Ini kisah Selena, seorang gadis yang selalu bangkit dari kesedihan.
Terjebak pernikahan yang tidak pernah dia inginkan sebelumnya. Ketika hati dan cinta dari masa lalunya datang kembali, akankah dia berpaling meninggalkan pernikahannya?
Selena Diandra Winata, seorang gadis berparas cantik dan manis itu selalu berhasil bangkit dari keterpurukannya.
Ketika dunia berusaha memberi kebahagiaan untuknya, takdir malah meruntuhkan pondasi kebahagiaannya.
Akankah Selena mampu bangkit lagi?
Ikuti kisah Selena!
karna ini karya pertama harap maklum dan mohon pencerahanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tataxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Di dalam kamar Selena sedang asyik menyesap rokoknya, entahlah apa yang di pikirkannya sekarang. Hanya Selena yang tau.
"sshhhhh......." tiba-tiba nyeri di luka itu terasa kembali. "kayaknya jahitannya lepas, apa gue bawa ke dokter lagi aja! Oke deh, kali aja beneran lepas." Selena mematikan rokoknya dan mengambil ponsel di atas nakas samping tempat tidurnya. Saat keluar tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya sesuai perintah Rey semalam. Tapi, memang tidak di suruh pun dia selalu mengunci pintu kamar sebelum pergi.
Ddrrrrrrt..... Ddddrrrrt......
Ponsel Lena bergetar tanda ada telepon masuk, dia segera mengangkatnya.
"halo....."
"halo Len, lo dimana sih? Ngga pernah ada kabar sekarang, mentang-mentang udah ada bojo lo ya! Sekarang lo udah lupain gue gitu ha....." suara terocosan dari seberang sana membuat telinga Lena terasa sakit. Dia sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
" iya iya sorry..... Lagian lo juga betah banget di kota B, ngga kangen juga lo sama gue?"
" kangen lah, besok gue udah pulang. Lo harus traktir gue Belvedere Vodca oke!!"
#Belvedere Vodca salah satu merk alkohol jenis Vodca yang harganya 700 ribu ke atas.
"Ish..... Iya iya tenang aja ntar gue kasih apa mau lo.....!"
"ya udah, gue mau pergi dulu. Besok gue pulang ke rumah tuh Vodca harus sudah ada di meja oke...!!"
"oke deh... Bye!" Selena mematikan ponselnya. Saat itu pula terdengar suara deruman mobil dari luar rumah, Selena segera berjalan keluar rumah. Terlihat mamah yang baru keluar dari mobil yang di ikuti oleh papah.
"mah.... Pah.....!" Selena sangat sumringah menyambut mertuanya itu.
"hai sayang.....!" mamah segera memeluk menantu kesayangannya.
Selena menyambut pelukan hangat itu, hangat sekali. Pelukan dari seorang ibu yang sangat dia rindukan bertahun-tahun yang lalu, tak terasa air mata Lena jatuh begitu saja. Merasakan bahunya yang basah, mamah melepaskan pelukannya.
"loh.... Kok kamu nangis sayang? Kenapa sedih?" mamah menghapus air mata Selena dengan jemarinya.
"ngga mah, Lena ngga sedih Lena malah seneng papah sama mamah dateng ke sini." ucap Lena sembari tersenyum dan memandangi papah dan mamah secara bergantian.
"ayo pah mah masuk, sini kopernya Lena bawain!" Lena meraih koper kecil itu dari tangan mamahnya.
"aauuuuwhhh...." lagi-lagi Lena lupa kalo tangannya itu sedang sakit. Selalu saja setiap meraih sesuatu selalu dengan tangan kanan, emb.. Tapi ya memang begitu seharusnya.
Lena segera menjatuhkan koper itu dan menggengam lukanya yang kali ini darahnya sudah menetas.
" ya ampuuun sayang, tangan kamu kenapa?" mamah terlihat khawatir, begitu juga dengan papah. Meskipun dari tadi dia diam saja.
"ngga papa mah, ini cuma luka kecil kok!"
"kita masuk dulu aja. Kita obati di dalam!"ucap papah sambil menuntun menantunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Mamah mengikuti mereka di belakang sembari membawa dua koper yang di tinggalkan begitu saja oleh papah. Hmmmm🤦🤦
Di ruang tamu, papah membawa Lena duduk di sofa. Saat itu juga bibik yang baru saja selesai menjemur pakaian langsung sumringah melihat tuan dan nyonya besarnya sudah datang.
"tuan, nyonya...!" sapa bibik dengan tersenyum lebar.
"halo bibik, apa kabar?" ucap mamah sembari memeluk bik Roh.
"saya baik nyonya, tuan dan nyonya apa kabar?" bibik melepas pelukannya.
"kita juga baik bik." jawab mamah dengan tersenyum.
Ya, memang papah dan mamah selalu akrab dengan semua asisten yang bekerja untuk mereka. Papah dan mamah tidak pernah membedakan status sosial maupun pekerjaan orang lain. bagi mereka, bik Roh, bik Mun, dan juga mang Apoy adalah keluarga.
"bik, ada kotak obat ngga?" tanya papah tiba-tiba.
"ada tuan, sebentar saya ambilkan." bik Roh segera bergegas mencari kotak obat itu, setelah dapat dia langsung memberikannya kepada papah.
"ini tuan, apa tuan terluka?" bik Roh belum menyadari jika yang terluka adalah Selena.
"engga bik, ini loh luka nya Selena berdarah lagi." jawab papah.
Mata bibik langsung melihat ke arah Selena yang tengah memegangi lukanya.
"ya ampuuun nooon, kenapa sampai banyak darah yang keluar? Apa jangan-jangan jahitannya lepas?" bik Roh terlihat panik dan segera menghampiri Selena.
"apa? Jahitan? Apa sangat parah bik? Kenapa bisa sampai di jahit?" tanya mamah sembari mendekat juga ke Selena, mamah juga terlihat sangat khawatir saat itu.
"itu nyonya, kemarin nona tidak sengaja memecahkan vas saat bersih-bersih, saya juga tidak tau kenapa bisa terluka. Lukanya sangat dalam hingga harus di jahit luar dan dalam kata dokter." jelas bibik.
"ya sudah, kita bawa saja ke dokter sekarang." ucap papah. Saat hendak berdiri tiba-tiba Selena menghentikannya.
"pah, biar Selena sendiri saja. Papah dan mamah kan baru sampai, belum sempat minum juga. Apa kalian sudah sarapan? Tadi bibik masak banyak, papah dan mamah sarapan saja dulu." ujar Selena dengan tersenyum.
"ya ampun, maaf tuan dan nyonya saya lupa. Saya buatkan minuman dulu." bik Roh sedikit berlari menuju dapur.
"tidak, bagaimana kamu bisa ke dokter sendirian?" tanya mamah.
"Lena bisa naik taksi mah."
"engga, di mana suamimu? Biar dia yang mengantarmu."
"dia mungkin lagi di kamar mah."
"biar papah yang panggil." ucap papah sembari berjalan ke lantai 2.
Lena dan mamah duduk kembali di sofa menunggu Reyhan.
Di like ya.
olaolala
detail bgt, g ad yg kelewat satu adegan pun
Rrrrr, aye aye💃💃💃💃
Asheegh
Ser ser
Gubrak
Eh g sido,🤭🤣🤣🤣🤣
kang kredit like dan peminat baca lewat😊😊😊.
semangat