Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Keciduk Umi
Bab 27. Keciduk Umi
(POV Author)
Selepas Ashar tamu-tamu mulai berdatangan. Dari keluarga jauh sampai kerabat serta teman-teman terdekat Abang dan kakaknya.
Teguh memperhatikan tamu-tamu yang datang. Dari awal acara sampai pada saat makan-makan, semua berjalan dengan lancar.
Ck! Nyesel datang." Ujar Teguh melihat banyak orang-orang yang datang dengan pasangan mereka.
Decakan dan gerutu Teguh itu walau pelan masih bisa terdengar oleh Roy, sang Abang.
"Makanya buruan cari yang halal." Ujar Roy dan langsung mengambil tempat duduk di samping adiknya.
"Bingung Bang, ada yang minta di nikahin sama Gue." Ungkap Teguh terbuka pada sang Abang.
"Lah, bagus dong!" Seru Roy menanggapi.
"Bini orang Bang."
"Oh, kalau itu jangan. Tidak ada yang lain apa?"
"Lah, Abang juga dulu bini orang." Kilah Teguh yang mengingat perjalanan cinta sang Abang.
"Gue sumpel nih mulut Lo! Beda kasusnya. Kak In mu tidak jadi menikah dengan Fandi dan dia juga sudah bercerai dengan mantan suaminya. Jadi bukan bini orang. Kenapa bisa kecantol bini orang sih?"
"Awalnya kasihan Bang, aku cuma nolongin dia. Makin kenal dia makin kasihan Bang. Miris banget rumah tangga dan hidupnya."
"Jangan jadi orang ketiga di rumah tangga orang lain, Guh."
"Bukan yang kayak netizen sering nonton itu Bang, Ini kasusnya lain. Mana nyangkut soal harta pula, kasihan kayak di bully gitu. Jadi gimana Bang? Nggak di nikahin kasian. Mana cakep lagi Bang."
"Sumpret bener nih anak! Coba kalau berani ngomong sama Umi."
"Duh bisa digerek Gue, Bang."
"Emang pantes kamu digerek!"
"Gak enak bener punya Abang. Coba dulu Umi melahirkan anak pertama itu kakak pasti perhatian dan sayang sama Gue."
"Huh, ngarep."
"Jadi gimana Bang, apa Gue nikahin diem-diem aja? Biar halal. Takut gue digerebek masa."
"Muka kamu emang cocok muka mesum."
"Gue gak mesum Bang, tapi kalau ada kan sayang."
"Apa sih sampai segitunya kamu pengen nikahin dia?"
"Panjang ceritanya Bang. Yang jelas Gue kasihan. Lagi pula nilai baiknya mukanya cakep banget Bang."
"Dah tua?"
"Masih muda Bang. Kisaran 20-23 kayanya, dibawah Gue. Gara-gara nolongin dia sekali malah jadi keterusan minta di tolong berkali-kali dia. Mau di tolak tu mukanya bikin hati anjlok Bang. Berat dan kasihan, mana cakep kan."
Keduanya menarik napas panjang dan menghempaskan dengan berat. Memandang jauh menerawang memikirkan solusi yang kiranya tidak merugikan keduanya.
"Hon, bisa pegangin Viran? Aku mau bantuin Emak bikin kopi di dapur." Ujar Indah, Istri Roy yang tiba-tiba datang mendekati mereka.
Roy mengambil Viran dari tangan Indah.
"Ketringannya kurang tidak Ney?"
"Tidak, Hon. Cuma butuh tambahan kopi aja. Maklum Bapak-bapak yang tidak bisa jauh dari kopi." Ujar Indah.
"Ya sudah."
"Aku kesana ya?" Pamit Indah.
Roy pun mengangguk, memberi ijinnya kepada Indah.
"Sini Bang, dah lama gak meluk si gembul." Ujar Teguh, lalu mengambil Viran dari pangkuan Roy.
"Tunggu dia cerai aja, baru nikahin." Saran Roy.
"Lakinya gak mau cerai Bang. Mau nguasain harta. Menurut surat wasiat Ayahnya, kalau cerai dari anaknya nggak akan dapet apa-apa Bang."
"Kaya?"Tanya Roy.
"Harusnya, tapi malah kek orang kismin Bang. kucel banget."
Sengaja Teguh tidak membeberkan seberapa kayanya Lyra kepada Abangnya, atau keluarga yang lain. Lyra masih klien bagi Teguh, dan akan di jaga privasinya.
"Lah, tadi katamu kamu cakep." Kata Roy menatap Adiknya bingung.
"Justru itu Bang, kucel aja cakep gimana glowingnya."
"Serah kamu deh. Tapi ingat jaga nama baik Umi dan Abi."
"Apa Gue cerita ke Umi aja ya Bang, masalah ini."
"Cerita apa Guh?"
"Astagfirullah....!"
Keduanya serempak berucap karena terkejut oleh kedatangan Umi yang tidak mereka sadari.
Baik Teguh dan Roy keduanya saling diam. Masih takut membicarakan hal yang baru saja mereka bahas kepada Uminya.
"Nggak ada apa-apa Umi. Teguh mau bawa Viran kesana dulu ya? Kayaknya dia mulai bosen disini."
"Roy juga mau bantuin Indah dulu, Mi."
Keduanya langsung kabur dari sang Umi begitu mendapatkan kesempatan. Karena banyak sanak saudara dan kerabat yang hadir menyapa, Umi pun tidak dapat membahas lebih lanjut atas rasa penasarannya.
Teguh berencana akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada Uminya soal Lyra. Pria itu harus meminta restu orang tuanya lebih dulu, jika suatu hari nanti Lyra mendesak dirinya untuk menikahi wanita itu.
Acara berakhir hampir menjelang maghrib. Seluruh keluarga bersiap melakukan sholat berjamaah bagi yang tidak berhalangan. Setelah itu, baru lah mereka melakukan pekerjaan mereka untuk membereskan sisa-sisa acara.
Ketika hanya menyisakan keluarga inti saja, mendadak sepi mengisi hati Teguh. Ia teringat kepada bocilnya yang belum ada lagi memberi kabar sejak terakhir mereka bertukar pesan.
"Lagi ngapain ya si Bocil?" Gumam Teguh menatap kontak Lyra di layar handphone-nya.
Rasa penasaran yang begitu kuat akhirnya memaksa Teguh melakukan panggilan video kepada Lyra.
Tidak lama panggilan itu di angkat. Terpampang lah wajah Lyra hampir memenuhi layar handphone Teguh.
"Assalamualaikum Cil..."
"Waalaikumsalam Bang..."
"Lagi ngapain? Mita jadikan nginep di Apartemen Abang?"
"Iya Bang, tuh lagi ngabisin stok camilan yang Abang beli."
Lyra memutar arah kamera handphone-nya mengarahkan kepada Mita yang sedang sampai memainkan handphone-nya sambil makan.
"Kamu udah makan belum Cil?"
"Udah Bang, tadi sama si Tong, makan ayam geprek. Dan baru aja selesai ngemil juga."
Teguh merasa senang, mendengar jawaban Lyra.
"Kamera mu Cil, Abang pengen lihat kamu."
Eh....
Lyra segera mengganti posisi kameranya kembali ke semula. Tampak lah wajahnya lagi-lagi memenuhi layar di handphone Teguh bersama semu merah di pipi yang samar-samar.
"Abang sudah bertemu keluarga?"
"Udah dong. Acara udah selesai Cil, jadi Abang tinggal santai aja."
"Umi Abang ya?"
"Umi masih beres-beres."
Teguh yang fokus menatap Lyra untuk meredakan rasa rindu yang belum ia sadari, tidak tahu bahwa di belakangnya ada sang Umi yang memperhatikan.
"Aa... Assalamualaikum Bu... eh, Umi."
Jantung Teguh seakan berhenti berdetak mendengar salam dan sapaan dari Lyra untuk seseorang. Teguh yang tadinya duduk santai berubah tegang. Bulu di sekitar tengkuknya tiba-tiba meremang.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Umi di belakang Teguh sontak membuat pria itu membatu seketika.
Umi langsung menyambar handphone Teguh yang terdiam mematung itu. Dan memandang sosok Lyra sambil tersenyum.
"Kok Umi kayaknya kenal ruangan itu?" Ujar Umi memandang background Lyra.
Syaraf otak Teguh menegang dan langsung tersadar dari kediamannya.
"Umi, Teguh bisa jelasin Mi." Teguh mengambil handphone-nya ditangan Umi. "Cil dah dulu ya, ntar Abang telpon lagi." lalu mematikan panggilan itu secara sepihak tanpa mengucapkan salam.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄