NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DAIKI HILANG KENDALI

"Apa yang terjadi?!" teriak Daiki dengan suara bergetar hebat. Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya belum sepenuhnya teratur, sarat akan kepanikan yang siap meledak malam itu juga.

Kedua mata Daiki yang membelalak lebar langsung terkunci pada pemandangan di dalam kamar, Yukari duduk di atas futon dengan lutut berbalut perban, sedangkan Akira—sahabatnya sendiri—berlutut tepat di hadapan gadis itu.

Pikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Daiki langsung hilang kendali

Brak!

Daiki menerjang maju. Tanpa peringatan, ia langsung mencengkeram kerah kaos kebun Akira yang masih kotor dan belum sempat diganti sejak pulang kerja tadi. Daiki menyentak tubuh Akira memaksa pria itu terdorong kebelakang.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Daiki tepat di depan wajah Akira. Matanya merah padam "Kenapa Yukari bisa sampai seperti ini?! Apa yang kau perbuat padanya, hah?!"

Akira tidak melawan. Pria itu hanya diam membiarkan kerah bajunya dicengkeram kuat, menatap Daiki dengan sorot mata yang tetap tenang namun menyiratkan kelelahan yang amat sangat.

"Daiki, hentikan...!" teriakan serak dan lemas yukari memecah ketegangan di antara kedua pria itu.

Yukari, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, memaksakan dirinya bergerak dari atas futon. Lututnya menapak lantai rasa perih yang teramat sangat langsung menusuk. Namun ketakutan melihat Daiki yang salah paham membuat Yukari mengabaikan rasa perih itu. Dengan kedua tangannya yang gemetar, ia memegang pergelangan tangan Daiki.

Ia mencoba sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan Daiki dari kaos Akira.

"Daiki, lepas... Hentikan, kubilang!" tangis Yukari pecah lagi, suaranya parau dan terisak. "Bukan Akira-san... Bukan dia! Dia yang menyelamatkanku! Hentikan, Daiki!"

Kata-kata Yukari bagaikan petir di malam hari bagi Daiki. Daiki menoleh perlahan ke arah Yukari, menatap wajah gadis itu yang kini sudah kembali basah oleh air mata yang mengalir deras. Wajah Yukari tampak begitu ketakutan, badannya gemetar hebat sampai hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri.

Glek.

Daiki menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah langsung menusuk dadanya begitu menyadari bahwa tebakannya salah besar. Ia melepaskan kaos Akira sepenuhnya, lalu dengan cepat berlutut di hadapan Yukari.

"Yukari..." suara Daiki berubah drastis, menjadi begitu parau dan bergetar.

Daiki mengangkat kedua telapak tangannya yang hangat. menyentuh kedua belah pipi Yukari, menghapus air mata yang terus meleleh di sana. Sedetik kemudian, Daiki menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mendekap sahabatnya itu dengan sangat erat.

Akira yang terduduk di antara mereka hanya diam memperhatikan. Dari sorot mata Daiki, Akira bisa melihat dengan sangat jelas ketakutan terbesar yang sedang melanda jiwa sahabatnya itu. Daiki benar-benar takut kehilangan Yukari.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Yukari? Katakan padaku..." bisik Daiki dengan suara tercekik, masih mendekap erat kepala sahabatnya di dadanya.

Yukari mencoba menarik napas di sela tangisnya "Hi-Hiroshi...." ucap Yukari terbata-bata membuat suaranya terdengar begitu tersiksa saat berbicara.

"Aku... aku sudah menyuruhnya untuk duduk diteras, Tapi... tapi diam-diam . Dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu..."

Napas Yukari tercekat. Tubuhnya semakin gemetar di dalam pelukan Daiki. "Dia... dia mau melecehkanku, Daiki..." Rintihan itu lolos begitu saja dari sela-sela jarinya.

Mendengar kata "melecehkan" keluar dari mulut Yukari, tubuh Daiki langsung menegang kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir seketika, berganti dengan hawa sedingin es yang menjalar ke seluruh sumsum tulangnya. Rahang Daiki mengatup begitu rapat hingga persendiannya memutih.

Matanya yang semula penuh dengan air mata cemas, kini berubah menjadi kilatan amarah murni yang hitam dan mematikan. Pria sialan itu benar-benar sudah melintasi batas yang tidak akan pernah dimaafkan oleh Daiki.

Tanpa suara, Daiki melepaskan pelukannya secara perlahan. Wajahnya berubah menjadi datar dan dingin, ekspresi yang menandakan bahwa akal sehatnya sudah digantikan oleh dendam. Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang kaku, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamar.

Tujuannya hanya satu: Dapur.

Yukari yang melihat perubahan drastis Daiki langsung diserang kepanikan baru. Ia tahu betul watak sahabatnya jika sudah meledak marah. "Daiki.. kau mau kemana!!" yukari memanggil nya tapi pria itu terus berjalan lurus ke dapur, Yukari langsung menatap Akira dengan mata membelalak panik.

"Akira-san! Tolong, jangan sampai dia pergi!" seru Yukari dengan suara melengking panik, mencengkeram ujung kain futon. "Dia... dia pasti akan membunuh Hiroshi! Tolong cegah dia, Akira-san!"

Akira tidak membuang waktu. Tanpa menjawab, ia langsung membalikkan badannya dan berlari cepat mengejar Daiki.

Benar saja, langkah kaki Daiki sangat cepat. Dalam hitungan detik, pria itu sudah menuju pintu selasar samping dengan parang panjang ditangannya. Matanya lurus ke depan, napasnya terdengar seperti binatang buas yang sedang memburu mangsanya.

Tap! Tap! Tap!

Daiki berjalan kesetanan melewati halaman samping, menuju pintu pagar Namun, tepat sebelum kakinya berhasil melewati batas pagar halaman depan, Akira berdiri tegak di sana, menutup jalur keluar Daiki.

"Minggir, Akira!" bentak Daiki, suaranya bergemuruh rendah penuh ancaman. Tangannya yang memegang parang terangkat sedikit. "Jangan halangi aku, Bajingan itu harus mati malam ini juga!"

Akira tidak bergeser satu senti pun. Tatapannya menembus langsung ke dalam manik mata Daiki yang sedang berapi-api.

"Dia butuh kau sekarang, Daiki," ucap Akira dengan nada suara yang sangat tenang, namun sarat akan penekanan yang menusuk dalam.

"Kalau kau pergi sekarang mengejar bajingan itu, lalu bagaimana dengan Yukari? Siapa yang akan menjaganya di dalam?!" suara Akira naik satu oktav, menembus dinding kemarahan Daiki. "Kau mau meninggalkannya sendirian dalam kondisi ketakutan dan trauma di rumah yang pintunya sudah rusak itu? Jawab aku!"

Pertanyaan itu menghantam dada Daiki layaknya godam besar. Daiki tertegun. Napasnya yang tudak beraturan mendadak tertahan di tenggorokan.

"Jangan bertindak gegabah hanya karena menuruti amarahmu," lanjut Akira, suaranya kembali melembut namun tetap tegas. "Pikirkan keselamatan Yukari terlebih dahulu."

Daiki berdiri mematung di tengah halaman. Parang di tangannya perlahan-lahan turun ke samping tubuhnya. Kepalanya yang panas mulai dipaksa mencerna kata-kata Akira. Pandangannya tertunduk, buah apel yang sudah hancur terpijak di atas tanah.

Apel-apel itu—hadiah yang dipetik Akira dengan penuh semangat dari kebun untuk menyenangkan hati Yukari—kini lumat dan kotor di atas tanah, pertahanan emosi Daiki runtuh sepenuhnya. Visual apel yang hancur itu seolah menjadi cerminan dari apa yang hampir saja terjadi pada kesucian dan senyuman Yukari malam ini jika Akira tidak datang tepat waktu.

Perlahan, Daiki mengangkat wajahnya lagi. Kali ini, ia benar-benar memperhatikan kondisi fisik sahabat di depannya itu dengan seksama.

Di bawah temaram cahaya malam, Daiki melihat robekan horizontal yang cukup dalam di pelipis kanan Akira, memperlihatkan darah segar yang masih merembes keluar. Ia juga melihat noda darah yang menetes di kaos Akira, serta bayangan pintu depan rumah yang kini posisinya ringsek di ujung pandangannya.

Semua bukti fisik itu berbicara tanpa suara kepada Daiki. Semua kekacauan itu memberi tahu Daiki sebuah kebenaran yang mutlak: Akira sudah habis-habisan melindungi Yukari.

Kemarahan Daiki yang membara menuntut balas dendam mendadak luluh total, berganti dengan rasa haru, lega, dan rasa bersalah yang teramat sangat besar karena sempat menuduh sahabatnya tadi.

Klentang!

Parang panjang di tangan Daiki terlepas begitu saja, jatuh menghantam tanah.

Kedua lutut Daiki mendadak lemas. Pria itu kehilangan seluruh kekuatannya dan berakhir terduduk pasrah di atas batas tanah halaman rumah. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap apel-apel yang hancur. Bahunya mulai bergetar hebat. Sudut matanya yang merah kini tak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi ia tahan.

Akira terdiam melihat daiki yang begitu hancur. Pelan-pelan ia mendekat. Tangan kanan Akira menepuk-nepuk bahu Daiki memberikan kekuatan tanpa perlu banyak kata.

Daiki mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Akira dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang tak terhingga. Dengan tangan yang gemetar, Daiki membalas tepukan di bahu Akira, meremas kain kaos sahabatnya itu dengan cengkeraman yang kuat.

"Terima kasih, Akira... Terima kasih banyak..." ucap Daiki dengan suara yang sangat gemetar dan pecah oleh tangisan. "Kau... kau sudah melindungi satu-satunya milikku yang paling berharga di rumah ini..."

Dadanya sesak oleh bayangan buruk yang sempat melintas di benaknya. "Tidak bisa kubayangkan... sungguh tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya jika kau tidak ada di sini Akira..." Daiki menutup wajahnya dengan kedua tangan, meluapkan seluruh rasa syok yang menghimpit dadanya sejak tiba di rumah itu.

Akira tetap terdiam di posisinya, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan seluruh beban emosinya terlebih dahulu selama beberapa saat. Setelah dirasa tangisan Daiki mulai mereda dan napasnya kembali teratur, Akira akhirnya membuka suara.

"Masuklah," ucap Akira lembut namun penuh wibawa. "Temani Yukari di dalam. Dia membutuhkanmu."

Akira menjeda kalimatnya sejenak, menatap mata Daiki yang masih basah. "Hapus air matamu sekarang. Jangan sampai kau yang justru terlihat paling hancur di hadapannya. Kau harus kuat agar dia bisa merasa aman."

Daiki mengangguk pelan. Ia menyeka sisa-sisa air mata di pipinya menggunakan lengan baju dengan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa ketegaran dalam dirinya.

Akira ikut mengangguk, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya. Bersama-sama, kedua pria itu bangkit berdiri dari atas tanah halaman dan berjalan berdampingan kembali menuju ke arah selasar samping rumah. Suasana di antara mereka kini sudah jauh lebih tenang

Saat mereka berdua baru saja menginjakkan kaki di lantai kayu selasar samping, Daiki menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Akira, menatap prihatin pada luka di wajah pria itu yang masih basah.

"Obati keningmu, Akira. Lukamu kelihatan cukup dalam," ucap Daiki dengan nada suara yang penuh perhatian seorang sahabat.

Akira mengangguk kecil sebagai jawaban. "Aku akan membereskan kekacauan di ruang tengah ini dulu."

Daiki mengangguk paham,Tanpa membuang waktu lagi, Daiki berjalan lurus menuju ke arah kamar Yukari.

Sementara itu, Akira menarik napas dalam-dalam. Di tengah keheningan ruang tengah yang berantakan, ia mulai memunguti barang yang rusak merapikan benda ke posisi nya semula, bersiap menghadapi sisa malam yang panjang.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!