Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
“Ya udaahhh.... mas gak
janji, tapi sekarang Sasa yang minta..... gimana...????” Tanya Sasa sambil
mengangkat-ngangkat alisnya dan tersenyum.
“Isshh..... bilang aja
kalau mau malakin mas Bram, dasar kancil, banyak akalnya!!!”Jawab Bram sedikit
sewot dengan adiknya. Renata tersenyum melihat mimik lucu Bram.
“Sooo.... are you agree
brother..???” Tanya Sasa sambil menggoyang-goyangkan lengan kakaknya.
“Iyaaaa... bawell!!!” Jawab
Bram sambil mencubit pipi Sasa, dan tiba-tiba Sasa mencium pipi kakaknya tanpa
malu-malu, padahal di tempat umum.
“Makasihhhh....” Jawab
Sasa sambil tertawa cerah. Renata menggeleng-gelengkan kepalanya melihat
keakraban Bram dan Sasa. Dia jadi merindukan kakaknya yang di Kalimantan.
Keduanya juga sangat akrab dan saling menyayangi.
“Gimana Ren... ni anak bawel
mau beli sesuatu...?” Tanya Bram dengan tidak enak karena harus memenuhi permintaan
adiknya.
“Ayuukk aja, kan kita
juga gak ada acara kemana-mana...” Jawab Renata tersenyum.
“Makasih ya mbak....” Kata
Sasa sambil mencium pipi Renata. “Mbak Rena gak cuma cantik, tapi baiiikkkk....
dech. Sasa jadi ngerasa punya kakak perempuan lagi..!!!”
“Diiihhh.... kalau ada
maunya jadi imut dech...” Bram meledek adiknya.
“Biarin...!!!”
Kemudian bertiga
meneruskan jalannya untuk mencari barang yang dimauin Sasa. Terlihat Sasa menggandeng
terus tangan Renata. Bram jadi merasa dicuekin karena Sasa mendominasi Renata.
Mereka berjalan keliling mall, mencari barang-barang yang mau dibeli Sasa. Setelah menemukan barang-barang yang dicari,
mereka pulang, dan terlebih dahulu mengantarkan Renata ke rumah.
Sampai di depan rumah,
Renata turun dari mobil yang diikuti Bram dan Sasa.
“Oke makasih ya sudah dianter...”
“Mbak Rena sory ya....
jadi nemenin Sasa...”
“Gak papa Sa... mbak
seneng kok..” Jawab Renata dengan lembut.
“Kapan-kapan kita jalan
lagi ya mbak, tapi gak usah sama mas Bram...”
“Oke... kapan Sasa mau,
kontak mbak aja ya...”
“Sasa pamit ya mbak... sampai
ketemu..”
“Oke. Mas makasih ya...”
“Sama-sama Ren. Aku balik
dulu. Besuk aku jemput ke gereja pagi ya...”
“Iya mas..”
Setelah mobil Bram
berjalan, Renata masuk ke dalam rumahnya. Setelah mengganti pakaiannnya dan
membersihkan dirinya, Renata merebahkan tubuhnya di kasur. Dia tersenyum
mengingat pertemuannya dengan Sasa. Gadis yang menyenangkan. Renata
membayangkan seperti apa wajah ke dua orang tua Bram, kalau anaknya saja ganteng
dan cantik. Pasti maminya juga cantik dan papinya ganteng.
Sementara itu, di jalan,
diam-diam Bram tersenyum. Dia senang hari ini Renata lebih banyak tersenyum dan
tertawa., tidak seperti kemarin-kemarin, yang lebih banyak memperlihatkan wajah
sendunya dan sorot mata yang terluka. Renata... aku akan membuat kamu selalu
tersenyum, bahkan tertawa. Aku janji akan membuatmu bahagia selamanya. Kata
Bram dalam hati.
Hari Minggu pagi, seperti
yang dijanjikan, jam tujuh pagi Bram
sudah sampai di rumah Renata. Mereka akan beribadah di gereja tempat biasa Bram
beribadah. Meskipun jadwal ibadah jam 9, tapi karena Bram bertugas, maka harus
datang lebih pagi. Setelah sampai di gereja, Bram memarkirkan mobilnya di dekat
gerbang, karena memang parkiran masih kosong.
“Yuk... kamu duduk di
sebelah sini saja ya, aku dapet tugas bareng Sasa...’ kata Bram sambil
menunjukkan kursi tempat duduk Renata. Kemudian Bram berjalan ke arah piano, dia
bertugas mengiringi pujian, sedangkan Sasa yang belum datang bertugas sebagai
Song Leader. Kemudian Bram mengisi kekosongan waktu dengan memainkan piano yang
mengalun lembut lagu-lagu pujian. Jari-jarinya sangat lincah menekan tust-tust
piano, bahkan sesekali Bram memperdengarkan suara merdunya.
Renata mengagumi Bram. Di
tengah-tengah kesibukannya, dia masih memberikan waktunya untuk aktif di gereja.
Ah.... mas Bram.. seandainya... Tiba-tiba Renata dikejutkan oleh orang yang
mencubit bahunya. Ketika menoleh ke belakang, ternyata Sasa sudah nyengir
sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Renata yang kemudian cipika
cipiki.
“Pagi mbak cantik... muaah...”
Kata Sasa sambil mencium pipi Renata.
“Eh... pagi Sa. Sama siapa...?”
Tanya Renata.
“Tuh papi sama mami, tapi
masih ngobrol di luar. Mbak udah tadi..? Soalnya tadi mau bareng mas Bram, pagi
banget jalannya.”
“Belum lama kok...”
“Ya udah... Sasa ke depan
dulu ya mbak, ntar mas Bram sewot tuh.....”. Renata mengangguk.
Tak lama ibadah dimulai.
Bersama satu orang temannya lagi Sasa bertugas. Di tengah peribadahan, tiba giliran
Bram dan Sasa duet menyanyikan sebuah lagu pujian. Ternyata suara Bram dan Sasa
sangat pas dan bagus untuk berduet.
Renata tambah mengangumi keduanya. Renata tidak menyangka kalau ternyata
Bram memiliki suara yang bagus juga. Dan
dari tempat duduknya, Renata tidak berkedip memandangi Bram dan Sasa yang
bernyanyi dengan merdu. Sesekali Bram menoleh ke arah Renata duduk, dan saat
kedua mata pandangan mereka bertemu, Renata salah tingkah.
Ibadah selesai. Bram dan
Sasa berjalan menghampiri Renata yang masih duduk menunggu. Bram dan Sasa
menyalami Renata saling mengucapkan selamat hari minggu.
“Suaramu bagus mas, gak nyangka.
Sasa juga....” kata Renata memuji. Bram tersenyum, memang dari sejak remaja dia
sudah aktif di grup paduan suara gereja. Hanya sekarang dengan kesibukannya
yang sangat padat,dia tidak seaktif dulu lagi.
“Makasih kalau kamu
suka...” Jawab Bram.
“Yuk keluar, ketemu papi
sama mami. Kebetulan ada mbak Erina juga.” Ajak Bram.
Renata memandangi Bram
dengan diam. Dia merasa salah tingkah karena akan dikenalkan dengan keluarga
Bram.
“Kenapa Ren..??” Tanya
Bram karena melihat ketegangan di wajah Renata.
“Tenang aja....orang tuaku
nggak galak kok...” Kata Bram bercanda, untuk menghilangkan ketegangan Renata.
“Ayooo mbak. Papi sama
mami nunggu di luar..” Kata Sasa sambil menggandeng tangan Renata. Bram mengikuti
di belakangnya. Dan benar, orang tua Bram terlihat sedang mengobrol dengan dua orang
yang terlihat sebagai sepasang suami istri. Renata ragu-ragu melangkah
mengikuti Sasa yang masih menggandeng tangannya.
“Pi...mi...ini kenalin
teman baru Sasa...” Kata Sasa
“Pagi om...tante.. saya
Renata..” Kata Renata sambil mengulurkan tangannya menyalami ke dua orang tua
Bram, dan juga suami istri yang rupanya kakak Bram, Erina beserta suaminya,
Andi. “Pagi...juga.. Oooo..ini Renata...Waaahh...kenapa Sasa malah yang kenal
duluan..?” Tanya mami Bram menggoda. Renata tersenyum sambil menoleh ke arah
Bram, tapi Bram malah mengangkat kedua bahunya. Mami Bram terkesan dengan wajah
cantik Renata dan sangat sopan.
“Baru pertama ibadah di
sini..?” Tanya papi Bram dengan ramah.
“Iya om. Saya biasanya di
gereja yang di jalan Sudirman.” Jawab Renata dengan sopan. Tiba-tiba...
“Ommmm.....!!!” Suara anak
kecil memecahkan obrolan mereka.
“Hai..Noel... udah
selesai...?” Tanya Bram sambil mengangkat Noel tinggi-tinggi.
“Kenalin dulu nih..sama
tante cantik..” Kata Bram sambil menyodorkan badan Noel ke arah Renata.
“Hai...ganteng...siapa namanya...?”
Tanya Renata sambil mengulurkan tangannya. Noel diam, menoleh ke arah Bram,
seolah-olah bertanya, ini siapa.
“Ayoooo...mana tangannya
kenalan dulu..” Kata Bram lagi. Noel mengulurkan tangannya
“Siapa namanya jagoan
ganteng..??” Tanya Renata lagi sambil tersenyum dan memegang tangan Noel.
“Noel tante...tante siapa
namanya...?”Tanya Noel dengan berani.
“Tante Renata, tapi Noel
boleh panggil tante Rena. Tante boleh cium...??”
next