"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jantung Almeera rasanya baru saja merosot sampai ke mata kaki. Hembusan angin sore Jakarta yang biasanya terasa hangat mendadak membekukan aliran darahnya. Di depannya, Sophia berdiri dengan mata menyipit tajam, menuntut penjelasan. Ratu gosip dengan followers terbanyak se-SMA Bina Bangsa itu adalah orang terakhir di muka bumi yang boleh melihat mereka berdua di sini.
"Gue tanya," ulang Sophia, suaranya melengking curiga. "Kalian ngapain di depan butik pengantin? Jauh-jauh dari sekolah lagi."
Otak Almeera yang biasanya cepat merespons, kini blank total. Ia membuka mulutnya, tapi hanya udara kosong yang keluar. Mati gue. Mati. Besok berita 'Ketos dan Drummer NOISE Nikah Muda' bakal jadi headline di mading sekolah!
Namun, sebelum Almeera benar-benar pingsan berdiri, sosok jangkung di sebelahnya bergerak dengan santai.
Akram menyisir rambut depannya ke belakang dengan jari, lalu memasang senyum ramah andalannya—senyum manis berwibawa yang sering ia gunakan untuk meluluhkan guru BK. Bahunya rileks, sama sekali tidak memancarkan kepanikan.
"Nyari sponsor pensi," jawab Akram tenang, suaranya mantap tanpa nada ragu sedikit pun.
Sophia mengerjapkan mata. "Sponsor pensi? Di butik gaun pengantin?"
Akram mendengus pelan, seolah pertanyaan Sophia adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar. "Butik ini punya salah satu alumni SMA kita, Phia. Dia donatur rutin tiap tahun. Bastian lagi ngurus proposal ke kafe depan, gue bagian lobi yang di sini. Namanya juga Ketua OSIS, harus turun tangan langsung."
Almeera menoleh menatap Akram dengan rahang nyaris jatuh. Gila. Kebohongan itu meluncur begitu mulus dan sangat masuk akal dari mulut cowok ini.
Sophia tampak mulai termakan penjelasan Akram. Ekspresi curiganya sedikit mengendur. "Oh... gitu. Terus, Almeera ngapain bareng lo?"
"Nggak bareng!" sahut Almeera, akhirnya menemukan kembali suaranya. Ia menatap Sophia dengan wajah galak yang dibuat-buat, menutupi debaran jantungnya yang masih ugal-ugalan. "Gue habis ngambil pesenan baju nyokap gue! Terus gue lagi nunggu ojek online di sini."
Akram memutar bola matanya, menyempurnakan drama mereka. "Nunggu ojol apanya? Lo sengaja kan berdiri di deket motor gue, niat mau nendang ban motor gue lagi kayak minggu lalu? Ngaku lo."
"Dih! Pede gila lo!" Almeera langsung tersulut, kali ini amarahnya bukan akting. "Ngapain juga gue ngurusin motor lo? Ojol gue emang titik jemputnya di sini, si mata empat!"
"Udah, udah, stop!" Sophia mengangkat kedua tangannya, memisahkan mereka sebelum keributan lebih besar terjadi. Ia menghela napas panjang. "Ya ampun, gue kira kalian ada skandal apa gitu. Habisnya tumben banget kalian berduaan nggak saling cakar. Ya udah, Al, ojol lo mana? Gue bawa mobil nih, lo bareng gue aja sekalian."
Almeera buru-buru mengangguk. "Boleh! Yuk cabut sekarang. Udara di sini makin bau bangkai kalau ada dia."
"Ati-ati di jalan, Phia. Bawa temen lo ini ke bengkel aja, kayaknya otaknya butuh di-tune up," balas Akram santai sambil memakai helmnya.
Almeera mengacungkan jari tengahnya dari balik punggung Sophia, yang hanya dibalas Akram dengan tawa tertahan dari balik kaca helm, sebelum motor sport hitam itu membelah jalanan ibu kota.
Begitu mobil Sophia melaju menjauhi area butik, Almeera menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membuang napas yang sejak tadi ia tahan. Aman. Tapi ia tahu, ini baru permulaan dari ribuan kebohongan yang harus ia susun rapat-rapat.
Enam hari berlalu layaknya kedipan mata yang terasa seperti mimpi buruk.
Tahu-tahu, hari Minggu pagi sudah tiba. Tidak ada pesta besar-besaran. Hanya ada dekorasi bunga melati putih sederhana di ruang tamu rumah Akram, sebuah meja kecil yang ditutupi taplak putih, dan dua keluarga inti yang duduk tegang.
Almeera duduk bersimpuh di atas karpet permadani. Ia mengenakan kebaya putih tulang yang seminggu lalu ia benci setengah mati. Tangannya dingin seperti es, meremas saputangan sutra di pangkuannya.
Di sebelahnya, duduklah sang Ketua OSIS.
Hari ini, Akram tidak memakai seragam putih abu-abu atau jaket kebanggaannya. Cowok itu mengenakan setelan jas putih yang senada dengan kebaya Almeera, lengkap dengan peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya. Sialnya, Almeera harus mengakui dalam hati... Akram terlihat luar biasa tampan dengan pakaian ini. Aura menyebalkannya seolah menguap, digantikan oleh karisma pria dewasa yang membuat Almeera tidak berani menatap wajah cowok itu lama-lama.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Almeera Azzahra binti Hendra Kusuma, dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara bariton Akram menggema tegas, lancar, dan menggetarkan seluruh ruangan. Tidak ada pengulangan. Hanya satu tarikan napas.
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah!"
Kata sakti itu terucap, disusul oleh lantunan doa. Almeera menunduk, matanya memanas. Antara terharu melihat papanya yang menangis diam-diam, dan meratapi nasib masa remajanya yang baru saja direnggut paksa oleh sebuah kata "Sah".
Kini, tiba saatnya pemasangan cincin.
Akram memutar tubuhnya menghadap Almeera. Wajah mereka berhadapan begitu dekat. Akram mengambil sebuah cincin platina bertahtakan satu berlian kecil dari kotak beludru merah. Ia meraih tangan kanan Almeera. Tangan cowok itu terasa hangat, sangat kontras dengan jari-jari Almeera yang sedingin es.
Saat Akram menyematkan cincin itu ke jari manis Almeera, kilatan kamera dari fotografer keluarga menyambar-nyambar. Semua orang tersenyum bahagia. Namun, di balik senyum tipis memukau yang ditampilkan Akram di depan kamera, cowok itu menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Almeera.
"Tangan lo dingin banget. Grogi ya nikah sama idola sekolah?" bisiknya, suaranya sangat pelan, bergetar menahan tawa.
Sisi romantis yang baru sedetik lalu mampir di hati Almeera hancur berkeping-keping. Ia memelototi Akram dengan senyum tertahan yang terlihat seperti orang sakit gigi.
Kini giliran Almeera yang menyematkan cincin ke jari manis Akram. Ia sengaja menekan cincin itu kuat-kuat melewati buku jari Akram sampai cowok itu sedikit meringis.
"Jangan kepedean," balas Almeera berbisik tajam sambil memamerkan deretan giginya ke arah kamera. "Gue cuma lagi mikir, habis ini gue harus mandi kembang tujuh rupa buat buang sial."
Begitulah. Dengan bisikan penuh dendam dan senyum palsu ke arah kamera, Almeera Azzahra, drummer galak SMA Bina Bangsa, resmi menjadi istri sah dari Akram Pradana, musuh bebuyutannya sendiri.
......................
Senin Pagi.
"Tahan napas, Al. Bersikap normal. Lo cuma anak SMA biasa."
Almeera berbicara pada pantulan dirinya di cermin toilet perempuan. Ia menarik kerah seragamnya, memastikan kalung perak panjang di lehernya tertutup rapat oleh dasi sekolah. Di ujung kalung itu, tersembunyi cincin kawinnya. Menyimpannya di jari sama saja dengan bunuh diri secara sosial, jadi ia memilih menyembunyikannya di balik seragam, bersentuhan langsung dengan kulit dadanya yang sedari tadi berdebar tak karuan.
Setelah membasuh wajah, Almeera memantapkan langkahnya keluar dari toilet, berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Ia baru saja akan berbelok di dekat mading utama ketika sebuah tubuh tegap menabrak bahunya cukup keras.
"Aw! Kalau jalan pakai ma—"
Ucapan Almeera terputus saat aroma mint maskulin itu menginvasi indra penciumannya. Akram berdiri di depannya, sedang memegang setumpuk map merah. Di belakangnya, berdiri Heera Valencia.
Heera. Mantan pacar Akram waktu kelas sepuluh yang cantiknya setara artis ibu kota. Cewek dengan rambut ikal terurai dan suara selembut kapas itu sedang memegang lengan seragam Akram dengan sangat akrab.
"Eh, sori, Almeera. Lo nggak apa-apa?" tegur Heera lembut, meski matanya menatap Almeera dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang membuat Almeera muak.
Almeera melirik tangan Heera yang masih bertengger manis di lengan Akram, sebelum mengalihkan pandangannya pada wajah suaminya itu. Suami. Cih, menyebut kata itu di dalam hati saja membuat perut Almeera mual.
Akram menatap Almeera dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Tidak ada senyum jahil, tidak ada kilatan menantang. Hanya tatapan tenang seorang Ketua OSIS yang sedang digandeng oleh primadona sekolah.
Entah kenapa, ada sengatan aneh di dada Almeera. Bukan cemburu, Almeera buru-buru menyangkalnya. Ia hanya merasa... kesal. Semalam cowok ini memegang tangannya di depan penghulu, dan pagi ini cowok yang sama membiarkan mantannya bergelayut manja di koridor. Dasar cowok sinting, makinya dalam hati.
"Gue nggak apa-apa. Mata gue masih berfungsi, nggak kayak kalian berdua yang jalan sambil nempel kayak perangko. Awas nabrak tiang," sindir Almeera ketus.
Heera tersenyum maklum. "Almeera ini selalu blak-blakan ya, Kram. Nggak berubah dari dulu."
Akram hanya tersenyum tipis merespons Heera, lalu kembali menatap Almeera. Saat pandangan mereka beradu, mata Akram tanpa sengaja turun ke arah pangkal leher Almeera. Seragam cewek itu sedikit berantakan karena tabrakan tadi, membuat ujung kalung peraknya mengintip keluar dari balik kancing yang terbuka setengah.
Mata hitam Akram menyipit sedetik. Ia tahu persis apa yang menggantung di ujung kalung itu.
Tiba-tiba, Akram melepaskan lengan Heera dengan halus, melangkah maju satu tindak mendekati Almeera. Heera mengerutkan kening bingung. Almeera refleks mundur, punggungnya menabrak papan mading.
"Lo... ngapain?" desis Almeera panik, melirik ke sekeliling koridor yang mulai ramai.
Akram tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya yang besar, dan dengan gerakan yang begitu natural namun mengintimidasi, jari-jarinya yang hangat merapikan kerah seragam Almeera, menutupi kembali kalung perak itu dengan sempurna.
Sentuhan singkat di leher itu mengirimkan aliran listrik kecil ke seluruh tubuh Almeera. Napasnya tertahan.
"Seragam lo berantakan, Al," ucap Akram dengan suara baritonnya yang tenang, namun ada kilat kepemilikan rahasia di kedalaman matanya yang hanya bisa dibaca oleh Almeera. Akram menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya. "Dan tolong, barang berharga itu disimpen yang bener. Nanti hilang."
Sebelum Almeera sempat mencerna atau membalas ucapan itu, Akram sudah menarik tubuhnya kembali menjauh. Ia menoleh pada Heera dengan senyum ramah biasa. "Ayo, Ra. Ruang OSIS udah nunggu."
Akram berjalan melewati Almeera begitu saja, diikuti Heera yang menatap Almeera dengan pandangan penuh tanda tanya.
Almeera berdiri mematung di depan mading. Telinganya memerah sempurna. Tangannya perlahan naik, meremas kerah seragamnya sendiri di tempat jari-jari Akram baru saja menyentuhnya. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari ketukan double pedal drumnya.
Aturan ketiga. Jangan sampai jatuh cinta.
Almeera memejamkan mata erat-erat, merutuki dirinya sendiri. Mengapa kata-kata peringatan dari Akram itu kini justru terdengar seperti sebuah tantangan yang sangat berbahaya?