NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Tuan Bara

Gelora Cinta Tuan Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:71.5k
Nilai: 5
Nama Author: Titin

Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

"Ting..."

"Ting..."

"Ting..."

Ponsel Safira terus berdenting, notifikasi pesan masuk terus bersahutan. Safira terlihat memeriksanya sebentar, memastikan dari siapa pesan itu lalu kembali bekerja. Karena tak mendapat balasan pesan, kini si pengirim pesan melakukan panggilan suara. Seperti tadi, Safira cuma melirik nama pemanggil sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitas nya. Memeriksa sketsa desain sebelum lanjut ke pemotongan bahan.

Mata bening Safira terlihat begitu teliti mengamati desain gaun nan elegan, di pasangkan dengan tukedo berwarna senada. Akan sangat sempurna di kenakan oleh sepasang kekasih yang berwajah cantik dan bertubuh gagah seperti Serlyn dan Bara.

Mengingat nama itu membuat Safira menarik nafas berat. Nama yang membuat mood nya naik turun sepanjang hari tanpa sebab.

Sekali lagi ponselnya berdering, dan masih saja di abaikan Safira. Seperti sebelumnya dia hanya melirik sekilas. Berulang hingga beberapa kali. Tapi dering ponsel itu tak mampu mengalihkan perhatian nya pada pekerjaan. Sampai terdengar suara ketukan halus di daun pintu ruang kerjanya.

Tok..

Tok...

Tok...

"Masuk.." terdengar suara lembut Safira mempersilahkan, sembari berpaling ke pintu.

Dan...

Tubuhnya membeku demi melihat siapa yang datang. Bara, pria itu sedang berdiri di ambang pintu, dengan ponsel di telinga. Matanya yang tajam tampak gusar menatap Safira.

"Kamu..?" ucap Safira gugup, dia tak menyangka lelaki yang sedari tadi sibuk menghubunginya itu akan datang ke ruang kerjanya.

Bara menaruh ponselnya ke saku jasnya, lalu melangkah masuk dengan wajah kaku. Dia berdiri tepat di depan meja Safira, menatap Safira dengan ekspresi gusar. Ada tetes keringat membasai wajah juga pori pori tangannya. Sementara Safira terlihat gelisah.

"Kenapa mengabaikan panggilan ku?" tanya nya dengan suara rendah dan penuh emosi.

Safira kelabakan, "Aku sibuk," sahutnya sekenanya , berusaha tenang tapi tetap saja dia merasa gugup. Apa lagi saat melihat ekspresi Bara yang campur aduk, marah, panik, juga khawatir saat menatapnya.

"Hanya menjawab panggilan ku saja kau tidak bisa? Kau tau sekhawatir apa aku tadi?!" ucap Bara dengan nada geram.

Safira terdiam, pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri di hadapannya dengan tubuh dan kemeja basah oleh keringat. Dia seperti habis berlari mendaki gunung.

"Ada apa, apa kau marah padaku sampai mengabaikan panggilanku hah?!" tanya pria itu penasaran. Bola matanya yang kelam menelisik gerak Safira.

Safira tak menyahut, dia benar benar kehabisan kata. Dia sendiri tak tau kenapa dia mengabaikan panggilan Bara, padahal pria itu puluhan kali menelponnya tanpa henti. Padahal kalau hanya menjawab dengan seuntai kata saja dia masih punya waktu.

"Maaf mood ku sedang naik turun seharian ini. Aku hanya tak ingin bicara dengan siapapun saat ini." kilah Safira, akhirnya. Walau apa yang dia katakan adalah benar, moodnya berantakan oleh pengakuan Serlyn bahawa Bara adalah calon tunangannya. Pria yang beberapa waktu menghabiskan waktu dengannya ternyata calon tunangan orang lain.

Mendengarnya Bara menarik nafas kesal. "Baiklah, tapi lain kali kabari aku walau hanya dengan satu kalimat." tegasnya dengan suara dingin.

Safira mengangguk setuju, melihat Bara yang tampak sangat khawatir dia sedikit merasa bersalah.

"Duduklah, aku ambil air minum dulu."

"Hmmm."

Bara beranjak ke kursi, melepas Jas nya meninggalkan kemeja putih yang terlihat basah oleh keringat.

"Ini, minumlah." Safira mengulurkan segelas air putih pada Bara. Bara menerimanya lalu meminum air putih dalam gelas bening itu tak tersisa.

Safira duduk di depan Bara, sembari menatap pria itu yang juga menatap kearahnya.

"Kau benar tidak marah dengan ku?" tanya Bara menyelidik.

Safira mengangguk kecil, membuat Bara berdecak kesal. Lalu pria itu melihat benda pipih di pergelangan tangan nya.

"Satu jam lagi acara makan malam, apa kau punya stelan jas di sini yang bisa ku pakai?"

"Ada, kamu mau warna apa?"

"Dongker, bukan kah kita sepakat pakai warna itu?"

Safira menarik nafas panjang, "Aku tidak pergi." sahutnya pelan.

Bara menatapnya intens, membuat Safira memalingkan wajah menatap kearah lain.

"Kau seperti anak kecil, bilang tidak marah. Lalu sikap mu yang mana yang menunjukkan tidak marah padaku."

Safira mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku memang tidak marah." bantahnya dengan wajah cemberut.

"Lalu, apa alasan mu tiba tiba membatalkan janji dengan ku?!"

"Aku sudah bilang, mood ku lagi gak enak. Aku gak mau ketemu orang."

"Kenapa?" Tanya Bara, matanya yang tajam menyoroti Safira dengan intens. Wanita berwajah cantik itu, tampak gelisah.

"Gak tau?" sahut Safira tanpa menatap Bara.

"Tidak tau.." ucap Bara mengulang kalimat Safira sembari mengangguk angguk kecil. Lalu terlihat dia mengeluarkan ponselnya dari saku jas yang tergantung di bahu sofa.

"Bimo, tolong cari tau siapa saja yang menemui Safira beberapa hari ini. Aku ingin cepat." ucapnya tegas, memberi perintah pada orang di seberang telpon.

Safira sontak berpaling menatap Bara, bola matanya yang bening terlihat membola.

"Kenapa?" tanya Bara dengan senyum sinis di bibirnya. Safira meremang.

"Kau mau apa?" Safira balik bertanya, apa mau lelaki ini? Kalau sampai dia cari tau, kedatangan Serlyn akan terbongkar. Bukankah Serlyn ingin membuat kejutan untuk kekasihnya,

"Bertanya padamu percuma, biar aku cari tau sendiri." sahut Bara.

Safira terdiam, jantungnya kini berdetak kencang. Apa yang harus dia lakukan agar Bara berhenti mencari tau.

Tapi sepertinya Safira harus benar benar khawatir. Karena ponsel Bara kini berdering, nama Bimo tertera di layar ponselnya.

"Hmmm." gumam Bara saat mendengar penuturan Bimo di sebrang sana. Sementara pandangannya tertuju lurus ke Safira.

Bara memutus panggilan, lalu menarik tubuhnya ke posisi rileks. Menatap Safira dengan sudut bibir tersenyum tipis. Seakan dia tau jawaban kenapa Safira bersikap seperti tadi.

Melihat itu Safira mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa dia merasa kesal melihat ekspresi Bara, yang seakan menangkap basah perasaannya.

"Jadi Serlyn yang membuat mood mu naik turun sepanjang hari?" tanya Bara sembari tertawa kecil.

Safira tak menyahut, dia terpana oleh tawa kecil Bara. Wajah yang biasanya kaku ternyata lebih mempesona saat tertawa.

"Bukan." bantahnya kemudian, sembari memalingkan pandangannya ke tempat lain. Atau Bara akan mendengar degup jantungnya yang tiba tiba bergejolak tak karuan.

"Baiklah kalau begitu bersiaplah untuk makan malam dengan ku. Waktu kita kurang dari satu jam." ucapnya sambil berdiri, lalu berjalan mengitari ruang kerja Safira. Safira hanya bisa termangu menatap tingkah Bara.

"Ngomong ngomong dimana kamar mandi mu?" ucapnya lagi.

"Di sana." Safira mengarahkan jarinya je sisi kanan Bara. Mau apa dia, apa dia mau numpang mandi juga disini? Sejak kapan mereka jadi sedekat ini?

"Kalau begitu kau bersiap lah dulu, aku bersiap setelah mu." ujar Bara memberi perintah.

"Tapi aku tidak menyimpan peralatan mandi yang baru."

"Tidak masalah, orang ku akan mencarinya untuk ku. Yang penting kau bersiap lebih dulu."

"Tapi aku tidak ingin pergi."

"Tidak apa, aku bisa memaksamu. Kau ingin lihat?" sahut Bara dengan seringai licik di wajahnya.

Safira berdecak kesal. Kemudian dia mendorong tubuh kekar Bara keluar ruang kerjanya.

"Kalau begitu tunggulah di luar."

"Hey, aku bisa menunggu mu di sini."

"Di luar." tegasnya sembari membulatkan bola matanya yang jernih.

Bara pasrah, sembari menikmati ekspresi wajah Safira yang menggemaskan. Membuatnya ingin melahab bibir berwarna merah muda yang terlihat manyun itu.

.

Bersambung

1
YuWie
sudah sampee lupa dg tuan bara
Tata Hayuningtyas
update nya lama bgt thor sampe lupa jalan cerita nya
YuWie
mau dibawa kemanaa hubungan kita..
YuWie
rak mudeng sama bara bara ini... katanya cinta safira tapi klo lihat cewek bening hawane pingin nidurin. Eman2 safira, sama saja dg mantannya fira
sha
/Good/
Yanti yulianti
bagus
Wahyu Agustin
bara bereeee
Wahyu Agustin
bara bere bnyk kjutan
Wahyu Agustin
lanjuttt
atik
bagus
nur adam
lnjut
YuWie
benee kata bimo..seberharga itukah safira bagi Bara.. kulihat malah semakin gak jelas hubungan mereka. tarik ulur. Bara ngeklaim kepemilikan tapi safira gitu2 aja sikapnya
AstutieEcc
lanjut kakakk😍😍😍
AstutieEcc
untung ota semaput safira🤭🤣🤣
YuWie
krg sat set ya alurnya..hehehehe
Afsa
kisahnya bagus Kak..tp sayang,updatenya lama😄
YuWie
Tuan Bara..cintanya memBara2 dg mbak Safira..akan bertahankah dg ujian2 di depannya.
ImaFatima Latief
cepat up Thor
YuWie
Bara2.. bawaannya curigaaa wae..
YuWie
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!