Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PATAH?
Mungkin saat ini pagi tidak akan menjadi secerah dulu, tidak akan semenarik dulu. Kini mungkin hanya menjadi pemandangan baginya, serta pengalaman pertama baginya.
Daun yang terhembus oleh angin akan terbang kemana pun tanpa ditangkap, begitu pula dengan dirimu yang selalu ku biarkan akan pergi begitu saja.
Hiragi tengah bersiap untuk latihan di tempat biasa. Saat ini Biara bersamanya, penampilan Hiragi selalu tetap indah, itu karena keindahan rambutnya serta senyumannya.
"Hiragi saat kau kembali ambilkan pesananku di tempat Paman Daisi~"
"Baiklah."
Hiragi langsung meninggalkan Mansion dan menuju ke toko Paman Daisi. Namun pagi ini sedikit mengganjal baginya, keadaan Harui semakin menipis, atau sudah bisa di bilang Hiragi tidak dapat melihat sosok pemarah itu.
Hiragi juga menanyakan tentang Harui pada Biara, tapi berbeda, saat menuju kamar Hiragi, Biara melihatnya menggunakan seragam lengkap.
"Mungkin dia latihan?"
Dilain tempat. Harui pergi menuju bar, padahal dia mengenakan seragam tetapi mampir ke sebuah bar. Harui seperti depresi memikirkan sesuatu.
"Paman minuman satu yang berukuran besar!"
"Hah?~ Kau tidak biasanya ingin minum-minum." Harui dihampiri oleh orang yang dia kenal.
Harui masih merasa kesal dengan kejadian kemarin malam, tapi dia juga tidak ingin terus memikirkan hal itu. Hanya saja dia, selalu tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata, Harui terus menerus membuat dirinya mabuk.
"Apa yang gadis itu lakukan?! Sialan!"
Emosi, amarah dan mabuk menjadi satu.
Sreek~
"Mahiru?!"
《Sebelumnya.》
Gorsa merasa ada yang mengganjal dipagi hari ini. Sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Harui biasanya selalu menaikkan darahnya dipagi hari karena hal sepele, namun sekarang tidak, Gorsa merasa hal itu terjadi saat kejadian kemarin malam, Gorsa masih memiliki pikiran yang peka dan selalu terus terang.
Gorsa langsung memakai seragamnya dan berlari mencari Harui. Dan menanyakan sesuatu padanya dengan jujur.
《Setibanya Di Tempat.》
Gorsa terbelak dengan apa yang dilakukan Harui. Harui yang darah tinggi itu tidak menyukai minum karena selalu membuatnya mabuk, tapi sekarang tingkahnya layaknya kalangan bawah.
"Maaahiirru!"
...☄☄☄☄...
"Kau ini be-rat sekali!" Rintih Gorsa yang berusaha merangkul pria dalam kondisi mabuk menuju Mansion.
Gorsa dengan bersusah payah menyadarkan pria ini namun tidak ada balasan. Gorsa memang tidak pernah melihat kejadian seperti ini, yaitu melihat Harui mabuk, mungkin saat sadar nanti Gorsa akan mencoba berbicara dengan Harui.
Di tempat latihan seperti biasa. Gadis berambut malam itu melamun sambil memainkan pedangnya. Biara yang dari tadi melihatnya begitu bingung.
"Kenapa pria bodoh itu semakin dingin?! Dan lebih parahnya lagi, aku tidak melihat batang hidungnya pagi ini!~"
Tuk!
Biara memegang pundak Hiragi, untuk membuyarkan pikiran-pikiran anehnya. Hiragi terkekeh pelan, mungkin memang benar, pikiran Hiragi saat ini tidak meyakinkan. Sedangkan Biara, gadis itu masih mengingat apa yang dikatakan Hiragi disaat dia tidak sadar.
"Hiragi! Kalau pria yang bernama Harui itu kau menganggap dia apa?"
"Hmm.. Kita pikir dulu."
"Dia itu pria keras kepala! Yaa sama denganku, tapi dia jahat! Eh tidak juga, dia itu baik! Dia terus melindungiku, aku juga ingin melindunginya~"
Biara yang mendengar celotehan dari Hiragi lumayan tidak paham dengan semua kata katanya. Biara langsung menuju intinya.
"Hiragi apa kau menyukai Harui?"
"Tentu saja aku menyukainya, semua gadis di Kota ini juga menyukainya-"
"Hiragi, bukan itu maksudku, begini apa kau....... Mencintai Harui?"
"Kalau itu... Mungkin, terkadang dia terlihat sangat menakjubkan, terkadang juga membuat orang kesal, namun dia orang yang paling bisa membuatku tenang."
Dan saat ini, Biara ingin memastikan semua itu dengan terang-terangan. Hiragi telah membicarakan tentang tingkah Harui yang aneh, Biara juga sedikit menduga atau curiga bahwa Harui memiliki perasaan pada Hiragi. Namun saat ini dia tidak tahu harus apa, mustahil juga baginya untuk mencari tahu semuanya dengan sendiri.
Mungkin setidaknya Biara harus mencobanya.
"Hiragi." Panggil Biara yang berhasil membuat Hiragi menoleh dengan cepat.
Biara masih terjebak dalam pikirannya, harus memulai dari mana pertanyaannya, dan disaat memulainnya, Biara takut akan salah tutur pertanyaannya.
"Biara, jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja atau tanyakan saja."
Memang Hiragi sangat tahu tentang orang lain, sedangkan Biara, gadis itu berhasil mengetahui jika Biara ingin mengucapkan sesuatu dan sekaligus menanyakan sesuatu, Biara menghela nafas dengan panjang.
"Hiragi... Apa k-kau menyukai Tuan Muda Harui?" Biara memberanikan dirinya untuk menanyakan hal penting itu.
Hiragi dengan terkejutnya langsung berdiri.
"Ha-h, apa yang kau katakan Biara? Ten-tentu saja aku membencinya, dia adalah rivalku." Ucap Hiragi terbata-bata berusaha menyembunyikan dengan cepat kebenarannya.
"Aku sudah menduganya, gadis ini berbohong, huft... Untuk menyatukan mereka itu sangat sulit! Apa yang harus aku lakukan~?"
Hiragi langsung bergegas untuk melanjutkan latihannya, saat ini bukan waktunya untuk bersantai. Banyak hal yang Hiragi belum tahu tentang semua ini, walaupun perlahan-lahan dia mulai memahami keadaan. Tapi yang terus mengganjal dipikirannya adalah, tentang cerita novel itu, Hiragi tidak merasakan bahwa itu adalah salah satu petunjuk mengapa dia ada di dunia ini.
Dan Gorsa, laki-laki itu belum memberikan jawaban yang jelas pada Hiragi, namun gadis itu yakin, bahwa Gorsa mengetahui asal-usul Hiragi, dia juga merasa bersalah pada Biara. Saat ini Biara sama sekali tidak mengetahui hal sebenarnya tentang Hiragi disaat mengungkapkan segalanya, apakah Biara akan tetap bersama Hiragi?
...☄☄☄☄...
Sudah empat jam Hiragi berlatih, dan saatnya untuk kembali. Mereka berdua memutuskan untuk mampir mengunjungi toko Paman Daisi
dan Bibi Mina.
《Di Sisi Lain Kediaman Harui.》
Gorsa berusaha membersihkan tubuh Harui, walaupun tidak tahan dengan aroma alkohol yang menyengat. Saat ini Gorsa ingin sekali menghajar Harui, tapi dia takut akan dibalas, saat ini posisi Gorsa sangat menyedihkan. Harui sangat berbahaya saat mabuk jadi Gorsa harus cepat memulihkan kesadaran Harui secepat mungkin.
"Mahiru! Tenanglah sedikit!" Bentak Gorsa pada Harui yang terus menerus bergerak.
"Tidak kau tidak Hiragi, kalian berdua selalu membentakku!" Harui berkata sambil cegukkan.
Gorsa merasa geli dan jijik setiap perkataan dilontarkan Harui, biasanya perkataannya dingin dan selalu terbalut emosi, dan sekarang lemah lembut. Dia masih memikirkan hal yang tadi malam, tapi menurut Gorsa ini tidak termasuk masalah besar, namun mengapa dia merasa bersalah.
Deg!
Seusai membersihkan Harui dan membuat pria mabuk itu tidur dan istirahat. Gorsa terduduk diam memikirkan keras perihal kemarin malam. Gorsa berpikir kelakuan Harui kali ini adalah hal pertama yang dia lakukan, dan sikapnya yang lebih dingin serta hilang begitu saja juga pertama kali dia lihat.
Jika dirangkai satu satu sikap anehnya hari ini.
"Mahiru! Kau menyukai Hiragi?!"
《Di Toko Paman Daisi.》
Biara sedang asik dengan Bi Mina membicarakan hal yang lumrah dilakukan gadis-gadis pada umumnya. Sedangkan Hiragi masih termenung dengan kejadian pada satu hari ini. Musim ini adalah musim pertama baginya di dunia asing ini.
Hiragi merasa begitu mengangkut beban yang banyak, di sisi lain dia ingin begitu kuat dan di sisi lain dia ingin mencari tau mengapa dia berada di dunia asing ini. Dan jika semuanya terjawab, untuk apa Hiragi melakukan latihan dengan keras, jika ingin berjuang mencari petunjuk dia bisa lakukan setiap hari tanpa melakukan hal yang tidak harus dia lakukan.
Hiragi juga terus memikirkan Gorsa, dan terus bertanya dalam hati, apakah pria itu tau asal-usul Hiragi, jika tau mengapa di sembunyikan, jika tidak tahu mengapa harus terdiam disaat Hiragi menanyakannya.
Hiragi begitu depresi dengan keadaan sekarang, gadis itu memegang ujung kepalanya dengan serius. Biara telah menganggap dirinya sebagai Adik, Hiragi telah menganggap Biara sebagai Kakak, tetapi mengapa Hiragi harus terus merahasiakan asal-usulnya.
"Aku dengar saat ini kondisi Utara makin memburuk."
"Benarkah? Aku tidak menyangka mengapa mereka begitu keras kepala tidak ingin mengabdi pada Yang Mulia Raja Atsa."
Hiragi langsung keluar menuju perbincangan para orang-orang di luar, namun terhentikan jika saat ini Hiragi tidak boleh mengatakan apapun tentang Negara Utara, karena itu bisa membuat dirinya dicurigai karena tidak mengetahui tentang Negara Utara.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????