Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN SUAMIKU AKHIRNYA MENIKAHI IBUKU
Malam harinya, setelah menghabiskan waktu bersantai di luar, Yulia dan Damar akhirnya memutuskan untuk pulang. Mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah, lalu berhenti tepat di depan teras.
Yulia turun lebih dahulu. Ia merapikan pakaiannya sekilas sebelum melangkah menuju pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, Yulia segera masuk ke dalam, dan berjalan menuju ruang tamu, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke salah satu sofa. Ia menyandarkan punggungnya, berniat mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Namun, baru saja ia hendak mengembuskan napas lega, suara teriakan dari luar mendadak terdengar.
“Woiii! Keluar! Bu Yulia, Damar, keluar!”
Yulia sontak menoleh ke arah pintu. Keningnya berkerut, sementara tubuhnya yang semula bersandar kini kembali tegak.
“Siapa, ya, Dam? Kok ramai-ramai begitu?” tanyanya sambil menatap Damar yang berdiri tak jauh dari pintu.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru berbalik dan melangkah mendekati pintu yang baru saja ditutupnya, seolah ingin memastikan siapa yang datang malam-malam begini.
“Woiii! keluar!”
Teriakan itu kembali terdengar, kali ini disusul suara beberapa orang yang berbicara bersahutan.
“Dam ...?” panggil Yulia, mulai merasa tidak nyaman.
Damar menoleh kepadanya. Wajah pria itu tampak tegang, berbeda dari sebelumnya ketika mereka masih berada di luar rumah.
“Sayang, sepertinya mereka sudah pada tahu.”
Jantung Yulia seketika berdegup lebih kencang.
Inilah yang sejak tadi ia takutkan. Ia sudah mewanti-wanti Damar bahwa hubungan mereka bisa saja terbongkar dan mengundang kemarahan orang-orang di sekitar mereka.
Yulia bangkit dari sofa. Kedua tangannya meremas ujung pakaian, sementara pandangannya tak lepas dari Damar.
“Gimana ini?” tanyanya gelisah.
“Aku juga bingung, Sayang. Mereka datangnya terlalu mendadak.”
Yulia mengembuskan napas panjang. Pikirannya berputar, berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang semakin sulit.
Ia menatap Damar yang masih berdiri di dekat pintu.
“Dam, buka saja. Biarkan mereka masuk.”
Damar menoleh, tampak ragu sejenak. Namun, setelah melihat kesungguhan di wajah Yulia, ia akhirnya mengangguk pelan.
Perlahan, tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya.
Pintu pun terbuka.
Beberapa orang yang sejak tadi berteriak di luar langsung terlihat di hadapan mereka. Tatapan tajam dan raut wajah penuh kemarahan membuat Yulia menelan ludah.
“Ada apa, ya?” tanya Yulia, berusaha bersikap tenang saat melihat beberapa tetangga berdiri di depan pintu rumahnya.
Salah seorang pria maju selangkah. Tatapannya tajam mengarah kepada Yulia, lalu beralih kepada Damar.
“Kami sudah dengar kalau Bu Yulia sedang hamil anak dari menantumu dan kalian melakukan perzinaan!”
Wajah Yulia seketika memucat. Ia spontan menoleh ke arah Damar, berharap pria itu mengatakan sesuatu untuk meredakan situasi. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, beberapa orang di hadapannya justru menerobos masuk ke dalam rumah.
Yulia mundur selangkah. Tubuhnya menegang saat menyadari ruang tamunya kini dipenuhi orang-orang yang memandangnya dengan penuh amarah.
“Bu Yulia, di tempat kami, kami gak menerima orang-orang pezina seperti kalian!” seru salah seorang warga.
“Betul! Perbuatan mereka sudah keterlaluan!”
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita kawinkan saja mereka di sini!” usul seorang perempuan dengan suara lantang.
“Iya, betul!”
Suara persetujuan langsung bersahutan, membuat suasana semakin gaduh.
Yulia menelan ludah. Kedua tangannya mulai gemetar, sementara pandangannya mencari Damar di antara kerumunan.
“Damar,” panggilnya lirih.
Namun, sebelum pria itu sempat mendekat, seorang perempuan mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada warga lainnya.
“Tahan Bu Yulia!”
Dua orang ibu-ibu segera menghampirinya dan mencengkeram kedua lengannya.
“A-apa yang kalian lakukan?” Yulia berusaha menarik tangannya. “Lepaskan! Tangan saya sakit!”
Cengkeraman mereka justru semakin kuat. Yulia meringis.
“Lepaskan saya!” serunya panik.
Tiba-tiba, sebuah suara erangan terdengar dari arah Damar.
Yulia langsung menoleh. Matanya membelalak ketika mendapati pria itu sudah tersungkur di lantai, dikelilingi beberapa warga laki-laki.
“Damar!”
Ia meronta lebih kuat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kedua ibu-ibu yang menahannya. Rasa takut dan panik bercampur aduk.
Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Yulia berhasil melepaskan tangannya. Ia segera berlari menghampiri Damar dan berlutut di sampingnya.
“Damar, kamu gak apa-apa?” tanyanya cemas sembari menyentuh bahu pria itu.
Namun, belum sempat Damar menjawab, suara sindiran dari salah seorang perempuan kembali terdengar.
“Lihat, gak merasa bersalah sama sekali sama Nafisa!”
Yulia seketika memejamkan mata.
Nama putrinya itu terasa seperti tamparan yang menghantam wajahnya.
Yulia mengangkat wajahnya, lalu menatap satu per satu orang yang sejak tadi menghakiminya.
“Ya, saya dan Damar memang sudah mengkhianati Nafisa,” ujarnya lantang. “Tapi ... saya dan menantu saya saling mencintai. Ini takdir, jadi jangan salahkan kami!”
Beberapa orang langsung berseru tidak percaya. Namun, Yulia memilih mengabaikan mereka. Ia kembali menunduk dan mengusap wajah Damar yang masih berada di dekatnya.
“Kenapa kalian menyalahkan kami yang berzina? Memangnya kalian sudah lebih baik daripada saya?” tanyanya dengan nada menantang.
Yulia bangkit perlahan, lalu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
“Kalian itu sok suci! Merasa diri sendiri paling baik, padahal munafik! Suka menggibah, menyebarkan gosip, bahkan main hakim sendiri seperti ini!” Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Jangan cuma bisa menghakimi orang lain!”
Suasana semakin gaduh. Beberapa warga tampak tersinggung mendengar perkataannya, sementara yang lain justru semakin geram.
Tiba-tiba, suara seorang pria terdengar dari arah luar.
“Penghulunya sudah datang!”
Orang-orang yang menghalangi pintu segera menyingkir, membuka jalan bagi seorang pria yang masuk sambil membawa tas dan mengenakan kopiah.
Yulia mengernyit saat melihat kedatangannya. Ia belum sempat bertanya siapa pria itu ketika salah seorang warga menghampiri lelaki tersebut.
“Ini, Pak. Mereka pasangan yang saya beritahu tadi.”
Pria yang dipanggil penghulu itu mengangguk, kemudian mengarahkan pandangannya kepada Yulia dan Damar.
“Kalau begitu, mari kita nikahkan mereka!” seru salah seorang warga.
Belum sempat Yulia menyampaikan keberatan, dua ibu-ibu kembali mencengkeram lengannya dan menyeretnya ke tempat yang telah disiapkan. Di sisi lain, beberapa pria memaksa Damar berdiri sebelum membawanya ke hadapan penghulu.
“Lepaskan saya! Kalian gam bisa memaksa seperti ini!” protes Yulia sambil berusaha melepaskan diri.
Namun, tidak ada yang menghiraukan teriakannya.
Tak lama kemudian, Yulia dan Damar sudah duduk bersebelahan di hadapan penghulu. Di atas meja kecil yang berada di depan mereka, sebuah Al-Qur'an dan selembar uang lima ratus ribu rupiah telah disiapkan.
Yulia menatap benda-benda itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak pernah membayangkan akan menghadapi situasi seperti ini, apalagi harus menikah dengan Damar di bawah tekanan orang-orang.
Penghulu itu membuka tasnya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu menatap Damar.
“Mari kita mulai. Pak Damar, silakan jabat tangan saya di atas Al-Qur'an.”
Ruangan mendadak hening.
Damar tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada tangan penghulu yang terulur di hadapannya.
Yulia melirik wajah pria itu. Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas tangan Damar, lalu meremasnya lembut.
“Damar,” bisiknya pelan.
Seolah tersadar dari lamunannya, Damar akhirnya mengulurkan tangan dan menjabat tangan penghulu.
Pria itu mulai mengucapkan kalimat akad dengan suara lantang.
“Damar Adityawarman, saya nikahkan engkau dengan Yuliana Ratna dengan mahar lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai.”
Suasana kembali hening.
Yulia menahan napas. Pandangannya tertuju pada Damar, sementara jantungnya berdegup semakin kencang.
Sementara itu, di ambang pintu rumah Yulia, Nafisa berdiri berdampingan dengan Dewangga. Wajahnya tertutup masker, sementara kacamata yang dikenakannya membantu menyamarkan penampilannya agar tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.
Semua ini bermula setelah Kalendra, asisten Dewangga, mengabarkan bahwa Damar dan Yulia sedang dikerumuni warga. Mendengar kabar tersebut, Nafisa memutuskan untuk datang bersama Dewangga.
Kini, ia berdiri menyaksikan semuanya dari kejauhan.
Suara penghulu yang memandu prosesi pernikahan masih terdengar jelas di tengah keheningan ruang tamu. Nafisa berusaha mengendalikan dirinya, tetapi jemarinya terus memainkan masker yang menutupi wajahnya.
Tak lama kemudian, suara Damar terdengar setelah pria itu menarik napas panjang.
“Saya terima nikahnya Yuliana Ratna dengan mahar tersebut, tunai.”
Nafisa terdiam.
“Bagaimana, para saksi?” tanya penghulu.
“Sah!”
Jawaban itu terdengar serempak dari beberapa orang yang hadir.
Dada Nafisa seketika berdebar mendengar mantan suaminya resmi menikahi wanita yang telah melahirkannya.
Namun, anehnya, ia tidak merasakan kesedihan. Tetapi yang tersisa hanyalah rasa muak.
Tiba-tiba, sebuah tangan menggenggam tangannya dengan lembut.
Nafisa menoleh. Dewangga masih menatap lurus ke depan.
Nafisa menunduk sejenak, lalu menarik napas perlahan.
“Ayo, Pak. Kita pergi saja,” ucapnya lirih.
Dewangga akhirnya menoleh. “Kenapa? Masih mencintai si berengsek itu? Gak kuat karena dia menikahi ibu kamu?”
Nafisa menggeleng cepat. Ia menatap pria di sampingnya dengan sorot mata tegas.
“Enggak. Aku muak, soalnya.”
Setelah mengucapkan itu, Nafisa segera berbalik dan melangkah meninggalkan rumah tersebut.
Dewangga yang masih terdiam, pandangannya menatap ke arah punggung Nafisa yang perlahan menjauh.
‘Terdengar dari nada suaramu, Nafisa. Kamu tak bisa membohongi perasaan kecewamu.’
Lalu Dewangga akhirnya Melangkah menyusul ke arah Nafisa yang sudah menjauh dari pandangannya.
.
Sementara itu, di rumah sakit, Oma Rima duduk bersandar di ranjang dengan wajah serius. Tatapannya tertuju pada Jony yang berdiri tak jauh darinya, baru saja menyampaikan informasi yang cukup mengejutkan.
Rupanya, Nafisa bukanlah perempuan lajang seperti yang sempat dirinya bayangkan. Wanita yang selama ini menemani Dewangga itu ternyata karyawan perusahaan dan bahkan berstatus suami orang.
Namun, yang membuatnya semakin geram adalah kabar tentang pengkhianatan pria tersebut. Damar tega berselingkuh dengan ibu mertuanya sendiri.
Menjijikkan!
Oma Rima menggeleng pelan. Ia sungguh tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan sehina itu.
“Lalu, apa lagi, Jony?” tanyanya sembari membenarkan posisi bantal di belakang punggungnya.
Jony segera melanjutkan laporannya. “Malam ini, pria itu ternyata dipaksa menikah di depan banyak orang, Nyonya. Pak Dewangga dan Bu Nafisa, juga berada di sana.”
Oma Rima mengangkat alis. “Begitu, ya?” gumamnya.
Sesaat kemudian, ia mengangguk kecil sebelum kembali menatap Jony.
“Pantau cucu dan cucu mantu saya.”
“Baik, Nyonya.” Jony menundukkan kepala. “Kalau begitu, saya permisi.”
“Eh, tunggu dulu!”
Jony yang baru hendak berbalik segera menghentikan langkahnya.
Oma Rima mengulurkan tangan, memberi isyarat agar pria itu mendekat. “Temani Oma. Oma kesepian di sini.”
Ia menghela napas panjang.
“Seandainya saja Dewangga cepat-cepat menikah, Oma gak akan seperti ini. Anak itu sibuk terus, jarang pulang. Bahkan, menjenguk Oma saja gak sampai setengah jam.”
Keluhannya membuat Jony tersenyum tipis.
“Nyonya,” panggil Jony. “Saya dengar pengajuan perceraian perempuan itu dan Damar sedang diproses.”
Kening Oma Rima langsung berkerut. Ia menoleh cepat, memastikan dirinya tidak salah mendengar.
“Benarkah?”
Jony mengangguk mantap. “Iya, Nyonya.”
Seketika, sudut bibir Oma Rima terangkat.
“Kalau begitu, ada tugas buatmu.”
Jony segera menghampiri ranjangnya. “Apa, Nyonya?”
Oma Rima melirik pintu kamar untuk memastikan tidak ada orang lain yang masuk. Setelah itu, ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Jony mendekat lagi.
Pria itu membungkuk, mendekatkan telinganya ke arah sang nyonya.
Oma Rima pun mulai membisikkan sesuatu dengan suara pelan.
Jony terdiam setelah mendengar rencana yang baru saja dibisikkan Oma Rima ke telinganya. Ia berusaha mencerna setiap perkataan wanita paruh baya itu.
Namun, semakin ia memahami rencana tersebut, semakin lebar kedua matanya terbuka. Jony sontak mengangkat kepala dan menatap Oma Rima yang kini sudah menjauh dari telinganya dengan senyum penuh arti.
“Bisa, kan?” tanya Oma Rima sambil mengangkat sebelah alisnya.
Jony segera mengangguk. “Bisa, Nyonya.”
“Bagus!” Oma Rima tersenyum puas, lalu membenarkan selimut yang menutupi kakinya. “Secepatnya, ya. Saya takut Wangga bakalan jadi bujang lapuk! Oma sudah tua, Jony. Butuh cucu juga biar sama seperti teman arisannya Oma yang pamer cicitnya.”
Jony menunduk, berusaha keras menahan tawanya. Bukan karena ia tidak menghormati Oma Rima, melainkan karena merasa geli mendengar wanita itu menyebut cucunya sendiri sebagai bujang lapuk.
Padahal, Dewangga adalah seorang CEO yang disegani banyak orang. Wajah tampan, karier cemerlang, dan kekayaan yang dimilikinya tentu membuat banyak perempuan tertarik. Namun, di mata Oma Rima, semua itu seolah tidak ada artinya jika cucunya belum juga menikah.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum begitu?” tegur Oma Rima ketika menyadari perubahan ekspresi Jony.
Jony buru-buru berdeham, berusaha mengembalikan wajahnya menjadi serius.
“Tidak ada apa-apa, Nyonya.”
“Sudah, jangan banyak alasan. Pokoknya, laksanakan tugasmu secepatnya!” tegas Oma Rima.
“Baik, Nyonya.” Jony kembali mengangguk, kali ini sambil menahan senyum yang nyaris lolos dari bibirnya.
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.