Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Melayani
Setelah ritual mandi bersama, Gio memakaikan jubah mandi kepada Yuri agar tak kedinginan. Bergegas Gio membereskan ranjangnya yang kacau dan berantakan bekas aktivitas mereka berdua semalam. Kedua mata Yuri melotot melihat terdapat bekas noda darah di kain sprei yang berwarna putih. Pantas saja, miliknya masih terasa linu dan perih terutama saat buang air.
Gio yang paham tidak menyuruh ARTnya untuk membereskan kamarnya.. Sekilas Gio melirik wajah Yuri, muncul rasa bersalah dalam hatinya, apalagi setelah melihat bekas noda darah di spreinya. Jelas Gio tahu noda tersebut bukan jejak kegadisan Yuri, tetapi luka yang disebabkan oleh permainannya semalam. Setelah ini Gio berjanji akan bermain lebih lembut agar tak menyakiti Yuri.
Di rumah besar ini Yuri benar-benar diperlakukan bak seorang ratu, sepenuh hati Gio melayani dan melakukan semua kebutuhan Yuri termasuk memandikan dan memakaikannya baju. Kondisi Yuri saat ini benar-benar seperti seorang wanita yang baru saja kehilangan kegadisannya. Gio pun memahami kondisi Yuri, dan tidak meminta tambahan lagi meski harus menahan diri saat melihat kemolekan tubuh Yuri.
Serasa berada di alam mimpi, segala hal yang terjadi dari hari kemarin hingga detik ini masih sulit Yuri percaya. Rasanya baru kemarin dia merasakan sakitnya pengkhianat mantan suami, sekarang berubah menjadi kebahagiaan. Meski ingatannya tentang siapa sosok Gio, Yuri masih merasa sungkan. Apalagi dengan penuh perhatian, Gio menyuapinya saat ini. Bahkan Gio pula yang memasak menu sarapan pagi ini padahal ada ART yang bisa melakukan semuanya.
“Sudah bang, Yuri bisa makan sendiri. Abang juga makan sarapannya ya,” pinta Yuri dengan wajah memelas.
“Yakin bisa, heeemmmm. Tadi aja waktu ambil sendok sendiri tangannya gemetar sampai jatuh. Maaf ya, semalam Abang bikin kamu kelelahan,” jawab Gio diiringi dengan kedipan mata sebelah kanan.
Yuri semakin tak kuasa menahan malu, rasanya ini berlari dan bersembunyi sejauh mungkin. Entah mengapa semenjak bangun pagi terasa ada yang salah dengan tubuhnya. Tubuhnya terasa begitu lemas tak bertenaga, bahkan untuk menggerakkan tangan saja, Yuri sampai mengeluarkan keringat dingin di dahinya.
Untung saja Gio bisa dibujuk untuk tidak membawanya ke rumah sakit, bisa-bisanya Yuri semakin kehilangan harga diri jika dokter yang memeriksa mengetahui apa yang terjadi kepadanya.
Cup
“Jangan lupa habiskan jusnya ya, supaya kondisi kamu bisa pulih lagi, Sweety. Masih banyak hal yang ingin Abang lakukan bersama kamu. Tunggu di sini sebentar ya, Abang mau ambil handphone dulu,” ucapnya setelah memberikan kecupan di kening Yuri.
Yuri hanya menganggukkan kepalanya, masih terpesona dengan setiap perlakuan Gio yang sangat manis. Belum lagi wajah Gio yang semakin tampan saat hanya memakai kaos dan celana pendek.
Tak berselang lama, terdengar bunyi bel pertanda ada seseorang yang berdatang ke rumah Gio. Seorang ART bergegas untuk membukakan pintu depan.
“Selamat pagi Nyonya Yuri,” sapa Ziyan dengan ramah sambil membungkukkan badannya.
Dia memang mengetahui perihal pernikahan Gio dan Yuri, bahkan dia pula yang mendaftar mereka ke kantor agama. Tetapi tidak dengan Yuri.
Hampir saja, Yuri tersedak saat mengetahui jika tamu yang datang adalah Ziyan. Namun dia ingat jika Ziyan adalah asisten Gio tentu akan mengetahui segala hal yang berhubungan dengan Gio.
“Pak Ziyan, anda??”
“Panggil saja Ziyan, Nyonya. Bagaimanapun juga saat ini anda adalah istri Boss Gio,” sahut Ziyan dengan senyum yang lebar.
“Jadi ka–”
“Iya Nyonya, saya sudah tahu dan saya pula yang mengurus semua yang berkaitan dengan pernikahan Anda dan Boss Gio,” potong Ziyan.
Yuri tak lagi bertanya, entah mengapa dia menjadi kesal dan menghabiskan jus jeruk itu dengan dua kali tegukan.
“Ziyan, ada apa kamu ke sini? Saya kan sudah bilang, hari ini saya cuti sampai lusa.” Suaranya terdengar tiba-tiba dari arah belakang.
“Maafkan saya Boss, tetapi ini ada dokumen penting yang harus ditandatangani oleh Bu Yuri mengenai pemilihan model untuk koleksi Y&G bulan depan,” terang Ziyan sambil menyerahkan dokumen yang dia maksud.
Gio segera mengambil dokumen tersebut dan membaca isinya. Tak ada satu kalimat atau kata yang terlewat dari penglihatannya.
“Cari model lain untuk model utama, saya tidak setuju.” Gio kembali melemparkan dokumen tersebut.
“Ta-tapi Boss, hal itu tidak bisa dilakukan karena dia sudah menjadi brand ambassador dari Y&G.”
“Siapa yang memilihnya? Saya mau dia diganti!!” tegas Gio dengan nada suara yang meninggi.
“Jika diganti, kita harus membayar ganti rugi karena telah menyalahi kontrak,” jawab Ziyan dengan sedikit ragu.
Yuri yang penasaran dengan isi dokumen tersebut mengambilnya dari atas meja. Dengan seksama Yuri mencari tahu siapa model utama yang akan memperagakan hasil rancangan tim desainernya.
“Cantika, “ gumam Yuri dengan lirih.
Yuri berusaha mengingat siapa model yang bernama Cantika, rasanya tidak asing untuknya. Ah ya, Yuri mengingat jika wanita yang tempo hari dia pergoki sedang intim dengan Gio yang bernama Cantika. Seketika wajahnya menjadi menunjukkan ekspresi ketidaksukaan.
“Memang berapa denda yang harus dibayar??” tanya Gio penasaran
“Sepuluh miliar, Boss,” jawab Ziyan dengan sangat lirih.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Arimbi yang hampir memejamkan matanya, tak jadi untuk tidur. Sebab gedoran keras di pintu depan mengganggu pendengarannya. Meskipun sudah tiga hari David tak kunjung pulang, Arimbi tak ambil pusing. Dia justru merasa bebas karena tak perlu repot-repot mengurusi kebutuhan suaminya itu.
“Mas kamu….”
Arimbi menggantungkan ucapannya, belum sempat dia mempertanyakan kondisi David yang sedang mabuk, pria itu sudah menyeretnya ke dalam kamar. Dengan sekali dorongan David berhasil menjatuhkan Arimbi di atas ranjang, matanya menyalang saat melucuti seluruh pakaian Arimbi. David memagut kasar bibir istrinya itu, juga menggigitnya hingga merasakan ada cairan anyir keluar dari sana.
“Hentikan Mas, kamu kasar!!” protes Arimbi tak suka diperlakukan kasar saat hendak berhubungan intim seperti ini.
“Diam atau akan aku pukul hingga babak belur!!” bentak David dengan kedua mata yang memerah, sorotnya memperlihatkan kemarahan yang meledak-ledak.
Di bawah ancaman David, Arimbi hanya bisa pasrah diperlakukan layaknya seorang wanita panggilan. Semua tindakan David kepadanya malam ini tak pernah Arimbi duga sama sekali. Meskipun selama berhubungan, David selalu memperlakukannya dengan baik walaupun Arimbi tak mendapatkan apa yang dia inginkan.
David memaksakan untuk memasuki Arimbi meskipun istrinya itu belum menunjukkan tanda-tanda kesiapan.
“Mas.. sakit!!” Arimbi meringis kesakitan saat David melebarkan pahanya dan memaksakan untuk melakukan penyatuan. Wanita itu hanya bisa mengumpat perlakuan David yang semena-mena sambil menahan rasa sakit.
Belum reda rasa panas dan perih di area sensitifnya, perutnya kini didera sakit setiap kali David menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Arimbi hanya bisa menahan tubuh David dengan kedua tangannya agar goncangan tersebut tidak berakibat fatal terhadap janinnya. Begitu mendapatkan pelepasan, tubuh David ambruk begitu saja di samping Arimbi dan langsung terlelap tidur tanpa sempat membersihkan tubuhnya.
Dering suara ponsel terdengar, mengusik seorang wanita yang masih tertidur. Tubuhnya terasa sangat remuk dan kesakitan akibat ulah suaminya yang begitu kasar kepadanya. Tadinya dia masih ingin melanjutkan tidurnya, namun ponsel tersebut tak kunjung berhenti berdering.
“Mas, itu ada telepon dari tadi berdering terus. Mas, bangun Mas??” ucap Arimbi dengan suara seraknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh David agar lekas bangun.
Tak kunjung mendapatkan tanggapan, Arimbi pun meraih ponsel milik David untuk menonaktifkannya. Namun David langsung merampasnya dan mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Ada apa pagi-pagi sekali kamu menghubungi saya? Bukankah sudah saya bilang proposal tersebut akan direvisi besok!! umpatnya kepada karyawannya yang menelepon pagi ini.
“Maaf jika pagi-pagi sekali saya menelepon Pak, tetapi ini ada hal lain menyangkut tender proyek mereka memaksa meminta pembayarannya hari ini juga.”
“Saya akan segera ke sana.” David mengakhiri panggilan telepon yang tersambung.
“Apa pakaian mas ada yang bisa dipakai?” tanya David memastikan.
Arimbi menggelengkan kepalanya,” Belum sempat mas,” cicitnya sambil menundukkan kepala, takut menghadapi kemarahan David.
Kemarin Arimbi memang menyewa jasa pembersih rumah dan mencuci semua pakaian yang kotor. Namun tidak sampai menyetrikanya, sehingga tak ada pakaian yang bisa dikenakan langsung oleh David.
“Dasar istri tidak berguna,” gerutu David sambil memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.
Terpaksa David memakai kembali pakaiannya yang semalam. Meskipun agak berbau alkohol karena semalam dia minum bersama rekan kerjanya untuk melepas penat.
kalau rumah tangga mertua ikut ngatur dan campur tangan ngurusin susah adanya pasti ribut terus