurunkan Fang Wei.
Kemudian Tang Shan menghampiri Tiga Iblis Pelindung dan memberikan mereka tugas. Tang Shan berniat membangun sekte disana.
Setelah memberikan tugas, Tang Shan segera menebang beberapa pohon kemudian mengangkut nya mendekat kearah area tersebut. Hal itu juga dilakukan Tiga Iblis Pelindung sampai terlihat sebuah gunungan kayu tersusun.
Lalu secara serempak mereka membangun tiga bangunan yang berukuran besar. Sedangkan Fang Wei hanya melongo tanpa bisa membantu.
calon murid aja blom bisa berkultivasi suruh bunuh binatang buas.... pekok