Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Mengejar
Napasnya terengah saat berhasil memasuki satu taksi yang kosong.
"Ke bandara Soekarno-Hatta ya, pak."
Si supir mengernyit menatap bocah dengan seragam SMA yang begitu panik—sambil menjalankan mobilnya. "Serius, Mbak? Dari sini ke bandara bisa sampe tiga jam perjalanan loh."
"Saya lagi ngejar orang, pak, jadi saya buru-buru. Bapaknya bisa ngebut, kan?"
“Saya usahain, Mbak. Tapi kita liat jalanan ya… ini Jagorawi suka padet.”
Arinta melihat jam tangan yang menunjukkan pukul setengah tiga sore, yang dimana tadi ia menerima telepon dari Tama sekitar pukul setengah dua lewat, berarti hampir satu jam ia berlarian mencari taksi.
"Nggak apa-apa mbak, kalo kita kejebak macet, berarti orang yang mbak kejar juga sama kayak kita. Emang resiko sih, Mbak."
"Oh iya, melipir isi bensin dulu ya, mbak."
Arinta masih berusaha mengatur napas, ia sudah pasrah dengan keadaan. Walaupun ia sebelumnya mengatakan kalo dirinya tidak akan mau mengubah takdir siapapun ditahun ini, tapi hati kecilnya ternyata menentang itu.
"Pak... kalo stasiun jam segini padet juga ya?" tanya Arinta mulai resah karena antrian masih ada satu mobil lagi.
"Wah, lebih para itu, Mbak. Penumpangnya gila-gilaan, saya saranin jangan deh. Apalagi mbaknya masih gadis, takut kenapa-kenapa, kegencet atau apalah gitu."
Jalanan sudah mulai sedikit padat kendaraan, padahal mereka baru memasuki Jalan Raya Pajajaran. Suara klakson mobil bersahutan dari berbagai arah.
Sementara itu, Arinta malah teringat soal surat yang diberikan Andre melalui Diah. Ia mengambil itu dari sakunya, dan membacanya disituasi yang sepertinya tidak tepat.
Gua ngga tau apa yang ngebuat lu tiba-tiba ngejauhin gua. Tapi kalo emang bener gua berbuat kesalahan, ya gua minta maaf. Kalopun selamanya lu mau nyuekin gua silahkan. Tapi kalo lu butuh bantuan, jangan ragu buat panggil gua. Sebut aja nama gua tiga kali, kalo gua ngga muncul-muncul berarti lagi sibuk, haha.. Jaga diri baik-baik, jangan sampe kejadian awal tahun waktu itu kejadian lagi. Gua ngga bisa jamin kalo gua bisa nyelametin lu lagi kayak waktu itu.
Andre.
"T-tunggu? Maksudnya? Terus tulisan dibuku itu maksudnya apa?" batin Arinta.
Arinta semakin gelisah kala taksi yang ia tumpangi tidak bergerak sama sekali sejak 5 menit terakhir. Memang, keputusannya menyusul sang ibu tanpa petunjuk apapun adalah hal yang gegabah dan mungkin akan berakhir sia-sia. Ia baru menyesalinya sekarang. Apakah ia putar balik saja dan membiarkan takdir berjalan sesuai rencana? Lagi pula, amat sangat mustahil untuk melanjutkan perjalanan. Otak kecilnya tidak berekspektasi kalau ada begitu banyak kendaraan dan manusia disepanjang jalan. Pikirnya manusia dizaman dulu masih sedikit, jadi mungkin akan mudah menemukan Fara dan ibu.
"Ah, goblok lu, Ta! Harusnya lu nyari petunjuk dulu!" Arinta memukul-mukul kepalanya tanpa sadar.
"Mbak, mbak, macet gini wajar kok mbak, nggak usah dipukul gitu kepalanya," si supir terlihat khawatir.
Suara mereka teredam dengan bisingnya kendaraan dan juga klakson, yang pada akhirnya kegaduhan itu bertambah parah kala sesuatu terjadi didepan sana—entah apa.
Arinta melihat ke jendela, banyak orang-orang diluar sana yang turun dan berkerumun ke area depan. Ia yang ikutan kepopun jadi ikutan turun.
"Pak, ada apa sih? Saya turun sebentar ya?"
"Kayaknya kecelakaan deh, Mbak."
"Nggak mungkin ibu, kan?" gumam Arinta sesaat setelah menutup pintu taksi.
Ia membelah kerumunan secara paksa dengan tubuh kecilnya, sampai akhirnya terlihat seseorang terbaring lemah dipinggir jalan—yang dikerubungi oleh orang-orang, dengan cairan kental berwarna merah yang mengalir dari kepalanya.
Arinta tidak bisa tak shyok melihatnya, orang yang sangat familiar itu...
"Andre..." histerisnya sambil mendekat dan menangkup wajah yang penuh luka itu.
"Hah... K-kenapa? Kenapa?" suara Arinta terdengar bergetar dengan tangis yang berusaha dibendung.
Andre masih dalam keadaan setengah sadar saat Arinta meminta pertolongan pada orang disekitar yang hanya mempertontonkan mereka.
"Udah dipanggilin ambulans, Mbak."
Mustahil ambulans bisa sampai dijalanan padat merayap begini.
Arinta mendekat saat Andre sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Ibu lu disini," lirih Andre yang teramat lirih.
"Maksud lu apa?!" balas Arinta dengan lirih.
"Andre!!! Lu gila ya?! Bawa motor ugal-ugalan dijalan raya?! Kenapa lu bisa kayak gini!!" Depa—teman Andre, menyingkirkan Arinta begitu saja.
Rehan—teman Andre juga, yang berada diatas motor menginstruksikan untuk mengangkat Andre keatas motornya. Mereka bertiga pergi dengan satu motor.
"Ini semua gara-gara lu ya, cewek nggak tau diri!"
Cercaan dari lelaki yang Arinta kenal sebagai Ipan—alias kawannya Andre, sebelum pergi dengan motornya membuat ia terdiam, apa maksudnya gara-gara dia?
"Mbaknya kenal sama laki-laki yang tadi kecelakaan?"
Arinta kembali tersadar dari tatapan kosongnya saat seseorang menanyainya, seseorang yang sedari tadi Arinta kejar.
"Ibu?"
Nanda terlihat kebingungan dipanggil ibu dengan tatapan sendu seperti itu.
"Eum.. Mbak? Mbak kenal sama laki-laki tadi?" tanyanya lagi.
Arinta berusaha merebut kembali kesadarannya sambil mengusap air mata. "Kenal. Dia temen saya."
Nanda terdiam sejenak. Wajahnya pucat.
“Saya…” napasnya tersendat. “Saya yang nyuruh supir taksinya ngebut.”
Ia menunduk, seolah tak sanggup menatap Arinta.
“Motornya nyalip… terus semuanya kejadian cepat banget, Mbak. Saya nggak nyangka bakal jadi begini.”
Samar Arinta mendengar bisikan-bisikan dari orang disekitarnya.
"Supir truknya tadi kabur, ya?"
"Padahal bisa separah itu gara-gara truknya ya?"
"Itu blind spot, jadi supir truknya ngga salah lah."
"Tapi kan seengganya punya empati."
"Emang dianya kebut-kebutan, kan?"
"Anak brandal udah biasa begitu mah."
***