NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.

Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.

Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.

Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.

"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."

Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.

"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 27

Suara dengkuran kasar Marni menggema di seluruh sudut kamar utama yang gelap gulita. Pembantu bertubuh gempal itu tertidur pulas di atas sofa, mulutnya sedikit terbuka setelah kelelahan berjaga seharian penuh.

Di atas ranjang, Kirana membuka matanya perlahan. Ia memastikan napas Marni benar-benar teratur sebelum tangannya merogoh celah kecil di bawah kasur tempatnya berbaring. Jari-jarinya menyentuh permukaan dingin dari ponsel milik Marni yang ia curi kemarin sore.

Dengan sangat berhati-hati, Kirana menarik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh kepalanya. Di dalam tenda selimut yang gelap, ia menyalakan ponsel tersebut dan menurunkan tingkat kecerahan layarnya hingga titik yang paling redup.

Kirana tersenyum sinis. Jari-jarinya yang lentik bergerak lincah di atas layar sentuh, mencari kontak Rena yang ternyata sudah tersimpan di ponsel Marni. Tentu saja, sebagai anjing penjaga Arga, Marni pasti memiliki akses untuk menghubungi selingkuhan bosnya itu.

Kirana mengetik sebuah pesan singkat dan langsung mengirimkannya ke nomor Rena.

"Kamu pikir Arga akan melepaskanmu begitu saja, Rena? Dia sedang merencanakan 'bunuh diri' untukmu siang ini."

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, layar ponsel berkedip. Balasan masuk. Rena rupanya tidak bisa tidur karena dihantui kepanikan.

"Siapa ini?! Jangan macam-macam sama aku! Kenapa nomor Marni dipakai buat ngirim pesan gila kayak gini?!"

Kirana tertawa tanpa suara, lalu kembali mengetik balasan dengan cepat.

"Marni sedang tidur. Aku adalah orang bayaran Arga. Orang yang sama yang meretas sistem dan memindahkan dana perusahaan ke rekeningmu kemarin pagi. Arga menyuruhku melakukannya untuk menjebakmu."

Tanda 'sedang mengetik' muncul cukup lama di layar, sebelum balasan Rena masuk.

"Bohong! Arga marah besar padaku kemarin soal uang itu! Dia hampir membunuhku di kantor! Kamu pasti komplotan peretas yang mau memeras aku kan?!"

"Itu hanya aktingnya di depanmu, bodoh. Arga sengaja membuatmu ketakutan. Dia butuh alasan yang kuat untuk menyingkirkanmu siang ini. Rencananya, dia akan membunuhmu dan membuat skenario bahwa kamu bunuh diri karena ketahuan menggelapkan uang perusahaan."

"Aku nggak percaya! Arga nggak mungkin membunuhku! Kita ini rekan kerja!"

"Rekan? Kacul dan Bi Titin juga rekan kerjanya di rumah, tapi mereka sudah mati. Tasya sahabat istrinya juga baru saja dibikin kecelakaan. Kamu pikir posisimu spesial di mata Arga? Siang ini, dia akan memintamu menemaninya ke suatu tempat yang sangat sepi. Begitu kamu ikut masuk ke mobilnya, nyawamu habis."

Tidak ada balasan lagi dari Rena. Kirana tersenyum puas. Ia telah menanamkan bom waktu di kepala wanita murahan itu. Begitu Arga menunjukkan tanda-tanda sekecil apa pun esok hari, Rena pasti akan meledak dan menyerang pria itu.

Kirana segera menghapus seluruh riwayat pesan tersebut hingga bersih tanpa jejak. Ia mematikan ponsel Marni, lalu menyelipkannya kembali ke dalam celah jahitan kasur yang paling dalam. Ia memejamkan mata dan kembali berpura-pura tidur.

Keesokan paginya, suara bantingan pintu lemari yang sangat keras membangunkan Kirana.

"Bangun kamu, Nyonya buta! Ayo cepat bangun!" teriak Marni sambil menarik selimut Kirana dengan kasar hingga wanita itu kedinginan.

Kirana pura-pura terkesiap, meraba-raba udara dengan wajah panik. "Ada apa, Marni? Ini masih gelap... Apa udah pagi?"

"Jangan banyak alasan kamu! HP-ku mana?! Kamu yang sembunyiin kan?!" bentak Marni, menunjuk-nunjuk wajah Kirana meski ia tahu Kirana tidak bisa melihatnya.

"HP apa, Marni? Aku dari semalam cuma tidur di kasur. Aku kan nggak bisa liat, buat apa aku ambil HP kamu?" jawab Kirana dengan suara gemetar ketakutan.

"Alah, jangan bohong kamu! Pasti kamu ambil pas aku ketiduran kan?! Berdiri sekarang! Aku mau geledah kasur ini!"

Marni menarik lengan Kirana dengan kasar hingga Kirana terjatuh dari atas ranjang dan lututnya membentur lantai kayu.

"Aw! Sakit, Marni! Sumpah, aku nggak ambil apa-apa! Coba kamu ingat-ingat lagi, mungkin jatuh di luar kamar!" isak Kirana sambil memegangi lututnya.

Marni mengobrak-abrik bantal, guling, dan selimut dengan beringas. Namun karena Kirana menyembunyikannya di dalam robekan jahitan springbed bagian bawah, Marni tidak menemukan apa-apa.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Arga masuk dengan setelan jas rapi berwarna biru dongker. Pria itu mengerutkan kening melihat istrinya tersungkur menangis di lantai dan kamarnya berantakan.

"Ada ribut-ribut apa ini pagi-pagi, Marni?" tanya Arga dingin.

"M-maaf, Pak Arga. HP saya hilang sejak semalam. Saya curiga Nyonya Kirana yang sembunyiin," jawab Marni sambil menunduk takut.

Arga tertawa meremehkan. "Kamu ini bodoh atau gimana, Marni? Istriku ini buta total dan gila. Buat apa dia nyuri HP kamu? Kalaupun dia pegang HP, dia nggak bakal bisa mencet layarnya. Pasti HP kamu jatuh pas kamu lagi ke dapur atau ke toilet semalam. Cari di luar sana, jangan bikin keributan di kamarku."

"B-baik, Pak. Saya permisi cari di luar," Marni bergegas lari keluar kamar dengan wajah pucat.

Arga melangkah perlahan menghampiri Kirana yang masih duduk menangis di lantai. Pria itu berjongkok, lalu menarik dagu Kirana dengan kasar.

"Gimana rasanya jadi gembel di rumah sendiri, Sayang?" bisik Arga dengan senyum mematikan. "Tidur di lantai, dibentak-bentak sama pembantu... Kamu suka kehidupan barumu ini?"

"Arga... tolong kasihani aku. Aku minta maaf kalau aku pernah salah sama kamu. Tolong jangan suruh Marni kasar sama aku," isak Kirana, memohon dengan sangat menyedihkan.

"Minta maaf? Terlambat, Kirana. Aku justru sangat menikmati pemandangan ini. Kamu yang dulu angkuh sebagai bos besar, sekarang cuma sampah yang numpang makan dari uangku." Arga menepuk-nepuk pipi Kirana. "Semua sertifikat tanah, rumah ini, dan perusahaan udah resmi atas namaku. Kalau aku mau, aku bisa tendang kamu ke jalanan sekarang juga biar kamu jadi pengemis buta."

"Jangan, Ga... Aku mohon... Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu..."

"Makanya, jadilah peliharaan yang ngoceh kalau cuma aku suruh. Ngerti kamu?!"

"N-ngerti, Ga. Aku ngerti..."

"Bagus." Arga berdiri merapikan jasnya. "Aku mau ke kantor. Hari ini ada urusan penting yang harus aku beresin. Nikmati hari-harimu di dalam kamar ini, Sayang."

Begitu pintu ditutup dan dikunci dari luar, isak tangis Kirana seketika berhenti. Ia berdiri dari lantai dengan sangat anggun, menepuk-nepuk debu dari piyamanya, lalu tersenyum menatap pintu yang tertutup itu.

'Pergilah ke kantormu, Arga. Umpan yang aku pasang semalam sudah menunggumu di sana.'

Di kantor Larasati Corp.

Rena duduk di mejanya dengan tubuh yang bergetar. Kantung matanya menghitam. Pesan anonim semalam benar-benar menghancurkan akal sehatnya. Ia terus melirik ke arah pintu ruangan Arga dengan perasaan waswas.

"Rena, masuk ke ruanganku sekarang," suara bariton Arga terdengar dari interkom di atas meja.

Rena menelan ludah. Ia mengambil buku catatannya dan melangkah masuk ke dalam ruangan CEO itu dengan kaki yang terasa berat.

"P-pagi, Pak Arga. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Rena, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Arga.

Arga yang sedang berdiri menatap jendela besar di ruangannya, membalikkan badan dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

"Jadwal hari ini tolong dikosongkan semuanya, Rena. Termasuk meeting sama pihak bank," perintah Arga tegas.

Rena tersentak. "Dikosongkan? Kenapa, Pak? Bukannya meeting hari ini sangat penting buat pemulihan nama baik perusahaan setelah anjlok kemarin?"

"Aku nggak butuh saranmu. Lakuin aja apa yang aku suruh," desis Arga sambil berjalan mendekati meja. Pria itu menatap Rena lekat-lekat. "Siang ini, aku mau kamu ikut aku. Kita pergi berdua pakai mobilku."

Mata Rena membelalak. Pesan anonim semalam berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak. Siang ini, dia akan memintamu menemaninya ke suatu tempat yang sangat sepi. Begitu kamu ikut masuk ke mobilnya, nyawamu habis.

"K-kita mau pergi ke mana, Pak?" tanya Rena dengan suara yang benar-benar bergetar karena ketakutan.

"Kita ke lokasi proyek gudang terbengkalai di ujung kota. Ada urusan pribadi yang harus kita selesaikan di sana, jauh dari pantauan orang-orang kantor," jawab Arga santai, namun di telinga Rena, kalimat itu terdengar seperti vonis mati.

Rena mundur selangkah. "B-buat apa kita ke sana, Pak? Proyek itu kan udah lama dihentikan. Kalau ada urusan pribadi, kita bicarakan di sini aja nggak bisa?"

Melihat penolakan dari sekretarisnya, wajah Arga langsung berubah gelap. Rahangnya mengeras. Ia menggebrak meja dengan sangat keras hingga Rena melompat kaget.

BRAK!

"Kamu berani ngebantah perintahku sekarang, Rena?!" bentak Arga dengan suara menggelegar. "Aku bilang ikut, ya ikut! Kamu udah lupa sama ancamanku kemarin soal uang yang kamu curi itu, hah?!"

"T-tapi Pak... Di sana sepi banget. Nggak ada siapa-siapa..." bantah Rena dengan air mata yang mulai menetes.

"Justru karena sepi makanya aku ngajak kamu ke sana, bodoh! Aku mau ngomongin strategi buat nutupin kasus peretasan kamu itu tanpa ada yang nguping! Kamu mau kita bahas soal penggelapan dana di tengah kantor yang banyak staf ini?!"

"Pak Arga bohong! Bapak pasti mau celakain saya kan?! Bapak mau bunuh saya di gudang itu terus bikin seolah-olah saya bunuh diri!" teriak Rena histeris, kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

Arga tertegun sejenak, matanya menyipit tajam. "Apa yang kamu omongin barusan, Rena? Bunuh diri? Siapa yang ngisi otak udangmu itu dengan pikiran konyol kayak gitu?"

"Bapak nggak usah pura-pura! Bapak udah bunuh Kacul sama Bi Titin! Terus kemarin Bapak nyuruh orang motong rem mobil Tasya kan?! Sekarang giliran saya yang mau Bapak singkirkan supaya Bapak bisa menguasai semuanya sendirian!" jerit Rena sambil menunjuk-nunjuk wajah Arga dengan penuh kebencian.

Arga terdiam kaku. Darahnya berdesir hebat. Bagaimana mungkin Rena bisa mengetahui detail tentang Kacul, Bi Titin, dan Tasya dengan sangat akurat? Padahal Arga merahasiakan semua eksekusi itu rapat-rapat.

"Dari mana kamu tahu semua nama itu, Rena?" bisik Arga, melangkah maju mendekati Rena seperti seekor predator yang siap menerkam. "Katakan padaku, siapa yang membocorkan hal itu kepadamu?!"

"Jangan mendekat! Kalau Bapak berani nyentuh saya satu langkah aja, saya bakal teriak dan semua orang di luar bakal masuk ke sini!" ancam Rena, tangannya meraba-raba meja mencari benda tumpul untuk melindungi dirinya.

"Aku tanya, dari mana kamu tahu soal Kacul dan Tasya?!" bentak Arga, kali ini suaranya dipenuhi kepanikan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Rena tersenyum sinis bercampur tangis ketakutan. "Bapak pikir Bapak bisa mengontrol semua orang? Seseorang yang tahu semua kebusukan Bapak udah ngasih tahu saya semuanya! Orang yang memindahkan uang perusahaan ke rekening saya untuk menjebak saya! Orang bayaran Bapak sendiri yang sekarang berkhianat!"

Arga mematung. Pikirannya berputar sangat cepat. Orang bayaran? Siapa? Hanya sedikit orang yang tahu soal Tasya dan para pelayan itu. Dan jika orang bayaran itu berkhianat dan menghubungi Rena... berarti ada musuh dalam selimut yang sedang mencoba menghancurkannya dari dalam.

Tiba-tiba, suara tawa Kirana terngiang di telinga Arga, seakan-akan istrinya yang buta itu sedang menertawakannya dari kejauhan. Kehancuran psikologis yang Arga bangun untuk orang lain, kini berbalik menghantam akal sehatnya sendiri.

1
Muft Smoker
sesama pengkhianat saling membuka aib dan saling membunuh😏😏
Ma Em
Masa orang banyak kalah hanya dgn Arga seorang seberapa pintarnya Arga masa tdk ada yg bisa melawan Arga .
Muft Smoker
skraaang si agar2 yg ketakutan sendriii
Muft Smoker
awas nnti malah jd km yg gilaaa arga
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah ternyata rencana kirana ,,
Muft Smoker
ayoo kirana gerak cepat sebelum semua aset mu berpindah tangan,, ni gx da bantuan buat kirana apa kak???
Muft Smoker
aaaaa deg2an ,, semoga bukan arga
Muft Smoker
aduuuh kirana jgn ceroboh doonk ,,
Ma Em
Kirana terlalu ceroboh hrs nya pelan2 saja jgn sampai menimbulkan kecurigaan Arga kalau Kirana sdh bisa melihat , semoga tdk terjadi hal yg tdk di inginkan pada Kirana .
Muft Smoker
aduuuuh semoga kirana gx knp2 ,,
Ma Em
Kirana kamu jgn ceroboh si Arga ini licik ada perubahan sedikit saja dari Kirana Arga langsung curiga , makanya jgn melakukan yg akan membahayakan , Kirana .
Muft Smoker
akhirny kirana pura2 pingsan ,,
🤭🤭
Ma Em
Kirana hati hati jgn ceroboh dan hrs pintar berpura pura msh buta jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat , Kirana hrs cari akal agar bisa bebas dari Arga mokondo .
Muft Smoker
duuh jgn sampai deeh si arga tau kalo kirana udh bisa lihat ,,
Muft Smoker
duuuh aq yg deg2an iikh ,,
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,
Ma Em
Kirana hrs hati2 jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat lagi , jgn gegabah dlm bertindak Kirana hrs cerdik balas semua perbuatan Arga dan gundiknya .
Muft Smoker
perlahan ,, perlahan ,, akhirny penglihatan kirana kembali ,,
Sishrye
astaga nggragas🤣
한스 |HANSEN| Is Back: 😭🔥wwk
total 1 replies
Ma Em
Si Arga karena ambisi ingin menguasai harta orang cara apapun akan harga lakukan , semoga ada keajaiban untuk Kirana secepat nya bisa melihat lagi .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!