Warning......
Segala hujatan dan cibiran yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja bebas untuk di lontarkan. Itu akan kami terima sebagai saran untuk karya saya ini.
Jika kalian pernah mendengar kata IBLIS, itu pasti ada kaitannya dengan pembunuhan dan memakan manusia dengan banyak cara. Namun bagaimana jika ada seseorang yang menolong iblis? Dan bersahabat dengannya? Apa itu mungkin? Ini adalah karya saya yang berjudul "Tetangga Iblis" By : Novianingsih Juliani
Veby adalah seorang gadis SMA yang harus berpisah dengan keluarga nya. Karena ia harus bersekolah di sekolah baru dikarenakan adanya sebuah pertukaran pelajar antar kota.
Ia juga harus tinggal di sebuah apartemen dekat sekolah nya yang baru dan hanya bisa pulang saat libur sekolah atau hari raya karena jarak antara kedua kota tersebut sangat jauh
Hal aneh mulai terjadi saat ia baru saja pindah ke apartemen tersebut, yaitu di sebelah apartemen miliknya, yang ditinggali oleh seorang pria tampan yang kira-kira Satu tahun lebih tua darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
"Aku tidak menyangka ini, aku akan pergi secepatnya. Dia kira aku apa? Aku tidak tahan sekarang." Kata Veby sambil memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering..... Tertera nama Pak Soo-il di layar ponselnya.
"Halo pak?" Kata Veby.
"Kamu kenapa tidak sekolah? Kamu sakit?" Tanya Pak Soo-il.
"Ia pak, saya kurang enak bada." Alasan Veby.
"Kamu mungkin terkena flu, bapak bisa dengar dari suara kamu. Baiklah, lain kali kalo kamu sakit telpon bapak, atau kirim langsung surat."
"Baik pak." Sambil mematikan ponselnya.
Veby mengganti pakaiannya, kemudian mengambil tas yang sudah beristri pakaian tersebut menuju luar apartemen.
Tapi tungu.... Veby melihat seorang laki-laki tergeletak di depan pintu apartemen nomor 7. Mata Veby membulat dan menjatuhkan tasnya lalu berlari ke arah pria itu.
"Haaaahhhh..... Yaampun.... Dia kenap...." Perkataan Veby terpotong setelah melihat siapa pria tersebut.
"Mark.... Mark... Apa yang terjadi pada mu?" Veby melihat seluruh tubuh Mark membiru. Veby menyeret tubuh Mark karena tidak bisa untuk mengangkatnya.
Veby meletakkan Mark di atas ranjangnya dengan sangat sulit.
"Apa yang harus aku lakukan? Dia bukan manusia yang bisa ku obati. Bukankah dia sudah mati? Lalu kenapa dia bisa pingsan? Atau?" Veby menempelkan telinganya ke dada Mark untuk mengecek detak jantungnya.
"Tidak ada, dia tidak memiliki detak jantung. Apa sebenarnya dia ini? Aku harus apa sekarang? Baiklah aku akan melakukan apa yang biasanya aku lakukan pada manusia." Veby mengambil air hangat dan sebuah lap untuk membalut tubuh Mark agar lebih hangat.
"Nyoya, saya tidak tau. Tapi saya temukan sebuah luka di perut anak ibu." Kata dokter pada seorang wanita.
"Tolong selamatkan anak saya dok. Bukankah dulu tidak pernah terjadi apa-apa. Dan kapan anak saya bisa sadar?" Tanya wanita itu.
"Kami benar-benar tidak bisa menjamin hal itu. Untuk sekarang detak jantungnya semakin melemah. Berdoa saja bu." Kata dokter tersebut lalu memasuki ruangan pasien.
"Jung-Yhuu...." Sambil menangis.
••••••
Pukul 21.37
"Apa yang terjadi pada mu? Kenapa aku sangat hawatir? Siapa yang melakukan ini? Jangan membuat aku marah Mark!!! Cepat bangun." Kata Veby pada Mark yang masih memejamkan matanya.
"Kau tau aku belum makan karena mu, karena keadaan mu aku tidak enak untuk makan. Hei... Apa kau tidak mau membuatkan ku sesuatu?"
"Lihat aku akan mati sekarang. Jika kau tidak bangun aku tidak akan pernah makan. Hai.... Mark, apa kau mendengarku? " Kata Veby seperti orang gila.
Pertama ia berbicara pada Mark yang tidak sadar.
Kedua jika ada yang melihatnya, orang itu akan melihat Veby berbicara sendiri.
Jadi gilanya dobel.
Keesokan harinya, Veby terbangun karena suara alaramnya. Ia mendapati tubuhnya sudah berada di atas ranjang dengan selimut yang menghangatkan tubuhnya.
"Bukankah aku kemarin masih di lantai? Jam berapa yaa aku tidur? Hah.... Mark mana?" Sambil melompat untuk membuka pintu.
Baru saja Veby ingin meraih gagang pintunya. Pintu tersebut sudah terbuka.
"Selamat pagi." Kata Mark dengan senyum lebar.
"Kau? Kau tidak papa?" Langsung memeluk tubuh Mark.
"Sebenarnya kau kenapa? Kau tau aku sangat takut dan hawatir pada mu." Kata Veby di pelukan Mark.
"Hawatir? Takut? Benarkah?" Veby menyadari perkataan yang di lontarkan oleh Mark. Ia kemudian langsung menjauhi tubuh Mark.
"Kenapa? Apa aku salah dengar?" Tanya Mark.
"Sudahlah.... Aku harus siap-siap." Kata Veby kemudian berjalan menuju kamar mandinya.
Mark sangat senang dengan tingkah Veby yang seperti itu.
sejauh ini aku masih suka alurnya