Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Soraya
"Dasar tua bangka!" umpat Tias geram.
Sore harinya ketika Rangga belum tiba di rumah dan dalam perjalanan Soraya bertandang. Susan sedikit terkejut, "Nyonya Soraya," sapanya berusaha tersenyum.
"Apa aku mengganggu, Nyonya?" tanyanya berbasa-basi."
"Tentu tidak. Silahkan duduk."
Setelah keduanya duduk di sofa Soraya lantas menyampaikan maksud kedatangannya, "Ini soal Rangga. Saya cuma ingin mengatakan jika perilakunya kepada Tias samasekali keliru dan tak seharusnya."
"Maksud Nyonya?"
"Tias meminta modal untuk membuka usaha butik, tetapi Rangga tidak mengabulkannya dan membuat Tias stres. Saya sangat khawatir dengan kondisinya dan janinnya," tukas Soraya agak ketus.
Susan risih dan tak menerima apa yang ia ucapkan. Dengan lantang ia pun membela Rangga, "Itu urusan rumah tangga mereka. Lagipula Rangga pasti punya alasan hingga tak memberikan apa yang diminta Tias."
"Tias cuma meminta sejumah uang yang sangat sedikit. Ia memiliki tujuan baik dengan itu," sungut Soraya.
Rangga pun tiba. Soraya lega dengan kepulangannya.
"Assalamualaikum," sapa Rangga.
Susan dan Soraya tak menjawab dan hanya melemparkan senyuman.
"Mama Soraya?" sapa Rangga terkejut.
"Hey Rangga, apa kabar?"
"Baik, Ma."
"Mama ingin bicara sejenak dengan mu, boleh?" canda Soraya serius.
Rangga kemudia duduk di sampingnya, "Ada apa, Ma?"
"Apa benar kamu tak memberikan modal untuk Tias? Apa yang menghalangimu?" cetus nya.
Rangga tak mengira jika Tias sampai mengadukan hal itu kepada orangtuanya.
" Kenapa kamu diam?" sela Soraya.
"Maaf, Ma. Sebelumnya aku ingin mengatakan jika itu adalah urusan rumahtangga ku. Dan permintaan Tias tak sedikit. Aku sudah menawarkan usaha yang bisa ia rintis sebagai awal mula dan itu sangat cocok untuknya, tetapi ia menolak," tandas Rangga.
"Apa susah nya dengan uang satu miliar? Bukakah itu samasekali tak berharga bagimu?"
Rangga geleng kepala dan tersenyum, "Aku punya pandangan sendiri. Tolong Mama jangan ikut campur. Itu semua adalah urusan rumahtanga ku," tandas Rangga."
Susan tersenyum bangga dengan sikap sang putra. Soraya pun sudah kehabisan kata-kata dan memilih untuk segera enyah.
Saat didalan perjalanan Soraya mengubungi Tias dan menyampaikan itu dengan kekesalan yang memuncak. Tias tak mengira jika Rangga bisa dengan gampangnya menolak permintaan mamanya. Karna perkara itu kegaduhan terjadi. Tias melabrak Rangga saat suaminya itu menyambanginya, "Kenapa kamu seperti ini, Pa?" geram nya emosi. "Kamu bisa memberi apa yang diminta Naya tetapi kamu tak bisa memberikan apa yang ku mau!"
Rangga emosi dan membantah semua tuduhannya, "Yang kamu minta terlalu besar. Sedangkan Naya hanya meminta uang receh!"
"Sama saja! Aku yakin ini semua karena kamu lebih mencintainya dibanding diriku!"
Rangga pun meraih lengannya dan membawanya duduk di tepi ranjang, "Jangan buat aku pusing. Ok aku akan memberimu sejumlah uang. Tetapi tidak seperti yang kamu minta melainkan melebihi Naya lima puluh juta."
Tias tersenyum sisnis, "Aku bukan mau buat kacang asin! Tetapi sebuah butik yang mewah dan semua barang yang akan ku jual brandit."
Rangga pun menegerti jika wanita ini samasekali tak bisa diajak bicara baik-baik. "Aku imam mu!" ucapnya melotot seraya melepaskan pergelangan tangan Tias. "Jika kamu masih mau menjadi istriku ikuti semua ucapan ku. Aku akan memberimu 50 juta dan ini sudah final!"
Tias bunkam karena amarah nya. Ia kebingungan. Daripada ia tak mendapatkan samasekali dan harus menelan pil pahit jika hanya Naya yang menerima uang dari suaminya, akan lebih baik jika ia mengikuti keinginan suaminya dan membuka usaha dari rumah sama seperti Naya.
.....................
Senin sore:
Naya dan Tias menanti dengan sabar paket kiriman barang yang akan mereka jual. Rina yang berada di samping Tias tengah asyik bersantai memainkan ponselnya dan Rosi tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Kok lama ya?" tanya Naya mulai tak sabar.
"Namanya juga online, Kak. Harus sapar," gumam Rosi menoleh padanya.
"Tapi kan pesanannya dari kemarin siang?" sergah Naya khawatir.
"Dasar udik!" celetuk Tias menghinaya.
Naya tak mempedulikannya dan tetap fokus menatap keluar rumah. Hingga 1 jam berlalu. Akhirnya penantiannya pun dan Tias usai. Kurir tiba dan memberikan semua pesanan mereka. Naya begitu bahagia dan bersyukur, Alhamduliiah..." desah nya.
Dan mulai hari itu kesibukan Tias dan Naya bergulir. Naya mulai mendapatkan pesanan yang membeludak dari hari ke hari melalui media sosial. Ia sudah memutuskan untuk jualan online saja. Sementara itu dagangan Tias sepi pembeli, hanya beberapa yang membeli dagangannya. Ia nampak cemburu melihat apa yang Naya raih saat ini.
Teman-teman Tias datang bertamu dan membuat kegaduhan. Rangga menatap mereka dari lantai atas. Tias sengaja mengundang mereka untuk memeperkenalkan dan menjual produknya, "Semua ini hand made, Girls, Semuanya keluaran terbaru," ucapnya penuh kebanggaan.
"Boleh ngutang nggak?" canda Ririn yang baru saja bergabung dengan geng mereka.
"Masa ngutang sih! Kamu anak pengusaha tajir. Tinggal minta pada ayah mu pasti langsung cair...." cetus Tias masam.
Teman--temannya tertawa cekikian. Tias belum tahu jika orang tua Ririn telah bangkrut.
"Boleh ya..." pintanya memaksa.
Tias tak bodoh-bodoh amat untuk mengabulkan keinginannya. Ia pun hanya terdiam seolah tak merespom permintaannya.
Grab ekspress tiba di muka pintu dan menghubungi Naya. Naya pun dengan langkah cepat segere keluar membawa beberapa tas kue basah yang akan di kirimnya. " Hati-hati ya, Mas," pintanya.
"Beres, Mbak!" canda pria muda itu.
Naya masuk dengan pandangan lurus kedepan tanpa melirik sedikitpun kepada Tias da kawan-kawannya. Ia terlihat begitu angkuh di mata mereka,"Dia babu itu kan?" bisik salah satu diantara mereka. "Ok juga dia. Patas bisa menyaingi Tias," canda nya
Kuping Tias terasa panas,"Siapa biang?" hardik nya tak terima, "Aku tak bisa di samakan dengan dirinya! Lihat saja penapilannya yang kusut! Dia cuma anak babu di rumah ini!"
Maya dan Mira saling tatap tersenyum sinis. Tias tahu jika dalam hati teman-temannya mengejek dirinya. Ia pun merengut dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk menyaingi apa yang Naya peroleh kini, "Tunggu saja babu!" bisiknya.
Di atas tempat tidur Rangga memijit bahu Naya saat isya telah berlalu. Seharian ini Naya terlalu sibuk hingga melupakan dirinya dan janin yang ia kandung dan membuat Rangga khawatir. Ia pun berpikir untuk mencarikan dua orang pekerja untuk membantu usaha Naya.
"Sudah, Mas. Mas bisa pegal," gumamnya khawatir.
"Tak apa, tanganku masih kuat."
Naya tak enak hati dan berbalik. Ia meraih kedua telapak tangan suaminya dan memijitnya, "Enak?" tanyanya.
Rangga tersenyum, "Apa cintamu lebih besar dibanding cintaku?" tanyanya halus.
"Nggak Mas...." geleng Naya "Jika kurasakan cinta Mas Rangga jauh lebih besar."
Rangga melepaskan tangannya dan langsung memeluknya, "Andai bisa ku putar balik waktu aku takkan pernah menduakan mu," bisiknya.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya