NovelToon NovelToon
Ruang Hati Opi Yang Diminta Mereka.

Ruang Hati Opi Yang Diminta Mereka.

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: hopipahnp

(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)

Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨

⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saudara brengsek

Setelah beberapa jam di perjalanan, Hopipah pun sampai di depan gerbang rumah mewah dua tingkat itu. Ia membuka gerbang dan masuk lalu menutup kembali dan berjalan perlahan masuk ke halaman rumah.

Dari luar sudah tercium bau asap rokok tercium menyebar lebar di udara halaman belakang.

Hopipah mengerjapkan matanya, menyampirkan anak rambut yang tak terikat ke belakang telinga. Empat pria yang merupakan saudaranya hanya menoleh sekilas dengan tatapan malas dan sinis, terlihat Saga dan Arlan tengah menghisap puntung rokoknya sedangkan Raka dan Daka menikmati keripik cemilan yang berhamburan messah di tanah.

“Sa, hisap dikit aja,” pinta Daka menengadahkan tangannya.

“Nggak! Berani Lo ngerokok, gue tumbuk Lo. Lo masih di bawah umur!” jawab Saga dengan ketus sambil menatap tajam adiknya itu.

Daka yang memutar sebuah foto yang ada di tangannya, yang Hopipah lihat itu seperti foto dirinya waktu tadi di UKS bersama lima pria tampan itu. Dan melihat Saga yang memainkan tali cambuk di tangannya dengan santai.

“Apa benda itu, untuk dipukul ke aku?” batin Hopipah meremas ujung bajunya yang sudah lusuh karena takut.

Hopipah beranikan melangkah masuk melewati mereka yang sedang duduk di pendopo belakang yang dekat dengan kamar gudangnya, dan membuka pintu kamarnya yang sudah kotor dan berdebu. Keempat saudaranya hanya menatap sinis. Mereka hanya diam, namun tatapan tajamnya mengikuti langkah dan gerak-gerik Hopipah ke mana pun ia pergi.

Hopipah menggantung tasnya. Lalu membungkuk, dan mengambil buku-bukunya yang berhamburan di lantai. Ia hanya diam, karena tidak berani menyapa lebih dulu.

“Woy!” sahut Arlan pelan, tapi dingin dan tajam menusuk tulang. Sebagai permulaan bahwa Hopipah harus disiksa hari ini.

Hopipah menoleh sekilas dengan takut, “Ya Kak,” jawabnya lalu meletakkan buku-bukunya di atas kasur tipisnya.

“Sini Lo,” panggilnya menunjuk ruang kosong di sampingnya.

Hopipah menurut dengan berat hati, duduk di sebelah Arlan dengan jarak sekitar 30 sentimeter.

Arlan menyeringai jahat, tangannya terulur mencekram dagu Hopipah dengan kuat hingga menyakitkan, hingga mulut gadis itu terbuka sedikit karena tekanan itu.

“Em,” Hopipah memberontak lemah menahan sakit.

Arlan menghisap rokoknya yang lebih dulu dalam-dalam. Dengan brengseknya, mendekati wajahnya, merapatkan bibirnya dengan bibir Hopipah, dan meniupkan asap rokok itu tepat di mulutnya.

Hopipah mendorong tubuh Arlan sekuat tenaga. Ia menepuk dadanya dan terbatuk-batuk hebat. Mulut dan hidungnya mengeluarkan asap putih.

Uhhuk… uhhuk…

Bukannya kasihan. Saga, Daka dan Raka malah menertawakannya dengan puas.

“Kenapa nggak sekalian rokoknya yang lo masukin ke mulut tuh anak biar diam,” ucap Daka terkekeh jahat melihat Hopipah yang masih terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya.

“Hem, ide bagus,” ucap Arlan kembali menghisap puntung rokoknya dan mendekat lagi.

Hopipah seketika bergerak menjauh, menepi ke sudut pendopo. Gadis itu terdengar berusaha menetralkan rasa asap di pernapasannya yang terasa panas.

Arlan menyeringai puas meniup asap rokok di mulutnya ke arah Hopipah yang sedang menunduk.

Hopipah menutup hidungnya rapat-rapat. Meski tidak separah tadi, tapi tetap saja baunya sangat menyengat dan membuatnya mual.

“Kalian mau ngapain sih ke sini?” tanya Hopipah memberanikan diri bertanya meski hatinya berdebar takut.

Saga berdehem kasar, mematikan rokoknya dan membuangnya sembarangan ke tanah. Pria itu menyisir kasar rambutnya dengan jari, sebelum mendekati Hopipah dengan langkah lebar.

Hopipah meremas ujung bajunya gugup, memalingkan wajahnya takut.

“Aduuuh, gue dengar lo punya teman yah? biar ada yang nolongin yah. Kasihan banget ngemis perhatian ke sembarang orang,” ejeknya sinis.

Mulut Hopipah terbuka terkejut, tapi tidak bersuara, ia tadi disangka ngemis perhatian padahal dia tidak melakukan apa-apa. Ia sama sekali enggan membalas tatapan tajam Saga.

“Jawab, dan lihat gue sialan!” sergah Saga mencekram bahu Hopipah kuat hingga gadis itu meringis.

Hopipah meringis, masih terasa sakitnya bahunya bekas pukulan kemarin, dan sekarang malah ditambah tekanan keras, membuatnya tersentak kesakitan.

“Sakit Kak,” rengek Hopipah mengeluh menahan perih.

“Kalau gitu jawab gue sialan!” Sentak Saga makin kuat mencengkeram.

Tiba-tiba datanglah Ringgo dan Aurora menghampiri mereka.

Saga dan adik-adiknya tidak peduli dengan kedatangan keduanya. Saga kembali menatap Hopipah dengan tajam dan penuh amarah.

“Eh, lo ngapain juga lo gabung dengan lima cowok ganteng itu? lo sanggah tubuh lo ke mereka hah!” sentak Saga yang sudah sangat mewakili perasaan benci kedatangan Ringgo dan Aurora.

Hopipah memejamkan matanya perih. Bolehkah ia berharap, Saga justru mencemaskannya? tapi, sayang itu hanyalah harapan kosongnya saja. Mereka menanyakan itu, hanya karena tidak mau ada yang peduli padanya, atau mencintainya selain mereka dengan cara yang salah.

Ia diberi beasiswa saja. Bukan agar Hopipah bisa belajar dan sekolah tinggi, tapi demi Daka dan Raka bisa terus mengganggunya di sana.

Itu sebabnya nilai pelajaranya cukup hancur. Karena tidak diberikan waktu belajar yang cukup dan selalu diganggu.

“Tidak Kak, mereka hanya menganggapku babu saja,” tutur Hopipah pelan dengan suara bergetar.

“Alah, lo nggak usah bohong, gue dengar semuanya,” sahut Raka tidak percaya.

“Ck, bagaimana mungkin ada cowok lain mau sama dia yang dekil dan gadis jelek kaya dia,” hina Ringgo tidak sabar menimpali dengan ketus dan tajam.

Arlan terkekeh geli, “Jelek? kau bilang dengan candaanmu itu? dia itu cantik, manis, jauh di atas adikmu itu,” balas Arlan santai.

Bukan maksud membela Hopipah, namun hanya ingin membuat Ringgo marah dan kesal.

“Lo!” geram Ringgo menatap tajam Arlan.

“Santai, kalau mau mukul. Pukul aja tuh anak haram itu. Jangan pukul saudara gue,” ucap Daka segera menghalangi di depan Arlan. Matanya melirik ke arah Aurora yang juga menatapnya kagum. Gadis itu menunduk dengan wajah merona merah.

Daka menyeringai puas, “Memang benar, Hopipah lebih cantik, dan pastinya nggak langsung salah tingkah, hanya karena dilirik pria tampan sepertiku,” ucapnya dengan sikap narsistiknya, memuji diri sendiri di depan semua orang.

Ringgo berdecak kesal, kembali menatap Hopipah dengan tajam penuh kebencian. Yang ditatap hanya diam pasrah, dengan tatapan kosongnya.

“Mulai sekarang hiduplah sendiri. Jangan pernah menggangu keluargaku. Apalagi menghubungi Papa, berani kau minta uang lagi. Maka, kau harus menggantinya dengan menjual tubuhmu. Mungkin setelah kakak-kakakmu memakaianmu,” bisik Saga di telinganya sambil menyeringai jahat.

Bukan pertama kali Saga mengancam hal yang sangat kotor itu. Tapi, tetap membuat Hopipah takut luar biasa. Ia tentu harus menjaga diri sekuat tenaga dari mulai sekarang.

“Kakak gila!” sergah Hopipah mendorong bahu Saga dengan kuat karena kesal dan takut. Pelupuk matanya tidak lagi mampu menampung air matanya untuk tidak berjatuhan.

Saga menyungging senyumnya, sama sekali tidak merasa bersalah dengan ucapannya yang sangat kejam itu. “Lo perlu ingat itu. Ingat ini peringatan, bukan ancaman, adikku sayang,” tuturnya menampakkan seringaian jahat.

Hopipah memalingkan wajahnya, tangannya mengepal kuat menahan amarah dan takut. Tentu itu bukan sekedar ancaman kosong. Karena pernah ia menentang Saga dan berakhir ia dilecehkan kakaknya sendiri, dengan dimandikan secara paksa dan disentuh sembarangan.

Sungguh bayangan itu masih terekam jelas dalam benaknya, dan ia cukup takut hal itu kembali terjadi padanya.

Setelah mengatakan itu, Saga beranjak pergi dengan setiap langkahnya diiringi senyum puas yang mengerikan.

Arlan mendekat lagi, “Adikku yang manis. Kau harus menuruti apa yang dikatakan Saga, dan kau harus menjauhi teman-teman priamu itu. Karena kakak nggak suka memiliki orang yang peduli sama kamu, paham,” ucapnya sembari mengusap lembut wajah Hopipah, lalu tiba-tiba menarik kuat rambut Hopipah hingga gadis itu kesakitan.

Ia kembali menarik tengkuk Hopipah ke bawah, dan mencium sekilas bibir adiknya itu dengan paksa. Hopipah menjerit kaget, mendorong Arlan dengan kuat.

Arlan hanya terkekeh melihat Hopipah yang mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangan. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di wajahnya.

“Tidak usah jijik begitu. Itu hanya ciuman selamat tinggal. Aku pergi adik manis,” ucap Arlan menoel hidung Hopipah yang langsung ditepis kasar, lalu menarik adik-adiknya pergi dari sana. Tanpa memperdulikan tatapan tajam Ringgo yang penuh permusuhan.

Setelah mereka pergi, tersisa Ringgo dan Aurora yang menemani dan siap memberikan siksaan berikutnya.

Hopipah hanya diam tanpa perlawanan, saat Ringgo benar-benar melampiaskan marahnya padanya, karena perkataan Arlan tadi.

Ya lebih baik ia dipukuli, dari pada harus dilecehkan saudara kandungnya sendiri.

Setelah puas melampiaskan amarah, Ringgo dan Aurora meninggalkannya sendiri dalam keadaan babak belur. Hopipah memeluk lututnya di sudut ruangan, dan mengeluarkan air matanya sejadi-jadinya.

...*******...

Hidup Hopipah, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan kelima pria tampan itu.

Kenji, yang hidupnya damai, bergelimang kehidupan yang sempurna serba ada dan dicintai orang tua. Keleo pun sama namun bedanya ia tinggal di rumah kakaknya tidak bersama orang tuanya yang sedang bertugas di luar negeri. Ryker keluarga yang cukup sama hanya saja ia penuh banyak tekanan dan selalu dituntut oleh kedua orang tuanya makanya ia bisa tenang di sekolah namun nyatanya di luar ia melampiaskan yang ia rasa.

Jefarel dari keluarga yang sederhana namun penuh kasih sayang dan usaha keluarganya yang sedang naik daun sukses.

Hendryk dari keluarga yang sama kaya dan terpandang dengan Keleo, Kenji dan Ryker. Namun bedanya ia cukup bandel dan suka bersenang-senang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
-Thiea-
tinggal minta ganti uang aja Pi sama Kenji..😁
-Thiea-
ini merendah untuk meninggi kayaknya ya..😁
-Thiea-
masih sirik aja Lo.. makanya jadi cewek jangan terlalu jual murah. cowok tuh gak suka sama cewek kegatelan.😁
-Thiea-
lebih tepatnya dianggap setan. jadi gak terlihat.
-Thiea-
masih aja hidup ni tiga cewek setan..😑
-Thiea-
panggilannya campur-campur ya Thor. kadang aku kamu, kadang gue loe. kalo bahasa gaul gini, pake aku kamu biasanya karena udah mulai ada rasa.
@Semua orang: heeh 😁🤭 ya gitulah
total 1 replies
-Thiea-
itu juga yang kupikirkan. enak banget dong mereka kalo masih bisa bebas. sementara hopipah hidupnya udah hancur lebur.
-Thiea-
sebenarnya bagusnya di penjara aja tuh semuanya. tapi, ya sudahlah ya. apapun yang penting kedepannya kamu benar-benar bisa hidup tenang..
-Thiea-
makanya sekarang pun gak usah dibayangkan. dinikmati aja.
Schauven
Berasa liat f4
Schauven
Padahal sekandung ya
Schauven
Linzy ini temen yg baru kenalan tp suka tmi😂 nyerocos buanyak sekali
Schauven
Sebenernya aku mikir kalau panggilannya ipah
Schauven: Keren weh inspirasinya dari kitab
total 2 replies
Schauven
Masih ngerasa lucu sama namanya, unik sekali
-Thiea-
aduh, harusnya biarkan aja mereka masuk penjara.
-Thiea-
jangan mau Opi. enak aja mereka.
-Thiea-
terus suruh dibebaskan gitu. 😑
-Thiea-
mending cari cowok lain neng. cowokmu itu toxic.
-Thiea-
akhirnya ya... walaupun masalah belum benar-benar selesai, setidaknya sudah ada orang lain di sisinya.
-Thiea-
mulai sekarang baik-baik ya sama Opi. kasihan tuh anak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!