Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
"Dijodohin, yang bener Lo?"
"CK, Lo pikir apa untungnya gue berbohong sama Lo bertiga."
"Tapi kenapa, kayak jaman Siti Julaeha aja dijodohin."
"Siti Nurbaya, elah!" sergah Arga dan Radhika bersamaan, hingga membuat Bagas meringis, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya, itu maksud gue."
"Lo bertiga nggak bakalan ngerti, panjang ceritanya." desah Nattan.
"Eh tapi Nat, Lo serius nggak cinta sama bini Lo, cakep Lo dia, gue sih kalau dijodohin sama dia bersyukur banget kali bro, apalagi dia cakep begitu, ramah, pinter masak lagi, anjir nilai plus banget nggak sih?"
"Eh tapi ngomong-ngomong dia masih sekolah kan Nat?" ujar Radhika setelah mengingat dengan jelas kepingan-kepingan dari kejadian saat itu.
"Beneran Tan?" kali ini Arga yang bertanya sembari menatapnya penuh selidik.
"Masa sih, kok gue nggak menyadari ya waktu itu." timpal Bagas lagi.
"Iya, dia masih sekolah, gue Terpaksa Menikahi Gadis SMA atas permintaan nyokap gue, ya sebenernya awalnya sih karena salah paham aja."
"Tapi bro, gue rasa dia bakalan cocok jadi bini Lo, ya gue tahu lah gimana elo selama ini, dan gue yakin dia bisa membuat hati batu Lo itu lama-lama akan mencair."
"CK,!"
"Nggak usah pasang muka sok nggak suka deh, takutnya besok Lo malah jadi bucin banget sama dia, gue jamin lama-lama Lo bakalan terpesona sama bini Lo sendiri, secara gue rasa dia punya sejuta pesona lho Nat."
"Sok tahu."
"Eh Tan, ngomong-ngomong Lo sama dia udah ngapain aja, euhm_ maksud gue udah ketahap mana, buka-bukaan kiss doang, atau udah sampai tahap keluar masuk?" bisik Radhika yang langsung mendapat dengusan dari Nattan.
"Gue tebak, belum ya? payah Lo! sayang kan, cakep begitu dianggurin."
*
"Teman mas Nattan udah pada pulang?" tanya Anggia, saat melihat suaminya memasuki kamar dengan wajah lelahnya, sementara dirinya baru menyelesaikan merapikan setumpuk pakaian Nattan yang belum sempat ia bereskan sore tadi.
"Hmmm."
"Teman-teman mas Nattan ramah semua ya orangnya, apalagi mas Radhika." lanjut Anggia, membuat langkah Nattan yang hendak memasuki kamar mandi terhenti, dan menoleh kearah Anggia yang tengah memperbaiki posisi bantalnya.
"Menurut kamu begitu?"
"Iya, beda banget sama mas Nattan, yang dingin, cuek, nggak ada manis-manisnya sama sekali." ucap Anggia tanpa sadar, dan refleks menutup mulutnya seraya memukulnya pelan.
"M-mas Nattan m-mau ngapain?" ucapnya gugup, saat melihat suaminya mendekat kearahnya.
Pletakkk..
"Mas!" pekiknya, saat merasakan ngilu, setelah Nattan menyentil keningnya dengan cukup keras.
"Jangan berbicara macam-macam, dan jangan dekat-dekat dengan mereka, kamu itu belum kenal aja seperti apa mereka, terutama Radhika."
Setelah mengatakan hal tersebut, Nattan memasuki kamar mandi dengan memasang wajah datarnya seperti biasa.
"Dasar titisan beruang kutub!" umpatnya dengan gumaman kecil.
"Saya masih dengar Anggia!" teriak Nattan dari dalam kamar mandi, membuat Anggia terdiam seketika.
*
"Jadi mama belum lama di Jakarta?"
"Belum sayang, dulu mama rasa nggak ada salahnya kalau mama tinggal di Bandung, toh ada Gilang sama Nattan juga disana, jadi mama tidak terlalu kesepian, eh ujung-ujungnya Gilang malah pindah ke Jakarta, Nattan juga diam-diam membuat perusahaan besarnya di Jakarta, ya mau nggak mau mama kan jadi ikut pindah."
"Gilang itu kakaknya mas Nattan yang ada di foto itu ya ma?" tanya Anggia, seingatnya di foto keluarga yang terletak diruang tengah, memang ada dua foto laki-laki lain yang wajahnya tidak ia kenali.
"Iya, Nattan punya dua kakak laki-laki, yang pertama Ando namanya, dan yang kedua Gilang, nanti mama kenalin sama mereka, sama cucu-cucu mama juga yang dari Ando, mereka semua sudah menikah."
"Iya ma."
"Oh iya kata teman-teman Anggia, di Bandung itu rame ya ma, banyak tempat wisatanya?"
"Iya, lumayan! memangnya Anggia belum pernah main ke Bandung sebelumnya?"
"Belum ma, Anggia mau banget kesana sebenarnya."
"Yasudah, nanti biar mama suruh Nattan buat ajakin kamu sesekali ke Bandung ya."
"Eh nggak usah ma."
"Udah, nggak apa-apa, Nattan pasti mau kok."
Sementara itu tanpa mereka sadari, seseorang tengah mendengarkan percakapan mereka dibalik tembok pembatas antara Dapur dan ruang belakang.
*
*