21+
Harap bijak memilih bacaan yah!
Semua kamu yang mengaturnya Sheva sayang. Nasib lelaki itu apakah hidup atau mati atau cacat semua tergantung dari sikapmu. Cukup mudah, jadilah gadis baik dan turuti semua kemauanku.
- Arion Caramont Nostra
Catat ini dipikiran anda tuan Arion yang agung! Baik lima tahun lalu maupun hari ini perasaan yang tersisa tetap sama yaitu rasa benci yang besar hingga ketulang tulangku!
- Shevanya Bernand
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali??!
Sudah dua hari Sheva tidak masuk bekerja, sebenarya dia bingung sebab terakhir Benjamin menelponnya untuk mengatakan bahwa surat pengunduran dirinya telah diurus lalu lelaki itu belum datang untuk mengunjungi Sheva kembali. Mungkin Bent sedang sibuk pikir Sheva, dan yang paling penting bahwa sudah dua hari ini Regas juga tidak datang untuk menjemputnya bukankah berarti benar perkataan Benjamin bahwa pengunduran dirinya telah diurus, tetapi masih ada kekuatiran dalam hati Sheva bagaimana dengan uang penalti yang jumlahnya besar itu. Saat Sheva sedang membereskan dapurnya tiba tiba pintu rumahnya dibuka dengan keras membuat Sheva terlonjak terkejut. "Tere??! Astaga kau membuatku terkejut saja!" Wajah pucat dan cemas Tere membuat perasaan Sheva campur aduk. "Ada apa Ter??" Sheva mengamit lengan Tere dan menyuruhnya untuk duduk dahulu.
Setelah Tere mengontrol nafasnya, dia menatap Sheva lurus lurus dan menggenggam tangan Sheva. "Shev, Bent berada di tahanan saat ini." Kalimat Tere seolah menghantam kepala Sheva dan dia berharap dia salah dengar. "Bent dan paman Armos terjerat kasus pemalsuan surat tanah." Tere melanjutkan kalimatnya, Sheva hanya tergugu jujur dia sangat terkejut dan bingung harus bereaksi seperti apa. Paman Armos yang juga adalah ayah Benjamin merupakan orang yang paling baik yang pernah Sheva temui dan mana mungkin paman Armos memalsukan surat tanah.
"Ki..kita pergi mengunjungi Bent dan paman Armos!" Sheva memakai mantel dan mengambil tas nya ketika dia sudah berhasil menguasai dirinya. Tere hanya menganggukkan kepalanya cepat dan menunggu Sheva untuk bersiap. "Ayo!" Sheva terburu buru untuk keluar rumah, begitu dia mengunci pintu rumahnya sebuah mobil sedan Lexus hitam berhenti di depan rumahnya. Dia dan Tere sempat bingung mobil siapa itu sampai pada 2 orang pria turun dari mobil itu.
"Tuan Paulo??" Sheva cukup terkejut mendapati Paulo datang kerumahnya bersama seorang pria yang dia ketahui juga berkerja pada divisi personalia itu.
"Nona Shevanya." Paulo tersenyum pada Sheva, "Maaf saya berkunjung tanpa memberi kabar."
"Siapa dia Shev?" Tere yang sudah duduk di dalam mobil kembali keluar karena bingung Sheva tiba tiba mendapat tamu berkunjung.
Paulo melirik Tere sekilas dan tersenyum lalu kembali berbicara dengan Sheva, "Saya sudah menerima surat pengunduruan diri nona Shevanya, sudah saya urus untuk prosesnya juga. Tetapi mengenai penalti yang nona Sheva belum bayarkan menghambat jalannya proses dan saya juga sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel nona tetapi tidak diangkat."
Kalimat yang paulo ucapkan serasa hantaman kedua untuk Sheva dihari ini, pantas saja hatinya selalu tidak tenang ternyata hal inilah yang akan menimpanya.
"Penalti sejumlah 64.800 euro beserta denda 1000 euro menjadi total 65.800 euro harus dibayarkan sekurang kurangnya dua hari dari sekarang. Saya menunggu itikad baik nona Sheva untuk melunasinya." Paulo mengucapkan hal tersebut dengan tenang tetapi Sheva yang mendengarnya mulai berkeringat dingin dan cemas. Dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu dan bahkan seluruh tabungannya tidak akan cukup.
"Saya permisi nona Shevanya, saya hanya ingin menyampaikan hal tersebut jika ada yang ingin di negosiasikan mohon menghubungi atasan yang berwenang."
Setelah Paulo mengucapkan kalimat terakhirnya dia berlalu dari rumah Sheva, Sheva juga tidak bodoh untuk mencerna kalimat Paulo bahwa dia ahrus bertemu Arion untuk mengurus hal ini. "Shev, bagaimana ini? Kenapa dendanya besar sekali???" Tere menjadi cemas dua kali lipat memikirkan dua sahabatnya terjerat masalah disaat bersamaan. Sheva hanya sanggup mengehela nafasnya, dia memandang Tere nanar.
"Kita kunjungi Bent dulu." Sheva menyimpan kunci rumah dalam tas nya, "Ter, jangan beri tau Bent persoalan ini. Biar aku menyelesaikannya sendiri." Sheva tersenyum dan Tere hanya memeluk Sheva erat.
****
"Aku juga tidak paham bagaimana surat tanah ayah yang dibuat atas namaku ternyata palsu. Ayahku juga sampai detik ini masih berembuk dengan pengacara keluargaku." Memakai baju tahanan, wajah Benjamin terlihat letih dan sedih.
"Siapa yang mengklaim properti milik keluargamu Bent?" Tere juga memasang wajah sedih dan cemasnya.
"Iya bagaimana mungkin paman Armos memalsukan surat tanah itu, bahkan beberapa properti itu sudah dimiliki oleh keluarga kalian sejak aku mengenalmu." Sheva menahan air matanya, dia sungguh merasa tidak tega Benjamin dalam kesulitan seperti ini.
Benjamin tersenyum pada Sheva dan Tere, dia memegang tangan Sheva lembut. "Kamu jangan terlalu kuatir, aku yakin ini akan cepat selesai." Lalu dia memandang Tere, "Aku tidak yakin siapa yang mengklaim properti kami Ter, aku hanya tau itu perusahaan konstruksi Caltoginore."
Sheva diam membeku mendengar ucapan Geo, menjadi sekretaris pribadi Arion sudah pasti dia mengetahui hampir seluruh induk anak perusahaan dibawah Nostra. Astaga ternyata dia dalang semua ini!! Sheva menahan amarah dan rasa kesalnya, dia pasti akan menyelesaikan ini tanpa harus menyeret sahabatnya.
"Astaga itu perusahaan besar dan masih berkolega dengan kantor tempat ku bekerja!" Tere memasang wajah putus asa karena dia tau pasti akan sulit untuk menang melawan sebuah perusahaan besar di pengadilan nanti. "Ada berapa propertimu yang di klaim mereka Bent??" Tere menatap nanar mata Benjamin.
Pria itu tersenyum pias, "Lima. Restoranku yang ada disini dan diluar kota, butik kak Tris, dan dua lahan pabrik milik ayahku."
"Butik kak Tris juga??? Bukankah kak Tris membeli itu dua tahun lalu dari agen properti resmi??!!" Sheva kali ini tidak lagi bisa menyembunyikan emosinya, sebab kakak tertua Benjamin yaitu kak Trisya juga pernah memberi Sheva pekerjaan paruh waktu saat masih berkuliah dan kak Tris adalah wanita yang paling baik dan bijaksana yang pernah Sheva kenal. Dia akan segera menyelesaikan ini dengan Arion, pasti! Sungguh pria br*ngsek itu keterlaluan sekali!!
Benjamin hanya tersenyum pasrah dan menghela nafas mendengar pertanyaan Sheva, "Aku hanya berharap ini cepat selesai. Maafkan aku Shev tidak bisa menjagamu sementara waktu." Benjamin membelai sayang kepala Shev, "Tere, kalian juga harus baik menjaga diri yah. Aku janji ini akan segera selesai dan kita akan berkumpul lagi nanti." Benjamin juga merangkul bahu Tere, menyatu berpelukan bertiga dengan Sheva hingga kedua gadis itu sedikit terisak sedih karena kondisi Benjamin.
****
Sheva memasuki lobby utama gedung Nostra, dia meminta Tere untuk mengantarkannya kesini dan tidak perlu menunggunya. "Aku tidak percaya secepat ini aku harus kembali kesini." Sheva menghela nafasnya dan berjalan gontai kearah meja resepsionis. Meski tag kartu karyawannya belum di kembalikan tetapi dia juga tidak membawanya saat ini, jadi meminta ijin melalui resepsionis adalah cara terbaik untuk bisa mengakses naik melalui lift. "Per..permisi aku ingin bertemu dengan tuan Arion." Seorang respsionis yang juga sudah mengenali wajah Sheva hanya tersenyum manis.
"Langsung saja nona Shevanya. Tuan Arion sudah menunggu." Sheva sempat tergugu dengan kalimat dari wanita resepsionis tersebut tetapi secepat itu juga dia kembali tersadar dan mengeratkan kepalan tangannya.
Sheva berjalan kearah lift gugup karena dia sudah melihat tuan Camily berdiri disamping pintu lift dan tersenyum seolah memang sudab menunggu kehadiran Sheva. Pria ini.. dia sudah menyiapkan dengan baik semua rencananya. Geram Sheva tatkala dia menaiki lift yang langsung juga di akseskan oleh Camily. "Silahkan nona Shevanya." Camily langsung menekan tombol pada lantai ruangan Arion.
Begitu lift sudah sampai dan terbuka dilantai ruang Arion, Sheva turun dan berusaha untuk mengatur nafasnya lalu mengetuk ruang Arion. Seperti biasa juga berapa kalipun Sheva mengetuk pintu, seolah sengaja Arion juga tidak pernah menjawabnya. "Permisi tuan Arion." Sheva membuka pintu secara perlahan dan akan masuk jika dia tidak ingin menunggu seharian di depan pintu. Saat Sheva masuk dia melihat Arion tengah sibuk berkutat dengan ponsel miliknya, pasti dia hanya pura pura sibuk atau bermain game saja! Dengus Sheva. "Tuan Arion." Sheva memanggil Arion sekali lagi baru pria itu mengadahkan kepalanya dan menatap Sheva tanpa dosa.
"Shevanya? Ada apa?" Wajah tanpa dosa Arion semakin membuat Sheva meradang tetapi sekuat hati dia menahannya.
"Ini persoalan kontrak kerjaku." Sheva menghela nafasnya, dia memang harus menyingkirkan harga dirinya sesaat. "Aku ingin membatalkannya dan kem.. kembali bekerja." Kalimat terakhir Sheva lebih terdengar seperti cicitan, meski dengan volume cukup kecil tetapi Arion mendengarnya jelas.
Arion mengulum senyum kemenangannya, dia tetap menjaga wibawa nya. "Oke aku terima." Arion berkata singkat dan langsung setuju membuat Sheva terkejut, "Ada lagi yang lain Shev? Jika tidak kamu boleh pulang dan besok pagi Regas akan kembali menjemputmu."
Sheva menggeleng kepalanya, tidak tunggu bukan begini rencananya. "Tuan Arion aku..." sheva menjadi gugup dia harua meminta penjelasan mengenai akusisi lahan dari salah satu perusahaan Arion, pria itu menaikkan alisnya seolah sudah tau dan menunggu kalimat Sheva selanjutnya. "Ini soal..."
"Soal apa Shev??" Arion menatap Sheva lurus.
" Soal akusisi lahan dari Caltoginore, bukankah itu perusaan anakan dari Nostra?"
"Sepertinya iya, ada apa dengan Caltoginore?." Arion seolah tidak berdosa menanyakan hal tersebut pada Sheva.
Arion yang terus mengulur ulur waktu dan merasa seolah tidak berdosa cukup meledakkan amarah Sheva hingga melupakan semua kalimat formalnya. "Aku rasa kamu cukup paham dengan maksudku Arion, kenapa tiba tiba kamu mengakusisi lahan milik keluarga Fazio?? Kamu melakukan ini dengan sengaja kan??!" Wajah Sheva terlihat masam dan menunjukkan terang terangan ketidaksukaannya dengan kalimat yang berintonasi tinggi.
Arion terkekeh setelah mendengar kalimat Sheva, "Aaah Shevanya,, terus terang aku sakit hati mendengar tuduhanmu." Arion melempar map keatas meja kerjanya dengan senyum yang masih beelum memudar. "Lahan itu telah lama menjadi milik Nostra sejak ayahku menjabat. Tetapi lahan dibebaskan untuk masyarakat golongan bawah. Tebak siapa yang mendapatkan lahan itu dengan cara licik??" Senyum Arion seolah mengejek. Sheva mengerutkan alisnya dan mengambil map itu lalu membukanya, akta kepemilikan lahan dan memang disana tertera lahan dimiliki Nostra sejak lama sekali. "Keluarga Fazio lah yang sangat kamu kagumi itu, mereka memakai cara licik untuk mendapatkan lahan dan membuat surat akta kepemilkan tanpa mereka ketahui bahwa aku memiliki akta yang asli."
Sheva terdiam mendengar kalimat yang Arion ucapkan, sudah pasti dia tidak akan percaya. Bagaimana mungkin orang sebaik paman Armos bisa berlaku demikian, tetapi Sheva akan meredam semua emosi dan tuduhan. Saat ini yang terpenting adalah Benjamin dan paman Armos bisa bebas. "Tetapi kamu tidak perlu menjerat mereka hingga ke penjara kan? Kamu bisa menyelesaikan ini dengan berunding bersama pengacara. Bebaskan mereka Arion."
Arion menetap Sheva, "Kenapa aku harus?"
"Aku mohon.." Sheva menjeda. "Aku mohon, aku akan lakukan apapun agar kamu mebebaskan mereka."
"Apapun??" Tanya Arion dan Sheva mengangguk mantap. Arion terdiam, dia sebenarnya kesal bahwa kenyataannya Sheva sangat membela pria dari keluarga Fazio itu. "Apa kamu yakin Shev?" Tanya Arion kembali.
Seketika perasaan tidak enak merayapi hati Sheva, "Iya.. aku yakin." Sheva hanya pasrah, kebebasan Benjamin dan tuan Armos menjadi yang utama saat ini.
Arion tersenyum, "Kemarilah Shev," Arion menjentikkan jarinya sebagai isyaray agar Sheva mendekat, "Kemarilah, duduk disini dan cium aku." Arion menepuk kedua pahanya dengan tatapan menantang Sheva, "Aku akan memikirkan untuk membebaskan mereka jika kau menurut padaku." Kekeh Arion.
"Ap.. apa????!!"