NovelToon NovelToon
Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Single Mom / Identitas Tersembunyi / Cinta Murni / Romansa / Konglomerat berpura-pura miskin
Popularitas:591.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Pena_Senja

Belajar dari kisah kakaknya yang gagal dalam berumah tangga, Kamil rela menyamar sebagai tukang sayur keliling demi mendapatkan cinta sejatinya. Dia pergi keluar kota hanya untuk berjualan sayur.

Dia tidak menyangka jika akan jatuh cinta pada seorang janda muda beranak satu, Medina. Bagaimana perjuangan Kamil mendapatkan cinta Medina karena ternyata
putranya Malvin tidak mengijinkannya dekat dengan Medina.

Yuk cari jawabannya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Will You Marry Me

”Mama, kalian jadian?” selidik Malvin diam-diam anak itu menguping pembicaraan kedua orang dewasa itu dari balik pintu kamarnya yang sengaja dia buka sedikit.

”Jadian apaan, kenapa kamu selalu ingin tahu urusan orang dewasa,” keluh Medina mau kesal tapi Malvin adalah anaknya sendiri.

”Ya jika memang hal itu benar pun tidak masalah, aku sebagai anakmu akan mendukungmu Ma. Yang perlu mama ketahui Om Kamil itu baik kok,” ucap Malvin lalu menarik lengan Medina masuk ke kamarnya.

”Dia memberikanku banyak barang, lihatlah!”

Medina menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya, di tempat tidur Malvin ada beberapa barang branded dan juga ponsel keluaran terbaru.

”Kapan kau membelinya?”

”Tadi waktu mama ke supermarket,” balas Malvin.

Medina mengecek satu per satu tas, sepatu, jam tangan serta t-shirt dan ponsel semuanya merek terkenal.

”Malvin jika dia memberimu barang lagi tidak bisakah kau menolaknya jika kita terus saja menerimanya mama khawatir tidak bisa membalasnya dan yang ada hutang semakin menumpuk,” jelas Medina.

”Ma, Malvin sudah menolaknya tapi Om Kamil memaksanya karena dia pengin Malvin masuk sekolah dengan suasana dan gaya baru begitu katanya,” kilah Malvin.

”Mama gak yakin deh,” bantah Medina.

”Baik, mama tanyakan padanya saja kebenarannya oke!”

Medina diam tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi perkataan Malvin.

***

Kamil datang ke kantor rupanya Hamid papanya sudah berada di sana menunggunya.

”Kau datang terlambat?” ucap Hamid.

”Biarkan saja, perusahaan ini milikku sendiri jadi aku bebas mau datang kapanpun aku mau bukan?” sahut Kamil.

"Ck! Kebiasaan selalu membantah perkataan orang tua,” balas Hamid.

”Jika memang faktanya demikian papa mau apa? Aku mendirikannya dengan susah payah jadi kenapa aku mesti takut. Oh iya dimana anak kesayangan papa, dia tidak ikut mendampingi ke sini?”

”Dia ada urusan dan nanti akan menyusul kemari.”

”Oh begitu.”

”Dia itu saudaramu kenapa kau bersikap seperti itu padanya.”

"Maksud papa?”

"Istrinya Alea, bukankah dia sahabatmu kenapa kau tidak menyakinkan gadis itu untuk menerima abangmu itu,” jelas Hamid.

”Astaga Pa, Kamil kasih tahu papa sekarang biar semuanya jelas dan tidak ada lagi kesalahpahaman jika antara aku dan Alea tidak ada hubungan apapun. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri jadi jangan khawatir aku akan merebutnya karena aku sudah memiliki calon sendiri.”

”Benarkah? kenapa kau tidak mengenalkannya padaku?"

”Nanti jika sudah tiba waktunya, saat ini dia belum siap karena ada beberapa hal yang harus disiapkan lebih dulu.”

”Terserah kau saja, ayo kita mulai meeting-nya papa akan segera pergi keluar kota siang ini.”

Keduanya pun segera masuk ke ruang meeting disusul Daren dan Farhan. Hampir satu jam lebih mereka berada di dalam begitu keluar Farhan langsung menghadang adiknya.

”Abang mau bicara denganmu,” ucap Farhan.

Dengan malas Kamil berhenti, ”Apalagi Bang, jika masalahnya masih sama maka lupakan saja karena aku takkan pernah membahasnya lagi.”

”Abang harap kau bisa menjelaskannya pada Alea.”

”Sudah Bang, aku sudah melakukan hal itu jika dia masih saja mengejar diriku maka itu bukan salahku tapi salah Abang kenapa tidak bisa menaklukkan hatinya.”

Kamil segera berlalu meninggalkan Farhan dengan perasaan kesal tadi papanya yang mengatakan hal itu dan sekarang Farhan.

"Kakak sama adik sama saja, sama-sama keras kepala,” seru Daren begitu Kamil masuk ruangannya.

”Diam kau! Aku mau menanyakan sesuatu padamu,” ucap Kamil.

”Apa?”

”Jika wanita diajak menikah dan belum memberikan jawaban kira-kira berapa hari kita meminta jawabannya.”

”Kau sedang melamar Medina?”

"Astaga aku sedang tanya padamu tapi kau justru balik bertanya padaku, katakan saja yang kau tahu.”

"Tidak pasti ada yang cepat ada yang lama, kadang tanpa kita minta biasanya akan bicara dengan sendirinya. Jadi benar kau melamar wanita itu?”

”Iya anggap saja demikian.”

”Wow luar biasa! Semoga dia segera memberikan jawaban atas kegelisahan hatimu,” ucap Daren.

”Kau sedang mengejekku kan?"

”Menurutmu? Mana ada seorang teman mengejek temannya yang sedang berbahagia, yang ada dia akan ikut bahagia karena temannya itu telah menemukan pasangannya.”

”Oke aku pegang kata-katamu itu.”

”Ck! Serius amat!”

”Ini berkas yang kau minta dan mengenai rumah itu di dalamnya sudah ada berkas dan sertifikatnya.”

”Terima kasih banyak untuk bantuannya,” ucap Kamil membuka berkas yang diberikan Daren padanya.

”Aku pergi dulu ya.” Kamil segera berlalu meninggalkan kantornya tujuannya satu rumah Medina.

***

"Bang Kamil,” ucap Medina terkejut dengan penampilan Kamil yang terlihat gagah dan tampan.

”Aku boleh masuk?”

”Si-silakan Bang,” ucap Medina gugup.

Kamil duduk dan menyerahkan map biru pada Medina.

”Apa ini?" Medina membuka map yang diberikan Kamil padanya.

”Sertifikat rumah dan isinya semua sudah aku alihkan atas namamu,” ucap Malik.

Medina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

”Kenapa kau melakukan ini?”

”Medina sudah aku jelaskan kemarin bukan jika aku ingin membahagiakan dirimu, ini tidak seberapa untukku dan aku ingin membuktikannya jika aku benar-benar mencintaimu bukan hanya ucapan semata.”

”Tapi ini terlalu berlebihan Bang.”

”Tidak, bahkan ini tidak sebanding dengan besarnya rasa cintaku sama kamu,” ungkap Kamil.

"Katakan apa yang kau rasakan aku ingin mendengarnya,” tanya Kamil mendesak Medina.

”Maksudnya?"

”Kau juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan kan, jawab jujur.”

Medina hanya diam dirinya tidak bisa mencerna perkataan Kamil, saat ini dia justru menatap intens pada sosok yang ada di depannya cukup lama, sejak kapan pria ini berhasil memporak-porandakan hatinya.

"Malah melamun, aku tidak kalah tampan kan dengan papanya Malvin bahkan aku yakin aku jauh lebih tampan darinya sekarang,” ucap Kamil percaya diri mengurai senyumnya.

”Sombong sekali,” sahut Kamil.

”Tapi memang benar kan? Ayo ngaku!”

Medina mengangguk tersipu malu, memang benar jika Kamil lebih tampan dari Daffa.

”Jadi ... kamu mau kan menerimaku?”

Kamil mengeluarkan kotak beludru berwarna biru navy, dan mengeluarkan isinya.

”Mungkin ini terlalu cepat untukmu tapi aku sendiri tidak mau melepas kesempatan yang ada dan buatmu ini bukanlah lamaran yang romantis menurut versimu, Will you marry me?”

Medina menitikkan air matanya mendengar ajakan Kamil, antara bahagia dan juga sedih berbaur menjadi satu. Andaikan ibunya masih hidup mungkin dia bisa membayar rasa bersalahnya pada wanita yang telah melahirkannya dan perasaan bahagianya akan lengkap.

Kamil kebingungan sendiri karena respon Medina di luar ekspektasinya, dia ingin merengkuh tubuh mungilnya namun wanita itu justru menolaknya.

"Maaf jika hal ini membuatmu sedih,” ucap Kamil merasa bersalah karena telah membuat wanita ini menangis.

Medina menggelengkan kepalanya, ”Aku teringat ibuku.”

Kamil melirik jam tangannya hampir jam dua itu tandanya sebentar lagi dia harus menjemput Malvin.

"Medina, aku harus menjemput Malvin sekarang, apa kau mau ikut ke sekolahannya?” tawar Kamil.

”Tidak perlu lagian dia sudah dewasa kenapa aku harus ikut kayak anak TK saja.”

Kamil tertawa mendengar tanggapan Medina. ”Siapa tahu dia mau bernostalgia.”

”Yang ada justru membuatnya malu, sudahlah jika kau ingin pergi sekarang pergi saja daripada dia menunggu terlalu lama di sekolahan kasian nanti.”

”Baiklah aku pergi sekarang, aku akan mengajaknya jalan-jalan dulu sebentar boleh ya.”

”Terserah.”

Kamil meletakkan kotak beludru di atas meja. ”Simpan ini jangan sampai hilang, aku akan senang jika kau mau memakainya. Assalamualaikum.”

"Waalaikumussalam,” jawab Medina memandang Kamil pergi dan lagi-lagi dia terkejut melihat mobil yang dibawa olehnya.

”Sebenarnya siapa dia?”

1
Eko Nur Yanto
Lumayan
Herma Wati
ibunya Kamil kok berubah nama jadi Maryam?
Zaiziluu
sejauh ini masih luruss🤭
Zaiziluu
torrr pliss kasih visualnnya dongg ☝️🥲
Nada Cinta
cerita ini nie sudah tamat apa blum sich kok dah lama ngk ada di lanjut yo
Pena_Senja: belum kakak, insyaAllah nanti tak lanjutkan, sibuk di duta 🙏
total 1 replies
Nada Cinta
hilang
Reny Saputro
semangat
AR Althafunisa
iya udah, sama Daren aja udah kamu Alea. biar si Farhan hancur baik percintaan bgtu juga kerjaan. Ngeselin tuh orang
AR Althafunisa
ampun deh kagak bapak kagak anak 🤦
kasihan kamu Alea 🤣
AR Althafunisa
kaya ga ada kerjaannya Kalea, mau menghasut orang Bae 😌
AR Althafunisa
Cantikkkk
AR Althafunisa
si Daffa eror apa bagemana itu orang, plin plan. Tadi dia kagak berani ngelawan mamanya ngikutin maunya. Bercerai terus nikah lagi, sekarang udah nikah malah bikin nambah dosa ke istri barunya. Kalau masih cinta sama Medina seharus nya tegas lah... sekarang udah bercerai udah nikah lagi sama orang lain malah bikin masalah 😌
Iing Panru
lanjutkan thor
Choirul Anam
l1qllaaQaaAAa laal
Anonim
Ah malas baca sory thor aku unfav kecewa aku
Miuchan Jr.
ceritanya gantung
Cantika Ahtania
medina cantik
muthia
kapan bahagianya masalah terus🙏
Miuchan Jr.
masa ayam 3 ekor buat 75 nasi kotak. sekecil apa potongan ayamnya ya🤔
Cantika Ahtania
kamil aku padamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!