Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar baik
Cklek!
Pintu ruang rawat terbuka pelan, membuat Elea dan Lucas beranjak dari duduk mereka.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Elea, menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan itu, suaranya penuh kecemasan.
Dokter membuka masker, lalu tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Keadaan Lyn stabil, Bu. Tekanan darahnya normal, tanda-tanda vital juga baik."
Elea menghela napas lega, meski masih menyimpan kekhawatiran. "Syukurlah."
"Sejujurnya, saya cukup kagum," lanjut dokter itu, matanya menyiratkan kekaguman yang tulus. "Melihat kondisi fisiknya, dehidrasi, luka-luka, kelelahan ekstrim, putri Ibu ini luar biasa kuat bisa bertahan sejauh ini."
Lucas ikut mendekat, menepuk pundak dokter itu pelan. "Terima kasih sudah menangani cucu saya dengan baik, Dok."
"Sama-sama, Tuan," dokter itu mengangguk. "Untuk sekarang, kami sudah memberikan obat penenang dan cairan infus. Pasien butuh istirahat total, jadi sebaiknya jangan dibangunkan dulu beberapa jam ke depan."
Elea mengangguk paham, lalu teringat sesuatu. "Dok, bagaimana dengan kepalanya yang sering sakit? Dia bilang pusingnya nggak kunjung hilang."
Ekspresi dokter itu sedikit berubah, lebih serius. "Kami sudah lakukan CT scan untuk memastikan tidak ada cedera serius di bagian kepala, mengingat riwayat benturan yang dialaminya."
"Bagaiman hasilnya, dok?" tanya Lucas cepat, alisnya berkerut cemas.
"Hasilnya belum keluar sepenuhnya," jawab dokter itu hati-hati. "Prosesnya masih berjalan, mungkin sekitar dua jam lagi baru bisa kami analisis dengan lengkap."
"Apa kemungkinan... sesuatu yang serius, dok?" tanya Elea, cemas.
Dokter itu menatap Elea dengan tatapan menenangkan, meski tak bisa memberikan kepastian penuh. "Kami belum bisa memastikan apa pun sampai hasilnya keluar, Bu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa semoga hasilnya baik."
Elea mengangguk pelan, meski kecemasan masih membayangi wajahnya.
Lucas merangkul bahu menantunya, memberi ketenangan di tengah ketidakpastian yang masih menggantung.
"Terima kasih atas penjelasannya, dokter," ucap Lucas mantap.
Dokter itu mengangguk, memberi senyuman terakhir sebelum melangkah pergi, meninggalkan Elea dan Lucas kembali diselimuti kecemasan, menunggu kepastian tentang kondisi kepala Lyn yang masih menjadi tanda tanya.
Dua jam kemudian...
Di dalam ruang rawat, Elea berdiri di dekat jendela, membuka tirai perlahan hingga sinar matahari pagi menyusup, menerangi ruangan yang sebelumnya temaram. Ia menatap keluar sejenak, menghela napas panjang sambil menunggu tanda-tanda putrinya bangun.
Tak lama, terdengar suara lirih dari arah ranjang.
"Ngh..."
Lyn membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke ruangan.
Elea langsung menoleh, segera menghampiri ranjang dengan langkah cepat. "Lyn, kamu udah bangun, Sayang?"
"Ibu..." Lyn tersenyum lemah, suaranya masih serak. "Aku di rumah sakit?"
"Iya, Nak," Elea duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan putrinya dengan lembut. "Semalam, begitu kamu tertidur, Ibu langsung membawamu ke sini untuk diperiksa. Gimana perasaanmu sekarang?"
Lyn mencoba duduk, meski masih terasa pusing. "Lumayan mendingan, Bu. Cuma badan masih pegal semua."
Elea tersenyum, mengusap rambut Lyn dengan penuh kasih sayang. "Wajar, Nak. Kamu udah lewatin banyak hal berat."
"Ibu..." Lyn menatap Elea lekat-lekat, "makasih udah nyariin aku. Aku yakin banget Ibu pasti nyariin aku sampe ketemu."
Elea tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu nggak akan pernah berhenti, Nak. Selama masih ada napas di badan Ibu."
Lyn menggenggam tangan ibunya lebih erat, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. "Ibu... aku minta maaf soal kemarin-kemarin. Aku ngomong kasar, padahal Ibu melindungi aku."
"Sudah, Nak," potong Elea lembut, mengecup kening Lyn. "Itu semua sudah berlalu. Yang penting sekarang, kamu sudah kembali dengan selamat."
Lyn tersenyum tipis, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Ibu, aku kangen banget masakan Ibu."
Elea tertawa kecil, meski masih menyisakan haru. "Nanti kalau kamu udah pulang, Ibu masakin apa pun yang kamu mau. Sebanyak apa pun."
"Beneran?" mata Lyn berbinar sedikit, meski masih lelah.
"Beneran," jawab Elea mantap, menggenggam tangan putrinya lebih erat lagi. "Sekarang, yang penting kamu sembuh dulu."
Cklek!
"Woi, siapa nih yang udah bangun?!" suara ceria Vanesa memecah suasana haru di ruangan itu, membawa serta bau harum dari kotak makanan yang ia genggam erat.
Lyn menoleh, senyumnya langsung merekah. "Bunda!"
"Nah, gini dong, senyumnya keluar,"
Vanesa menghampiri ranjang dengan langkah ringan, meletakkan kotak makan itu di meja samping. "Bunda bawain sup ayam kesukaan kamu, tapi udah dimodif jadi versi sehat, nggak pakai micin banyak-banyak kayak biasanya."
"Bunda ngerti banget deh," Lyn tertawa kecil, meski suaranya masih lemah.
"Iyalah, siapa dulu yang masak," Vanesa mengedipkan sebelah mata, membuka tutup kotak makan itu. "Ayo, makan dulu. Badan kamu butuh nutrisi biar cepat pulih."
Elea tersenyum menyaksikan interaksi hangat antara sahabat dan putrinya, sedikit demi sedikit suasana berat yang menggantung sejak semalam mulai mencair.
"Eh, Bunda dengar-dengar, kamu berhasil kabur lewat ventilasi?" Vanesa menyuapkan sesendok sup ke mulut Lyn sambil terkekeh. "Gila, bakat jadi maling nih kayaknya."
"Bunda!" Lyn tertawa, hampir tersedak. "Itu serius, tau, susah banget!"
"Iya, iya, Bunda percaya kok," Vanesa terkekeh, menyeka sudut bibir Lyn yang belepotan sup. "Tapi salut deh, anak Bunda emang jagoan."
Elea ikut tertawa kecil melihat tingkah keduanya, untuk sesaat melupakan semua ketegangan yang masih menggantung di benaknya tentang CT scan yang belum keluar hasilnya.
Namun tak lama, seorang perawat mengetuk pintu, membuat ketiganya menoleh.
"Permisi, Nyonya Elea," ucap perawat itu sopan. "Dokter Dewa memanggil Ibu ke ruangannya sekarang."
Senyum Elea sedikit memudar, jantungnya kembali berdebar cemas. Ia menatap Lyn dan Vanesa bergantian.
"Nes, gue ke ruangan dokter dulu ya," ucap Elea, mencoba terdengar tenang meski hatinya mulai gelisah. "Titip Lyn sebentar."
"Tenang aja, di sini ada gue," Vanesa mengangguk mantap, memberi senyuman meyakinkan. "Lo urus dulu sana, biar Lyn sama gue."
Elea mengangguk, mengecup kening Lyn sekali lagi sebelum beranjak. "Ibu ke dokter dulu sebentar, ya, Nak. Kamu di sini sama Bunda dulu."
"Iya, Bu," jawab Lyn, meski matanya sempat menatap ibunya dengan sedikit kekhawatiran.
Begitu Elea keluar ruangan, senyum di wajahnya perlahan memudar digantikan oleh raut cemas yang sedari tadi ia sembunyikan.
Langkahnya menuju ruangan dokter terasa berat, berharap kabar yang akan ia dengar bukanlah sesuatu yang buruk.
Tok tok tok.
"Masuk," suara dari dalam terdengar mempersilakan.
Elea membuka pintu perlahan, melangkah masuk ke ruangan yang tertata rapi dengan berbagai penghargaan medis terpajang di dinding.
"Selamat siang, Dokter Dewa," sapa Elea sopan, sedikit membungkuk.
Dokter Dewa, pria paruh baya dengan kacamata dan senyum ramah, langsung berdiri menyambutnya. "Siang, Nyonya Elea. Silakan duduk."
Elea duduk di kursi yang disediakan, tangannya sedikit gemetar menahan cemas.
"Bagaimana kabar Lyn? Sudah bangun?" tanya Dokter Dewa membuka percakapan.
"Sudah, Dok. Tadi sempat makan sedikit juga," jawab Elea, mencoba tersenyum meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran.
"Syukurlah," Dokter Dewa mengangguk, lalu membuka map berisi hasil CT scan di mejanya, ekspresinya berubah serius.
"Nyonya Elea," ucapnya perlahan, menatap lurus ke arah Elea. "Saya harus jujur, hasil ini cukup mengejutkan saya."
Jantung Elea berdegup kencang. "Mengejutkan... bagaimana, Dok?"
Dokter Dewa menunjukkan gambar hasil scan di layar komputernya. "Melihat riwayat benturan keras yang dialami Lyn, biasanya pasien dengan kondisi serupa akan mengalami kerusakan struktural, entah itu retak tulang tengkorak, pembengkakan, atau bahkan pendarahan di otak."
Ia menggeser layar, menunjukkan gambar yang tampak bersih tanpa kelainan berarti.
"Tapi hasil CT scan Lyn benar-benar bersih, Nyonya. Tidak ada tanda-tanda kerusakan serius sama sekali. Struktur otaknya normal, tidak ada pendarahan, tidak ada retakan." Dokter Dewa menggeleng pelan, masih terheran-heran. "Jujur saja, dalam pengalaman saya menangani kasus benturan kepala seserius ini, jarang sekali saya temui hasil sebaik ini."
Elea menghela napas panjang, kelegaan yang luar biasa langsung membanjiri dadanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes perlahan.
"Syukurlah..." bisiknya lirih, tangannya menutup mulut menahan isakan haru.
"Yang jadi masalah kemarin justru bukan di kepalanya, Nyonya," lanjut Dokter Dewa, nadanya sedikit berubah. "Saat pertama kali masuk, Lyn mengalami kekurangan darah cukup signifikan, kemungkinan besar akibat luka-luka yang tidak tertangani sebelumnya. Untung saja stok darah dengan golongan yang sama seperti Lyn cukup tersedia di rumah sakit ini, jadi kami bisa langsung tangani dengan transfusi."
Elea mengangguk, mengingat betapa pucatnya wajah Lyn saat pertama kali ditemukan. "Jadi itu yang bikin dia lemas banget waktu itu..."
"Betul, Nyonya. Tapi sekarang kondisinya sudah jauh membaik," Dokter Dewa tersenyum menenangkan. "Putri Nyonya ini memang luar biasa. Entah karena faktor usia yang masih muda, atau memang daya tahan tubuhnya yang istimewa, yang jelas ini semua kabar baik untuk kalian sekeluarga."
Elea mengusap air matanya, mencoba menenangkan diri. "Lalu, Dok, soal sakit kepala yang masih sering dia rasakan? Itu bagaimana?"
"Itu hal yang wajar, Nyonya," jelas Dokter Dewa. "Setelah benturan sekeras itu, tubuh butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Sakit kepala ringan seperti itu masih dalam batas normal, biasanya akan berkurang secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan."
"Apa perlu penanganan khusus?" tanya Elea, masih ingin memastikan.
"Saya akan resepkan obat pereda nyeri ringan untuk membantu mengurangi rasa sakitnya," jawab Dokter Dewa, mulai menulis di lembar resep. "Tapi yang terpenting, pastikan dia istirahat cukup, hindari aktivitas berat dulu, dan kalau sakit kepalanya memburuk atau disertai gejala lain seperti muntah atau penglihatan kabur, segera bawa kembali ke sini."
Elea mengangguk mantap, menyimpan setiap kata dokter itu baik-baik. "Baik, Dok. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Nyonya," Dokter Dewa tersenyum, menyerahkan resep obat itu. "Lyn anak yang kuat. Dengan dukungan keluarga seperti ini, saya yakin dia akan pulih dengan cepat."