Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Hari ini, Embun harus lembur bersama Sean yang berada di ruangan kerjanya, dan dia di meja kerjanya sendiri.
Ini sudah jam 8 malam, dan sudah waktunya untuk pulang. Apalagi melihat Sean yang sudah siap-siap, maka dia langsung bergegas merapikan meja kerjanya dan keluar secepat mungkin untuk menghindari laki-laki dingin itu.
Namun saat, dia tidak beruntung karena ternyata di luar hujan deras. Saat ini Embun hanya bisa berdiri di teras Lobby kantor Sinar Maju.
"Astaga, kenapa siap banget sih. Udah lembur, laper, mau pulang hujan pula." gumam Embun melihat hujan yang begitu deras.
Jika dia memaksa berjalan di bawah hujan, itu akan basah dan bisa saja dia demam nantinya.
Akhirnya dia memilih menunggu disana. Tapi, saat dia berjongkok di sana, ada seseorang yang datang membawa payung.
"Pak, Sean?" gumam Embun melihat Sean datang.
Sean tidak bicara, dia menarik tangan Embun lalu memberikan payung miliknya pada gadis itu. Lalu dia sendiri memilih berjalan menembus hujan tersebut menuju mobilnya.
"Loh, Pak. Tunggu..." seru Embun berlari mengejar Sean yang berjalan begitu saja, padahal hujan deras.
Sean terdiam disana, saat Embun menyusulnya dengan payung tersebut. "Saya hantar Pak Sean sampai mobil ya, Pak. Soalnya ini hujan, nanti baju bapak basah. Bapak bisa sakit." ucap Embun seraya tersenyum lembut pada Sean yang masih diam menatapnya.
Mata berbinar itu benar-benar membuatnya jatuh cinta hingga ke dasar jurang terdalam. "Kenapa kamu takut saya sakit?" tanya Sean dengan suara beratnya membuat Embun terdiam.
"Maksud saya, ini kan payung bapak. Saya gak enak kalau makenya sendirian. Jadi saya antar bapak sampai ke mobil, habis itu saya pinjem deh payungnya." jawabnya sambil tersenyum membuat jantung Sean tidak baik-baik saja saat ini.
Tangan Sean bergerak hendak menyentuh pipi Embun, namun saat dia sadar dia langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
"Pak Sean, bapak mau kemana Pak?" Embun kembali berlari mengejar Sean, namun dia terjatuh hingga membuat Sean panik.
"Aduh..."
"Embun!!!" Sean panik dan langsung menghampiri gadis itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sean panik melihat baju gadis itu basah, lututnya berdarah.
Melihat itu Sean langsung membawanya ke mobil. Untuk segera di obati lukanya.
"Ayo ke mobil."
"Pak, saya baik-baik saja pak." ucap Embun merasa tidak enak hati disana.
Sean tidak peduli, dia langsung memapah tubuh gadis itu, tapi dia tidak sabar dan langsung menggendongnya membuat Embun semakin terkejut disana.
"Pak?" gumam Embun panik di gendong Sean.
Bahkan payung yang di pegang nya hampir saja terlepas jika Sean tidak mengingatkannya.
"Pegang payungnya dengan baik, Embun. Kamu bisa demam nanti!" ucap Sean mengingatkan membuat Embun kembali mengeratkan pegangannya di gagang payung tersebut.
Sesampainya di mobil, Sean langsung mengambil jaket miliknya di belakang sana dan memakaikannya pada Embun.
Tidak sampai disitu saja, dia juga mengambil kotak obat untuk membersihkan lukanya. "Pak, saya baik-baik saja." ucapnya tidak enak karena perhatian Sean yang tidak sepantasnya.
"Lukanya harus di obati, jika tidak bisa infeksi." jawab Sean membersihkan luka Embun dengan Alkohol, dan membalutnya dengan plaster.
"Untuk malam ini, usahakan tidak terkena air langsung."
"Hah, Ha'ah." jawabnya mengangguk.
Tatapan keduanya saling terkunci, dimana Sen semakin terhanyut oleh mana sayu tersebut.
"Sudah malam, saya hantar kamu ke Mess wanita."
"Eh, gak usah, Pak. Saya bisa jalan. Lagian ada payung bapak, kok." tolaknya segan.
"Ini bukan penawaran, ini perintah!" ujar Sean yang langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk mengantar Embun pulang, lalu setelahnya dia juga pulang ke rumah. Karena ibu dan papanya pasti sudah khawatir.
Apalagi saudara kembarnya, itu. Pasti Rean akan sangat bising nantinya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh