NovelToon NovelToon
Menimbun untuk Bertahan: Gadis Pendiam yang Hidup Sendiri

Menimbun untuk Bertahan: Gadis Pendiam yang Hidup Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Bertani
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.

Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.

Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.

Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.

Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.

Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.

Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.

Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.

Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.

Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.

Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030

Berita dari Jepang

Ia memilih jalan yang lebih ramai lebih dulu, menuju dataran tinggi Pulau Karang.

Pada awalnya, jalan itu masih melewati rumah-rumah rapat di pinggir Kota Watu. Warung kopi, bengkel, kios pulsa, dan rumah makan kecil berdiri berdekatan. Anak-anak berlari di tepi jalan dengan sandal jepit, sementara orang dewasa duduk di teras sambil membicarakan kapal dari Java yang terus datang.

Lalu kota mulai menipis.

Aspal menanjak. Rumah menjadi jarang. Pohon yang ia lihat bukan lagi pohon mangga lebat seperti di Desa Lembah, melainkan pohon berdaun lebih kecil, batangnya kurus, akarnya mencengkeram tanah berbatu. Di beberapa sisi jalan, batu hitam muncul dari lereng seperti punggung hewan besar yang terkubur setengah.

Motor bebeknya bekerja lebih berat.

Sekar menjaga gas tetap halus. Ia tidak memaksa mesin. Jika motor ini rusak di jalan asing, semua persiapan di ruang penyimpanan tidak akan langsung membawanya naik ke gunung. Benda bisa disimpan. Jarak tetap harus ditempuh.

Di pertigaan pertama, ia berhenti karena ada papan kayu bertuliskan arah pasar kecamatan atas. Dua pikap lewat dari arah berlawanan, penuh orang dan karung. Salah satu sopir menurunkan kaca.

"Mau naik sekarang, Mbak?"

"Iya, Pak. Sampai pasar atas dulu."

Sopir itu melirik langit. "Jangan kemalaman. Kabut turun cepat. Kalau belum hafal jalan, berhenti di warung sebelum jembatan batu."

"Terima kasih, Pak."

"Hati-hati. Orang baru banyak salah belok di atas."

Pikap itu pergi meninggalkan bau solar.

Sekar menandai kata jembatan batu di peta kertas. Ia tidak tahu apakah sopir itu sekadar ramah atau memperingatkan karena jalan memang berbahaya. Di tempat baru, dua hal itu tidak perlu dipisahkan. Semua informasi bisa berguna.

Semakin tinggi, udara berubah.

Panas kota pelabuhan mulai hilang, diganti angin yang lebih tajam. Bukan dingin seperti hujan di Desa Lembah, tetapi kering dan menusuk kulit. Sekar membuka sedikit resleting jaket agar tidak berkeringat terlalu banyak, lalu menutupnya lagi ketika tikungan membawa angin dari jurang.

Di sisi kiri jalan, ia melihat lembah panjang dengan sungai kecil berkilat jauh di bawah. Air itu tipis, tetapi ada. Di sisi kanan, lereng ditanami jagung yang daunnya menguning di ujung. Beberapa petak kebun diberi pagar batu rendah.

Ia memperlambat motor.

Tanah. Air. Jarak antar rumah.

Setiap hal ia ukur dengan mata.

Apakah terlalu dekat jalan?

Apakah ada akses air?

Apakah lereng rawan longsor?

Apakah terlihat asap dapur terlalu banyak?

Ia belum mencari tempat tinggal hari ini. Hari ini hanya masuk ke dataran tinggi. Tetapi otaknya sudah tidak mau berhenti menghitung.

Menjelang sore, ia menemukan warung sebelum jembatan batu seperti kata sopir pikap. Warung itu berdiri di tikungan lebar, separuh dindingnya dari papan, separuh lagi dari anyaman bambu. Di depannya ada tiga motor dan satu pikap tua. Radio kecil tergantung di paku dekat rak kopi sachet.

Sekar berhenti.

"Teh panas satu, Bu," katanya kepada pemilik warung.

Perempuan di balik meja mengangguk. "Dari bawah?"

"Dari Kota Watu."

"Mau ke atas?"

"Iya. Cari keluarga."

Kebohongan itu keluar lebih mudah daripada sebelumnya. Mungkin karena semua orang di jalan sekarang punya alasan yang tidak ingin dibedah terlalu dalam.

Pemilik warung menuang teh ke gelas kaca. "Kalau kabut turun, jangan lanjut. Di atas jembatan batu, tikungan banyak. Batu jatuh juga kadang."

"Ada tempat menginap?"

"Di pasar atas ada rumah singgah kecil, kalau belum penuh. Tapi sejak kapal dari Java banyak, semua orang cari tempat."

Sekar membayar teh dan satu bungkus kacang rebus. Ia duduk di bangku paling ujung, punggung dekat dinding, motor terlihat dari sudut mata.

Radio di rak awalnya hanya mengeluarkan suara musik lama yang putus-putus. Lalu musik berhenti mendadak. Penyiar masuk dengan suara lebih kaku daripada biasa.

"Berita terbaru dari luar negeri. Pemerintah Jepang melaporkan kerusakan besar setelah rangkaian gempa bumi dan penurunan muka tanah di beberapa wilayah pesisir. Air laut masuk jauh ke kawasan permukiman dan fasilitas transportasi. Evakuasi besar-besaran sedang dilakukan..."

Sendok di tangan pemilik warung berhenti.

Seorang lelaki di meja depan mengangkat kepala. "Jepang lagi?"

Penyiar melanjutkan, suaranya bergetar halus.

"Beberapa pengamat menyebut kejadian ini sebagai penurunan tanah paling luas dalam sejarah modern Jepang. Jaringan listrik, pelabuhan, dan jalur kereta di sejumlah wilayah lumpuh. Warga diminta menjauhi pesisir..."

Sekar tidak bergerak.

Kata-kata itu masuk satu per satu, lalu menyatu dengan mimpi-mimpinya. Air masuk ke kota. Jalan rusak. Orang berlari. Peta dunia yang dulu ia lihat di layar ponsel seperti mulai retak dari pinggirnya.

"Negara maju begitu saja bisa kena," kata pemilik warung pelan.

Lelaki di meja depan mendengus, tetapi suaranya tidak kuat. "Kalau Jepang saja begitu, kita bagaimana?"

Tidak ada yang menjawab.

Sekar menatap teh yang belum ia minum. Permukaannya bergetar kecil karena angin atau karena tangannya sendiri, ia tidak tahu.

Jepang bukan Pulau Karang.

Tetapi berita itu berarti bencana tidak memilih tempat kecil atau besar, kaya atau miskin, jauh atau dekat. Jika pesisir negara dengan teknologi tinggi bisa turun dan dimasuki laut, maka keputusannya naik ke dataran tinggi bukan ketakutan berlebihan.

Itu baru akal sehat yang terlambat diakui dunia.

Radio terus berbunyi.

"...istilah Tenggelamnya Jepang mulai ramai digunakan di media internasional, meski otoritas meminta masyarakat tidak menyebarkan kepanikan..."

Tenggelamnya Jepang.

Nama itu terdengar seperti judul film, terlalu besar untuk gelas teh, warung bambu, dan jalan menanjak di Pulau Karang. Tetapi orang-orang di warung tidak tertawa. Mereka hanya saling menatap, masing-masing menghitung keluarganya sendiri dalam diam.

Sekar minum teh itu akhirnya. Rasanya pahit karena gula di dasar belum teraduk.

Ia membeli satu botol air tambahan, lalu bertanya kepada pemilik warung, "Jembatan batu masih jauh?"

"Lima menit. Setelah itu naik lagi. Kalau mau lanjut, jangan berhenti di tikungan. Ada tempat agak lapang sebelum pasar atas."

"Terima kasih, Bu."

Sekar kembali ke motor. Langit di atas Pegunungan Batu berubah ungu kelabu. Kabut tipis mulai menggantung di pucuk-pucuk pohon.

Ia menyalakan radio kecil miliknya dan menyetel suara rendah. Berita itu masih diulang di beberapa gelombang, dipotong statis, disambung komentar yang sama tidak yakinnya.

Sekar memasukkan botol air ke box, memeriksa tali, lalu menarik napas.

Di belakangnya, Kota Watu dan pelabuhan semakin jauh.

Di depannya, jalan naik ke tempat yang mungkin bisa menyelamatkannya, atau menelannya jika ia salah memilih.

Ia menurunkan kaca helm dan menyalakan motor.

Di radio, penyiar mengulang kalimat yang membuat semua persiapan Sekar terasa belum cukup.

Jepang sedang tenggelam.

1
Nana Nana
agak aneh ceritanya kalo memang bertahan ngapain orang yang dikenal dikampung neneknya ditinggalin dan ngak ngajak ikut pergi kalo tempatnya aman ngapain harus pindah lagi/Sweat/
Nana Nana
sayangny bukan orang kaya karna persiapan pun gak banyak apalagi ruangnya cuma buat untuk penyimpanan
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
berasa beban banget/Chuckle/padahal lebih baik prakteknya daripada mikirin teorinya kar sekar🥱ketika hari H tiba boro2 mo mikirin teorinya yg ada praktek bertahan hidup yg di butuhkan, dg karakter Sekar yg kaku gitu jadi ikutan berapa beratnya beban hidup itu/Facepalm/
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
keren banget min/Rose/
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
ko bikin sedih y🥹jadi inget rumah
Jhon Travolta
alurnya kelihatannya sangat bagus,..tp jujur, aku belom baca novelnya, karena up date alurnya masih termasuk sedikit,..tanggung klo aku baca,..tapi GK usah kwatir, ini novel akan tetap jadi favorite di galeri apk ku ini. Ok semangat untuk memperbanyak up date tan nya...
Andira Rahmawati
cerita yg bagus..👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!