Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 Dilema Galih
Ucapan syukur pun terdengar bergantian dari setiap yang mendengar jeritan si bayi. Semua lega dan bahagia karena perjuangan Lana melahirkan anak pertamanya berhasil lancar dan normal meski diwarnai beberapa ketegangan akibat sang bidan sudah mengultimatum akan dirujuk ke rumah sakit untuk operasi bila sampai di batas jam yang ditentukan tidak juga berhasil pembukaan total. Hal tersebut dikarenakan air ketuban sudah banyak berkurang dan khawatir akan ada infeksi ke janin kalau sampai terlalu lama berada di dalam sementara ketuban sudah pecah duluan.
“Alhamdulillah, selamat Mbak Lana, putrinya sehat dan cantik sekali,” ucap Bu Bidan yang lantas menyerahkan bayi Lana itu kepada asisten perawat untuk dibersihkan.
Bayi merah yang masih berlumuran darah dan cairan itu terus berteriak nyaring dengan seluruh anggota tubuhnya bergerak meronta-ronta, seolah tak sabar mengeksplorasi dunia di hadapannya. Dunia baru yang ditemuinya setelah tempat ternyaman di dalam rahim sang bunda.
Lana menangis penuh haru sambil tersenyum dan tak bisa berkata apa-apa selain merasakan kelegaan yang luar biasa. Galih memeluk sang istri begitu erat sambil membiarkan sang bidan menyelesaikan treatment di bagian jalan lahir yang katanya tidak membutuhkan jahitan.
Bu Asih tampak mengikuti dan melihat sang asisten perawat yang membersihkan cucunya. Ia sangat tak sabar ingin menggendong sang cucu pertamanya itu dengan sukacita yang membuncah dalam dada. Begitu pun Pak Ilham sang kakek yang juga begitu berharap segera menggendong cucunya.
Bu Asih lantas membawa si kecil kepada menantunya untuk diadzankan di kedua telinganya pertama kali. Galih menerima sang putri dengan wajah yang tak terkira cerah sinar bahagianya terpancar. Bahkan saking terharunya, mata hitam pekat itu sampai berkaca-kaca. Selesai mengumandangkan azan, Galih menimangnya sebentar kemudian langsung meletakkannya ke tubuh sang istri atas perintah Bu Bidan.
Sang bayi dibiarkan belajar mencari di mana putting susu ibunya dan menyedotnya. Namun, air susu Lana memang belum keluar juga hari itu. Dia sudah selalu melakukan pijatan-pijatan yang disarankan untuk merangsang produksi ASI selama hari-hari menantikan persalinan, tapi tetap saja ASInya belum juga keluar. Alhasil, si bayi semakin keras menjerit yang disimpulkan sebagai lapar oleh para orang di sana.
“Aduh, gimana ini, dikasih sufor aja dulu, kasihan lapar,” ucap Bu Tutik menyarankan.
“Tidak usah dulu, Bu. Biarkan saja. Bayi sudah punya cadangan makanan dari Rahim sampai tiga hari ke depan. Jadi masih aman kalau ASInya belum keluar juga hari ini. Biarkan terus bayinya menyusu ya, nanti kenyotan dari si bayi juga akan membantu merangsang produksi ASI dari Bu Lana soalnya,” sela Bu Bidan langsung melarang saran dari Bu Tutik tersebut.
Lana tampak sedikit stres karena merasa ia tak berguna sebab tak langsung bisa menyusui bayinya. Alhasil Bu AsIh dan Galih bergantian menggendong dan mengayun-ayunkan si bayi demi membuatnya tenang sedikit. Sama halnya pula dengan Bu Tutik. Namun ia tampaknya lebih memilih mendekati Galih dan bertanya mereka kira-kira akan pulang jam berapa karena rasanya khawatir dengan rumah yang ditinggal tanpa penjagaan sama sekali.
“Mari, Bu. Kalau ada kepentingan di rumah, biar saya yang antar pulang,” usul Pak Ilham menawarkan diri. Karena jelas ia tak mau kalau Galih harus meninggalkan putrinya yang sedang butuh ditemani oleh sang suami.
Bu Tutik tampak salah tingkah dan segan kalau harus merepotkan sang besan lagi.
“Ah, tidak perlu, Pak. Biar saya sama Galih saja nanti.”
“Iya kalau sama Galih ya sekalian menunggu Lana selesai, Bu. Sabar, ya. Tidak akan lama karena tidak perlu jahitan katanya,” tukas Bu Asih menyabarkan sang besan.
Ia sebenarnya jengkel dengan si besan yang dari tadi gelisah ingin pulang saja. Seperti tidak ada kecemasan sama sekali pada Lana yang tengah berjuang di antara hidup dan mati demi melahirkan cucunya. Sungguh tidak pantas menurutnya mengkhawatirkan hal lain sementara Lana tadi belum tau akan berhasil melahirkan normal atau berakhir ke meja operasi.
Akhirnya Galih pamit sebentar untuk mengantar sang ibu pulang karena toh nanti Lana akan langsung dipulangkan ke rumah Bu Asih. Ya, sesuai kesepakatan bersama, Lana lebih memilih tinggal sementara di rumah ibunya sendiri untuk memudahkan Bu Asih turut serta membantunya merawat bayi. Bu Tutik sudah dengan gamblang beberapa kali berkata bahwa ia mungkin sudah tak begitu hafal bagaimana cara membedong bayi, juga mengurus ibu yang baru melahirkan. Atau dalam artian ‘malas repot’.
“Yang kasih nama nanti kamu aja loh, Galih. Kan kamu ayahnya. Jangan boleh kalau dikasih nama sama mertua kamu, ya!” Bu Tutik berpesan dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Galih sendiri dan Lana sudah memiliki beberapa opsi nama untuk bayi mereka baik laki-laki maupun perempuan, tetapi tinggal memilihnya saja yang belum bisa dipastikan.
“Kami udah punya sendiri namanya, kok, Bu,” jawab Galih seadanya.
Bu Tutik tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Ia lalu segera masuk rumah dan berpesan pada Galih untuk selalu pulang ke sana di malam hari karena ia tak berani kalau harus tidur sendirian.
“Wah, Bu. Bagaimana, ya? Takutnya kalau nanti anaknya rewel gimana? Kan kasihan Lana kalau urus sendirian, Bu?” protes Galih menahan kesabaran. Ia ingin membantah keras tapi juga ta tega pada ibunya. Kalau tidak ingin tidur sendirian kenapa juga menyuruh Lana tinggal di rumah orangtuanya saja? Itu kan sama saja seperti beliau sedang memisahkan dirinya dnegan istri dan anaknya. Anaknya yang baru saja menginjakkan kakinya di dunia. Masa-masa di mana seharusnya sang ayah menemani sepanjang malam bila sehariannya ia bekerja. Astaga!
“Halah, kayak Ibu nggak pernah hamil dan melahirkan saja. Ibu dulu juga sama melahirkan malah ayah kamu kerja di luar kota. Pulangnya gak tentu dua hari atau tiga. Pun itu gak bisa menginap lama. Biasa aja, kan di sana juga ada orangtua Lana yang bisa bantuin,” jawab Bu Tutik dengan nada yang meremehkan.
Galih mencoba mengabaikan permintaan ibunya itu. Nanti akan dipikirkannya lagi solusi yang tepat. Yang terpenting sekarang ia harus kembali ke klinik bersalin bidan dan membawa Lana serta bayinya pulang ke rumah mertuanya.
Tak lupa Galih juga mengangkat satu tas besar berisi baju-baju dan perlengkapan pribadi Lana yang memang telah dipacking oleh istrinya itu untuk dibawa ke rumah orangtuanya ketika telah bersalin. Bajunya cukup banyak karena rencananya akan selama empat puluh hari tinggal di sana.
Bu Tutik hari itu juga langsung mengabari Gilang bahwa anak Galih sudah lahir berjenis kelamin perempuan. Serta merta Gilang memiliki alasan untuk membawa pulang Ely dari rumah ibunya dan mengajaknya ke rumah Lana untuk sambang bayi.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻