"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Rafif berjalan menghampiri Zahra yang tengah berdiam diri dengan wajah menunduk memperhatikan lantai yang ada di bawahnya. Ia membawakan tas Zahra juga tas kerjanya sendiri karena ia berniat pulang sekarang bersama dengan Zahra
Awalnya memang Rafif berencana pulang setelah sholat ashar seperti yang dijanjikannya dengan Zahra tadi karena ia mengira pertemuannya dengan kliennya tadi akan memakan waktu yang lama, tapi ternyata dugaannya salah, pertemuannya berjalan hanya kurang lebih satu jam saja. Maka dari itu, Rafif bisa pulang bersama Zahra lebih awal
"Kenapa menunggu disini?" tegur Rafif saat tiba di hadapan Zahra. Gadis itu langsung mengangkat wajahnya menatap Rafif
"Kak Rafif" ucapnya dengan wajah berseri kesenangan saat melihat wajah suaminya itu, ia tersenyum dengan sangat senang seakan baru melihat suaminya itu dalam waktu yang lama
"Aku tanya, kenapa kau tidak masuk ke ruanganku setelah dari toilet?" tanya Rafif merasa bersalah telah membuat Zahra menunggu seperti ini
"Kata Bu Helen, kau ada pertemuan penting jadi tidak bisa di ganggu. Makanya aku kemari menunggumu" jawab Zahra
"Maafkan aku, kau pasti menunggu lama" ucap Rafif dengan wajah bersalah
"Tidak sama sekali, aku suka menunggumu seperti ini. Lagipula menunggumu di loby seperti ini cukup menghilangkan rasa bosanku karena melihat orang berlalu lalang" kata Zahra dengan senyum berusaha meyakinkan Rafif bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu
"Dia berbohong lagi, jelas-jelas aku Melihatnya menundukkan kepalanya. Aku yakin dia kelelahan dan bosan menungguku seperti tadi" batin Rafif dapat membaca pikiran Zahra hanya dengan menatap mata istrinya itu
"Bagaimanapun, aku minta maaf padamu. Kedepannya hal ini tidak akan terjadi lagi, tidak akan ada yang berani menolak kehadiranmu lagi di kantor ini" ucap Rafif yang gagal di cerna oleh Zahra
"Maksud kak Rafif?" tanya Zahra tidak mengerti perkataan Rafif
"Sudahlah, Ayo kita pulang" ajak Rafif mengulurkan tangannya pada Zahra untuk membantunya berdiri
"Kau sudah selesai bekerja?" Zahra terlebih dahulu memperthatikan sekeliling, saat dirasa tidak ada yang memperhatikan mereka, barulah ia mengambil uluran tangan Rafif dan berdiri dari tempat duduknya walau seingat Zahra harusnya mereka pulang setelah sholat ashar, tapi ini lebih cepat dari yang ditentukan oleh Rafif tadi
"Iya. Pertemuannya sudah selesai, aku senang hari ini bisa pulang kantor lagi bersamamu seperti dulu" ucap Rafif tidak berniat melepaskan genggaman tangannya pada Zahra, berbeda dengan Zahra yang berusaha melepas genggaman tangan Rafif tetapi tangan Rafif
"Kak, kita akan jadi pusat perhatian jika seperti ini" keluh Zahra masih berusaha melepaskan genggaman tangan Rafif yang sangat erat
"Lepas saja jika kau bisa" tantang Rafif yang terus menggenggam tangan istrinya itu dengan erat sambil terus berjalan keluar dari gedung kantornya, sama sekali tidak ingin melepaskan tangan yang sangat nyaman ia genggam itu. Zahra hanya bisa pasrah dan memilih menundukkan kepalanya dan terus berjalan berdampingan dengan Rafif
Rafif yang memperhatikan tingkah Zahra sangat dibuat gemas, ia terus tersenyum membuat wajahnya tampak berseri
***
Rafif dan Zahra saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari kantornya, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka berdua hingga dering ponsel milik Rafif membelah kesunyian di dalam mobil yang mereka tumpangi
"Ada apa?" tanya Rafif setelah panggilannya terhubung
"...."
"Berkasnya ada di dalam ruanganku, apa sepenting itu?" Zahra memperhatikan Rafif yang sedang terlihat serius menjawab telpon yang sepertinya berasal dari kantornya
"...."
"Baiklah, aku akan kembali sekarang juga" Ucap Rafif lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam kantong jasnya
"Dari siapa kak?" tanya Zahra penasaran
"Cindy, katanya klien yang tadi meminta berkas untuk perincian kerjasamanya, beliau butuh berkas itu untuk pertimbangan kontrak yang dibuatnya nanti" jawab Rafif terus mengemudikan mobilnya
"Jadi kau akan kembali ke kantor?" tanyanya lagi
"Iya, setelah mengantarmu pulang"
"Itu akan memakan waktu yang lama, biar aku ikut denganmu saja kak"
"Kau yakin tidak apa-apa jika harus ikut kembali ke kantor bersamaku?" tanya Rafif merasa tidak enak jika harus membawa Zahra lagi kembali ke kantornya, ia takut jika istrinya itu akan kelelahan
"Iya kak, lagipula sangat membuang waktu jika mengantarku untuk pulang terlebih dahulu" jawab Zahra meyakinkan Rafif jika ia tidak keberatan sama sekali
"Baiklah. Maafkan aku, hari ini banyak membuatmu kelelahan" ucap Rafif menatap Zahra sekilas lalu kembali fokus menyetir
"Tidak sama sekali kak Rafif" jawab Zahra tersenyum dengan begitu tulus
"Zahra benar-benar gadis yang baik dan sabar, beruntung sekali aku mendapatkannya" batin Rafif lalu tanpa ia sadari menarik bibirnya membentuk senyuman
Setelah mendengar Zahra setuju untuk ikut kembali ke kantor dengannya, Rafif memperhatikan jalanan di sekitarnya lalu berniat memutar balik mobilnya saat ia rasa jalanan sudah aman. Tetapi pada saat yang bersamaan saat mobil Rafif setengah berbalik, tiba-tiba dari arah yang berlawanan terlihat mobil lain yang sepertinya kehilangan kendali dan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga menabrak mobil yang ditumpangi oleh Rafif dan Zahra dengan sangat keras
"ZAHRA... " ucap Rafif meneriakkan nama Zahra saat mobil itu menghantam bagian samping tempat Zahra duduk terlebih dahulu
Mobil yang di kemudikan oleh Rafif terputar dengan keras mengakibatkan Zahra kehilangan kesadaran di dalam sana dengan berlumuran darah, sedangkan Rafif sendiri kondisinya tidak jauh berbeda dengan Zahra yang sama-sama berlumuran darah tetapi kesadarannya belum sepenuhnya hilang
Rafif dibuat sangat terkejut dan panik melihat Zahra sudah sangat lemah dan tidak sadarkan diri
"Zah.. ra, ba.. ngun, Za.." ucap Rafif dengan terbata merasa ketakutan melihat kondisi Zahra, ia berusaha menggapai tangan Zahra tapi sama sekali tidak bisa melakukannya karena benturan kecelakaan itu membuat badannya sangat kesakitan, kesadaran Rafif pun turut menghilang
Semua orang di tempat kejadian itu langsung mengerumuni dua mobil yang saling bertabrakan tersebut. Suara sirine mobil ambulance dan polisi terdengar memenuhi lokasi kejadian tersebut. Ketiga korban dari kecelakaan itu termasuk Zahra dan Rafif segera di larikan ke rumah sakit saat mereka berhasil di evakuasi