Karina Fransiska Arnold tidak pernah menyangka jika dirinya akan dijadikan kambing hitam atas meninggalnya Gloria calon tunangan adik iparnya oleh wanita yang dicintai suaminya. Masyarakat berlomba-lomba mengutuknya dan menghujaninya dengan kalimat-kalimat umpatan dan sumpah serapan. Hingga membuat hidup Karina tidak tenang. Ia meninggalkan kota kelahiran ibunya dan kembali menjadi wanita yang paling dihormati di negaranya.
Kepergian Karina membuat hidup Ocean Dirgantara Gultom berubah 160 derajat.
10 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali dalam keadaan tak terduga. Namun, kebencian dari putra-putrinya merupakan penyesalan terbesar kedua yang ia rasakan setelah kehilangan wanita yang selama ini menjadi istrinya.
"Mungkin caraku salah dalam melindungi mu. Tapi, aku sadar menyesal pun tak ada gunanya." Ocean Dirgantara Gultom
"Sejauh apa pun aku bersembunyi. Tapi, takdir justru selalu memihak pada mu." Karina Fransiska Arnold
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Seharian Karina menunggu kepulangan suaminya. Namun, pria itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Hingga Karina mulai tertidur pulas di kamarnya.
Keesokan harinya
Tangan Karina masih bergetar memegang surat cerai yang ditinggalkan suaminya sebelum berangkat ke kantor tadi pagi.
Hiks
Hiks
Hiks
"Tidak bisakah kau membuka hati mu untukku Cean.... Aku sudah bertahan dan bersabar menunggu mu selama dua tahun di samping mu tanpa peduli dengan sikap ibu mu. Tapi, kenapa pada akhirnya surat ini yang kau berikan padaku."
Air mata membanjiri wajah pucat Karina. Sementara seorang wanita tersenyum bahagia saat tanpa sengaja mendengar suara tangisan Karina.
"Yes! Akhirnya Ocean membuang mu juga. Sikapnya terlihat seperti Jhonson Dirgantara di masa lalu." monolog wanita itu tersenyum menyeringai.
Dengan wajah pucat, Karina berusaha berdiri dan mencari ponselnya.
Tut
Tut
Tut
[Halo.]
Deg
Karina terdiam mendengar suara yang tak asing dari speaker telepon.
"Gi-ssel..." lirih Karina memejamkan matanya untuk meredam emosi yang melingkupi hati dan pikirannya.
[Ah. Karina. Maafkan aku. Aku tanpa sengaja mendengar ponsel Ocean berdering hingga langsung mengangkatnya. Apa kau sedang mencari Ocean. Sayangnya Ocean masih ada di dalam kamar mandi. Apa kau ingin menunggu Ocean atau mau menitipkan pesan untuk-nya.] ujar wanita yang bernama Giselle itu dengan suara lembut. Namun, Karina tidak bisa melihat senyuman sinis dibalik suara wanita itu.
[Siapa yang menghubungi ku, Giselle]
Karina mengigit bibir bawahnya saat mendengar suara bariton suaminya dari seberang sana.
[Karina menghubungi mu.]
Giselle menjawab pertanyaan Ocean dengan lembut.
[Bilang saja aku sedang sibuk.]
[Apa kau tidak mau mendengarkan alasan Karina menghubungi mu?] bujuk Giselle dengan wajah polos. Namun, siapa yang tahu dibalik wajah polos itu rahasia besar apa yang tersimpan.
[Tidak. Aku sibuk!]
Jawaban singkat itu menjawab semuanya. Ocean tetap kekeuh dengan ketidakpeduliannya. Karina langsung mengakhiri panggilannya dan menangis tanpa suara.
Berhari-hari Karina mengabaikan surat cerai yang sudah dipersiapkan Ocean. Di hari kelima. Karina kekeuh tidak mau menandatangani surat cerai itu. Ia menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tidak peduli dengan sikap mertuanya yang semakin menjadi-jadi. Ia juga tidak peduli dengan beberapa berita gosip mengenai hubungan gelap suaminya dan Gisella. Ia pura-pura buta dan tuli dengan semua kepahitan hidup yang diterimanya.
"Ocean... ada yang ingin ku katakan pada mu." kata Karina memberanikan diri masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.
"Bicaralah."
Ocean mengabaikan kehadiran Karina dan tetap fokus dengan dokumen kerja sama yang ada di atas mejanya.
"Aku hamil."
Dua kata itu mampu membungkam mulut Ocean hingga ruangan itu terasa hening.
Beberapa menit kemudian, Ocean akhirnya mengeluarkan satu kata yang membuat dunia Karina hancur.
"Gugurkan."
Karina merasa ribuan anak panah berlomba-lomba menancap ke tubuhnya. Ia tidak menyangka kalimat sialan itu akan terucap dari bibir Ocean.
"Setega itukah kamu menghilang nyawa dari darah daging mu?"
"Jika kau tidak suka dengan pendapat ku. Maka, segera tandatangani surat cerai itu. Karena aku sudah muak melihat mu berkeliaran di sekitar ku!" bentak Ocean menatap tajam kearahnya. Tatapan Ocean seakan seperti seorang psikopat ingin mengulitinya.
Karina menatap wajah datar Ocean dengan perasaan terluka. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia seakan tidak memiliki tenaga berdebat dengan suami yang dari dulu sangat amat dicintainya. Sampai saat ini perasaan cinta itu masih tumbuh subur.
"Kuharap kau tidak akan pernah menyesal dengan perkataan mu hari ini, Cean...."
"Jika kau menyesalinya. Maka tidak akan ada tempat untuk mu kembali."
Karina membalikkan tubuhnya berniat keluar dari ruangan kerja Ocean.
Setibanya di kamar, Karina kembali menangis dalam diam. Ia benar-benar sakit hati mendengar perkataan Ocean. Karina menangis sepanjang malam di kamarnya. Ia sampai melewati makan malamnya. Ia meratapi nasibnya seorang diri. Karena selama ini Karina tidak memiliki tempat untuknya berkeluh kesah.
#
Pagi hari
Karina bersiap-siap berangkat menuju rumah sakit.
"Kau harus menemaniku ke rumah sakit." ujar Karina dengan suara pelan berdiri di samping meja makan. Sementara Ocean masih sibuk dengan sarapannya. Karina tidak melihat keberadaan Mariana disana.
"Apa kau berniat menggugurkan kandungan mu?" tanya Ocean tanpa ekspresi menyudahi sarapannya.
"Ya! Bukankah aku akan menuruti perkataan mu." jawab Karina dengan wajah tenang.
"Baiklah. Aku akan meminta Charles menemanimu. Karena siang ini aku memiliki jadwal pertemuan dengan rekan bisnis ku di luar negeri."
Ocean merapikan jas hitam yang melekat di tubuh besarnya. Siapapun akan jatuh cinta melihat ketampanan pria itu. Tak peduli meskipun pria itu sudah memiliki istri sah. Istri sah yang tidak pernah dianggap ada dan terlihat. Karena menurut mereka, dilihat dari sifat Ocean terhadap istrinya. Ia tidak akan peduli dengan status istri sah yang dimiliki oleh Karina.
"Sebelum aku pergi ke sana, bolehkah aku meminta sesuatu kepada mu?"
Karina menatap wajah tampan Ocean dengan tatapan sendu.
"Aku tidak akan mengabulkan permintaan aneh mu itu." balas Ocean mengalihkan pandanganya ke sembarang arah.
"Ocean, sekali ini saja. Aku hanya minta satu permintaan. Aku hanya ingin kau mengelus perut ku." paksa Karina dengan suara bergetar. Ia sebenarnya tahu kalau Ocean tidak suka dengan wanita pemaksa. Namun, entah mengapa Karina sangat ingin melihat Ocean mengelus perutnya.
Ocean terpaku beberapa detik mendengar permintaan aneh Karina. Namun, untuk mempercepat kepergian Karina. Ocean langsung melangkah mendekat ke arah Karina dan mengelus perut wanita itu.
Deg
Deg
Deg
Ocean merasa ada desiran aneh dari dalam hatinya saat mengelus perut rata wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
Karina memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
"Terima kasih." hanya ucapan terima kasih yang terucap dari bibir tipis itu sebelum membalikkan tubuhnya berlalu dari ruangan makan.
Ocean menatap kepergian Karina dalam diam beberapa detik. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada wanita itu. Namun, ia juga tidak bisa terikat terlalu dalam dengan Karina. Cukup hanya Ocean dan Tuhan yang tahu kegundahan hatinya.
Karina menghentikan langkahnya dan kembali menatap kearah Ocean. Dengan tatapan sendu ia bergumam dalam hati.
"Ku kira kau akan menghentikan langkah ku menggugurkan kandungan ini. Tapi, ternyata semua hanya harapanku saja. Ternyata kau benar-benar tidak sudi memiliki anak yang lahir dari rahim ku."
Karina kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ia ingin mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit.
Di rumah sakit
Karina melangkah menuju ruang dokter spesialis kandungan.
"Aku mau masuk sendiri ke dalam untuk memastikan kandungan ku." ujar Karina dengan wajah datar.
"Tapi, tuan muda meminta saya untuk memastikan tindakan apa yang akan Anda ambil." jawab Charles dengan wajah dingin dan datar. Sikap Charles benar-benar sebelas dua belas dengan Ocean.
"Jika aku benar-benar hamil. Apa kau akan meminta ku menggugurkan kandungan ini! Apa kau akan berpihak dengan pria itu." ketus Karina tiba-tiba menatap wajah Charles dengan tatapan membunuh.
Deg
Charles terkejut melihat tatapan itu. Tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari seorang Karina yang terkenal memiliki sifat lembah lembut.
Karina langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan meninggalkan Charles begitu saja.
ini yg paling sulit kupahami jalan critanya