Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Waiting for Love
****
Setelah mereka mengantri tiket lalu lanjut membeli popcorn dan minuman. Merekapun berjalan dan menunggu di lorong bioskop, pintu teater belum dibuka jadi meraka harus menunggu sebentar. Mereka memesan tiket film horor yang berjudul Queen Devil.
"Mohon perhatian Anda. Pintu teater satu telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki tiket dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater satu.”
Terdengar suara yang tidak asing yang biasa mengisi lorong bioskop 10 menit sebelum teater di buka. Bhia dan yang lainnya pun segera menuju teater satu, mereka masuk ke dalam teater dan mencari nomor tempat duduk yang sudah mereka pesan.
Lalu akhirnya mereka menemukan nomor yang mereka pesan, untungnya Arkan dan Fero memesan nomor yang posisi duduknya di tengah. Itu adalah posisi yang pas saat kita menonton bioskop.
" Para ladies di tengah ya, biar kakak sama Fero di pinggir kalian " ujar Arkan yang mencoba mengarahkan posisi duduk Bhia dan Raisa.
Bhia dan Raisa pun menuruti arahan dari Arkan, lalu mereka duduk dan menunggu film yang akan mereka tonton itu di putar.
" Nih popcorn nya " ujar Fero memberikan popcorn pada Bhia.
" Lo mau Fer? kalo nggak mau, mending kasih ke Rai aja ya, di sini yang suka popcorn Rai sama kak Arkan, kalo gue nggak terlalu suka, " jelas Bhia yang saat ini sedang memegangi popcorn yang di berikan oleh Fero itu.
" Yaudah kasih aja Bhi, gue juga nggak begitu suka-suka banget. "
Lalu Bhia memberikan popcorn itu pada Raisa, dan saat itu juga film yang akan mereka tonton sudah dimulai. Mata Bhia dan yang lainnya pun sudah mulai fokus dan tertuju pada layar lebar di hadapan mereka itu. Lampu sudah dimatikan, lalu terdengar suara intro film yang begitu menggema dalam ruangan teater tersebut.
Bhia dan Raisa yang duduk bersebelahan itu saling menggandeng tangan mereka satu sama lain. Dan sesekali memejamkan mata mereka dengan mata terpejam namun tidak terlalu rapat. Saat adegan horor yang sangat mencekam muncul, mereka sebenernya takut namun mereka juga penasaran. Jadi mereka menutup mata namun masih dengan samar-samar bisa melihat adegan yang mencekam itu.
Fero melihat ke arah Bhia, dan menatap gadis itu dengan sangat teliti. Lalu tanpa sadar tangan Fero meraih beberapa helai rambut Bhia yang menutupi sedikit wajah Bhia dan merapikannya dengan menyelipkan rambut Bhia di kupingnya.
Bhia yang terkejut sontak saja langsung menoleh ke arah Fero. " Kenapa Fer? " tanya Bhia masih dengan wajah yang ketakutan karna film yang ia tonton.
" Nggak apa-apa Bhi, rambutnya tadi nutupin muka lo jadi gue rapiin " jelas Fero masih dengan posisi tangan yang memegangi beberapa helai rambut Bhia.
Bhia pun lalu merapihkan rambutnya, dan kembali ke posisi duduknya.
Dan di sisi lain Arkan dan Raisa sangat serius menonton setiap adegan, mereka sangat menikmati alurnya. Walau terkadang mereka juga sedikit terkejut dengan backsound yang mencekam di film itu. Dan tanpa Raisa sadari, dari tadi tangan kirinya menggenggam erat tangan Arkan.
" Cie udah gandengan, mau nyebrang buk?" ledek Bhia yang memergoki tangan Raisa yang sedang menggenggam tangan kanan Arkan.
Saat Raisa ingin melepaskan genggamannya itu, dengan segera Arkan mempererat genggamannya lalu mengangkat tangan Raisa ke atas dan memamerkannya pada Bhia.
" Kalo kamu mau, minta di pegangin aja tangannya sama Fero Bhi " ujar Arkan menggoda adiknya itu.
Pipi Bhia sontak langsung memerah, kemudian karna ia tidak mau di goda oleh kakak nya lagi. Bhia pun kembali pada posisi duduknya. Raisa yang melihat tingkah Bhia pun tersenyum sambil menutupi sebagian wajahnya, Raisa sebenarnya merasa malu namun tidak dipungkirinya juga ia senang dengan perlakuan Arkan padanya.
Lalu merekapun kembali fokus dan menikmati film yang mereka tonton sampai dengan selesai. dan setelah hampir dua jam mereka menonton film itu, akhirnya film pun telah usai. Lalu mereka keluar dari pintu teater dan segera berjalan menuju parkiran mobil.
" Kak, aku ke toilet dulu ya, " ujar Bhia yang mulai merasakan hawa merinding karna ia menahan buang air kecil.
" Yaudah, kalo gitu nanti kamu tunggu di pintu depan lobby aja ya Bhi " ujar Arkan pada adiknya itu lalu mulai melanjutkan kembali jalannya.
Bhia dengan segera bergegas mencari toilet di sekitar situ dan akhirnya menemukan toilet tersebut.
" Ar, gue susul Bhia ya, gue mau nunggu dia di depan toilet " cetus Fero yang langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan pendapat Arkan.
Dan akhirnya Fero menunggu di luar toilet, sudah sekitar hampir sepuluh menit Fero menunggu dan Bhia yang ia tunggu akhirnya keluar dari toilet dan berjalan berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah Fero.
Bhia tidak tahu bahkan tidak menyadari bahwa Fero sedang menunggunya di luar toilet. Lalu Fero yang melihat Bhia dengan langkah yang cepat Fero bisa menyusul langkah Bhia yang sudah berada di depannya. Namun kini ia berada di samping Bhia karna kaki Fero yang panjang, membuat langkah kakinya itu bisa menyeimbangi Bhia.
" Bhi, kok malah ditinggal gue, " keluh Fero yang merasa di tinggalkan oleh Bhia .
Bhia lalu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Fero yang sekarang sudah ada si sampingnya itu. Bhia menatap Fero heran, karna ia tidak merasa meminta Fero untuk menemani atau menunggunya di toilet.
" Lo ngapain Fer? " tanya Bhia yang merasa sangat heran pada Fero.
" Nungguin lo Bhi, " jawab Fero singkat.
" Ngapain nungguin gue? berasa anak kecil gue Fer lo tungguin gitu, yaudah hayuk, takut kak Arkan nunggu " ajak Bhia menarik tangan Fero.
Fero yang menyadari tangannya sedang di gandeng Bhia itu hanya bisa melihat terus ke arah tangannya dan Bhia, sambil tersenyum senang. Fero sangat menikmati momen ini lalu tiba-tiba saja Fero menghentikan langkahnya yang membuat Bhia juga menghentikan langkahnya.
" Kenapa Fer? kok berhenti? " tanya Bhia masih menggandeng tangan Fero.
" Bhi, kayaknya gue nggak bisa nunggu jawaban itu Bhi " ucap Fero tiba-tiba sambil menatap ke arah Bhia.
" Maksudnya? " tanya Bhia dengan sangat heran.
" Ayo kita pacaran " pinta Fero dengan sangat yakin.
" Hah? " Bhia masih terkejut mendengar kalimat dari Fero.
" Ayo kita pacaran Febhia Putri Kusuma " Fero pun mempertegas pernyataannya.
Bhia terdiam dengan mulut yang masih menganga, lalu ia melihat ke arah Fero dengan wajah yang bingung. Ia masih tidak percaya, seorang Fero mengatakan bahwa ia ingin berpacaran dengan dirinya.
Lalu Bhia mulai menutup mulut dan menelan ludahnya, ia ingin mengeluarkan kata-kata dari mulutnya namun seluruh rongga yang ada di area mulutnya terasa kering. Ia sulit berkata-kata dan hanya bisa menatap ke arah Fero.
" Gimana Bhi? mau ya jadi pacar gue? " tanya Fero sekali lagi menanti jawaban dari Bhia.
" Eeemm gue " Bhia mencoba melontarkan sebuah kalimat namun itu terasa sangat sulit. Bola matanya mulai berputar dan sesekali ia menarik nafasnya dengan dalam.
TERIMAKASIH BANYAK BUAT YANG UDAH SETIA BACA NOVEL KARYA PERTAMAKU INI JANGAN BOSEN-BOSEN YAH LIKE COMMENT AND VOTE TRUS TINGGALKAN JEJAK DENGAN KLIK TOMBOL FAVORIT, TERUS DUKUNG KARYAKU YA TERIMAKASIH ❤️❤️🙏🙏
mampir juga yuk dinovelku