Fani nggak menyangka sebagai anak petani merantau ke Jakarta bisa merubah hidupnya dan juga hidup keluarganya walaupun harus merasakan sakit hati terlebih dulu.
Menjalani hidup dilandasi tanpa rasa cinta siapa sangka dia kini bisa menerima seseorang yang dulu sangat membencinya.
Ikuti kisah mereka hanya ada di noveltoon
jangan lupa, vote, coment, like dan tambah favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Kaka ipar." Seseorang memanggil Fani dengan sebutan kaka ipar.
Bu Hanum tersenyum mendengar anak bungsunya memanggil Fani dengan sebutan kaka ipar, Kevin nendelik melihat, Ibra sang adik memanggil Fani dengan sebutan kaka ipar.
Kevin yang tadinya mau masuk kedalam kamarnya langsung berbalik badan dan menghampiri adiknya yang masi duduk di bangku SMA kelas 12.
"Hei, jangan ngaco kamu ya, dia bukan kaka ipar kamu dia perempuan pembawa sial yang sudah bikin abang celaka." Ujarnya melihat Ibra sang adik.
"Heleh, abang saja yang mabuk bawa mobil pake ugal-ugalan segala untung nggak nabrak kaka ipar, coba saja kalau nabrak anak orang bisa masuk penjara." Sahutnya.
"Dasar kamu ya, Ibra adik kurang ajar nggak ada sopannya sama abang sendiri," Katanya lagi.
"Sudah-sudah kalian ini kalau bertemu selalu saja bertengkar." Bu Hanum menghentikan perdebatan mereka.
"Bi, bi Asih." Bu Hanum memanggil ART yang sudah lama ikut dengannya.
Bi Asih berlari saat mendengar namanya di panggil sama nyonyanya, beliau berlari tergopo-gopo mendekati majikannya.
"Iya nya, saya." Sahutnya ngos-ngosan.
"Ini bawa Fani masuk kedalam, dia mulai sekarang mau menjadi asisten Kevin, ajari apa saja yang harus di kerjaan sama dia." Bu Hanum memberi tau bi Asih.
"Maksud mamah apa, menjadikan dia asisten Kevin? Kan Kevin sudah memiliki asisten sendiri di kantor?" Tanyanya.
"Iya itu kan di kantor, mulai sekarang Fani yang akan mengurus kebutuhan kamu, dari mulai pakaian, membangunkan kamu dan mengantar makanan siang kamu di kantor biar kamu nggak makan sembarangan."
"Mah, Kevin bukan anak kecil lagi yang harus di siapkan pakaiannya, di bangunkan tidurnya, dan di antarkan makan siang." Protesnya.
"Sudah turuti ucapan mamah kalau nggak mau... " Ucapan bu Hanum menggantung.
"Kalau nggak apa?" Tanya Kevin penasaran.
"Kalau nggak mamah akan meminta papah kamu untuk menyuruh kamu mengurus pesantren yang ada di kampung." Jawabannya.
"Oh, no, mamah yang benar saja masa mau menyuruh Kevin mengurus pesantren yang ada di kampung, nggak Kevin nggak mau." Protesnya.
"Ya sudah turuti apa kata mamah, apa kamu mengert?"
Bu Hanum meninggalkan Kevin yang kesal, Ibra terbahak mentertawakan abangnya, Kevin nendelik kearah adiknya.
"Hei, terus saja kamu tertawa, apa kamu mau uang jajan kamu abang potong selama 3 bulan?" Tanyanya meledek.
Ibra melototkan matanya mendengar ucapan abangnya, dia tersenyum dan mendekati abangnya dan memijit pundak abangnya.
"Abang sungguh sangat tampan, abang juga baik banget sama aku jadi jangan potong uang jajan aku ya." Ibra merayu abangnya.
"Nggak sudah nggak ada penawaran lagi."
Kevin tersenyum meledek melihat adiknya yang kebingungan, dia meninggalkan Ibra sendirian.
...****************...
Sudah tiga hari Abimana menyuruh Alfin untuk mencari Fani tapi tetep saja nggak ketemu juga, apalagi Abimana dan Alfin lagi mengurus masalah kerjaan yang nggak bisa di tinggalkan pencarian Fani sementara di hentikan.
Dikta sudah 2 hari deman dan terus-terusn memanggil nama Fani dan itu membuat Abimana dan juga Pricil kebingungan, harus mencari Fani kemana lagi karena mereka juga belum lama mengenal Fani jadi mereka nggak tau kemana Fani pergi.
Pagi ini Fani mencoba mendatangi sekolahan Dikta, dia sengaja ingin bertemu dengan Dikta sudah 3 hari nggak ketemu rasanya kangen dengan Dikta.
Tapi Fani di bikin kaget saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Bersambung..
Jangan lupa mampir di karya kedua author.
Terimakasih.
maaf terlalu lebay ini