gak pandai bikin deskripsi, langsung baca aja yah :)
semoga suka, jangan lupa untuk kasih like di setiap chapternya :)
Gavin Nikola Wijaya (17 tahun)
Nayara Samira Abyasa (17 tahun)
ig : a.mtmna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andi mutmainna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•27•
Tiga minggu telah berlalu, Naya masih di sibukan dengan kegiatan belajarnya untuk mempersiapkan olimpade yang tinggal seminggu lagi.
Semuanya masih seperti biasa tidak ada yang berubah, kecuali satu rumor yang beberapa hari belakangan ini sudah beredar. Ezhar dan Naya pacaran.
Hal itu tentu saja di bantah oleh Naya, setiap ada yang menanyakan hal tersebut padanya dia akan dengan tegas membantahnya. Sedangkan Ezhar, seperti biasa dia tidak akan menanggapi gosip-gosip murahan seperti itu.
Yang paling terbakar karena gosip ini sebenarnya adalah Gavin, andai saja dia tidak perlu menyembunyikan statusnya tentu saja dia sudah memberikan pelajaran pada mulut-mulut yang telah menyebarkan rumor tersebut.
°°
"Nay kamu baik-baik aja kan?" sahut Riana tiba-tiba ketika melihat Naya yang duduk di sampingnya terlihat resah dan terus memijit kepalanya.
Naya tak menjawab, dia masih terus menunduk sambil terus memijit kepalanya. Riana yang melihat itu tentu saja menyadari kalau sahabatnya ini tengah merasa stress.
"Sabar yah Nay, tinggal seminggu lagi kok. Kamu juga ga boleh stress kayak gini, minggu depan kan udah olimpiadenya" ucap Riana menenangkan Naya.
"Tapi aku udah capek Na, di teror terus sama fans-fans ketua osis itu. Kamu tau gak, tadi pagi aku dapet tikus mati di laci meja aku" keluh Naya.
"Lagi?!" Naya mengangguk lemah.
"Mereka gila apa yah?! Segitu sukanya sama manusia es itu!? Ya ampun Nay mending kamu bilangin Gavin deh!" pinta Riana sedikit memohon.
"Gak Na, aku ga mau Gavin punya masalah lagi di sekolah. Masalah dia udah banyak! Yang kemarin aja belum kelar pas dia mukulin orang yang nyebarin rumor itu"
"Tapi ini udah keterlaluan Nay"
"Aku bisa kok, aku masih bisa tahan. Seperti kata kamu kan tinggal seminggu lagi" lirih Naya, dia tersenyum tapi senyumnya lebih menandakan kalau saat ini dia tidak baik-baik saja.
Waktu istirahat baru saja selesai, kebetulan kelas Naya kosong. Jadi dia mengajak Riana untuk menemaninya belajar di perpustakaan. Dan kebetulannya lagi Ezhar juga berada disana.
Naya menghampirinya dan tanpa ragu langsung meletakkan buku-buku yang dia bawa di meja yang sama dengan Ezhar, hal ini sudah biasa baginya. Dia duduk berhadapan dengan Ezhar, sedangkan Riana duduk tepat di sampingnya.
Ezhar mengangkat pandangannya dan menatap Naya yang baru saja duduk di hadapannya.
"Lo baik-baik aja?!" tanya Ezhar dengan nada khasnya, datar.
Naya mengangguk tanpa membalas tatapan Ezhar, akhir-akhir ini Ezhar memang sudah sedikit berubah. Dia tidak sekaku dulu, setidaknya sekarang dia sudah lebih peka dengan keadaan orang-orang di sekitarnya terutama Naya.
"Kalau gak mood belajar ga usah di paksain! Percuma!" ujar Ezhar lagi tapi Naya sama sekali tak meresponnya.
"Tunggu disini!" perintah Ezhar kemudian berdiri dan beranjak keluar.
Riana terpaku melihat tingkah Ezhar barusan. Sepertinya ini pertama kalinya dia melihat ketua osis itu bersikap peduli dengan orang lain.
"Nay kamu yakin Ezhar ga suka sama kamu?!" bisik Riana.
"Apaan sih Rianaaaa. Kamu mau nambahin rumor itu juga?!" Riana menggeleng dengan cepat.
"Bukan gitu Nay, tapi sikap Ezhar--"
"Ssttt, udah yah aku mau belajar" potong Naya dan beralih kembali ke bukunya.
Tak berapa lama Ezhar sudah kembali dengan sebotol minuman dingin, dia langsung menaruh minuman itu di samping buku Naya. Naya melirik minuman itu tapi dia sama sekali tak tertarik menanyakan ada maksud apa minuman itu di taruh di samping bukunya.
"Minum!" Naya mengangkat pandangannya menatap Ezhar yang memerintahnya.
Bukannya mengikuti perkataan Ezhar, Naya malah menggeser posisi minuman itu ke hadapan Riana. Dan yang di sodorkan minuman tentu saja langsung tersenyum sumringan.
"Minum Na" perintah Naya pada Riana.
Riana hendak mengambil minuman itu dengan antusias tapi dengan sigap Ezhar meraihnya kembali dan langsung menarunya tepat di hadapan Naya.
'Ya salam l, ini sebenarnya aku nampak gak sih di mata dia?! Orang mau minum juga!'- batin Riana.
"MINUM, percuma lo belajar kalau otak lo panas!" lagi-lagi Ezhar menyuruh Naya minum.
Naya memutar bola matanya lalu mengambil minuman itu tapi bukan untuk meminumnya, melainkan mengembalikannya pada Ezhar. Tidak
Sampai disitu, Naya langsung merapikan buku-bukannya seakan ingin beranjak.
"Nay.." lirih Ezhar.
Nay?? Kenapa Ezhar memanggilnya dengan sebutan nama? Sungguh ini adalah kejadian langka, bahkan ini pertama kalinya ketua osis itu memanggilnya seperti itu. 'Apa lagi iji tuhan?! Kenapa dia manggilnya gitu?!'-pikir Naya
"Lo kalau ada masalah bilang ke gue!" ujar Ezhar lagi.
"Gapapa kok Zhar, daripada kamu dengerin masalah aku mending kamu urusin fans-fans kamu yang gak masuk akal itu!" ujar Naya lalu beranjak pergi seraya menarik tangan Riana yang masih melongo setelah mendengar Ezhar memanggil Naya dengan 'Nay'. Hancur sudah acara belajar Naya.
Saat sedang berjalan di koridor sekolah, Naya dan Riana malah berpapasan dengan Gavin dan dua sahabatnya. Dengan cepat Naya mengubah ekpresi menjadi ceria seperti biasanya.
"Hay cantikk!" sapa Gavin seraya tersenyum menggoda pada Naya.
"Bolos lagi?"
"Kok tau cantik?!"
Naya berdecak kesal, "Kamu kebiasaan!" balasnya.
Bukannya merasa bersalah Gavin malah memasang cengirannya, ini sudah sangat biasa baginya. Naya bahkan sudah menegurnya ratusan kali di rumah, tapi dia tak pernah mengindahkannya.
Naya dan Gavin memilih melanjutkan langkahnya. Gavin pergi ke atap sekolah sedangkan Naya kembali ke kelasnya yang saat ini cukup sepi. Karena jam kosong, jadi kebanyakan teman-temannya sedang berada di kantin atau perpustakaan.
Tepat saat Naya masuk di kelas dia sudah mendapat tatapan lekat dari Lira sekretaris kelas yang kebetulan masih berada di dalam kelas bersama dengan dua siswa lainnya.
Naya tersenyum begitupun Lira, tapi senyum Lira tidak terlihat seperti biasa. Tak mau mengambil pusing dengan hal itu, Naya langsung memilih beranjak ke mejanya, jangan lupa, Riana masih setia mengekor di belakangnya.
"Akkkhhhkk" teriakan Naya menggema di dalam kelas.
Riana yang menyadari kenapa Naya berteriak langsung menarik gadis itu manjauh dari mejanya, meja Naya di penuhi darah. Bukan! Itu bukan darah melainkan sirup berwarna merah. Riana mengeceknya langsung.
Tubuh Naya gemetar dan nafasnya memburu karena terlalu kaget. Dan tanpa Naya sadari Lira sudah berdiri di sampingnya, dia mengusap lembut punggung Naya yang sudah terduduk lemah di kursi.
"Nay yang sabar yah. Gue ga bisa bantu apa-apa untuk hal ini, soalnya yang ngelakuin ini tuh senior. Gue ga yakin kenapa mereka giniin lo, tapi gue rasa ini ada sangkut pautnya perihal hubungan lo sama Ezhar"
"Aku ga punya hubungan apa-apa sama dia Ra" lirih Naya dengan suara pelannya, saat ini dia dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Kalau lo udah ngomong gitu gue percaya kok Nay, tapi sayangnya fans-fans Ezhar udah termakan dengan rumor yang udah beredar jadi lo harus siapin mental lebih. Gue cuma mau kasih tau kalau lo bukan korban pertama dari kegilaan fans ketua osis itu, selama lo ga sendiri gue rasa lo aman kok" jelas Lira panjang lebar.
"Makasih yah Ra udah ngasih tau aku soal itu, aku bakal inget kata-kata kamu" ujar Naya dan di balas Lira dengan anggukan mengerti.
Naya beranjak dari duduknya dan mengambil tas yang berada di laci mejanya. Riana merangkul bahu Naya, dia tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu mau kemana Nay?"
"Aku mau pulang aja Na, aku pengen istirahat"
"Kamu pulang sama siapa?!" tanya Riana terlihat khawatir.
"Sama Gavin, aku nyamperin dia dulu"
"Aku anterin yah"
"Ga usah, kamu disini aja. Aku sendiri aja kan cuma ke atap sekolah"
Riana menghela napasnya pelan, lalu mengangguk mengerti, "Kalau udah sampai rumah kabarin yah" pesannya.
"Iyah"
•••
Haloha, seperti biasa aku minta like dan komen kalian hehe.
Makasih yah udah mau baca cerita aku :)
♡♡♡