Seorang wanita yang hidup hanya berdua dengan adik laki-lakinya, namun sang adik selalu saja membuat masalah sampai membuat sang kakak harus membereskan masalah yang di buatnya, dari masalah yang datang kepadanya di situlah dia di pertemukan dengan seorang pria yang akan masuk di kehidupan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan kenangan (+Visual)
Hari ini Syafa berangkat ke rumah sakit sengaja lebih awal karena berniat untuk mencari tempat tinggal yang ada di sekitar lokasi rumah sakit.
...Af kah tak perlu menjemput ku, aku sudah sampai di dekat rumah sakit....
Syafa mengirimkan sebuah pesan singkat dari ponselnya ke nomor Afdhal dan menyimpan ponsel nya kembali ke dalam tas nya.
Matanya terus berkeliling mencari kontrakan petak yang akan dia jadikan tempat tinggal nya.
Setelah menemukan tempat yang cocok dan menego harga sewanya, Syafa pun permisi pergi pada pemilik kontrakan untuk kembali ke rumah sakit karena memang sebentar lagi akan masuk ke jam kerjanya.
'' Sya!'' panggil seseorang yang tak lain Afdhal yang sedari tadi sudah menunggu nya.
'' Af.. eh Dokter Afdhal maaf saya terlambat.'' Ucap Syafa membenarkan panggilan nya pada Afdhal karena sudah memasuki area tempat mereka bekerja.
'' Tidak apa-apa, lagi pula masih ada beberapa menit lagi, oh ya kamu habis dari mana, kenapa berangkat lebih awal?''
'' Aku habis mencari kontrakan di sekitar sini,'' jawab Syafa dengan sedikit berbisik.
'' Kontrakan? memangnya kamu udah benar yakin ingin menjual rumah mu?''
'' Insyaallah yakin Af, aku ingin melepas bayang-bayang masa lalu ku,'' jawab Syafa.
Mereka berjalan dengan beriringan menuju ruang kerja Afdhal untuk mengambil jadwal pemeriksaan pasien yang akan mereka lakukan.
Afdhal seorang dokter yang profesional, dia juga seorang pria penyabar namun keras kepala, anak semata wayang dari orang tua yang selalu posesif terhadapnya.
Afdhal memendam perasaan nya pada seorang wanita yang tak lain dia adalah Syafa Az-Zahra, semenjak mereka duduk di bangku SMA Syafa telah berhasil mencuri hati seorang ketua OSIS ya dia adalah Afdhal.
Dari sejak itu mereka dekat dan selalu di anggap sebagai pasangan kekasih yang sangat serasi, namun Syafa berulang kali selalu menyangkalnya karena memang mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali hanya sebagai sahabat.
Afdhal cukup kecewa mendengarnya, tapi ia juga tidak boleh egois karena memang mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Jam makan siang telah tiba, Syafa yang masih sibuk dengan jadwal-jadwal Afdhal, belum mau beranjak dari pekerjaannya walaupun Afdhal sedari tadi memaksa nya untuk beristirahat terlebih dahulu.
'' Ya udah kalau begitu, aku ke kantin sebentar ya,'' ucap Afdhal dengan tangan yang mengusap lembut kepala Syafa dan berlalu meninggalkan nya.
Syafa kembali mengerjakan tugas nya, ponselnya berdering dan membuat Syafa menghentikan sejenak kegiatannya untuk melihat siapa yang telah menghubungi nya, dan yang tertera hanya nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.
Syafa yang memang mempunyai kebiasaan kalau nomor asing menelponnya tidak akan dia angkat.
Nomor itu terus saja menghubungi nomor Syafa namun tidak ada niatan di hati Syafa untuk menjawab nya.
Karena merasa terganggu, akhirnya Syafa pun menonaktifkan ponselnya, sampai pada akhirnya Afdhal kembali dengan makanan yang dia bawa khusus untuk Syafa.
Afdhal kembali ke e ruangan nya dan melihat Syafa yang tengah menggerutu dan menaruh ponselnya dengan sedikit membantingnya.
'' Kenapa Sya?''
'' Ada nomor asing yang terus menghubungi ku,''
'' Nomor asing? mungkin calon pembeli rumah mu,'' tebak Afdhal.
'' Tidak mungkin, aku sudah bilang pak RT kalau calon pembeli ingin menghubungi lewat dirinya terlebih dulu,'' penjelasan Syafa membuat Afdhal berpikir juga karena dia juga telah memberikan info penjualan rumah Syafa tapi menggunakan nomor Afdhal sendiri.
'' Benar juga, aku juga memberikan email atas nama dan nomor ku sendiri,'' gumam batin Afdhal.
'' Ya sudah tidak perlu cemberut seperti itu, lebih baik kamu makan siang saja dulu,'' ucap Afdhal memberikan makanan untuk Syafa makan.
'' Terimakasih Af, aku juga udah lapar,'' ucap Syafa dengan tawa kecilnya.
Sepulang bekerja, Syafa kembali ke rumahnya hanya untuk membereskan pakaian yang mau di bawanya, dan tentunya itu di bantu Afdhal yang memang memaksa untuk ikut membantu Syafa.
'' Sudah semua?'' tanya Afdhal.
'' Seperti nya sudag, ya sudah ayo.'' Ajak Syafa yang sudah menenteng dua tas besar miliknya, Afdhal yang melihat itu segera membantu nya.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah lama Syafa yang sudah di pasang info kalau rumah itu di jual, rumah yang menyimpan kenangan-kenangan pahit dan manis yang telah di lewati nya membuat Syafa merenung sepanjang perjalanan.
'' Bismilah Sya dan istighfar,'' seru Afdhal menyadarkan lamunan Syafa.
'' Ah? iya Af.''
Setelah sampai, Afdhal masih berada di sana karena ingin memastikan kalau tempat dan suasana sekitar akan aman untuk Syafa tinggali.
'' Kamu yakin ingin tinggal disini?''
'' Insyaallah yakin Af, lagipula tempat ini cukup aman dan bersih,''
'' Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang ya, jaga diri baik-baik, pintu jendela dan pintu belakang jangan lupa di kunci kalau kau ingin pergi tidur,'' ucap Afdhal yang masi mengkhawatirkan keadaan Syafa yang baru saja menempati lingkungan barunya.
suksez
semngt
mksh