Julius sedang berada di puncak karier dan kesuksesan sebagai seorang musisi ketika berita duka itu datang.
Berita tentang sahabatnya yang seorang model majalah pria dewasa tewas dan di isukan mabuk sebelum loncat dari lantai 4 Apartemen sungguh membuat Julius berhenti sejenak.
Julius yang bermasalah di masa lalu putuskan untuk membereskan segalanya. Ia juga tidak percaya sahabatnya itu tewas bunuh diri.
Julius pun pergi sendirian.
Pacarnya yang seorang artis jelas tidak terima dengan keputusan Julius yang tiba-tiba meninggalkan ketenaran dan hidup mapan.
Di saat yang sama, Nani mencari Julius dan bertemu dengan Angela.
Angela curiga, Nani cinta pertama Julius dan Nani Yakin, Angela belum putus dengan Julius. Walau demikian, keduanya sepakat untuk sama-sama mencari Julius.
Sampai akhirnya, Nani dan Angela jadi tahu siapa dan bagaimana kehidupan Julius seutuhnya.
Sisi gelap dunia hiburan, persabatan dan cinta.
Kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang jatuh bangun mengejar mimpi.
tidak cengeng, tapi sanggup membuatmu nangis. Tidak gombal, tapi sanggup membuatmu jatuh hati.
jujur, terbuka dan menginspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Kecil Untuk Kebahagiaan yang Besar
Julius tertegun di sudut tempat tidurnya. Pelipisnya berbalut perban. Rudolf duduk di kursi menghadap Julius. Pagi yang lemah beranjak terang. Ia masih tidak percaya atas kejadian kemarin itu. Restih dan perjalanan yang jauh.
Rudolf yang duduk di sampingnya juga turut bengong. Suasana senyap. Hanya terdengar helaan napas Julius yang terdengar resah.
Lorong-lorong rumah sakit yang sepi.
“Gue Egois Rud.” ucap Julius membuka pembicaraan.
“Yah, tapi itu jadi nyawa bagi kesuksesan lagu-lagu lo. Lo tidak perlu lagi merasa aneh,” ucap Rudolf coba paparkan satu pemahaman, “satu Restih kau penjarakan dalam hatimu. Sementara Restih yang asli tumbuh dengan sendirinya dan menjadi Restih yang sama sekali berbeda. Kamu menang di duniamu dan dia menang di dunianya.”
Julius menghela lelah dan coba memberi ruang untuk mengerti maksud pandangan Rudolf itu.
“Oh iya Jul. Waktu lo cabut, ada cewek yang ngariin lo.”
“Cewek? Siapa??” tanya Julius.
“Gue gak sempet tahu siapa namanya.” Perlahan dengan tubuh yang masih remuk-redam Julius bangkit dan mengaktifkan handphone. Tidak lama kemudian, masuk chat dari Angela.
“Sekarang aku kenal kamu Jul. Lucu yah, udah beberapa bulan pacaran ama kamu, baru sekarang aku kenal kamu.
Aku tidak kecewa karena kamu lebih memilih masa lalu dan menangguhkan hubungan kita. Aku bangga pernah mengenal lelaki sehebat kamu. Meski sekarang aku harus pamit dari hati lelaki hebat itu.
Maaf, aku sempat mengejarmu dan jadi tahu siapa kamu di masa lalu. Dan maaf juga, seharusnya yang kamu datangi bukan Restih.
Restih hanya ilusi, tapi 'dia' adalah nyata. Dia datang mencarimu di saat kamu mengejar ilusi.”
“Angela tau soal Restih?” tanya Julius menatap Rudolf. Rudolf tidak tahu dan angkat bahu. Julius kembali membuka chat dari Angela yang datang sambung-menyambung.
“Meskipun berat untuk meninggalkanmu. Tapi hati kecilku meyakinkanku. Datanglah padanya dan obati kerinduannya. Aku akan turut bahagia walau hati ini luka.”
“Dia? Dia siapa???” Julius pun menelepon Angela untuk menanyakan siapa yang dimaksud. Tapi panggilannya dialihkan.
Keesokan harinya Julius mampir ke kantor. Sekedar untuk menemui Cepi. Seorang sekuriti mencegatnya dan memberikan titipan Nani. Akhirnya Julius menerima titipan itu yang ternyata sebuah memori. Memori itu pun ia masukkan ke cardreader dan menontonnya via laptop dalam kantor ditemani Cepi dan secangkir teh.
Julius terkesiap. Itu rekaman dirinya waktu pertama kali manggung, waktu SMA. Julius jadi ingat waktu itu, ia suka ke tempat studio musik bersama teman-temannya itu, Julius jadi ingat eskul karawitan bersama Nani, nonton konser juga dengan Nani, makan malam dengan Nani dan pulangnya ia jatuh pingsan.
“Nani!!! Nani datang ke sini! Jadi? Jadi yang di maksud Angela adalah Nani.” Julius terhentak. Seperti terjaga dari mimpi.
“Jul? Tarik napas pelan-pelan. Tenang, tenang,” ucap Cepi.
“Bagaimana saya bisa lupa sama dia? Dia yang pertama kali benar-benar sudah membesarkan hati saya untuk konsisten di dunia musik,” ucap Julius gelagapan.
“Semua orang melakukan kesalahan. Perbaikilah sebelum terlambat.” ucap Cepi turut terenyuh.
“Om jadi ingat. Dulu Om pernah mengabaikan seorang perempuan yang baik sekali, perhatian, keibuan. Tapi Om malah menikahi wanita lain yang lebih cantik dan seksi. Om baru sadar setelah Om jatuh bangkrut dan dia yang Om nikahi pergi,” kenang Cepi, “Om sempat kembali. Tapi terlambat. Wanita yang dulu sudah bahagia dengan orang lain. Sementara saya. Hanya bisa menyesal seumur hidup. Datanglah padanya. Dari matanya Om yakin. Ia adalah ibu untuk anak-anakmu.”
***
Angela tampak melangkah enggan di bibir pantai. Menikmati pasir basah, menikmati aroma laut, menikmati angin sore dan menikmati hati yang ikhlas telah melepas Julius.
***
Nani terduduk lesu di tepian tempat tidur yang menghadap langsung ke jendela. Sinar mentari senja yang kuning keemasan menyelusup, menerangi hatinya yang kecewa.
Setetes air meluncur di pipi Nani.
Daun-daun berjatuhan di halaman belakang.
***
Restih menyanyikan lagu yang kata penyanyinya sendiri, itu tentangnya. Tentang seorang bidadari yang hilang. Tapi sekarang bidadari itu telah tenggelam di kehidupan malam, bidadari itu sekarang kotor dan ******. Tapi dua sudut telaga yang merembang itu tetap menghasilkan dua butir berlian. Bening. Murni. Restih tersentuh dan bersyukur masih bisa menangis dan menyesal. Seperti rembulan yang mulai sembuh dari gerhana. Hati Restih mulai membuang racun dendam dan kebencian.
***
Camar-camar menari mengelilingi Angela yang bertelanjang kaki menyusuri pasir pantai yang luas. Ia berharap hatinya benar-benar bisa ikhlas dan luas.
***
Nani menutup gorden jendela dan membersihkan diri. Seolah menghapus kenangan yang melekat bersama keringatnya. Mau tidak mau ia harus melupakan Julius, berhenti berharap dan melanjutkan hidup tanpa beban rindu.
Kembali Nani masuk kantor, menyelami kebosanan, mengarungi kehampaan. Sampai suatu ketika ia menerima telepon dari sang Mama yang mengharuskan dirinya pulang akhir pekan ini.
“Ada hal penting yang tidak boleh kamu lewatkan,” suara mamanya terdengar meyakinkan. Mungkinkah mamanya kedatangan Dul Muis lagi. Atau mamanya dapat calon yang lain yang agak ganteng mungkin. Nani curiga, mamanya hendak mengenalkan dirinya pada seorang calon suami. Dari nada bicaranya, dari perintah pulangnya.
“Ah,” Nani pasrah. Siapa pun yang mamanya pilihkan. Ia sekarang pasti mau, sekarang ia hanya memperhatikan kesehatan dan kebahagiaan sang Mama.
Akhir pekan pun tiba. Nani cepat sampai ke rumah. Ada dua buah mobil terparkir di pekarangannya yang sempit. Dirinya sampai sulit untuk mencapai pintu. Sesampainya di hadapan pintu, ia pun ucap salam.
“Assalamualaikum.” Sejenak senyap melingkupi. Pintu pun ada yang membuka. Tapi bukan mamanya yang membuka pintu dan menjawab salam. Tapi itu Firman yang tampak jauh lebih tua dengan dagu berewokan. Kontan Nani heran. Firman menggendong bayi perempuan.
"Firman??? Kamu?" ucap Nani penuh heran. Kenapa Firman tiba-tiba ada dalam rumah. Setahu Nani Firman sudah menikah dan punya dua putra. Mungkinkah bayi itu putra kedua Firman.
“Iya. Ini aku, aku ke sini cuma nganter temen aku. Kata mama kamu, kamu lagi butuh calon suami kan? Sekarang aku bawakan calon suami buat kamu,” ucap Firman sekenanya. Nani agak tersinggung dengan ucapan Firman itu. Nani tidak berkomentar.
“Mana mama aku."
“Di taman belakang, lagi ngobrol sama calon menantunya. Hehe. Sono gih, cepetan.” Dengan tatapan sinis dan kecewa Nani menuju pintu belakang. Begitu pintu ia buka, Dodi, dan Gugun meledakan balon dan membunyikan trompet.
“Selamat ulang tahun!!!” teriak keduanya berbarengan. Nani pun kaget bercampur senang. Bagaimana mungkin dia sendiri lupa ini hari ulang tahunnya. Ternyata teman-teman terbaiknya memberikan kejutan. Hatinya pun merasa terhibur. Tapi dibalik itu, ia malah makin ingat Julius. Karena Julius kini sudah tidak ikut kumpul lagi.
“Hik,” Nani jadi sedih.
Tapi? Nani melihat di belakang Dodi dan Gugun ada Rudolf mulai memainkan gitar bass akustik dan di susul ketukan drum yang kalem oleh Ridwan. Mata dan batin Nani terbuka lebar.
“Juliusnya mana?” pikir Nani. Pandangannya menyapu sekeliling. Tampak mamanya sedang duduk di kursi taman satu meja dengan seorang pemuda jangkung dan putih, pakaian putih dengan senyum di wajah bersih yang bercahaya. Itu Julius yang lantas bangkit dan meraih gitar akustik. Memainkannya dan mendekati Nani. Nani senang bukan kepalang. Wajah kecewanya seketika hilang berganti haru dan malu merona. Dodi menaburkan serpihan kertas yang berkilauan ke tubuh Nani. Begitu pula Firman dan Gugun. Mamanya Nani pun tertawa lebar, melihat Nani yang tampak senang sekali.
“Sono tuh, si Juli nya dirantai aja biar gak lepas,” senggol Firman.
“Ih, apaan sih?!”
“Ngaku aja lah,” goda Dodi. Nani sudah tak bisa berkutik. Rasa malu, senang dan haru bercampur.
Julius sudah sangat dekat dengan Nani. Akhirnya, keduanya pun memadu senyum. Tulus. Dekat, Dekat sekali. Kupu-kupu ikut bernyanyi. Berloncatan dari satu bunga ke bunga yang lain. Sampai sore kemudian, saat orang-orang membiarkan Julius dan Nani berduaan di taman belakang itu, di bangku taman yang menghadap matahari senja dibalik atap atap rumah tetangga. Julius menyentuh jemari Nani dan berucap lembut,
“Aku sudah belajar dari kesuksesan dan kehancuran para idola yang tidak peka akan hal ini. Dan aku, hanya ingin kamu mengerti. Aku gak mau, paling gak mau di anggap tak tahu diri dan melupakan masa lalu.” Nani menyimak dengan manis.
“Aku sangat bersyukur dengan keadaanku yang sekarang. Tapi, aku bisa sampai seperti ini karena mereka. Mereka yang aku lupakan, mereka yang aku sakiti, mereka yang banyak berjasa, mereka yang seharusnya aku hampiri dan aku bantu. Mungkin mereka tidak seberuntung aku. Semakin aku sukses, semakin aku punya banyak uang, perasaan bersalah ini semakin besar. Akhirnya aku putuskan kembali pada mereka.”
“Maaf, Aku sempat mengantar Angela dan melayat ke kuburan Wini. Lalu dari Tina lah, akhir kami tahu siapa wanita impian kamu.”
“Yah, aku berhasil menemukan wanita impian itu. Tapi aku salah. Ia hanya mimpi. Bahkan aku hanya mengenalnya selama seminggu. Akhirnya aku sadar. Ada wanita 'kenyataan' yang selama ini aku lupakan. Padahal ia sangat berjasa dari awal dan penuh motivasi untuk hidupku.”
“Jangan kamu bilang wanita 'kenyataan' itu aku.”
“Emang kamu! Siapa lagi coba?” Nada puitis ucapan Julius tiba-tiba anjlok dan hilang dan wajahnya melongo ke arah Nani.
“Tapi kita sahabatan Jul.”
“Itu yang aku butuhkan. Sahabat dalam suka ataupun duka. Sahabat yang selalu me-motivasi dan bayangkan. Betapa pengertiannya seorang sahabat. Kawin yuk," ucap Julius yang tadinya sok puitis tiba-tiba anjlok lagi jadi datar dengan wajah tanpa dosa. Sejenak Nani mengerutkan dahi menatap tajam.
Julius pun menatap mata Nani. Mata itu seperti lorong-lorong yang mulai terang. Julius menemukan masa lalu di situ, sekaligus ia juga menemukan masa depan di situ. Lebih dari itu, ia merasa, tatapan dari sepasang mata yang bening itu adalah kumparan semesta yang luas. Indah namun penuh misteri dan ia siap untuk jelajahi.
Nani tiba-tiba jadi sangat santai dan menjawab ajakan Julius dengan tanpa malu sedikit pun.
“Ia, aku juga udah pengen kawin. Eh, nikah dulu, baru kawin. Hihi,” ucap Nani lantas tertawa kecil Julius pun jadi lucu sendiri.
“Aku serius nih?”
“Emang aku gak serius! Selama ini, banyak pria yang datang. Aku tolak semua. Nunggu kamu datang, gak datang datang. Ya udah, aku yang datang. Eh kamunya gak ada, lagi ngejar cewek lain.” Tiba-tiba Julius melingkarkan tangan ke bahu Nani dan spontan Nani pun bersandar ke bahu Julius. Sejenak sepi melingkupi hati.
“Kamu janji yah, setelah kita nikah, kamu jangan ngejar cewek lain.”
“Insya Allah, aku janji, aku sumpah.”
“Ya udah yuk, kita ke dalem. Sebentar lagi gelap.” Ajak Nani, “yuk, sepertinya Mama bikin masakan special.”
“Dari dulu masakan mamamu selalu special.”
bagussss bgt thor dan ini kadang masalah yg d alami semua orang
bentar lagi masuk bagian inti teka tekinya neh
liat nani berasa liat diri sendiri, dulu temenan 10 orang, 8 cwo dan 2 cwe, sekali2 nya nonton konser grtisan tuh, yg ngeslank bareng jinggo, pulang jam 2 malem baju basah nyampe rumah abang gw dah nungguin, kabayang kan lanjutan nya apa, auto d ceramahin mpe seminggu kdepan
kadang perih dan sakit itu perlu, dalam mencapai impian, suatu saat nanti kita sukses akan terasa lebih hebat
baru ngeh q bacanya kebalik, baca purnama k2 dulu yg ini