NovelToon NovelToon
Dear My'Adam

Dear My'Adam

Status: tamat
Genre:Miliarder Timur Tengah / Cintapertama / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:401.2k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.

Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?

"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DM'A_part 28

"Suami aku udah ganteng, meskipun masih boci...botak se-centi," akui Ai merapikan kemeja Ernest sebelum keduanya benar-benar masuk mobil.

"Kaya pemeran boboho ya?" tanya Ernest membuat Aisya terkikik, "iya. Tapi ngga apa-apa aku tetep suka....suka uangmu," Aisya benar-benar tergelak, sekarang tuh kalo udah rumah tangga apa-apa duit, ada uang abang ku sayang ngga ada uang abang ku siram.

"Ck. Ngga cinta sama akunya dong?" tanya Ernest dengan wajah so so'an memelas kaya pengen ditendang.

"Cinta. Tapi aku lebih cinta uang nafkahmu sekarang....karena perutku ngga kenyang makan cinta, hubby." Jawab Aisya memajukan bibir kata minta disosor sowang sambil mencubit sayang pipi Ernest.

"Ck. Sayangnya kamu bener! Kamu yang dulu bukan kamu yang sekarang, sayang. Dulu kalo aku kasih kamu makanan mahal aja kamu tolak, sekarang tanpa harus aku tawarin mata kamu tuh seolah bilang, minta uang beras," balas Ernest. Aisya jadi geli mengingat masa-masa SMA dulu, keduanya sama-sama kekeh, yang satu kekeh nolak yang satu kekeh maksain kehendak.

Jika dulu obrolan keduanya hanya seputar cita-cita, sekarang sudah beda topik pembahasan.

"Kamu bakalan tetep suka kan, kalo nanti aku digebukin kakaknya Husna?" tanya Ernest membuat Aisya mengernyit, "kok kamu? Yang ada juga Erja, bukan kamu."

"Karena Erja tanggung jawabku..." jawab Ernest.

Ernest menatap Aisya, "kamu kaka yang hebat, by..." usapnya di lengan Ernest seolah memberikan supportnya.

"Iya dong! Nanti malem aku sawer pake gepokan deh karena udah muji aku!" balasnya kedipnya genit.

Aisya tertawa, "yes! Jadi besok-besok aku puji kamu terus ya by, biar kamu sawer! Kan sekarang hubby udah jadi CEO, bukan pengangguran lagi," serunya gembira.

"Boleh, sambil goyang ya?"

Aisya tertawa tergelak.

Erja mendengkus merotasi bola matanya, jujur saja hatinya tergelitik mendengar kebucinan keduanya, "lebay banget. Hal murahan aja diumbar-umbar," desisnya berbisik. Ia kira jika berjilbab dan tau agama keduanya justru akan malu-malu mengungkapkan hal begituan.

Erja memilih masuk ke dalam mobil duluan, sementara papa Edo dan mama Irene di mobil belakang.

Tidak seperti dugaan. Sambutan ramah justru mereka dapatkan dari keluarga Husna, padahal awalnya Aisya berpikir jika keluarga Husna akan menyambut mereka dengan sabetan clurit mengingat sang putra pertama merupakan aparat keamanan yang cukup memiliki jabatan.

"Padahal aku udah suudzon loh by, kirain bakalan disambit pake arit..." bisik Aisya, Ernest terkekeh di sampingnya.

"Silahkan diminum pak, bu..." sang ibunda mengingatkan Ai pada umi, meskipun berbeda orang.

Ada segaris wajah marah pada Erja, namun mereka bisa apa. Nasi sudah menjadi bubur, takut jika mereka berbuat kasar justru Erja malah pergi.

"Kami sekeluarga menyesalkan kejadian ini, atas nama keluarga besar, saya selaku ayah dari Raherja Pradiawan meminta maaf pada Husna dan keluarga...."

Aisya hanya bisa menyimak sambil menelan saliva berkali-kali mendengar papa Edo berbicara.

"Kesalahan ini dibuat oleh kedua belah pihak, mau itu pihak lelaki ataupun perempuan pak...termasuk putri saya Husna, kami sudah gagal dalam mendidik anak."

Kedua pria paruh baya itu saling melemparkan sorot mata yang meluruh tanda menyesal.

"Husna nya dipanggilin bu," pinta ayah Husna diangguki ibunya yang kemudian ia beranjak pergi masuk ke dalam untuk memanggil sang putri.

Obrolan mengalir begitu saja meski masih terasa canggung, hingga sebuah mobil memasuki halaman rumah, sesosok lelaki tegap keluar dari dalamnya.

Erja sempat menoleh ke arah kaca jendela melihat pria tegap itu masuk, Ernest melihat apa yang adiknya itu lakukan dan menyenggolnya, "lo takut?"

"Biasa aja." Jawabnya santai, padahal hati sudah berdegup tak karuan.

Saat masuk ke dalam rumah, Furqon sempat tertegun melihat kedatangan keluarga Ernest seperti sedang mencermati setiap orangnya, hingga tatapannya jatuh pada Erja, remaja lelaki yang sudah menghamili adik bungsunya.

Bersama dengan masuknya Furqon, ibu Husna keluar dari dalam bersama sang putri, "Mas, sudah pulang...ini keluarganya Erja..."

Aisya cukup tertegun melihat gadis itu, tak percaya gadis remaja berusia 17 tahun itu kini tengah mengandung janin di dalam perutnya. Jalan takdir memang tak ada yang tau, disaat banyak pasangan halal menginginkan momongan, *Dia* justru menurunkan anugerah kecil pada para remaja tanggung itu, demi pembelajaran hidup untuk semua orang.

"Jadi ini, anak bernama Erja? Kurang aj ar!" Furqon hampir saja meraih Erja dengan wajah sangarny, namun Ernest dengan sigap menjadi penengah, begitupun ayah dari Husna dan ibunya.

Erja tidak sedang mencoba menangkis apalagi mengelak, meski banyak yang membela, ia tau resikonya.

"Mas, sabar..." ujar ayah Husna menepuk dadha dan pundak sang putra memberikan sentuhan menenangkan untuk putra pertamanya.

"Kamu berani menodai adik saya?! Punya nyawa berapa?!" teriaknya, entah kenapa obrolan tempo hari dengan Ernest seakan sirna saat melihat pelakunya, obrolan yang meski awalnya penuh amarah murka berujung menerima dengan ikhlas takdir yang diturunkan untuk sang adik.

Dengan melihat Erja, entah kenapa emosi kembali memuncak.

Patutlah Husna tak berani menatap wajah bengis kakaknya, rupanya Furqon memang tak sesabar kedua orangtuanya, gadis yang sejak awal sudah menunduk tak berani menampakan wajahnya barang sedetik saja itu bahkan hanya bersembunyi di balik badan ibunya, Aisya sangat paham apa yang dialami Husna.

"Maaf mas Furqon, bisa kita bicara baik-baik?" tanya Ernest, "seperti saat tempo hari kita berbicara via telfon, maaf saya baru bisa hadir berhubung baru pulang dari umroh..." kini Ernest mengambil alih pembicaraan, "saya Ernest, kakak dari Erja...."

Ibu dan ayah Husna menenangkan sang putra yang masih dengan stelan seragam coklatnya, "duduk dulu. Jangan pake otot dan emosi, mas. Erja dan keluarga sudah punya niatan baik untuk bertanggung jawab..." ucap sang ibu.

Furqon menatap adiknya sengit, "lihat kan! Ulah kamu bikin malu bapak, ibu, mas...dimana otak kamu Husna, ini laki-laki yang kamu cinta?! Sampai-sampai kamu menyerahkan kehormatan diri dan keluarga?!" teriaknya pada sang adik, gadis itu terlihat semakin tertunduk dalam, entah air mata yang sudah terlalu berat ditahan.

Tertekan, menyesal, takut, khawatir....itulah yang mungkin Husna rasakan saat ini, sampai-sampai kini matanya yang sembab sudah kembali berkaca-kaca.

"Mas Furqon...." Ernest kembali memanggilnya.

Ia duduk bersama kedua orangtuanya tanpa mau berbasa basi anjayyy pada siapapun. Melihat wajah tertekan Husna, Aisya khawatir akan mental Husna yang drop.

"Ekhem...bapak-bapak, selagi kalian mengobrol serius dari hati ke hati....bisa saya pergi cari angin sama Husna sebentar?" tanya Aisya meminta dengan lembut.

Mereka memandang Aisya terkejut, "Sya...mau kemana kamu? Ngga usah macem-macem deh..." bisik mama Irene. Aisya hanya mengulas senyum, "ngga ma, cuma mau ngajakin ngobrol aja ke depan...Husna, jajan cilok ke depan sama aku yuk!" ajaknya.

Status dan obrolan masa depan memang penting, namun Aisya melihat ada sesuatu yang mereka lupakan. Mental dari Husna, sang bumil remaja.

.

.

.

.

1
Sopi Yani
bagus
Bunda Fiya
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Vie ardila
Luar biasa
siti rokayah
ko belum tamat kak ,korain teh udah tamat ,,
penasaran ending nya
Salim S
banyak pelajaran dari kisahnya ini
Salim S
teh kenapa gantung....tambah penasaran deh
Salim S
muridnya rama nggak tuh...
Maria Kibtiyah
yang ini gantung teh penasaran ma endingnya
Hazelnutlatteice🪷
La kirain da tamat kak thor, masih ngegantung rupannya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
knp hrs booong kan sdh halal
ervina
Kecewa
ervina
Buruk
Hasdiana
Luar biasa
Hasdiana
Lumayan
My Name
kapan upp nya
Lia Bagus
udah halal ja..sirik aja loe
Lia Bagus
pasti dihajar papa edo tuh s erja
Lia Bagus
astaghfirullah erja
Lia Bagus
aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!