Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Anton
Sebelum pulang kerumah, Anton membeli martabak manis kesukaannya Dinda. Sesampainya ia di rumah, Anton memasuki rumah. Ia merasa suasana di rumah tidak seperti biasanya. Bahkan yang membukakan pintu gerbang adalah Simbok, padahal biasanya Inah yang selalu membukakan pintu untuknya.
Dengan kebingungannya, Anton menaruh martabak yang ia beli di meja makan. Karena terasa sepi, Ia kira Dinda berada di kamarnya. Lalu ia segera menaiki anak tangga dengan cepat, ia mengetuk pintu kamar Dinda. Karena tidak di kunci, Anton pun membuka pintunya dan ia tidak mendapati Dinda di kamarnya.
Anton pun mulai panik, ia keluar dari kamar Dinda dan langsung masuk ke kamarnya. Tetapi ia tidak menemukan Dinda di kamarnya, lalu ia membuka pintu kamar mandi dan masih tidak ia temukan. Ia pikir Dinda pergi keluar bertemu temannya.
"Mbok, Simbok!" Teriak Anton dari lantai dua depan kamarnya.
"Iya Den...." Sahut Simbok.
"Dinda tadi pamitan sama Simbok gak?" Tanyanya lagi.
"Tadi Non Dinda dan Inah pergi keluar Den." Jawab Simbok jujur, tetapi dia tidak memberitahu kemana Dinda dan Inah pergi.
Anton pun menghela nafas panjang, ia masuk ke kamarnya dan membuka ponselnya. Berniat untuk menelpon Dinda dan menanyai keberadaannya. Baru saja ia ingin menelpon Dinda, tapi dia sudah menyadari bahwa kontak ponselnya di blokir oleh Dinda. Jadi Anton tidak bisa menghubungi Dinda melalui sambungan telepon.
Kejanggalan pun mulai terasa, Anton mengambil ponsel kerjanya dan ia mendapati kontaknya juga di blokir oleh Dinda. Merasa frustasi, Anton pun duduk di pinggiran ranjang, hendak menelpon Yuki. Tetapi belum saja ia menelpon Yuki, ia melihat secarik kertas di atas nakas dengan di tindih bolpoin di atasnya.
Dengan segera Anton mengambil kertas itu dan membacanya. Matanya memerah, raut wajahnya berubah seketika. Antara marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Hatinya terasa sesak, air matanya mulai menggenang di sudut matanya.
"Kakak sayang, Maafkan Dinda yang selalu membaut kakak marah atau kecewa. Dinda sangat berterima kasih, selama sepuluh tahun terakhir ini, kakak sudah menyayangi dan mengasihi ku seperti adik kandung kakak sendiri. Tetapi adikmu yang nakal ini tidak melampaui batas, apa yang kakak tuduhkan ke Dinda, itu semua tidak benar. Anak yang Dinda kandung ini adalah darah daging kakak, aku tidak pernah melakukan hal itu dengan laki-laki selain kakak. Dinda tahu, kakak sangat mencintai kak Loren dan Dinda tidak mau jadi benalu di hubungan kalian. Jika anak ini sudah lahir, Dinda akan segera urus surat perceraian kita. Kakak jangan khawatir, kepergian Dinda bukan karena Dinda marah sama kakak atau perlakuan kakak yang tidak baik kepada Dinda, tetapi Dinda ingin menata masa depan Dinda untuk kedepannya. Oh ya kak! Maafkan Dinda, karena Dinda mengambil uang kakak tanpa sepengetahuan kakak. Aku mengambil ponselmu dan ku transfer sejumlah uang yang cukup banyak ke rekeningku. Nanti jika Dinda sudah bekerja, aku akan mengembalikan uang kakak (tapi tidak janji). Jangan cari aku, berbahagialah dengan kak Loren. Dinda mohon, kakak jangan pecat Rizal atau membencinya, dia orang baik dan cerdas yang sedang membantu keuangan keluarganya. Dinda Kirana." Isi secarik surat dari Dinda untuk Anton.
Anton tak bisa menahan air matanya. Tanpa ia sadari pipinya sudah di basahi oleh air matanya sendiri yang tak bisa berhenti. Ia menyadari kesalahannya yang tak termaafkan. Menuduh Dinda dan tidak mengakui janin yang Dinda kandung. Padahal nyatanya dia yang sudah mendapatkan keperawanan Dinda, tetapi karena emosinya yang sesaat, malah membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Kehamilan Dinda yang seharusnya menjadi kebahagiaannya, tetapi karena pemikirannya yang di kuasai emosi, kebahagiaan itu hilang tak berbekas. Bahkan Anton tak yakin apakah masih bisa merasakan kebahagiaan itu.
Hatinya terasa sakit, bukan karena di sakiti tetapi karena sudah menyakiti hati orang yang ia cintai. Mengingat perbuatannya yang tak punya hati kepada Dinda, sehingga membuat hatinya pun terasa sakit. Memikirkan kemana Dinda pergi dan memikirkan janin yang ada di kandungan Dinda.
*****
Dinda, Yuki dan Rizal masih mengobrol di ruang tamu, sedangkan Inah sudah tidur. Sambil memakan camilan, mereka bertiga mengobrol kesana kemari. Menceritakan semasa mereka duduk di bangku sekolah SMA, Rizal tak malu-malu menceritakan ketertarikannya kepada Dinda sejak kelas satu SMA.
"Kamu tahu, aku sudah tertarik kepadamu sejak kelas satu SMA. Waktu itu kamu sedang di ruang kelas sendirian, karena kamu lupa bawa pensil dan kamu meminjam dariku. Sejak saat itu aku diam-diam menyukaimu." Rizal mengakui perasaannya.
"Tapi kita mulai dekat kan waktu kenaikan ke kelas tiga! Berarti kamu sengaja ya baik sama aku biar bisa deket-deket sama Dinda?" Sahut Yuki meledek.
Mereka mengobrol seperti remaja yang tidak memiliki beban. Dinda juga terlihat bahagia, sejenak ia lupa akan masalahnya. Seperti biasanya, ketika ia bersama Rizal, dia merasa nyaman.
Tak lama kemudian Yuki berpamitan untuk pulang, karena malam itu sudah sekitar jam sembilan malam. Jarak kontrakan dan rumahnya cukup jauh jadi Yuki berpamitan untuk pulang lebih dulu. Sedangkan jarah kontrakan dan rumah Rizal hanya sekitar sepuluh menit dengan menggunakan motor.
Hanya tinggal mereka berdua yang duduk di sofa ruang tamu. Rizal melihat ke arah Dinda, lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Dinda. Ia memeluk Dinda dengan erat, seakan ia takut akan kehilangannya.
"Din, aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi aku mohon, tetaplah bahagia! Jangan pikirkan hal negatif, jika nanti kamu sudah resmi bercerai dengan kak Anton, aku akan segera menikahimu." Kata Rizal sambil memeluk Dinda.
"Terima Kasih kamu sudah menerima keadaanku dan bayiku Zal. Kamu orang pertama yang bisa mengerti aku." Sahut Dinda yang merasa terharu akan kebaikan Rizal.
Karena besok Rizal harus bekerja, ia pun berpamitan kepada Dinda untuk pulang. Rizal juga memberitahu Dinda untuk tidak segan meminta bantuan kepadanya jika membutuhkan sesuatu.
Dengan berat hati, Rizal meninggalkan rumah Dinda. Sebenarnya ia ingin selalu menemani Dinda, tetapi karena takut terjadi fitnah, ia pun terpaksa harus pulang. Begitupun dengan Dinda, ia ingin selalu bersama Rizal.
Setelah Rizal pulang, Dinda kemudian mengambil ponselnya. Membuka aplikasi M-banking, untuk mengecek saldo rekening miliknya. Dinda cukup tenang memiliki uang untuk biaya persalinan dan juga kebutuhan sehari-hari.
"Maaf kak, aku ambil uangmu banyak banget! Kakak sendiri yang mulai, jadi tanggung sendiri akibatnya." Gumam Dinda.
Rumah yang ia kontrak tidak terlalu besar, jadi Dinda tidak merasa takut. Walaupun begitu Dinda masih minta di temani Inah tidur di kamarnya.
*****
Entah sudah berapa jam Anton menangis, menyesali apa yang ia lakukan kepada Dinda. Hingga wajahnya bengkak, matanya merah karena terlalu lama menangis. Lalu ia beranjak dari duduknya, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Teringat kenangan-kenangan indah bersama Dinda.
Setelah selesai mandi, perutnya terasa lapar. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Di raihnya bungkusan yang berisi martabak manis di atas meja makan. Lagi-lagi ia teringat dengan Dinda yang sangat menyukai martabak manis itu.
"Den, Aden belum tidur?" Tanya Simbok mengejutkan Anton.
"Belum Mbok! Waktu Dinda pergi, ada sesuatu yang dia omongin tidak Mbok?" Jawab Anton berbalik bertanya.
Simbok yang polos pun menceritakan apa yang di katakan Dinda sebelum ia pergi. Untung saja Simbok tidak tahu kemana Dinda pergi, kalau dia tahu pasti Simbok sudah kasih tahu Anton.
"Berarti Dinda pergi sama Inah?" Tanya Anton.
"Iya Den, Non Dinda yang mengajak Inah." Jawab Simbok.
Anton pun memberi semua martabak itu kepada Simbok, lalu ia berlari menaiki anak tangga. Ia masuk ke kamarnya dan segera meraih ponselnya. Ia menelpon seseorang berkali-kali, tetapi tak sekalipun panggilannya di angkat. Hal itu membuatnya frustasi, dengan kesal ia menjatuhkan badannya ke atas ranjang.
Bersambung....
sukses
semangat
mksh