NovelToon NovelToon
TEROR PARAKANG

TEROR PARAKANG

Status: tamat
Genre:Misteri / Thriller / Iblis / Kutukan / Roh Supernatural / Tumbal / Tamat
Popularitas:149.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Kisah ini berasal dari tanah Bugis-Sulawesi yang mengisahkan tentang ilmu hitam Parakang.

Dimana para wanita hamil dan juga anak-anak banyak meninggal dengan cara yang mengenaskan. Setiap korbannya akan kehilangan organ tubuh, dan warga mulai resah dengan adanya teror tersebut.

Siapakah pelakunya?

Ikuti Kisah selanjutnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andi Anni

Andi Enre sudah melaju membelah jalanan. Mereka sudah sangat jauh meninggalkan rumah duka, dan kini Daeng Cening sudah terlihat tenang dan tidak lagi gelisah.

"Bagaimana, Sayang. Apakah kamu sudah tenang?" tanya pria itu dengan nada khawatir. Ia menoleh ke arah sang istri yang saat ini juga menatapnya.

"Sudah, Sayang. Makasih udah ngertiin aku, ya. Makin cinta sama kamu," ucap Daeng Cening, sembari mengusap lembut lengan sang suami.

Didepan sana ada hotel, sebaiknya kita menginap saja, sebab Daeng sedikit lelah," ucapnya pada sang suami, dan hal itu membuat Andi Enre kembali tunduk. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Daeng Cening adalah perintah yang harus dipatuhinya.

Terlihat plang nama sebuah hotel didepannya, dan Andi Enre melambatkan laju mobilnya, lalu memarkirkan mobilnya disana.

Keduanya berjalan memasuki kamar yang sudah dipesan, dan membuat Andi Enre merasakan getaran gejolak hasrat yang tak dapat dikendalikan.

Disaat orang-orang berdoa untuk sang ammak, ia sibuk menyalurkan hasratnya dengan brutal kepada sang istri.

****

"Sanro Tungke, apa yang sudah terjadi?" Andi Anni kembali bertanya setelah membalurkan seluruh ramuan keseluruh tubuhnya.

"Pulanglah ke rumah, nanti kamu akan mengetahui apa yang terjadi. Lihat siapa yang tidak menyukai acara mattampung, maka ia adalah pelakunya," ucap pria itu, tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Andi Anni semakin merasa khawatir. "Mattampung? Siapa yang meninggal?" tanyanya lagi dengan nada gemetar.

"Pulanglah. Bawa ini, dan jangan lupa pertebal iman dan per-kencang ibadah agar sesuatu yang sedang mengincarmu tidak lagi berani mengusik." Sanro Tungke memberikan ajimat berupa gelang tangan yang diikatkan dipergelangan tangan pada keduanya.

Dengan rasa tak tenang, Andi Anni dan juga Bombang berpamitan pada Sanro Tungke setelah memberikan uang imbalan (Due' menre') pada jada yang sudah diberikan oleh pria tersebut.

"Sanro Tungke, kami pulang dahulu, dan terimakasih sudah memberikan pengobatan pada kami," ia berpamitan, dan sang sanro hanya menganggukkan kepalanya.

Keduanya melakukan perjalanan pulang. Andi Anni mencoba menghubungi Ambo Uleng, dan ingin mempertanyakan kondisi sang ammak, tetapi ponsel tersebut tidak dapat dihubungi.

Setelah jauh berjalan, mereka melewati sebuah hotel, dan tanpa sengaja, Andi Anni melihat mobil kakak lelakinya terparkir dihalaman hotel.

"Bang, tolong berhenti sebentar," pintanya pada sang suami.

Bombang melambatkan laju motornya, lalu menepi sejenak dari arah seberang. "Ada apa, Anni?" tanyanya pada sang istri.

"Itu sepertinya mobil bang Enre. Apakah ia menginap disana?" gumam Andi Anni dengan lirih.

"Mungkin dia tidak mau menginap dirumah sakit, atau dirumah ammak," sahut Bombang. "Kita kenapa gak ke rumah sakit?" pria itu balik bertanya.

Belum sempat Andi Anni menjawab, seorang pria yang merupakan kepala adat bertanya pada keduanya. "Kalian kemana saja? Mengapa tidak ikut memakamkan ammak kalian?" tanya pria itu dengan nada penuh selidik.

Deeeegh

Jantung Andi Anni seolah berhenti berdetak. Bibirnya gemetar dan wajahnya memucat saat mendengar ucapan dari sang kepala adat.

"Innalillahi wa inna illahi raji'un," ucap Bombang spontan.

Sedangkan Andi Anni masih terlihat bingung bercampur panik sehingga membuatnya sedikit lambat untuk merespon.

"Kapan meninggalnya, Ambo?" tanya Bombang dengan rasa penasaran.

"Sore tadi, dan baru selesai dimakamkan. Cepatlah pulang, mengapa kalian berhenti disini?" tanya pria itu dengan rasa penasaran.

"K-kalau ammak meninggal, mengapa bang Enre menginap disana?" tanya Andi Anni dengan bibir gemetar.

Sang Kepala adat ikut menoleh ke arah parkiran yang berada diseberang jalan.

"Tadi istrinya katanya merasa pusing, dan mengajak untuk pulang. Bahkan saya mencegahnya untuk tidak pergi sebelum menyalatkan ammak kalian, tetapi ia menolaknya," terang pria itu dengan jelas.

Sontak saja hal itu membuat Andi Anni terkejut. "A-apa? Istrinya? Jadi Daeng Cening juga ikut bersamanya?" tanya Andi Anni dengan wajah cemas dan juga penuh kebencian.

"Ya, wanita itu ikut bersamanya,"

"Ambo, tolong sadarkan bang Enre. Dia itu sedang dalam pengaruh Daeng Cening. Wanita itu yang sudah membunuh ammak, aku yakin sekali, jika istri bang Enre adalah parakang," ucap Andi Anni dengan wajah yang pucat.

Fikirannya saat ini sedang berkecamuk antara memikirkan sang ibunda yang sudah meninggal dan juga abangnya yang sudah terkena sihir oleh Daeng Cening.

Sang Kepala Adat terlihat diam. Ia sedang memikirkan sesuatu. "Saya juga merasa jika abang kalian terkena sihir oleh wanita itu. Tatapannya kosong, dan ia sangat terikat. Jika kita gegabah menanganinya, maka bukan hanya Enre yang tewas, tetapi semua yang berusaha ikut campur didalamnya,"

"Tolonglah, Ambo. Bagaimana caranya agar abang saya bisa sadar untuk meninggalkan wanita itu," mohon Andi Anni dengan penuh harap.

"Kalian pulanglah terlebih dahulu. Ambo Uleng terlihat sangat syok atas kepergian ammak, nanti kita cari cara bagaimana dapat menyadarkan Andi Enre dari pengaruh sihirnya. Namun sepertinya sangat sulit, sebab sudah mendarah daging. Tetapi akan kita cari solusinya," Kepala Adat mencoba menjelaskan pada keduanya.

Andi Anni dan Bombang mengangguk patuh, lalu mereka berpamitan pulang.

Sedangkan Sang Kepala Adat melihat ke arah mobil milik Andi Enre, yang mana benda beroda empat itu terlihat diselimuti oleh asap hitam yang membuat aura kegelapan begitu sangat kentara.

Sesaat pria itu merasa bergidik. "Enre, kamu mendapatkan harta ini dari jalan yang salah, dan begitu banyak korban yang sudah menjadi tumbal dari mobil yang kamu tumpangi saat ini," gumam pria itu dengan lirih.

Sementara itu, didalam kamar hotel, Andi Enre dan Daeng Cening sedang memadu kasih dengan hasrat yang menggebu dan juga lenguhan gejolak yang tersalurkan.

"Sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, dan kamu adalah harapanku, jangan pernah tinggalkan aku," ucap Andi Enre dengan memohon pada Daeng Cening.

Keduanya masih berdekapan dengan erat, dan tanpa sehelai benangpun.

"Tentu, Sayang. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita, dan kamu adalah harapanku untuk terus hidup," balas Dareg Cening dengan sangat meyakinkan. Ia memagut bibir sang suami, dan keduanya kembali mengayuh bahtera cinta mereka.

Ditempat yang berbeda, Seorang Komandan Kepolisian sedang mengunjungi Benny yang saat ini sedang dirawat dirumah sakit jiwa. Sebab akhir-akhir ini mengalami sikap yang agresif.

Pria itu sering berteriak keras tanpa sebab, dan melakukan tindakan diluar nalar, semisal memanjat tembok, dan juga berusaha menembak dirinya sendiri.

Untung saja keluarga cepat menyadarinya, jika tidak, Benny sudah mati bersimbah darah.

"Bagaimana untuk dimintai keterangan? Sedangkan ia sendiri tidak ingat siapa dirinya," salah satu penyidik mencoba mengingatkan sang Komandan yang saat ini sedang menatap Benny dengan sangat intens.

"Dia pernah menyebutkan parakang saat pertama kali ditemukan dirumah itu," ujarnya dengan tatapan yang sangat dalam saat mengamati setiap pergerakan Benny yang mana saat ini sedang bercakap-cakap sendiri.

1
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Smoga aja cepat terjawab semua teka teki yg ada dikepala pak Romy ya, bahwa parakang itu adalah Paung. 😏
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Polisi ko gitu ya, didikn saat sblum jd polri knp ga dpake, percuma jd polisi tp watak nya kriminal, knp ga jd maling aja skalian dree, daripada mnjdi duri dlm daging NEGARA. 😒😒

Kelakuan mu mencoreng nama baik aparat yg amanah sm jabatan nya.

Smoga yg lihat Andre waktu itu ke rumah dukun sialan itu, adalah pak Romy ya, tp aq yakin pasti dia, pasti menyelidiki si pecundang Andre.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mungkin kh mahkluk itu merasakan serangan dri pelindung daeng yg sllu ngikutin Daeng ya.

pdhl sdh takut lho Daeng dbunuh ke 2 pria itu, dan kirain mahkluk itu mau mangsa mereka semua.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
😆😆Mau liat smpai mn warga dbodohi, apakah sampai mereka hbis mati dmangsa, apakah mereka msh menuduh Daeng dalang dr hilang nya rekan mereka yg 3 brusan. 😒😒
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aamiin 😫😢😢sesungguhnya kematian orang yg sdh bertobat itu lebih mulia.
smoga kmu selamat, jd ikutan deg-degan.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Baca lg setelah sekian lama gak baca krena merajuk, 😆😁pas othor buat Andi Enre mnjadi korban juga.

Tetapi seperti nya jiwa Enre ada di Pak polisi yg bernama Romy itu. 😃
Smoga aja mereka kmbali bjodoh ya.
🥀🥀Anggita.🥀🥀: 😁😄hooh Thor
total 2 replies
Arinda Fira
thor aku balik buat like yang tertinggal
Arinda Fira: tapi aku masih di alas purwo kak author
total 2 replies
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
bagus banget kak thor aku suka, menambah wawasan baru soal dunia luar yang belum aku tahu terimakasih
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih
total 1 replies
Meli Meli ana
halo thorr
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: hallo
total 1 replies
Arinda Fira
ya, sudah seharusnya. korbanya harus dapat keadilan juga
Arinda Fira
apa itu artinya sudah tak akan ada lagi parakang
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: kalsu ditempat asalanya saat ini ya masih ada
total 1 replies
Arinda Fira
hm segeralah sadar
Arinda Fira
kena karma
Arinda Fira
ayo balas🤣
Arinda Fira
tapi cening tak dibakar sampai mati
Arinda Fira
jahat
Arinda Fira
Qosim bisa jadi saksi kalau cening bukan lagi parakang
Arinda Fira
kenapa jadi tidak sopan polisinya
Arinda Fira
lalu hukuman cening bagaimana?
Arinda Fira
ada benarnya juga. mereka telat nangkap cening
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!