Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Cari Mati
Rasa canggung itu begitu kentara saat makan malam tiba, setiap makanan yang masuk ke dalam mulut Anjas rasanya sulit sekali ditelan karena tatapan Gerry yang tak lagi ramah kepadanya. Dia khawatir kakak sepupunya tahu kalau dia bersekongkol dengan Mona, dan semua yang terjadi hari ini adalah ulahnya.
"Njas, kira-kira kapan kamu akan lulus?" tanya Gerry tiba-tiba setelah anak-anaknya selesai makan dan masuk ke dalam kamar. Anjas kesulitan untuk mengatur napas, dan perlahan mengangkat kepalanya.
"Kurang lebih sama dengan Emeery, Kak," jawab Anjas terbata.
"Biasakan memanggilnya dengan sopan, bagaimana pun sekarang dia istri dari Kakak sepupumu!" tegas Gerry dengan penuh penekanan. Seketika suasana di meja makan tampak cukup panas. Mereka melirik satu sama lain, termasuk Emeery yang bertanya-tanya, ada apa gerangan? Kenapa Gerry tiba-tiba menegur Anjas.
Anjas menelan ludahnya susah payah, sepertinya dugaannya benar. Gerry tahu semuanya.
"Baik, Kak, aku minta maaf," ucap Anjas sambil menunduk.
"Bagus, kamu sudah selesai makan?" tanya Gerry lagi, kini dia meletakkan sendok dan garpunya, fokus menatap objek yang dia ajak bicara.
Pertanyaan sederhana itu makin membuat Anjas gelagapan. Sebenarnya dia sudah tak berselera dari tadi, tapi tak memiliki keberanian untuk mendahului siapa pun.
Anjas mengangguk pelan.
"Kalau begitu kamu boleh membereskan barang-barangmu sekarang!"
Deg!
Kepala Anjas reflek terangkat hingga tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus.
"Terserah kamu mau pergi kapan, yang penting besok pagi aku sudah tidak melihatmu di rumah ini," lanjut Gerry dengan tegas, tak ada yang menyambar seakan tak ingin ikut campur.
"Tapi kenapa, Kak?" tanya Anjas dengan wajah polos yang membuat Gerry tertawa sumbang.
"Kamu masih tanya? Belum sadar dan perlu aku beberkan? Jika iya, maka kamu harus siap untuk menerima konsekuensinya, aku akan menagih uang selama kamu tinggal di sini, makan, minum, pakaian, fasilitas kamar dan lain-lain. Kamu mau aku melakukannya?"
Glek!
Anjas kalah telak, dia mencari mati karena mengkhianati kepercayaan keluarga Gerry hanya karena beberapa lembar uang dari Mona.
Anjas menatap Jerry dan Anggun, berusaha mencari pembelaan. Namun, ternyata sepasang suami istri itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Terakhir dia menatap Emeery, tapi gadis itu malah asyik makan. Tamatlah riwayatnya hari ini, sekarang ke mana dia akan pergi?
***
Di rumah sakit.
"Dokter Mona, Anda dipanggil oleh Dokter Miranda," ucap salah seorang suster rumah sakit, tempat di mana Mona praktek. Wanita itu langsung mengangguk, karena yang memanggilnya itu adalah dokter senior.
Dia melangkah melewati lorong dengan gontai, bukan hanya karena sakit hati, tapi hari ini pasien benar-benar sangat banyak.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk!" Suara dari dalam menginstruksikan. Mona langsung membuka pintu dan dipersilahkan untuk duduk.
"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke mari?" tanya Dokter Miranda, melipat kedua tangannya di depan dada.
Mona terdiam, mengingat kesalahannya hari ini yang pergi meski tak mendapat izin dari pihak rumah sakit.
"Diammu aku artikan iya."
Wanita kepala lima itu menghela napas, menyayangkan sikap Mona yang seenaknya akhir-akhir ini. "Sebagai seorang dokter yang sudah disumpah. Sikapmu benar-benar keterlaluan, Dokter Mona! Kamu mengabaikan tugasmu untuk sesuatu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kamu tahu sekacau apa tadi di rumah sakit?"
"Ma—maafkan saya, Dok," ucap Mona terbata sambil memilin jemarinya. Dia sadar salah, meninggalkan pasien-pasiennya yang menunggu dengan penuh harap.
"Sudah beberapa kali kamu seperti ini. Maaf saja tidak cukup, jika kamu menyesal menjadi dokter, sebaiknya katakan saja sejujurnya!"
Mona menggelengkan kepalanya segera. Menjadi dokter adalah impiannya sejak dulu, dia tidak mungkin menyesal. Namun, masalah percintaan membuat konsentrasinya terganggu. Sungguh dia tidak rela Gerry menjadi milik orang lain.
"Maafkan saya, Dok, saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Benarkah? Apakah perkataanmu bisa saya pegang?" tanya Dokter Miranda sambil menyipitkan matanya.
Mona langsung mengangguk tanpa ragu. Meski dia tidak tahu apa yang menunggunya di depan sana, tapi yang terpenting sekarang karirnya masih selamat.
"Oke, sekarang saya mengeluarkan SP kedua untuk kamu. Kalau satu kali lagi kamu kabur-kaburan, pihak rumah sakit akan mengeluarkanmu dari sini—tanpa hormat!"
Glek!
Mona hanya bisa menelan ludahnya dengan berat. Dia mengusap wajahnya beberapa kali setelah keluar dari ruangan itu, dan makin frustasi saat mendapat telepon dari Anjas.
"Aku minta uangku sekarang!" tukas pemuda itu, karena dia sangat membutuhkannya.
"Aku sibuk!" balas Mona, rencana hari ini gagal. Masa dia harus tetap mengeluarkan uang.
"Hei, jangan menipuku! Aku mau uang yang kamu janjikan," teriak Anjas, tapi dengan cepat Mona mematikan panggilan tersebut hingga Anjas mengumpat.
"Si alan!!!"
Uang tidak dapat, dan sekarang dia malah terusir dari rumah yang menampungnya.