NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Argggh! Aku kesal!

Lama juga aku shopping dengan Ana, hingga kami makan malam di restoran yang berada di mall. Sambil melihat-lihat buku menu, aku kirim satu pesan pada Adam.

Aku pulang bentar lagi. Ini sedang makan dengan Ana di mall, kamu mau nitip gak?

Pesan itu aku kirim pada Adam.

Setelah pelayan mengambil pesanan kami, 1 pesan balasan dari Adam masuk ke ponselku.

Baiklah. Saya juga ada janji makan malam. Jangan lupa sholat Maghrib dan jaga diri. Jangan pulang terlalu malam. I love you

What? Adam ada janji makan malam?

Dengan siapa?

Sejak kapan dia ada janji makan malam seperti ini?

Tiba-tiba aku ingat, waktu dia memainkan ponselmya di kampus tadi. Mungkinkah dia janjian makan malam dengan orang yang di hubungi itu?

"Win. Kamu kok bongong sih? Hayo, pasti lagi mikirin cowok kan?"

Ana menyentak lamunanku yang sedang memikirkan dengan siapa Adam makan malam.

"Gak usah bikin gosib. Mana ada aku punya cowok," balasku sedikit ketus.  "Oh iya, ngomong soal cowok, tadi pagi kamu sebut nama Adri. Dari mana kamu tau nama dia? Seingatku gak pernah nyebut nama dia," sambungku merubah topik.

Riak wajah Ana berubah seketika, tapi berhasil di sembunyikan dengan cara menyeringai. "Kan gosip kasus kamu kemarin itu udah tersebar luas. Jadi, aku hanya mengira-ngira nama itu."

Waw. Jadi, memang seharusnya aku mengasingkan antara dunia kampus dan dunia di luar kampus. Andai ada satu orang saja yang tau hubunganku dengan Adam, entah gosib apa yang akan tersebar. Bisa saja meraka mengaitkan dengan hubunganku dengan Adri.

Oke, memang sepantasnya pernikahan ini kurahasiakan. Kalau tidak, akan banyak hetters yang akan membuliku.

.

.

.

Selesai makan, kami lansung pulang kerumah. Ketika sampai, aku tak melihat mobil Adam.

Kemana dia pergi?

Padahal dia sendiri tadi yang bilang agar pulang tidak kemalaman. Taunya malah dia yang pulang lebih malam.

Huh!

Aku masuk kedalam rumah, setelah mandi, aku turun kebawah, istrahat di ruang TV sambil menunggu Adam pulang.

***

Tak tahu sampai jam berapa aku menunggu Adam pulang, tau-tau bangun udah berada dikamar atas.

Kami bangun untuk subuh bersama, dia sempat memanjakanku dengan sedikit mencium dan memelukku. Udah, itu saja. Sifatnya juga biasa denganku, seolah tidak ada yang perlu di jelaskan, padahal aku ingin dia menjelaskan dengan siapa dia makan malam.

Tapi karna tak ingin mengusutkan pikiran, jadi masalah itu aku coba singkirkan jauh-jauh.

Namun, masalahnya sekarang Adam mengatakan masih ada janji makan malam hingga 2 hari kedepan. Oke, aku cuek, pura-pura pejam mata. Aku harap dia punya inisiatif sendiri menceritakan.

***

Setelah ujian pertengahan semester, kegiatan rutin di kampusku selalu mengadakan karnaval. Di buka dengan lomba memasak Minggu lalu, di lanjutkan dengan karnaval kewiraswastaan, dan karnaval Mencari Cinta yang akan dilansungkan Minggu depan.

Malam itu, aku berbaring diranjang kamar bawah sambil mengetik iklan untuk di sebarkan di kampus. Sedang fokus membuat desaign iklan agar lebih menarik, sudut mataku melihat pintu kamar di buka. Lansung kubuka earphone dari telingaku.

"Disini kamu rupanya?" ucap Adam, lalu masuk dan duduk di sebelahku.

Aku bangun dari pembaringan dan memandangnya.

"Saya datang, tapi tidak melihat kamu di depan. Saya cari di kamar atas pun kamu tidak ada. Rupanya kamu disini." Adam melanjutkan dan entah kenapa wajahnya seperti cemas. Tanganku juga diambil dan di genggamnya.

Dia kenapa?

"Gak lihat mobil aku ada di depan?" tanyaku ketus.

"Ya, saya tahu. Tapi tadi saya panggil-panggil, kamu tidak menyahut. Saya khawatir," jawabnya, kaku memelukku.

"Gimana bisa dengar, aku kan lagi dengar musik pakai earphone. Lagian apa yang kamu khawatirkan?" balasku sambil mengangkat earphone-ku yang masih memutar lagu dari MP4 lamaku.

"Hm...ya, saya khawatir lah. Takut istri saya ini merajuk dan lari dari rumah karna 2 malam ini saya pulang telat," jawab Adam dwngan nada candaan.

Aku lerai pelukannya dan memandang tepat matanya. "Kalau kamu mau aku jujur. Ya, aku memang sakit hati sama kamu. Tapi gak adalah niatku untuk kabur dari rumah," ucapku mengakui.

"Sayang, kamu kenapa? Kok tiba-tiba marah? Apa ada hubungannya dengan nilai ujian yang saya berikan kemarin?" tanya Adam.

Jujur, kertas hasil ujian itu memang mengecewakanku. Tapi kenapa dia malah mengaitkan dengan itu? Lagian hasil ujianku ini, nilainya jauh lebih baik dari rekanku yang lain.

"Sayang, apa tidak ada yang ingin kamu bicarakan?" Adam menambahkan, karna aku masih diam.

Sebenarnya, banyak yang ingin kutanyakan padanya, tapi aku tak tahu bagaimana memulainya.

Adam menggenggam tanganku, "oke, sambil memikirkan apa yang ingin kamu tanyakan, saya mandi sebentar. Setelah itu kita sambung lagi, oke,," ucapnya dan mencium keningku sebelum berlalu keluar.

Kututup keptopku karna fokusku sudah hilang. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Mengatakan kalau aku cemburu dengan kemesraannya dengan Ana? Atau menanyakan kebenaran firasatku yang menduganya memiliki wanita simpanan di luar sana?

15 menit kemudian, Adam telah kembali. Bahkan aku belum kepikiran hendak mulai menanyangkan apa.

"Sayang."

Aku hanya mengangguk kecil membalas sapaannya itu. Sedang Adam mendekat dan duduk bersila di depanku.

"Saya siap mendengar," ucapnya.

Aku hirup nafas agak panjang sambil memikirkan apa yang harus aku tanyakan dulu. Oke, mungkin aku bisa mulai tentang Ana dulu. "Hmm.... Ka--kamu, kamu suka sama Ana ya?"

Tidak salahkan, aku menanyakan itu? Tapi kenapa kening Adam malah berkerut.

"Sayang. Sebelum ini kamu sudah pernah menanyakan hal ini. Dan jawaban saya masih sama. Saya tidak ada perasaan suka seperti yang kamu pikirkan pada dia!"

"Tapi, dia kamu kasih bunga yang kamu dapat dari acara lomba itu," balasku.

Adam malah tersenyum kecil. "Iya, karna dia bilang selama ini belum pernah mendapatkan bunga dari siapapun. Itu sebabnya saya berikan pada dia."

Huh! Mudah banget dia ngasih alasan!

"Baik banget ya kamu? Segitunya menjaga hati dia. Sampai ke toilet pun kamu temankan sampai selesai," sinisku.

"Winda, saat itu sudah malam. Dan situasinya ramai. Dia pun tidak berani ke-toilet sendiri. Itulah alasan saya menemukan dia. Bukan menemankan seperti yang kamu pikirkan." Adam masih menjelaskan dengan gayanya yang tenang.

"Tapi di pikiran Ana, kamu sudah mulai menaruh hati padanya. Aku gak suka aja dia asyik menceritakan kamu. Menceritakan perkembangan hubungan kalian-"

"Sebentar. Perkembangan hubungan apa dulu? Saya dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kalau kamu tidak suka, kenapa tidak jujur saja dengan dia tentang hubungan kita yang sebenarnya." Dengan cepat Adam memotong kata-kataku, malah menyarankan agar membuka rahasia besar ini.

"Gak bisa. Kalau berita ini tersebar, macam-macam fitnah akan berdatangan, sama seperti masalah aku dengan Adri dulu."

Aku merasa wajah Dam berubah saat aku menyebut nama Adri. Bukan sengaja ingin mengungkit, tapi aku mau Adam lebih mengerti kenapa aku masih ingin merahasiakan pernikahan kami ini.

"Oke, jadi kalau Ana sibuk menceritakan tentang saya pada kamu, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karna satu-satunya cara jika ingin membuatnya berhenti hanya dengan memberitahukan status kita." Suara Adam berubah dingin.

"Itu bukan pilihan. Pokoknya apa pun yang terjadi, aku gak mau seorang pun di kampus tahu status kita. Titik!" balasku tegas.

"Tapi, sayang. Bukannya lebih baik kalau orang lain tau? Kita juga tidak perlu pura-pura jadi orang asing. Dan teman-temanmu juga akan menghormati saya sebagai suami kamu." Adam masih mempertahankan pendapatnya. Aku lansung berdiri dan memeluk kedua tangan di dada.

"Pokoknya nggak! Tolong mengerti keadaanku Adam! Aku gak mau mencampurkan urusan kampus dengan hal pribadi."

"Saya tidak paham, Winda. Kamu melarang saya dekat dengan Ana, tapi kamu sendiri berteman baik dengan dia," balas Adam dengan wajah meringis serba salah.

"Kamu itu gak ngerti. Ana itu teman baik aku. Dia teman pertama aku sejak berada di kampus itu. Kalau di tau hubungan kita, apa nanti dia pikir? Aku sendiri bingung bagaimana memberitahukan hal ini pada dia. Jadi untuk sementara, memang lebih baik gak memberitahukan dia dulu."

"Kalau kamu tidak tahu cara memberi tahu dia, biar saya yang memberi tahu."

"Bagiamana caranya kamu ngasih tau dia? Oh, seperti kamu beritahu Erin dan John?" bidasku tiba-tiba menghubungkan obrolan ini pada kejadian di clab malam itu. Dan entah kenapa, segala perasaan yang dulu terpendam muncul kembali.

"Erin dan John berhak tau hubungan kita. Saya ingin mereka hormati kamu sebagai istri saya. Begitu juga dengan Ana."

"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Erin?" tanyaku tiba-tiba. Aku masih ingat, kedatangan Adam malam itu atas undangan Erin. Jadi pasti selama ini mereka pernah berhubungan di belakangku. Erin sendiri pernah bilang waktu di acara ulang tahun Ana, kalau dia akan berusaha mendekati Adam. Rasanya tidak mustahil, jika Adam pernah berhubungan dengan Erin di belakangku.

"Sejak kapan saya berhubungan dengan Erin?" Adam membalikkan pertanyaanku. Keningnya juga berkerut memandangku.

"Arghh! Lama-lama aku bisa stres kalau begini! Belum selesai dengan Ana, Erin juga ada! Belum termasuk Linda, Sarah,dan entah siapa lagi yang aku gak tau!" Tak tahu kenapa, aku malah makin histeris.

Cemburu?

Ya, mungkin.

Aku tidak mau berbagi dia dengan yang lain.

"Sayang, kenapa berpikir yang bukan-bukan?" Adam berdiri dan memalingkan tubuhku agar memandang padanya. "Kamu tahu bagaimana sayangnya saya padamu, kan? Jadi kenapa berpikir seperti itu?"

Aku tarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya kasar. "Entahlah, Adam. 2 malam ini kamu selalu pulang malam. Itu terjadi setelah kamu meniduriku, setelah aku meluahkan perasaanku. Aku gak tau harus bagiamana? Aku merasa kamu gak peduli lagi tentang aku. Di depan mataku pun kamu masih bisa sibuk ber-chating ria, entah dengan siapa."

"Eh, kapan pula saya ber-chating ria di depan mata kamu?" tanyanya sambil tertawa kecil.

"Aku lihat sendiri kamu mainin ponsel di balik meja. Hari Senin, di ruang kerjamu, waktu kamu ngasih tutur. Kamu bukan lagi balas pesan aku. Jadi kamu kirim pesan ke siapa? Siapa orang yang begitu penting, sampai kamu mengabaikan fokus ngasih tutur ke anak-anak dan memilih ber-chating ria?" tanyaku meluahkan yang terpendam di hati.

"Kan saya balas pesan kamu?"

"Iya, tapi setelah itu kamu kembali fokus main ponsel, bukan membalas pesan aku!" sengitku bertambah kesal.

Tapi dia malah senyum. Bikin aku tambah kesal.

Arghhh!!!

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!