Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anakku kemana?
Dewa berdiri mematung di depan makam yang bertuliskan nama 'SYAKILA'. Ya, hanya nama Syakila. Tak ada nama belakang keluarga sama sekali.
Seolah-olah, menegaskan bahwa perempuan itu adalah seorang manusia yang terlahir tanpa diinginkan oleh siapapun. Bahkan, keluarga angkatnya saja, enggan memberikan nama belakang mereka untuk Syakila.
"Jun, apa selama ini aku sudah salah langkah?" tanya Dewa kepada asisten yang berdiri setia di belakangnya. "Ku pikir, aku hanya akan mencintai Nania saja dalam hidup ini. Tapi, kenapa hatiku sangat sakit saat kehilangan Syakila? Sakitnya bahkan jauh lebih parah dibanding saat aku kehilangan Nania dulu."
Jun menarik napas panjang. Dia tak berani berkomentar apa-apa. Karena, jika dia harus berkata jujur, maka hal pertama yang akan Jun katakan adalah bahwa Dewa adalah manusia bodoh yang tak punya hati.
Semua kesalahan Syakila belum terbukti. Segala keburukan yang melekat pada diri Syakila, bukankah hanya berdasarkan cerita Nania dan orangtuanya saja?
Sementara, Dewa sendiri belum pernah melihat secara langsung.
"Jun, bagaimana kalau ternyata Nania tidak sebaik yang aku pikirkan?" lanjut Dewa. Dia memejamkan mata.
Berusaha mengusir sesak yang semakin menekan dadanya.
"Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Dan... aku sangat takut. Aku takut mencari kebenarannya. Aku takut menghadapi fakta kalau ternyata selama aku ini sudah keliru. Bagaimana... Kalau Syakila benar-benar tidak bersalah? Bagaimana kalau ternyata Andrew adalah..."
Dewa tak sanggup mengucapkan kata-katanya. Dulu, Syakila memang pernah mengatakan jika Andrew bukanlah anaknya. Namun, saat itu Dewa menolak untuk mempercayai Syakila.
Matanya terlalu buta. Pikirannya terlalu sempit. Dia hanya fokus pada obsesi untuk menyenangkan Nania saja.
"Jadi, Tuan Dewa tidak mau menyelidiki kebenaran soal Andrew?" tanya Jun. Nada suaranya terdengar sedikit kesal.
Syakila sudah meninggal dunia. Dan, jika Dewa masih bersikeras berpura-pura menganggap Nania tidak bersalah, maka sang atasan memang sudah tak bisa diselamatkan.
"Tetap selidiki," tegas Dewa.
Hal itu membuat Jun jadi sedikit terkejut.
"Tapi, bagaimana kalau Andrew terbukti bukan anak kandung Nyonya Syakila?"
Dewa meneguk ludahnya susah payah. "Maka aku akan menuntut pertanggungjawaban dari orang-orang yang sudah memaksanya untuk mengakui dosa yang bukan miliknya."
"Walaupun, itu Nona Nania dan keluarganya, apakah Anda tetap akan membalas mereka?"
"Ya," angguk Dewa setelah berpikir sebentar.
Tatapan Dewa jatuh pada batu nisan bertuliskan nama Syakila. Setiap momen indah ketika Syakila melayani dia dengan sepenuh hati, perlahan berputar satu demi satu.
Seragam kerja yang selalu tersedia dalam keadaan rapi dan lembut. Makanan hangat yang selalu tersedia di meja makan. Sepatu yang selalu mengkilap setiap kali hendak dipakai. Pijatan lembut pada bahu setiap kali dia merasa lelah dan penat. Bubur dan obat yang selalu diantar tepat waktu setiap kali dia sakit.
Dan, yang paling penting... Senyum yang selalu menyambutnya setiap kali bangun dan pulang dari bekerja.
Semua itu adalah ingatan indah yang hanya mampu Dewa kenang tanpa bisa mengalaminya kembali.
Hari ini, Dewa baru menyadari jika hatinya sudah lama berpindah tempat. Cintanya tak lagi untuk Nania.
Apa yang dia rasakan kepada perempuan itu hanya sekadar obsesi saja. Sementara, cinta sebenarnya sudah dimiliki oleh Syakila.
"Kenapa aku baru sadar sekarang?" gumam Dewa seraya berlutut dan menyentuh nisan yang berdiri tegak dihadapannya.
"Syakila, aku mohon... Kembalilah! Sekalipun, Andrew benar-benar adalah anak kandungmu, aku akan menerimanya. Aku janji, aku akan berubah. Aku mohon... kembalilah!" pintanya meraung.
Dibelakang, Jun tampak menggeleng miris. Cinta yang datang terlambat, memangnya masih berguna?
Yang mati tak akan bangkit kembali.
****
"Akhirnya, operasi ku selesai juga," ucap Nania seraya tersenyum puas.
Saat Dewa sedang sibuk dengan kesedihan setelah kematian Syakila, Nania justru memanfaatkan momen itu untuk melakukan operasi selaput dara. Sekarang, penghalangnya sudah tiada. Dia harus bisa memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan Dewa sepenuhnya kembali.
"Untungnya, Dewa sedang sibuk meratapi kematian Syakila. Kalau tidak, kesempatan untuk melakukan operasi mungkin tidak akan pernah datang," timpal sang Ibu.
"Ibu, kenapa Ibu tidak kelihatan sedih?" tanya Nania.
Nessa tersenyum kemudian menggigit apel yang ada ditangannya. "Untuk apa Ibu harus bersedih? Toh, dia diadopsi memang untuk dijadikan tameng mu, kan? Dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan, kalau dia meninggal sekarang, maka tidak masalah. Setidaknya, kamu sudah mendapatkan menantu yang kaya raya untuk Ibu."
Mendengar itu, Nania jadi tertawa. "Ibu benar. Sekarang, aku sudah mendapatkan Dewa. Jadi, tidak apa-apa kalau dia meninggal. Hidup juga buat apa? Keberadaannya tidak ada yang menghargai juga, kan?"
"Tapi, apa yang harus kita lakukan dengan Andrew?" tanya Nessa kemudian.
"Sewa pengasuh baru saja, Bu," jawab Nania. "Andrew dirawat oleh Ibu dan Ayah saja. Kalau dia ikut denganku, nanti Dewa bisa curiga. Masalahnya, wajah Andrew makin lama makin mirip dengan wajahku."
"Baiklah. Tidak masalah. Lagipula, Ibu memang sangat sayang dengan Andrew. Tidak apa-apa jika Andrew tinggal dengan Ibu."
"Bagaimana keadaan Andrew sekarang? Dia... baik-baik saja, kan?" tanya Nania.
Belakangan ini, dia terlalu sibuk hingga lupa menanyakan soal Andrew kepada Ayah dan Ibunya.
"Loh, kenapa kamu malah bertanya pada Ibu? Bukankah, Andrew ada di rumah Dewa?" sang Ibu malah balik bertanya.
Perasaan Nania mendadak jadi tak enak. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
"Apa maksud, Ibu? Andrew tidak ada di rumah Dewa. Bukankah... sebelum kami berangkat berlibur, Syakila sudah mengantarkan Andrew ke rumah kalian?"
Bugh.
Apel ditangan Nessa reflek terjatuh. Matanya sedikit membulat.
"Jangan mengada-ada, Nania! Syakila tidak pernah datang mengantarkan Andrew," ucap Nessa sambil mencengkram erat pegangan besi tempat tidur Nania.
Tubuh Nania reflek melemas. Netranya sedikit bergetar. "Kalau Syakila tidak mengantarkan Andrew ke rumah, lalu dia membawa putraku kemana?" lanjutnya dengan suara parau.