Bagai mimpi buruk yang nyata, jelas, lagi menekan seorang gadis bernama Sharena setelah dijadikan alat tukar hutang ayahnya pada seorang Presdir kejam, Keanu Abraham. Bukan hanya itu, kehidupannya bagai di neraka semenjak terperangkap dalam kebencian Keanu yang menuduhnya sebagai penyebab kematian saudaranya. Benci, dendam, berselimut luka dan cinta.
“Tegakkan kepalamu, sambutlah neraka di depanmu!” (Keanu Abraham)
“Aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu tuduhkan.” (Sharena)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Saudara Daniel, kami membawa laporan atas kasus penculikan dan pelecehan terhadap saudara, Sharena, beserta kepemilikan senjata api yang disalah gunakan," ucap petugas kepolisian menjemput paksa Daniel Adtmaja.
"Ini hanya salah paham, Pak saya tidak salah, kami sama-sama saling mencintai dan dia—" tunjuk Daniel pada Keanu.
"Orang yang sudah menyerangku lebih dulu," sanggah Daniel tak terima.
"Silahkan ikuti kami, nanti bisa dijelaskan di kantor," sahut petugas kepolisian membawa paksa Daniel yang saat itu nampak murka. Menatap Keanu penuh dendam.
Sejenak Keanu bernapas lega, melihat si bajingan itu diringkus paksa, meski belum sepenuhnya puas mengingat kejadian itu cukup membuat istrinya dalam bahaya.
Keanu masih setia menunggu Sharen, kondisi perempuan itu masih juga belum membaik. Terpantau di ruang ICU.
Kabar buruk itu pun sampai ke telinga Nyonya Abraham. Ibu dari Keanu itu nampak merespon santai perihal yang terjadi dengan istri dari anaknya. Perempuan yang masih modis di setengah abad kehidupannya itu berharap Keanu akan meninggalkannya. Menurutnya perempuan yang kini terbaring lemah tak berdaya itu hanya membuat hidupnya rumit saja.
Sudah beberapa hari ini Keanu masih setia menunggu istrinya yang belum juga ada tanda-tanda membaik. Pria itu hanya sesekali pulang untuk keperluan pribadinya, kemudian kembali lagi, meninggalkan banyak hal untuk tetap berada di rumah sakit. Bahkan mengerjakan setengah pekerjaan kantornya di sana.
Apa yang sebenarnya Keanu khawatirkan, toh Sharen juga masih belum sadar. Hidupnya nampak berbeda saat kembali ke rumah, dan ternyata tidak ada seseorang yang mengisi sofa kamarnya. Terbiasa dilayani dengan perlakuan spesial, membuat pria itu berasa ada yang hilang.
Vibrasi handphonenya kembali memekik saat pria itu masih berada di ruangan. Keluar menelik layar, yang ternyata ibunya yang menghubunginya.
"Keen, kuharap kamu nanti malam datang, ini hari spesial mama dan aku mau kamu ada," ucap perempuan itu di ujung telepon.
Nyonya Abraham hendak mengadakan jamuan spesial di rumahnya dalam rangka memperingati hari kelahirannya yang sudah memasuki lima dasawarsa.
"Keen akan usahakan, Ma, tapi mungkin sedikit terlambat," ucap pria itu tak langsung mengiyakan. Dirinya sibuk di rumah sakit, Sharen juga belum sadar.
Telepon ditutup dengan Keanu merenung seorang diri. Sejenak menatap perempuan yang tengah berbaring lemah dengan bantuan alat medis yang terpasang di tubuhnya. Ada rasa tak nyaman saat melihat tanda keunguan di leher jenjang istrinya bekas bajingan itu yang hampir memudar. Hatinya kembali dikuasai gejolak emosi yang masih belum juga padam. Daniel benar-benar baji**** ulung yang patut dimusnahkan.
Keanu memang membencinya, tetapi ia buka rapist yang menjijikkan. Hidupnya hampir tidak pernah bersinggungan dengan seorang wanita. Bahkan rasa sakit perpisahan orang tuanya masih membekas begitu nyata.
Pria itu meninggalkan ruangan, memberi ruang untuk hatinya yang mendadak tak karuan. Antara kesal, benci, dendam, dan rasa entah yang tertanam menjadi satu. Beruntung perempuan itu masih terbaring tanpa kesadarannya, Keanu tidak bisa meminta penjelasannya. Terlebih atas hubungan mereka yang mungkin saja sudah jauh.
Waktu bergulir terasa lama, membuatnya hanya terpaku dalam ruang jemu. Menunggu dengan perasaan beku. Menilik jam di tangannya yang hampir beranjak petang. Sejenak mengingat undangan ibunya. Haruskah ia datang, atau tetap berada di sana yang entah dengan tujuan apa, karena pada saat perempuan itu ada pun, Keanu merasa sangat membencinya.
Beberapa deringan yang masuk ke ponselnya kembali menghiasi layar. Ibunya menghubungi kembali, membuat Keanu menghela napas panjang.
Pria itu beranjak dari rumah sakit, meninggalkan Sharen hanya dengan perawat jaga saja. Seperti tak ingin ditunggui oleh pria itu pada intinya, Sharen membuka matanya malam itu. Merasakan ruang hampa dengan pandangan samar. Tidak menemukan siapa pun di sana, berkedip lembut menguasai kesadarannya.
"Sharen, kamu sudah sadar?" Dokter Arya yang malam itu kebetulan tengah jaga malam menghampiri. Merasa khawatir melihat kondisi orang yang dikenal baik olehnya.
"Arya," panggil Sharen lirih.
"Iya, syukurlah kamu mengenaliku dengan baik setelah beberapa hari ini tak sadar. Aku akan menghubungi suamimu," ujar pria itu merasa harus membagi info penting itu.
"Nggak, jangan Arya, jangan menghubunginya," cegah perempuan itu cepat. Hendak bangkit dari pembaringan tetapi belum kuat.
"Apa yang kamu lakukan, tubuhmu terluka, sebaiknya tetap berbaring," ujar Arya memperingatkan.
"Arya, apa lukaku parah? Kenapa aku sampai dirawat di ruangan ini?" tanya Sharen mulai mengingat kejadian mengerikan yang menimpa dirinya.
"Beruntung tidak mengenai organ tubuh vital, walaupun merusak beberapa jaringan, kamu perlu istirahat banyak untuk memulihkan tubuhmu."
Sejenak Sharen merasa beruntung, saat membuka mata menemui orang yang baik di sana.
"Ar, bolehkah aku tetap pura-pura tidur, aku belum semangat menemui hari, terlebih orang-orang ambisius yang sengaja berbuat nekat padaku."
"Turut prihatin dengan apa yang menimpa dirimu, aku masih tidak percaya Daniel melakukan itu padamu. Dia terlihat baik, tetapi tak tahunya begitu."
"Aku takut Ar, dia datang kembali, aku ingin hidup tenang," ucap Sharen lirih. Menyiratkan trauma yang begitu mendalam. Ia hanya sedang lelah setelah beberapa kejadian menimpa dirinya secara bertubi.
"Daniel sudah ditangkap polisi, Keanu sendiri yang melaporkannya. Kamu tidak perlu takut, aku akan bantu menjagamu di sini," ujar Arya merasa iba.
"Seandainya kamu mengabarkan kematianku pada mereka, apa bisa Ar? Aku ingin hidup sedikit lebih tenang," ucapnya nelangsa.
Dari mulai tertuduh membunuh sahabat sendiri, digadaikan ayahnya hanya sebagai penebus butang, dan menjadi bulan-bulanan psikopat gila, Sharen jelas mengalami banyak tekanan. Satu-satunya cara untuk terlepas dari bayang-bayang Keanu hanya dengan membuat dirinya hilang dari muka bumi.
"Maaf, Sharen, itu menyalahi kode etik, bagaimana bisa aku melanggar sumpahku, pasti ada jalan, jangan melakukan apa pun."
"Aku tidak ingin kembali, aku takut Ar, tolong aku, atau matikan saja aku dengan obat-obat yang ada, aku lelah," ucap perempuan itu memohon.
Naluri pria itu bergejolak, ada rasa tak tega, tetapi ia juga tidak mungkin melakukan apa yang menjadi permintaannya. Bagaimana mungkin orang yang masih hidup dikabarkan sudah meninggal. Sungguh itu sangat bertentangan dengan hatinya.
"Jangan memikirkan apa pun untuk malam ini, biarkan tubuhmu pulih dulu," ucap pria itu tak ingin membahas lagi.
"Aku tidak punya banyak waktu, bagaimana kalau Keen datang?" Sharen mengkhawatirkan suaminya yang kembali akan menyalahkan ataupun dengan kejadian ini semakin membuat hidupnya lebih menderita dari apa yang pernah ada.
"Aku belum akan memindahkanmu, tetap diam di sini pura-pura tertidur, sebelum aku menemukan jawabannya. Aku perlu memikirkannya," ujar Arya akhirnya sedikit memberi harapan.
.
Tbc
.
Promo novel