Ai Awso, si Bodyguard tapi lenje, suatu saat mendapat tawaran untuk mengawal Maria Zhang, Selebritis Seksi yang galak. Maria konon dihantui oleh sosok hantu penuh dendam, namun sosoknya meneror semua agen wanita yang ia sewa. Sosok itu tidak muncul kalau ada pria di dekat Maria.
Maria benci laki-laki karena rasa traumatis. Karena itu, Ai yang kemayu kerap dipilih untuk mendampinginya.
Mereka selalu berdua kemana-mana sampai akhirnya Maria lupa, kalau walau pun kemayu, tapi Ai laki-laki tulen. Gayanya aja lenje, tapi kalau udah berantem ya lebih gahar dari pria tulen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pak Sebastian memicingkan mata melihat makhluk di depannya.
Sebagai pakar di dunia tipu-tipu muka dua karena memang kliennya segambreng, secara cepat ia menyadari kalau raut muka anak laki-laki di depannya ini adalah seorang profesional.
Tante jabarkan ciri khasnya.
Bibir senyum tipis meremehkan, tapi mata menelisik. Memperhatikan langsung fokus ke mata lawan.
nggak galfok ke jenggot panjang atau ke kutang dan sarung yang dipakai Pak Sebastian, nggak.
(iyaaa iyaaa kutangnya diganti jadi singlet deeh, ih ih ih, wis ojo protes meneh toh yooo)
langsung ke mata.
Yang mana, membuat Pak Sebastian waspada. Padahal dia berhadapan dengan bocah.
Bocah cute, tampang setengah bule, rambut dicat coklat, hidung mancung jumawa.
Tante pake visul JJ Takagi buat Romeo ya.
Cekidot
“Dari mesjid mana kamu?” tanya Pak Sebastian.
“Mesjid apa Kung?” Romeo bertanya balik.
“Saya sudah memenuhi kewajiban saya di mesjid sekitar, kamu yang dari mana biar di lihat dulu beneran buat mesjid apa diselewengkan,” kata Pak Sebastian.
Romeo diam, mencerna.
“Saya bukannya mau minta sumbangan, A-Kung...” katanya kemudian.
“Saya bukan kakek kamu,”
“Tuan A-Kung,” ralat Romeo.
“Terus kamu anaknya siapa nyasar ke sini?”
“Nama Papa saya Almarhum Fulan, ibu saya Almarhum Fulanah,”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun,” desis Pak Sebastian, "sudah yatim piatu,"
"Iya Kung, sama dong kita,"
"Sama?"
"Udah yatim-piatu juga kan?"
“Ya iya bener sih, Ngeles aja terus. Tapi penampilan kamu tidak seperti anak melarat,”
“Nggak semua yatim piatu itu melarat Kung. Kakak saya pengusaha,”
“Siapa nama Kakak Kamu?”
“Randy Gaspar,”
“Randy Gaspar... C-Corp?"
"Iya, kalo modalnya bukan dia sih saya nggak bakalan punya nyali kesini, kecuali minta donasi dana pembangunan mesjid,"
"Randy Gaspar si semprul. Dia ngasih saya nastar masa isinya stroberry. Nastar itu essensinya ya Nanas,”
“Mungkin dia pikir Tuan A-Kung sudah sepuh jadi lambungnya harus dijaga. Hargai dong orang yang sengaja peduli, Kung...”
“Kamu sombong bener sih? Sekolah di mana? Kelas berapa?”
“Saya nggak merasa salah sih, cuma kalau merasa tersindir ya berarti saya bener dong. Sekolah di Bhakti Putra kelas 6. Pindahan Kung, soalnya di sekolah lama kena kasus,”
“Kasus apa?”
“Hampir diculik sama tante-tante fanatik,”
“Sefanatik apa?”
“Sefanatik Army-nya BTS,"
"Maksudnya? BTS tiang listrik yang untuk memancarkan sinyal?!"
"Zaman saya BTS tuh boyband Korea, Kung. K-Pop,"
"Sama bocahnya sama kamu, kan?"
"Kalo dibandingin sama Tuan A-Kung, ya iya. Beda jauh usianya,"
“Pemikiran kamu nggak kayak anak SD,”
“IQ Saya selevel penerima nobel. Tuan A-Kung tahu pesbuk nggak?”
“Siapa yang nggak tahu?!”
“Nah, yang punya pesbuk itu bukan saya,”
Hening.
“Kamu pikir kamu lucu ya?”
“Memang tampang saya ria jenaka, Kung?”
Hening lagi.
“Oke kamu saya acc, terserah tujuan kamu apa. Masuk ke dalam, saya mulai pegel berdiri di pintu,”
“Saya mau ngajak Sita nonton,” Romeo masuk sambil santai.
“Oooh, kamu si pujangga ya,” kata Pak Sebastian sambil mengikuti Romeo.
“Pujangga? Macam... Romeo oh Romeo, Cintaku ke kamu seperti hutang, awalnya kecil, didiemin tau-tau gede sendiri,”
“Lucu kamu,”
“Makasih Tuan A-Kung. Ada minum nggak? Haus nih daritadi ngbrol terus,”
"Ambil sendiri ya, tuh gelasnya, jangan lupa cuci sendiri, istri saya suka ngomel kalau berantakan,"
(Mereka dari tadi ngobrol tanpa ekspresi).
"Siapa kamu?" Rahwana masuk ke rumah masih dengan setelan kerjanya. Mengernyit dan mendapati sosok asing di dapur, tapi manusia bukan setan.
"Pembantu baru Om," jawab Romeo sekenanya. Dia dalam posisi nyuci gelas.
"Halah..." Rahwana langsung tahu siapa dia. Karena jam acara perginya juga tepat.
"Saya Romeo, Om. Kalo Om ini siapa?"
Rahwana langsung tambah cemberut, "Nama saya Rahwana. Anaknya yang punya rumah,"
"Yang punya rumah A-Kung yang tadi ya?" desis Romeo. Lalu dia mengernyit karena menyadari satu hal.
"Om," Romeo mencondongkan diri, "Tuan A-Kung mikir apa sih waktu namain Om pake nama raksasa?"
"Mikirin bisnisnya udah pasti," jawab Rahwana cuek.
"Loh? Iwan sudah pulaaang? Ibu mau tahu yang namanya Romeo yang mana... waaah, ganteeeng! Manis banget deh kamu, Nak!" sahut Bu Milady saat berhenti di depan dapur.
Romeo menatap Milady dengan terpana, "Wow," gumamnya kemudian.
Dia maju dan mengecup tangan Milady, "Saya pikir saya tersesat ke khayangan loh, Tante. Di sini nggak ada yang jelek ya. Saya pikir Sita sudah yang paling manis,"
"Waduh kamu kiyut banget!" sahut Bu Milady.
"Oh, Meo udah dateng toh?" Sita keluar dari kamarnya. "Aku pikir nggak jadi, habis ditelpon nggak diangkat-angkat,"
"Hape disilent, Ta," katta Romeo, "Banyak bocil nggak jelas kirim wa ke aku, sampe 1000 mesej, minta aku jadi pacarnya,"
"Sita juga, ada 500 wa dari nomer nggak dikenal, minta aku putus dari Romeo," kata Sita. "Sampe aku pasang status bilang : Romeo Bukan Pacar Sita. Titik,"
Bu Milady dan Rahwana sampai lirik-lirikan.
"Ini gara-gara Romeo ngasih tiket bioskop," Sita ngedumel
"Habis sayang udah dibeli tapi dia nggak mau pergi," kata Romeo
"Dia?" tanya Sita.
Romeo nyengir. Nggak jawab.
"Masih bocil udah pacar-pacaran," gerutu Pak Sebastian keluar dari kamar sudah dengan pakaian yang rapi jali. "Seumuran kamu, saya masih pake kolor nangkepin belut di sawah, buat makan malam,"
"Seumuran dia, aku lari-lari ngejar tukang bakso dan jadi maniak. Kalo sekarang lari-lari ngejar cuan... ki," Rahwana tersenyum simpul.
"Jadi kalo saya sudah Om-Om bisa lah ya saya cerita : Jaman Bapak masih bocil, bapak udah berani ke Darmawangsa ngajakin kencan anak konglomerat, jemput si doi pergi sendirian naik ojek onlen," kata Romeo
Semua diam.
"Ya kamu lebih hebat," kata Pak Sebastian
"Ngaku kalah deh gue," gumam Rahwana.
"Tokoh di novel Tante Author ngenes-ngenes ya,"
( Maaf ya Naaak... cuci piring sana).
"Assalamualaikuuuuuum," seruan ceria dari arah pintu masuuuk.
Raden Roro Putri Gandhes Bhanowati sudah datang.
"Kenapa Bu Gandhes di sini?" Pak Sebastian menyambut Eyang dengan mencium tangannya.
Bu Milady cipika cipiki, dan Rahwana mencium pipi Eyang.
Sita malah langsung minta peluk.
"Aku diajak kencan loh sama Iwan," Eyang Gandhes mengetip-ketipkan matanya.
"Ooooo," desis semua langsung mengerti.
Rahwana cuma senyum-senyum.
"Memang siapa lagi yang bisa kuajak dobel date coba? Kinasih? Ogah..." desis Rahwana.
Romeo memiringkan wajahnya menatap Eyang Gandhes.
"Dih, cute banget..." desisnya. Wajahnya dari tanpa ekspresi langsung berubah sumringah.
Pake binar-binar love.
Tau lah ya tampangnya Eyang Gandhes kayak apa. Gemesin ceria ala anak genZ.
"Ini siapa?" tanya Eyang Gandhes ke Romeo.
"Nama saya Romeo," Romeo maju dan mengecup tangan Eyang.
"Wah, nama kamu romantis abbiss!" sahut Eyang Gandhes ceria.
"Makasih, Tante juga manis banget. Namanya siapa Tante?"
"Namaku Putri Gandhes,"
"Saya panggil Putri aja ya, lebih sesuai,"
"Aaaw! Sesuai nama ya tingkahnya! Hihihi," kata Eyang Gandhes terpukau.
Yang lain hanya mengernyit curiga.
Curiga ke Romeo pastinya.
"Jadi... "Romeo menatap semuanya sambil berpikir. "Sita itu anaknya Om Rahwana dan Tante Milady, Keponakannya Tante Putri. Cucunya Tuan A-Kung?"
"Hem... gimana ya jelasinnya? Nanti dia pingsan lagi," gumam Pak Sebastian.
"Tante Putri umur berapa sih? Paling imut soalnya," tanya Romeo lagi.
"Wah, hihihi nanti kamu kaget kalau tau ah!"
"Paling masih 17an ya paling tua 20 tahunan kayaknya. Nggak mungkin 200 tahun kan,"
Eyang Gandhes hanya senyum simpul.