NovelToon NovelToon
SELIKUR LANJARAN

SELIKUR LANJARAN

Status: tamat
Genre:Horor / Supernatural / Mata Batin / Hantu / Roh Supernatural / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Al Orchida

Akulah Al, sang pewaris kekuatan supranatural.

Akulah Al, sang pembuka gerbang dua alam.

Akulah Al, sang mata batin yang akan melindungimu dari ilmu hitam.

Akulah Al, sang paranormal yang tidak pernah diperhitungkan.

Akulah Al, sang petualang alam gaib yang penuh romansa, darah dan kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ch 28

Hari masih pagi ketika ponselku terus berbunyi. Aku mencarinya dengan malas dan hanya memicingkan sebelah mata untuk melihat siapa pemanggilnya.

"Al, kamu masih tidur ya?" Suara Lucia merdu menyapa dari ujung sana. Dengan tidak sopan dia mengubah panggilan ke mode video.

"Ada apa?" Tanyaku enggan membuka mata.

"Dari semalam aku kram perut, Al. Aku barusan periksa, katanya dokter tidak ada apa-apa."

"Trus?"

"Aku ke rumahmu ya? Nanti aku ceritakan lanjutannya."

"Ya."

"Kamu mau dibawain apa, Al?"

"Tukang pijet," jawabku sedikit tertawa.

"Duh kacau kamu. Cake mau ya?"

"Hemm…." Aku kembali melanjutkan tidur, tidak tau Lucia mengatakan apalagi. Aku lelah dan mengantuk. Matahari juga baru terbit.

Aku bangun saat sarapan, di rumah ini tidak diperbolehkan melewatkan sarapan bersama karena itu adalah waktu bersama keluarga. Aku pernah mengajukan untuk diganti saat makan malam, kenyataannya Dad yang tidak bisa karena selalu pulang terlambat. Malam adalah waktu membereskan pekerjaannya.

Lucia, Risa dan teman Tiara yang bernama Selia sudah duduk di meja makan, maksudnya mereka numpang sarapan di sini? Aku hanya nyengir karena bergabung paling akhir. Aku bersyukur Dad dan Mom adalah orang yang terbuka dengan anak muda, menyenangkan untuk temanku atau teman Tiara.

Selesai sarapan aku jadi tidak tau harus bagaimana dengan mereka yang serempak datang sepagi ini.

"Aku mau pinjam meja, numpang nggambar," alasan Risa diajukan duluan, aku menunjuk meja gambar yang sudah aku pindahkan ke dekat ruang keluarga.

"Monggo!" Jawabku mempersilakan Risa memakai meja sepuasnya.

"Aku mau ngerjain tugas sama Ara, Kak." Pamit Selia yang langsung menuju kamar Tiara. Aku hanya mengangguk saja.

"Aku kesini karena anakku kangen sama kamu, Al!" Giliran Lucia yang tertawa ketika mengungkapkan alasannya.

"Anaknya apa emaknya?"

Dia pun tertawa lebih keras, membuat Risa menoleh dengan wajah cemburunya.

"Ya aku juga kangen sih, tapi nggak nyangka ternyata malah ada dua saingannya. Aku mau cerita soal hasil periksa tadi, awalnya perutku itu rasanya kram. Dari berangkat sampai masuk ruang periksa itu masih sakit, tapi begitu diperiksa kramnya hilang. Dokter juga bilang semua normal, aneh kan?"

"Aku kan bukan dokter, Lucia. Nggak ngerti medis sama sekali. Ya mungkin memang nggak ada apa-apa, bagus kan kalau kamu dan bayimu sehat?"

"Nggak gitu, tetap ada yang aneh. Apalagi begitu masuk rumah ini, badanku rasanya ringan tanpa beban, semua sakit yang tadi terasa itu hilang semua, Al."

"Masak sih?"

"Periksa aku kalau kamu nggak percaya," pintanya yang langsung menggeser duduknya agar dekat padaku. Tapi matanya melirik Risa yang juga mungkin sedang mendengarkan ucapannya. Lucia menarik tanganku dan memaksa meletakkan begitu saja pada perutnya, membuatku salah tingkah ketika menyentuhnya.

Walaupun hanya terkena bajunya, tetap saja aku tergoda untuk mengusapnya. Dari situ aku tau apa yang membuatnya tersiksa dengan rasa kram yang dirasanya tidak masuk logika.

"Bayimu luar biasa, Lucia!" Kataku tersenyum menyemangatinya. Ya memang begitulah adanya, sepertinya Asih Jati sengaja meninggalkan energinya ketika menggunakan tubuh Lucia. Sehingga bayi yang dikandungnya sekarang memiliki bagian dari ibu gaibnya. Kehamilannya pasti akan semakin sulit karena anak tersebut istimewa, sementara Lucia adalah orang biasa. Aku tidak tau apa Lucia akan kuat mempertahankan janinnya.

"Maksudnya gimana, Al?"

Aku merasa dilema untuk menjawabnya. Penderitaannya kenapa tidak berkesudahan. Apa akan ada hal yang sangat baik terjadi pada Lucia sehingga dia harus berjuang dulu dengan segala kesulitannya.

Lucia melihatku penasaran, hingga aku tersenyum menggodanya, "Dia luar biasa manjanya, Lucia. Aku yakin dia akan sering mengajakmu main ke rumah ini." Ujarku tak ingin menjelaskan lebih panjang lagi. Energinya Asih Jati lah yang akan menenangkan bayinya, dan karenanya Lucia hanya perlu datang ke sini untuk terapinya.

Tak lama, aku memilih ikut Dad bekerja. Membiarkan tamu wanitaku di rumah bersama Mom dan Ara.

Lucia istri kedua, Risa ketiga, Selia keempat, aku butuh Wulan untuk jadi istri pertama, dan aku tertawa sendiri memikirkan kalau aku juga punya otak sedikit gila.

***

Namanya Windi, sekretaris Dad yang sudah 5 tahun bekerja di sini. Bukan sekretaris sih, lebih ke orang kepercayaan Dad untuk ngurusin segala administrasi dan te*tek bengek dalam bisnis ini.

Tingginya hanya sebahuku, sedikit kurus sehingga terlihat kecil. Tidak jelek juga tidak cantik, kulitnya kuning langsat khas Indonesia. Kecantikan terpancar dari otaknya. Dia cerdas dan jenius menangani semua pekerjaannya. Dan aku mulai bekerja sama dengannya ketika Dad memperkenalkan aku dengan dunia bisnisnya.

Aku tidak tertarik dengan perdagangan, aku lebih suka berimajinasi dengan menggambar sehingga aku berharap bisa bekerja sesuai dengan studi yang sudah aku tempuh beberapa tahun ini untuk menjadi seorang arsitek.

"Kerjakan dulu apa yang ada di depan mata nanti kamu juga akan ketemu jalannya," kata Dad dengan bijak. "Siapa yang akan mengurus semua pekerjaan Dad kalau bukan kamu, Al? Tiara pasti akan ikut suaminya nantinya, karena memang begitulah hukumnya seorang wanita."

Aku tidak bisa membantah apa yang Dad bilang bukan? Dan di sinilah aku sekarang, mulai menggantikan Dad sebagai seorang pengusaha muda.

Meeting bulanan dengan 8 kepala toko yang mengepalai cabang di kantor pusat yang sekaligus merangkap gudang.

Dan lucunya dari semua karyawan Dad itu kebanyakan wanita. Mulai dari front liner, kepala toko, admin, marketing, kasir, penagihan, perpajakan, servis sampai retur semua wanita. Hanya bagian kirim dan gudang saja yang laki-laki. Alasannya karena wanita lebih cermat jika bekerja dibandingkan dengan laki-laki. Masak sih?

Setelah selesai meeting aku mengecek data karyawan dan pekerjaan mereka, karena memang sebagian aku belum pernah bertemu mereka. Terutama karyawan yang ditempatkan di cabang. Nantinya aku akan rutin berkeliling memantau cabang, tapi nggak ada salahnya mengetahui siapa mereka dari sekarang.

Windi, 29 tahun. Belum menikah. Entah kenapa aku tertawa bahagia. Seperti mendapatkan mainan baru, yah meskipun umurnya 7 tahun lebih tua dariku tapi aku nggak keberatan berkencan dengannya.

"Ini dari cabang, Pak!" Windi meletakkan beberapa laporan yang harus aku periksa.

"Bantu aku memeriksanya, Win! Aku belum terbiasa. Sama aku minta kopi susu ya!"

"Baik, Pak!" Jawabnya singkat. Duh, pak katanya. Nggak suka banget sama panggilan itu, itu lebih cocok buat Dad.

"Panggil Al aja, Win!" Aku juga manggil namanya walaupun dia lebih tua. Males pake embel-embel di depannya. Terlalu formal.

"Nggak berani, Pak!"

"Mas!"

"Nggak berani juga, nanti dibilang sok akrab. Bos aja ya?"

"Astaga… nggak nggak, panggil Al aja, dan jangan protes!"

Dia datang lagi membawakan kopi dan membantuku membaca seluruh laporan dari cabang. Setelah itu dia memberikan undangan mewah berwarna hijau.

"Undangan Pak, launching produk terbaru, besok jam 7 malam." Dia menyebutkan asal undangan dan hotel tempat acara berlangsung.

"Kasihkan Dad aja! biar Beliau yang datang."

"Pak Andric sudah bilang kalau anaknya yang akan datang."

"Serius? Ya udah kalau gitu kamu temani aku besok ya!"

"Saya menemani hanya acara formal seperti meeting, tidak untuk acara-acara seperti itu. Biasanya Pak Andric perginya sama Bu Dina kalau acara begitu."

"Tapi aku kan belum punya istri?"

"Ya pergi sendiri juga nggak apa-apa kan, Pak? Soalnya itu tidak termasuk dalam pekerjaan saya." Ujarnya menghindari ajakanku.

Duh ngajak kencan karyawan aja susah amat sih. Bukannya biasanya malah seneng ya mereka?

"Win…. kamu mau kemana?"

"Ya pulang, Pak. Karyawan lain sudah pulang 1 jam yang lalu, tinggal saya, anak gudang, anak kirim sama Bapak yang masih di sini. Ini sudah hampir jam 7 malam, Pak."

"Oh jam kerjamu sudah habis ya?"

"Iya." Jawabnya singkat, membereskan meja, mematikan komputer dan kembali menyusun file yang masih berantakan.

"Kenapa kamu nggak mau ikut acara besok? Jujur aja!"

"Ya nggak pantes, Pak."

"Kok gitu, nggak ada kan aturan tertulisnya seperti itu?"

"Supplier kita taunya saya admin di sini, Pak. Masak tiba-tiba datang di acara yang cuma dihadiri bos-bos?"

"Trus saya ngajak siapa?" Pertanyaan yang tidak butuh jawaban lagi sebenarnya, karena akhirnya aku terpikir mengajak Lucia.

"Kok malah tanya saya, Pak?"

"Trus saya mesti tanya pocong di belakang kamu itu?"

"Hah? Al…." Teriak Windi langsung meninggalkan mejanya dengan wajah pucat dan memegang lenganku erat, berusaha menyembunyikan ketakutannya.

Aku menarik wajahnya ke dadaku dan mengusap punggungnya dengan sengaja. Bukankah aku bos yang kurang ajar kalau begini ceritanya?

"Ternyata kamu penakut juga ya? Nggak ada apa-apa, ya udah pulang sana! Maaf keterlaluan bercandanya barusan."

Dia mengangguk malu dan melepaskan kaitan tangannya, pamit dengan cepat tanpa menoleh padaku lagi.

Windi menghilang dari balik pintu. Aku menatapnya dengan iba. Bagaimana bisa ada pocong yang mengikutinya saat malam tiba? Dan bagaimana juga ada teluh gantung waris bersarang dalam tubuhnya?

***

1
Riski Saputra
wingi dupo... saiki menyan....😄
Kustri
emg bubur tak bisa mjd nasi... mulane gawenen bubur sg enak😄
Kustri
qu baca lg, gabut gk nemu karya yg bagus, pas ini lewat lgsg klik lg
Kustri
kowe koq murmer ris
Kustri
hrs'a manggil padhe...bkn om thor
kan kakak dr orgtua kita
Humam Rosadi
mantap
Wahyu ningsing
aku syuka cerita nya
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: thanks akak🙏
total 1 replies
Siti Choiriyah
udah dr awal kang Al buat selikur lanjaran... baru sekarang bisa ngasih hadiah... selalu kepoin karya kang Al/Grievance/
Siti Choiriyah: sehat selalu biar bisa terus berkarya.... Aamiin/Good/
total 2 replies
𝖓𝕯o🕷
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Diana Dwiari
😂😂😂😂 kapokmu Al....tapi Alhamdulillah dink ya,langsung nikah aja,ketemu jodohnya tanpa ba bi bu
Diana Dwiari
kapok mu kapan Al....
Diana Dwiari
aseekkkk
Diana Dwiari
jangan2 damar jati masuk ke tubuh Roy....yang sama si Wulan yg disukai al
Dina Widiyanti
ada lanjut nya cerita nggak
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: gak ada kak🙂🙏
total 1 replies
bunda aya
al kamu itu casanova banget sih
Rika Iftakul
pasti buat nyembuhin rendy nih rokok kretek
Rika Iftakul
mungkin hendra suka sama windi tapi windi nolak karena hendra udah nikah terus dijampi jampi sama hendra
Rika Iftakul
pasti bukan degan biasa nih
Rika Iftakul
apa kamu memang suka wulan bneran aL
Sibungas
gini ni yg bikin candu baca.. gokil thor. /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!