Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Benteng Pasir Aris Group
Kabar mengenai penangkapan Keysha di tengah-tengah jalannya 'Pesta Teh Amethyst' menyebar layaknya tsunami di kalangan elite kelas atas Secilia City. Foto-foto amatir yang memperlihatkan Keysha diseret keluar dari kelab sosialita paling eksklusif dengan tangan terborgol menjadi konsumsi publik yang memuaskan di berbagai media daring. Publik tidak hanya menyoroti kejatuhan memalukan sang wanita ular, namun juga mulai mengagumi sosok Elena von Secilia yang kini terbukti sebagai pemilik sah dari gurita bisnis baru bernama Aethelgard Holdings.
Di dalam ruang kerja utama Aris Group, Arsenio menatap layar televisi yang menyiarkan berita tersebut dengan tatapan mata yang berkilat liar penuh amarah. Amukan badai di dalam dadanya tidak bisa lagi ditahan.
*Brak!*
Arsenio menyapu bersih seluruh barang di atas meja kerjanya dengan satu sentakan kasar. File dokumen, laptop mahal, hingga vas bunga kristal jatuh berantakan ke atas lantai marmer, hancur berkeping-keping. Napas pria itu memburu kencang, dasinya sudah ditarik lepas hingga kerah kemejanya robek.
"Elena... sialan! Berani-beraninya wanita jalang itu menyentuh orangku?!" raung Arsenio dengan suara yang menggelegar hebat memenuhi seisi ruangan yang sunyi.
Pria itu mencengkeram kepalanya sendiri. Pikirannya benar-benar kacau. Penangkapan Keysha bukan hanya sekadar pukulan bagi kehidupan pribadinya, melainkan awal dari kehancuran total bagi reputasi komersial perusahaannya. Di dunia bisnis, ketika istri dari seorang direktur utama ditangkap atas tuduhan kriminal mencemarkan nama baik keluarga penguasa seperti Obsidian, maka tidak akan ada satu pun bank atau investor yang sudi meminjamkan uang kepada mereka.
*Tok! Tok! Tok!*
Pintu ruang kerja diketuk dengan sangat tergesa-gesa sebelum Sekretaris Malik melangkah masuk dengan wajah yang pucat pasi bagai kehilangan seluruh pasokan darahnya. Di tangannya, terdapat sebuah gawai pintar yang menampilkan grafik pergerakan pasar saham yang berwarna merah darah.
"T-Tuan Besar Arsenio... kekacauan baru saja terjadi di bursa efek distrik utara!" ucap Malik dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan. "Saham *Aris Group* mengalami aksi jual massal sejak berita penangkapan Nyonya Keysha naik ke publik. Nilai perusahaan kita merosot tajam hingga dua puluh persen hanya dalam waktu tiga puluh menit!"
Arsenio merebut gawai itu dengan kasar, matanya terbelalak lebar menatap garis grafik yang menukik tajam ke bawah bagai jatuh dari tebing yang curam. "Bagaimana mungkin penurunan ini bisa secepat ini?! Di mana para pemegang saham institusi kita?! Kenapa mereka tidak menahan harganya?!"
"M-mereka tidak bisa menahannya, Tuan," Malik menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ada sebuah entitas keuangan rahasia yang sejak pagi tadi terus-menerus melepas saham kita dalam jumlah raksasa ke pasar sekunder. Dan yang lebih buruk lagi... lembaga investasi *Aethelgard Holdings* baru saja merilis pengumuman resmi bahwa mereka telah mengakuisisi lebih dari empat puluh persen surat utang jangka pendek milik perusahaan kita dari tangan para kreditur lokal."
Mendengar nama *Aethelgard Holdings*, Arsenio merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Seluruh persendian tubuhnya mendadak terasa lemas hingga dia terpaksa mundur beberapa langkah dan bersandar pada tepi meja kerjanya.
"Elena... dia benar-benar ingin membunuhku," bisik Arsenio dengan suara yang mendadak serak dan kehilangan kekuatannya.
Pria itu akhirnya menyadari satu kenyataan pahit yang sangat mengerikan: Elena tidak sedang bermain-main dengannya di dunia sosialita. Wanita berambut perak itu sedang memasang jerat hukum dan finansial yang sangat rapi untuk mencekik mati seluruh masa depan bisnis *Aris Group*. Dengan menguasai empat puluh persen surat utang jangka pendek perusahaannya, Elena kini memiliki hak hukum penuh untuk menuntut pembayaran segera. Jika *Aris Group* tidak bisa menyediakan dana tunai dalam waktu dua puluh empat jam, Elena berhak mengajukan permohonan pailit ke pengadilan niaga.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit *Obsidian Tower*, suasana di dalam ruangan kerja utama justru dipenuhi oleh ketenangan yang luar biasa mewah. Sinar matahari sore yang hangat menembus dinding kaca setinggi lima meter, menyinari Elena yang sedang duduk dengan posisi menyilangkan kaki di atas sofa kulit berwarna putih gading.
Dia mengenakan gaun harian berbahan sutra lembut berwarna biru dongker yang elegan. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah di atas layar tablet kerja, memantau dengan sangat santai setiap grafik kepanikan yang melanda kantor *Aris Group*. Di sampingnya, aroma harum kopi hazelnut pekat memenuhi udara, memancarkan atmosfer kenyamanan yang kontras dengan neraka yang sedang dihadapi oleh mantan suaminya.
Duke Xavier melangkah mendekat dari arah belakang sofa. Pria jangkung itu menaruh kedua tangan kokohnya di atas bahu Elena, lalu dengan lembut mulai memberikan pijatan ringan untuk meredakan ketegangan otot leher istrinya. Sepasang mata abu-abu gelap milik sang penguasa bayangan distrik finansial itu melirik ke arah layar tablet dengan senyuman kepuasan yang sangat menawan.
"Satu gerakan yang sangat mematikan, Elena," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang rendah dan memikat tepat di dekat telinga Elena. "Arsenio saat ini pasti sedang berlarian di ruang kerjanya bagai tikus yang terjebak di dalam rumah yang terbakar. Dia tidak akan pernah menyangka bahwa kartu utang yang dia terbitkan di kota seberang... kini dipegang sepenuhnya oleh wanita yang dia anggap remeh."
Elena memejamkan matanya, menikmati kenyamanan dari sentuhan pria yang kini selalu setia berdiri di belakangnya sebagai perisai dan pedang utamanya.
"Pria seperti Arsenio selalu mengandalkan kesombongan finansial untuk menginjak-injak orang lain, Xavier," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun sedingin es kutub. "Di kehidupan masa lalu... maksudku, sebelum aku terbangun di tubuh ini, aku tahu betul bagaimana sifat aslinya. Dia mengira dengan uang dan kekuasaan, dia bisa mengatur hidup dan mati seorang wanita. Sekarang, aku ingin dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi pihak yang tidak berdaya saat seluruh hartanya ditarik paksa dari tangannya."
Xavier menghentikan pijatannya sejenak, lalu memutar tubuhnya untuk duduk di samping Elena. Dia meraih jemari lentik Elena, mengusap pelan cincin berlian hitam berbentuk mahkota kecil yang melingkar indah di jari manis wanita itu.
"Seluruh jalur logistik di distrik utara dan barat sudah kukunci rapat untuk semua pengiriman milik *Aris Group*," ujar Xavier dengan binar mata yang penuh dengan komitmen mutlak. "Tidak ada satu pun kapal kargo atau truk logistik yang bisa bergerak untuk mereka. Besok pagi, saat batas waktu pembayaran utang itu tiba... Arsenio tidak akan memiliki sepeser pun dana tunai untuk membayar Aethelgard Holdings."
Elena mengulas senyuman sinis yang teramat tipis namun memukau di bibir merahnya. "Bagus sekali. Mari kita biarkan dia menderita dalam ketakutan sepanjang malam ini. Aku ingin dia merasakan kecemasan yang mendalam, jenis kecemasan yang sama yang pernah dirasakan oleh wanita yang dia tinggalkan di ranjang rumah sakit yang dingin."
"Apapun yang membuatmu bahagia, Permaisuriku," balas Xavier sembari mengecup lembut punggung tangan Elena dengan penuh hormat.
Di balik dinding kaca menara Obsidian, kegelapan malam mulai turun menyelimuti kota, membawa badai kehancuran finansial yang akan meruntuhkan benteng pasir milik Arsenio ke titik yang paling rendah esok pagi. Jerat yang dipasang oleh Elena telah mengencang sempurna, dan tidak akan ada satu pun keajaiban yang bisa menyelamatkan musuh-musuhnya dari keadilan puitis yang telah ia siapkan.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄